Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 634w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia-Ratih-Rendra
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not. 
Sinopsis: Hey you, My Target! Hey! I said, hey!

[pertama]

.

“Di tempat sepatu yang tadi. Kamu dimana?”

“Aku di bagian pakaian perempuan, Mas.”

“Ya jangan kemana-mana, aku ke situ.”

“Eh, ndak usah, Mas. Sungguh.”

“Daripada kamu bingung. Tunggu aja di situ,” kataku ringan pada Rendra, mahasiswa magang yang sudah tiga minggu ini bergabung dengan kelompok kami. Dia orang Jakarta, bukan anak Jogja, jadi ndak begitu paham bagian dalam Pasar Beringharjo. Lha itu buktinya, tadi dia bilang sedang di bagian pakaian perempuan, wong hampir semua bagian di Pasar Beringharjo adalah bagian pakaian perempuan kok.

“Betul lho, Mas. Kita ketemu di depan aja. Aku udah selesai kok. Udah mau keluar.”

“Ya makanya tak susulin, daripada nanti aku bingung nyari kamu kemana-mana.”

“Eh, soalnya Mas—“

“Mas?”

“Dik?” aku kaget mendengar suara perempuan yang kukenal baik menyapaku dari seberang telepon. Aku sedang menelepon Rendra, kan?”

“Mas, aku lagi sama Rendra, kamu ditunggu Pak No, cepetan.”

“Kamu ngapain di sini, Dik? Ndak latihan?”

“Capek aku latihan terus. Udah kamu pulang aja. Pak No kalau marah medeni—nakutin—lho.”

Itu sih jelas, aku tahu pasti. Tapi ngapain dia di Pasar Beringharjo belanja sama Rendra, aku ndak tahu. Mendadak aku pengin tahu.

“Aku ke situ.”

“Halah, kamu ini lho. Ngapain kamu ke sini? Emang kamu tahu kami dimana?”

“Di atas palingan?”

“Kami di Matahari, Mas. Ndak di pasar lagi.”

Nah ya. Tambah ndak ngerti aku. “Ngapain kamu sampe ke Matahari segala?”

“Aku butuh baju renang. Mau belajar berenang sama Rendra.”

Naaah ya… “Ngapain belajar renang?!”

“Ya pengin aja. Kata Rendra renang itu bisa bikin seksi. Aku kan saiki wis tambah lemu—aku kan sekarang sudah tambah gemuk—jadi pengin langsing lagi. Biar kayak Ratih.”

Naaaaah ya! “Ngapain kamu mau jadi kayak Ratih? Udah kayak kamu yang sekarang aja! Udah seksi! Ndak usah baju renang-baju renangan! Ratih itu ndak seksi, yang seksi itu kamu! Awas kamu sampe berenang sama Rendra!”

“Mas!”

“Mas—“

Ratih memukul bahuku keras, di seberang telepon pacarku mulai bernada membujuk. Dua-duanya manggil aku, Mas, nadanya aja yang kontras.

Aku ki seksi, ngerti ra—aku ini seksi, ngerti nggak—?!” Ratih melotot di sampingku, berbisik jengkel. Manis.

Aku tertegun. Suara pacarku mengalun halus, ndak manis, tapi adem di kalbu. “Beneran aku lebih seksi? Nanti Ratih yang denger marah lho.”

Memang. Ratih memang marah. Ratih memang lantas merajuk. Ratih memang jadi makin menggemaskan saat jengkel dan aku jadi makin ingin bersama dengannya lebih lama. Tapi Ratih ndak membuat aku panas karena sedang bersama Rendra. Ratih ndak membuat aku mbayangin yang iya-iya kalau aku mikir dia sedang bersama Rendra. Ratih ndak cukup kuat untuk menahanku ingin selalu di sebelahnya kalau aku mbayangin saat itu kamu lagi ngelus-elus baju renang bareng Rendra, Dik!

Aku masih memandangi Ratih yang terus tampak jengkel. Apa lantas Ratih jadi jelek setelah aku sadar aku lebih memilih pacarku? Kok ndak ya? Anak itu tetep manis, tetep menggemaskan, dan aku ndak berbuat apa-apa untuk meninggalkan dia sendiri dan berlari mendekati pacarku.

“Mas?” suara pacarku lembut di telinga.

Aku berkata sambil menatap wajah Ratih, “Aku ndak suka kamu berenang sama Rendra, tapi kalau kamu maunya itu, ya sudah. Tapi kamu harus inget, jaga sikap di depan Rendra, jangan sampai dia salah paham, ngerti?”

Pacarku terdiam, rajukan Ratih pun bergeming. Aku tahu pacarku sedang menatap Rendra yang salah tingkah ditatapi mata pacarku yang indah banget itu—apapun, pokoknya mata pacarku indah! Dan aku kebetulan tahu banget Ratih merasa kecut, wong wajahnya sudah asem sekarang. Maaf, Tih, secantik apapun kamu, yang pacarku tetep dia.

“Ngerti, Mas,” pacarku menjawab lalu mematikan sambungan telepon.

Aku tersenyum pada Ratih. “Pulang yuk?” tawarku. Aku tidak mengulurkan tangan, dan bersyukur Ratih tidak menggandeng lenganku seperti yang dari tadi dia lakukan. Mendadak aku sadar bagaimana rasanya jadi pacarku yang hampir setiap hari ngeliat aku nggandheng tangan perempuan lain dengan alasan ‘teman’.

Tunggu aku, Dik, aku sedang belajar jadi semakin dewasa. Kayak kamu.

.

[ketiga]

Iklan