Tag

1.562w. Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

.

Nurani meremas payudaranya dengan gemas. Matanya terasa tersengat dan bibirnya perih karena terus digigiti dari tadi. Dia tidak menangis, tidak. Tidak ada gunanya menangis, dia tahu, meski ancaman air mata bukan sekedar gertakan. Dia hanya menghentakkan kepalannya ke paha keras-keras.

Darma ikut menggigit bibir, tapi tidak meremas payudaranya, karena memang tidak punya. Dia mengulurkan tangan dan membelai bahu Nurani dengan pelan. “Sabar…” ujarnya.

Saat itulah pertahanan Nurani jebol. Dia menyalahkan Darma yang berusaha menenangkannya. Lalu mengutuki dirinya sendiri yang tidak juga mampu menyenangkan orang paling berarti baginya. Keringat menetes bersaing dengan air mata. Nurani tidak tahu bagaimana caranya dan itu membuat keputusasaannya sangat besar sampai ingin berguling-guling di lantai.

Tapi tentu saja hal itu tidak bisa dilakukannya. Dia bahkan tidak bisa duduk dengan benar, bagaimana dia bisa berguling-guling? Rasanya sangat tidak nyaman.

Darma menyentuhnya lagi dan kali ini telapak tangannya yang kasar dan seperti gumpalan sosis itu mengusap keringat di dahi dan pelipisnya dengan sabar. “Sudah, tenang dulu… Nanti juga bisa…”

“Tapi, Mas,” Nurani menyanggah. “Nantinya itu kapan? Kalau tidak keburu bagaimana?” bayangan-bayangan mengerikan mulai bermain-main di benak Nurani. Perasaannya dengan cepat tertekan sampai titik terendah. Dia sangat gugup sekaligus frustasi. Dan lagi dia belum pernah merasa setidak berguna ini seumur hidupnya. Semuanya sudah ada, semuanya sudah lengkap, kemampuannya saja yang nol besar. Dia merasa sangat bersalah. Pada Darma, pada Rayhan juga.

Lalu Rayhan memutuskan sekaranglah saatnya dia kembali beraksi. Dengan lantang dia berteriak, menuntut Darma dan Nurani untuk memperhatikannya.

Nurani menghela napas dalam sekali, sementara Darma memandangnya menanti, seolah bertanya, sudah siap? Nurani mengangguk, lalu mengisyaratkan agar Rayhan dibawa kepadanya.

Tak lama kemudian Nurani telah berjuang kembali menahan Rayhan yang meronta-ronta sekeras yang bisa dilakukan sesosok bayi umur sehari. Dalam gendongannya, anak itu tampak marah dan tidak sabar, tidak peduli bahwa pada pukul satu malam seperti sekarang ini, manusia yang hidupnya sudah lebih lama darinya biasanya sedang istirahat dan bukannya beraktivitas.

Dengan hati-hati Nurani menyentuhkan putingnya di bibir Rayhan. Tangannya kebas sebab sejak pukul enam Rayhan seolah tidak mau berhenti minum. Anak itu segera melahap apa yang disodorkan, bibirnya mengeriput-ngeriput lucu, bergerak-gerak bingung, lalu puting Nurani terlepas dari mulutnya. Tanpa menunggu barang sedetik, paru-parunya bekerja keras lagi mengeluarkan suara tangis kuat nan menuntut.

Kerut cemas terbentuk di dahi Nurani. “Coba lagi,” dia mendengar Darma berbisik pelan. Tangan suaminya itu terulur satu memeluk bahunya, satu mengusap kepala anak mereka. Nurani mengingatkan diri untuk berterima kasih dengan pantas pada suaminya itu nanti.

Usaha kedua dilakukan. Nurani mengatur payudaranya, mengatur kepala anaknya, lalu kali ini, putingnya berhasil bertahan di mulut Rayhan dua detik lebih lama dari sebelumnya, yang kemudian terlepas lagi. Kali ini Nurani mengerutkan kening dan menggigit bibir. “Jangan dilepas dong, Nak…”

Rayhan menjerit tidak mendengarkan.

Nurani mencoba lagi, berusaha menahan kepala Rayhan sekaligus menahan payudaranya. Yang terakhir ini sukses. Rayhan sudah tahu bahwa dia juga harus menahan alat makannya kalau mau mendapat jatah makan (tengah) malam. Mungkin nanti dia akan lupa, tapi sekarang dia sudah tahu.

