Tag

, ,

 

1.641w.

.

 

Adipati Yunho menghunuskan keris di tangannya ke leher Changmin. “Bunuh aku, Kakang Yunho! Bunuh saja aku!” Changmin berkata—eh, berseru—dengan mata melebar dikerjap-kerjapkan, berharap ada air mata keluar. Sayangnya, air mata sedang ogah keluar.

“Aku akan membunuhmu, Adinda Changmin! Aku akan membunuhmu!” Yunho berkata. Mulutnya bergerak-gerak seperti meringis, harusnya menggambarkan betapa hatinya sakit sampai ingin membunuh Changmin. “Aku akan membunuhmu!”

“Ya elah udeh bunuh mah bunuh aja! Lama banget sik?!” sebuah suara sotoy terdengar dari depan mereka.

“Bunuh saja aku, Kakang Yunho! Tidak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini. Kau telah mengkhianatiku dan sekarang buah hati kita dalam bahaya. Lebih baik aku mati. Bunuh saja akuuuu!” Changmin sekali lagi berkata tegang. Matanya melebar semaksimal mungkin. Agak… mengerikan.

“Kau yang mengkhianatiku, Dinda Changmin! Kau menikahi Prabu Ken dan meninggalkanku sendiri! Kau telah menyakiti hatiku!” Yunho menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kalap. Wajahnya seperti baru keluar dari mesin cuci. Dan akhirnya, air mata tetap gagal mengalir keluar.

“Lama amat yak! Itu tinggal tujes doang udah mati, kan?!”

Yunho dan Changmin tidak memedulikan komentar barusan. Malah, Changmin seperti amnesia, tidak tampak mengenali dirinya sendiri. “Kau yang meninggalkanku, Kakang Yunho. Kau meninggalkanku dan buah hati kita. Lalu Kakang Prabu datang dan menyelamatkan hidup kami berdua.” Changmin menoleh dan mengeluarkan tatapan khasnya yang suka mengoreksi Yunho. Katanya, “Dan namanya Prabu Anjasmara, Kakang. Prabu Ken itu di Negeri Barbie. Kita kan sekarang lagi hidup di negeri Si Buta Dari Gua Hantu.”

Adipati Yunho membuka mulutnya membentuk ‘ooo’ lalu manggut-manggut.

Changmin melanjutkan, “Dan Si Buta Dari Gua Hantu itu buah hati kita, ngerti?”

Yunho manggut-manggut lagi. Pegangannya di keris yang terhunus ke leher Changmin sedikit mengendur. Melihat hal itu, Sentili-Anunya yang tadi sudah berhasil memprovokasi Yunho untuk membunuh Changmin langsung kehilangan kesabaran.

“Aaah! Kau terlalu lemah, Adipati Yunho! Dengan kekuatan setan, aku akan menciummu!” ujar Sentili-Anunya mengarahkan tenaga dalam ke Yunho, membuat lelaki itu terpana.

Sentili-Anunya berang. “Kok tcerpana syih?! Harrusnya khamu taddhi tuch mentcal ke belakhang gitchu loch!!” logat asli Sentili-Anunya keluar. Maklumlah, lama tinggal di LA—Lenteng Agung, dia jadi agak kurang tuma’ninah kalo ngomong pake Bahasa Indonesia.

Adipati Yunho agak kaget lalu, “Oh, aku mental ya? Oke. Aaa! Aku mental ke belakang diserang sama tenaga dalamnya si Sentili!” katanya sambil mental ke belakang dengan lebay.

Pandangan kritis Changmin muncul lagi, kali ini lebih ‘setan’ dari sebelumnya. “Alay banget sik Kakang? Nggak bisa ya, biasa aja gitu?”

“Diam kau, Changmin! Sekarang aku yang akan membunuhmu! Adipati Yunho terlalu lemah untuk melakukannya!” Sentili-Anunya berseru sambil lari ke arah Changmin sambil menghunuskan keris juga. Ceritanya, keris itu udah pindah ke tangannya Sentili-Anunya.

