Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 500w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not. 
Sinopsis: Semua demi aku.

[kelima]

.

“Martabak.”

Dia melihatku dengan tatapannya yang lebar dan aku menarik sarung sampai menutupi kepala. “Pokoknya aku mau makan kalo lawuh—lauk—nya martabak.”

Aku ndak doyan martabak depan padepokan, kalo martabak pasti beli yang deket prapatan—perempatan yang ke sana harus naik motor sepuluh menit. Sekarang hujan, deras, dan angin; sepuluh menit naik motor ke sana adalah siksaan. Sebetulnya aku hanya ndak pengin minum obat.

“Mas Heri? Nggih Mas, kulo—ya Mas, saya. Pesen martabaknya ya, Mas? Telornya tiga. Bisa dianter ke padepokan, Mas? Wah, makasih ya, Mas Heri…”

Aku menatap dia yang duduk di belakangku dan baru menutup telepon. Dia nyengir dan bilang, “Ndak cuman pe-ha yang bisa pesan antar. Em-ha, Mas Heri si tukang martabak juga bisa.”

Aku manyun. “Obatnya gede banget. Aku keloloden—tercekik—minumnya.”

Dia beranjak dan mengambil pisau dari dapur. Sebentar kemudian semua obatku lebih kecil dari upil paling gede.

“Buat nanti, habis makan martabak,” katanya pelan sambil tertawa.

Aku mengacuhkannya. Sebel.

Gara-gara dia, pantatku pegel disuntik dokter. Gara-gara dia, aku malu diliatin semua penghuni Puskesmas gara-gara teriak pas disuntik. Gara-gara dia, aku diketawain tukang parkir yang bajunya ndak pernah dicuci sebulan. Semua gara-gara dia.

Kalo dia ndak pulang malam-malam, aku ndak akan kebanjur—terlanjur—masuk angin. Kalau dia ndak terlalu serius mau belajar nari piring demi lakonnya di pertunjukan, dia ndak harus pulang terlalu malam dari latihan. Musim hujan, perempuan, pulang sendirian malam-malam, hujan-hujan. Ya mana aku tega. Dia ndak minta, tapi sekali lagi, mana aku tega?

Aku meneruskan ngambekku. Protes terus tentang saluran tivi, dia ganti terus sesuai keinginanku. Ngeluh terus tentang kasur yang ndak enak, dia dengan telaten membenarkan setiap jengkal yang bisa dibenarkan. Marah-marah tentang iklan yang kelamaan, jemarinya dengan mantap memijit punggungku yang terasa kaku akibat tidur terus dari siang.

Tanpa diminta pun, dia melakukan semuanya. Aku berkeringat, dia menggantikan bajuku. Kompresku sudah hangat, dia mengganti handuk kompres dengan yang lebih dingin. Aku menyilangkan tangan, dia merapatkan selimutku.

Sebenernya aku seneng. Ada yang memperhatikan, ada yang merawat, tapi kalo inget tawa si tukang parkir tadi, aku keki lagi jadinya.

Dahiku berkerut lagi—karena sebel—dia membungkusku sangat rapat dengan selimut. Seperti bayi yang baru lahir, aku terbalut kain dari dada hingga kaki. Dia kemudian menindih tubuhku dan mempermainkan pipiku. Wajahnya miring-miring lucu dan hanya dengan kekuatan imanlah aku tidak tertawa melihat matanya yang dijuling-julingkan.

Martabak datang. Dia membayar martabak, memberi bonus kopi anget buat si pengantar, lalu berusaha membuatku makan. Dengan keras kepala aku sok susah makan, padahal ya sebenernya laper juga; bau martabaknya enak, je…

Lalu tibalah saatnya minum obat. Dia meletakkan obat di tangan kananku, memapankan gelas berisi air di tangan kiriku, lalu menungguku minum obat.

Aku mengeluh, dia sabar menunggu.

Aku mengangkat obat ke mulut, baunya menyergap dan aku menolak minum obat. “Emoh—nggak mau—aku! Aku ndak suka obat! Aku tidur aja, besok juga sem—“

Dia merebut gelas dan mengambil obat di tanganku, meminumnya, lalu meraihku.

Ups.

Mulutnya di mulutku, lidahnya menekan lidahku, lalu obatku meluncur ke tenggorokan tanpa hambatan.

Wuih.

Aku melongo. Dia nyengir.

.

[ketujuh]

Iklan