Dagu Rayhan mulai tertarik, berusaha mendapatkan tetes demi tetes nutrisi yang merupakan haknya untuk mempertahankan hidup. Mulutnya membuka, tapi tubuhnya kesulitan, dia mencoba lagi, tapi tampaknya dia sangat tidak nyaman. Dia bergerak-gerak, dengan terpaksa tidak berkonsentrasi pada cara mendapatkan makan, melainkan mencari cara mendapatkan kebutuhannya yang lain.

“Susumu! Rayhan nggak bisa napas, Dik!” Darma berseru agak panik saat menyadari gerak-gerik putranya yang aneh.

Serta-merta Nurani menjauhkan Rayhan dari dadanya. Setelah anak itu berhasil mengumpulkan udara kembali, dia pun mengamuk lagi.

Nurani mengernyit putus asa. “Maafin ibu ya, Nak… Ibu memang nggak becus…” tangisnya.

Darma mengecup pelipis Nurani yang basah kuyup oleh keringat. “Ssst, jangan. Belum. Hanya belum, Dik. Ayo dicoba lagi,” bujuknya. Ada yang teremas dalam dadanya melihat betapa putus asanya kedua manusia di hadapannya ini.

Nurani mencoba lagi. Kali ini ekstra hati-hati, memastikan hidung Rayhan tidak terbenam dalam tubuhnya, memastikan tubuhnya tergendong dengan nyaman, memastikan putingnya masuk dalam mulut putranya itu. Nurani berdoa, sambil menangis. Lagi.

Lalu akhirnya usahanya itu memberikan hasil. Rayhan tenang dan nyaman dalam gendongannya, mulutnya bergerak menelusuri puting Nurani, dan tangannya tidak terkepal tegang seperti sebelumnya. Nurani disiram rasa lega luar biasa. Akhirnya, akhirnya, Rayhan dan dia bisa sinkron.

Tapi kelegaan itu kecil artinya dibanding kecemasan lain yang sekarang menghampiri. Dia tidak merasakan apapun. Rayhan terus bergerak, berusaha merasa, menyedot, mencari, tapi Nurani tidak merasakan apapun. Tidak ada susu yang keluar, apalagi memancar, tidak ada yang basah kecuali pori-pori kulitnya yang berkeringat, dan Rayhan sama sekali tidak menelan apapun. Anak itu seolah hanya menelan angin.

Ketika Rayhan berubah gemas dan putus asa karena kerongkongannya yang haus dan makanannya yang tidak juga keluar, Nurani mengernyit merasakan jepitan kencang gusi Rayhan di putingnya. “Mas..” panggilnya pada Darma.

Darma menatapnya dan langsung menyadari ada yang salah. Sejujurnya, sedari tadi semuanya seolah salah, Darma hanya mengharap kali ini semuanya berjalan dengan benar, tapi tampaknya itu belum akan terjadi. Sebab Nurani menatapnya dengan tangis yang makin deras sekarang. Dan Rayhan mulai mengerang yang semakin lama semakin kencang.

Nurani menggeleng dan Darma menghela napas berat sekali. “Nggak mau keluar, Mas, susunya… Gimana ini? Rayhan sudah haus sekali pasti… Dari tadi banget susuku nggak mau keluar…” akhirnya tangis Nurani pecah, suaranya saingan dengan suara Rayhan.

Darma pusing. Dia frustasi, sedih, bingung, dan sangat patah hati melihat istri dan anaknya menangis berbarengan seperti ini.

.

bay03

pic credit: The Bay Bali gallery

.

Suara adzan subuh terdengar sayup-sayup. Darma tidak lagi bisa mendengarkan dengan fokus. Di lengannya ada Nurani yang menyandar. Di lengan Nurani ada Rayhan yang baru saja terlelap. Berdasarkan pengalaman sepanjang malam, lelapnya Rayhan tidak akan bertahan lebih dari sepuluh menit. Bisa dibilang, sepanjang malam Darma dan Nurani tidak tidur sama sekali karena Rayhan memutuskan begitu.

Meski pusing dan mengantuk, Darma menatap wajah damai anaknya yang akhirnya bisa minum. Meski hampir dua belas jam anak itu terus menempel di dada ibunya, tapi Darma berani bersumpah bahwa hanya separuh dari semua waktu itu Rayhan bisa mendapat asupan makanan. Tidak ada yang bisa dilakukan karena keluaran asi Nurani tidak selancar yang diharapkan. Rayhan pun belum pintar mendapatkan makanan, jadi situasinya semakin runcing.

Darma mengusap matanya yang perih. Gerakannya membuat Nurani bergerak. Hati Darma berdegup kencang saat Rayhan bergerak juga. Dia sudah bersiap menegarkan Nurani lagi saat anak itu ternyata hanya kembali terlelap.