“Sentili!!!” Adipati Yunho berteriak keras-keras. “Jangan iku—aww!”

“Bray! Biasa aja dong lo! Sakit kuping gua tau nggak?!” sikap heroik Adipati Yunho ditebas oleh Prabu Anjasmara yang berdiri dekat sekali dengan Adipati Yunho dan jadi pekak gara-gara Adipati Yunho teriak-teriak alay.

Adipati Yunho yang pada dasarnya memang orangnya serius dan selalu 100% terhadap apapun, menghiraukan kekesalan sang Prabu dan kembali berteriak, “Diulangi: Sentili! Kau jangan ikut campur! Akulah yang berhak membunuh Dinda Changmin!”

Sentili tertawa mengerikan. “Ih, enak aja. Gue yang bakal bunuh Changmin. Lo nggak bisa diandelin, Adipati Yunho. Lo tuh nggak talk less do more. Padahal jaman sekarang, orang itu harusnya don’t talk just do. Aku akan membunuh Changmin! Kau lihat saja dari sana, Adipati Yunho. Changmin akan kubunuh sekarang! Ciyaaaatt!!!”

Tangan Sentili-Anunya terpentang lurus ke arah Changmin dan dari sana keluarlah bias sinar berwarna kuning—ng—kuning gitu deh—kuning kayak… itu loh… yang suka ngapung-ngapung di kali itu…

Dari sisi lain hutan (ini ceritanya mereka bertarung di hutan) terdengar suara penuh nada kritik, “Udah nggak kena, keles. Gue udah pindah dari tadi, tahu nggak? Lo ngatain Kakang Yunho kebanyakan omong, lo-nya sendiri kebanyakan teori.”

“Heh! Jangan kurang ajar kau, Changmin. Kembali ke tempatmu agar aku bisa membunuhmu!”sentak Sentili-Anunya dengan berang.

Sebelum Changmin sempat menjawab, Prabu Anjasmara berkata sebel, “Ya ampun Sentili. Mana ada orang mau disuruh mapan buat dibunuh. Kamu itu ternyata abg juga ya, agak bego gila. Ya kejar lah si Changminnie, jangan malah dia disuruh balik lagi.”

“Kakang Prabu, apa yang anda katakan?” Changmin berkata datar.

Dari tempat terjengkangnya, Yunho berseru, “Changmin-a… ekspresi. Kaget, kaget.”

Changmin menatap Yunho dan seolah tersadar, dia bergumam, “Oh, kaget ya. Oke.” Kemudian dia melanjutkan, “Kakang Prabu! Apa yang anda katakan-kan-kan?!!” dia melonjak sedikit sambil mengibarkan tangan, melebarkan mata sekali lagi dengan usaha yang memalukan. “Apakah Anda hendak membunuhku, Kakang Prabu…”

Prabu Anjasmara tertawa. “Maafkan aku, Dinda. Sekarang kau telah tahu semuanya, aku lebih baik tidak main rahasia-rahasiaan lagi denganmu. Ya, aku memang ingin membunuhmu. Sentili akan melakukannya untukku, bukan begitu, Sentili?” Prabu Anjasmara yang tampangnya mirip kumpeni itu melirik pada Sentili, matanya melotot dibuat selicik mungkin dan tatapannya naik-turun menatap Sentili layaknya tatapan orang jahat. “Aduh,” ucapnya tak berapa lama kemudian.

“Kenapa? Ada apa, Kakanda Anjasmara?” Sentili bertanya khawatir melihat Anjasmara yang mengelus-elus pelipisnya sambil berkerut alis. “Apa… kolesterolmu naik lagi?” tanyanya masih sambil mengulurkan tangan dengan mengancam meski targetnya sudah hilang sekarang.

Anjasmara menggeleng. “Bukan, Sentili. Aku hanya pusing melotot-melotot seperti tadi. Sudah, sana serang Changmin.”

Sebelum Sentili sempat melancarkan serangannya, Changmin berseru, “Kakang Anjasmara??? Sejak kapan kalian jadi kakak-adik???” Changmin berdiri sambil berkacak pinggang bak model manekin.

Sentili-Anunya tertawa. Prabu Anjasmara tertawa. Di tempatnya, Adipati Yunho bangun dan duduk bersila. Dia merogoh ke sela-sela ikatan kain di pinggangnya dan menarik sebungkus kuaci. Ini akan menarik.

“Kami ini sepasang kekasih, Changmin… Masa begitu saja kau tidak mengerti? Kakang Anjasmara sirik sama Adipatimu itu, jadi dia merebutmu darinya. Eh nggak tahunya kalian malah udah punya anak. Ya udah, mendingan anak kalian dibuang aja ke gunung, berteman sama monyet.” Sentili-Anunya menjelaskan panjang lebar.

“Tidaaaakkk!!!” Changmin berseru.

“Iya!” Prabu Anjasmara menghardik. “Orang jelas-jelas iya kok tidak. Dasar aneh.”

“Tapi aku pikir Kakang Prabu mengirim si buta ke hutan untuk belajar silat!” Changmin masih membelalak.

Prabu Anjasmara mengamatinya lalu berkata, “Changminnie, kok kamu bisa sik melotot-melotot begitu tapi nggak pusing? Aku pusing terus deh kalo melotot.”

Wajah Changmin berubah. “Oh, itu cuman perlu latihan kok, Kakang Prabu.”

“Diaaaam!!” Sentili-Anunya berseru geram. “Ini bukan arisan! Jadi nggak usah bagi-bagi tips! Sekarang, sepertinya kau perlu tahu lagi, Changmin-a. Aku sudah hamil, jadi Kakang Prabu harus bertanggung jawab.”

“Hah? Emang kapan kita begituannya, Sentili?” Prabu Anjasmara terkejut.

“Kan kemaren…” Sentili tampak kesal.

“Kemaren? Masa baru kemaren udah jadi. Lagian, kemaren kan kita nggak ngapa-ngapain! Mana bisa hamil?”

“Kakang! Jangan-jangan kau tidak mau bertanggung jawab! Kita kemaren kan udah ciuman nggak langsung?!!! Aku minum dari mangkok cuci tanganmu kan???”

“Wah pasti iya tuh,” Changmin menyambar. “Prabu Anjasmara kan emang begitu. Aku aja, istrinya, mau dibunuh. Apalagi kamu, Sentili. Cuman selingkuhan. Mana mau dia tanggung jawab.”

Sentili menarik pedangnya sekarang dan membuka kantong yang sedari tadi tergantung-gantung di pinggangnya. Ketika dia menuang isi kantung tersebut, keluarlah dua butir bawang merah. Dia berjongkok lalu mulai mengirisi bawang sambil melotot. Tak lama kemudian dia bangun lagi dan kali ini matanya sudah basah oleh air mata. Dia menatap Prabu Anjasmara dengan raut pedih. Pedih karena bawang, sebenernya. “Benarkah itu, Kakang? Kau sebenarnya tidak mau bertanggung jawab? Ini anakmu, Kakang… Masa kau tidak percaya padaku?”

Prabu Anjasmara memalingkan wajah lalu tertawa seperti Santa Klaus, “Ho ho ho… Rupanya aku memang harus membuka rahasiaku. Sentili, anak yang kau kandung itu bukan anakku. Itu tidak mungkin anakku karena aku tidak pernah melakukannya denganmu.”

“Apa maksudmu?!” Sentili bersikap agak gila. “Ini anakmu, Abang…”

“Bukan!” Prabu Anjasmara memotong. “Itu bukan anakku. Sebenarnya… Sebenaranya aku bukanlah Anjasmara, Sentili. Aku… Aku adalah saudara kembarnya yang diadopsi di negeri jauh sana. Namaku adalah Julien Kang.”

“Tidaaaaakkkk!!!” Sentili-Anunya berteriak pilu memeluk pohon ubi rambat.

“Iya!” Prabu Anjasmara eh Julien Kang dan Changmin menghardik bersamaan. Orang udah jelas-jelas iya kok tidak.

“Itu tidak mungkin!” Sentili-Anunya tersedu.

“Ya mungkin keles…” Julien Kang menjawab gemulai.

“Bagaimana hal ini bisa terjadi?!” Sentili-Anunya masih terus menyangkal.

“Kalo yang itu nggak usah ditanya deh. Rumit pokoknya,” Julien Kang bicara. “Yang penting sekarang kita harus bunuh Changmin terus ngambil Siwon dari sisi si Buta.”

“Kliwon, keles,” Yunho membetulkan.

“Tidak, yang betul adalah Siwon. Kera itu sebetulnya peliharaan pacarku di negeri jauh. Namanya Siwon. Aku membawanya untuk menemani si Buta karena waktu aku ngebuang dia aku rada-rada kasihan gitu ngeliat dia sendirian,” Julien Kang menjelaskan.

“Jadi kau sudah punya pacar?” Sentili bertanya sedih. “Yah, padahal aku sudah memutuskan aku nggak jadi hamil.

Changmin melemparinya dengan rumput-rumput yang sempat dikumpulkannya waktu Anjas eh Julien menjelaskan panjang lebar tadi (niatnya sih buat ngasih makan mandoongi, siapa tahu kudanya itu lagi bernapsu makan rumput hutan). “Jadi lo hamil apa kagak, mbak bro? Yang konsisten dong.”

Sentili-Anunya menggaruk-garuk kepala dengan bingung. “Yah, belum dites juga sih, jadi aku nggak tahu beneran hamil apa kagak. Tapi kok kamu tega sih ninggalin pacarmu di negeri jauh, Julien?”

“Haha,” Julien tertawa miris. “Sebetulnya aku pergi karena aku marahan sama dia, Cyin. Abisnya, si Kwanghee, pacarku itu, mau aja disuruh pura-pura married sama cewek pilihan ibunya. Kan aku sebel.”

“Ih, cowok mah dimana-mana sama,” timpal Changmin.

“Aku kan nggak gitu, Changminnie…” Yunho protes dengan manja.

“Apaan, lu juga sama aja. Masa gue sampe kawin ama Prabu Anjasmara sekian tahun lu-nya baru bereaksi!”

“Ya kan aku pikir kamu bahagia sama Anjasmara…” Yunho bersungut-sungut.

“Tapi ngomong-ngomong Anjasmaranya sekarang dimana ya?” Changmin mendadak ingat.

“Kan dia amnesia. Abis kecelakaan jatuh dari naga terbang trus dirawat sama Diam Nitami dan sekarang udah merit mereka berdua,” Julien Kang menjelaskan.

“Oooo…” Changmin, Yunho dan Sentili-Anunya bersamaan menjawab.

“Jadi ngomong-ngomong berantemnya jadi nggak nih?” Sentili-Anunya bertanya.

“Ya udah, ayo, berantem lagi. Istirahatnya udahan. Sesi curhatnya dilanjut entar lagi. Ayok!” Changmin berkata. “Kakang Yunho! Ayo cepet! Kuacinya entar aja dimakan lagi. Keburu malem entar!”

Adipati Yunho pun menurut, lalu dia kembali mengambil posisi terjengkang.

Dan kemudian peperangan penuh drama pun dimulai lagi. Seekor naga terbang melayang di udara dan monyet Siwon temennya si Buta bergelayutan melintasi pohon, tidak peduli dengan apa yang orang-orang di bawahnya sedang lakukan. Dia baru aja nyolong pisang di pasar soalnya.

.

.kkeut.

Iklan