Setetes keringat menuruni leher Darma. Udara dini hari sudah jauh lebih sejuk daripada malam tadi, jadi baik Darma maupun Nurani tidak lagi berkeringat sebanyak sebelumnya. Akan tetapi Darma bisa merasakan bajunya sangat lembap, begitu juga daster Nurani. Istrinya itu entah sudah berganti baju berapa kali karena mandi keringat sepanjang malam. Darma sendiri yang membantunya berganti baju, mengelap keringatnya, menyuapinya saat Nurani sudah sangat lemas karena terus terjaga menahan Rayhan. Darma tertegun menyadari semua kerja baktinya malam itu bersama Nurani.

Istrinya yang ini jauh berbeda dari sosoknya dulu saat mereka pertama bertemu. Meski bertetangga kota di sini, mereka harus ke Bali dulu untuk bertemu dan kenalan. Dulu Nurani adalah pembawa acara sementara Darma adalah anggota band akustik. Darma tidak mungkin melupakan The Bay Bali, tempat yang mempertemukannya dengan Nurani. Hanya butuh satu sesi acara meet and greet sebuah band nasional dan satu malam dinner gathering di De Opera, Darma langsung memutuskan dengan Nuranilah dia ingin melanjutkan hidupnya. Nurani yang dulu modis, berkulit halus, bertubuh oke, kini berdaster, penuh jerawat dengan ukuran pinggang dua kali lipat.

Setetes keringat menuruni leher Nurani, mengalir ke arah dadanya yang terbuka, siap meladeni kebutuhan putra mereka. Tangan Darma diangkat dan dengan penuh perasaan dia menyeka keringat Nurani. Saat itulah mata Nurani terbuka. Mereka saling menatap. Darma berucap dalam hati, entah bagaimana Nurani yang ini tidak kalah cantik dari Nurani yang memesonanya pertama dulu.

Darma tersenyum, hendak mengatakan sesuatu, tetapi Nurani mengalahkannya. “Sudah subuh ya, Mas?”

Darma mengangguk. “Ya,” katanya.

Nurani tersenyum, lalu, “Sholat dulu sana.”

Darma mengangguk lagi tapi bicaranya bukan ‘ya’ kali ini, melainkan, “Kubantu menaruh Rayhan?”

Nurani menatap anak mereka dengan waswas. Tapi anak itu tampaknya sudah lebih memilih tidur kali ini. Darma, seolah mengerti pikiran Nurani, berkata, “Tadi sih bergerak-gerak, tapi malah tidur lagi. Kayaknya sudah aman, Dik..”

Nurani tertawa kecil, kemudian menyerahkan Rayhan kepada Darma untuk diletakkan di tempat tidur, menyelimutinya, sebelum kembali pada Nurani. Dengan hati-hati Darma membantu Nurani bangun dan menatap posisinya sendiri di samping Rayhan. Kemudian dia berkata, “Mas sholat dulu ya.”

Nurani hanya menjawab dengan anggukan lemah, tangannya sudah melingkar protektif di atas tubuh Rayhan. Darma tersenyum, lalu berbalik hendak menuju ke kamar mandi.

Baru berapa langkah, dia mendengar suara dari tempat tidur ukuran satu orang yang sengaja disiapkan untuk Rayhan. Darma berbalik dan mengernyit penasaran dari mana suara itu berasal, sebab itu jelas bukan suara Rayhan. Lalu pertanyaan segera terjawab saat Nurani menghembuskan napas sembari mendengkur. Dengkurannya keras dan mungkin hampir mirip dengkuran para peronda.

Angin dingin dini hari menyusup melalui lubang-lubang ventilasi, tapi anehnya Darma merasa hangat. Anaknya tampak terlindung hangat di balik selimut, istrinya nyaman dan tenang dalam tidurnya, Darma tidak ragu inilah sumber kehangatan yang sekarang semakin berkembang dalam dadanya.

Tidak tahan akan pemikirannya sendiri, Darma kembali melangkah ke tempat tidur, menekankan satu lutut untuk membungkuk mencium anaknya, lalu mengecup pelan bibir Nurani. “Selamat tidur,” bisiknya.

Matahari tidak lama lagi sudah terbit. Darma mendadak sadar itu artinya sudah hampir dua hari dia menjadi ayah. Dua hari yang luar biasa, dua hari yang menguras tenaga, tapi juga dua hari yang tidak ragu akan dia lakukan lagi dan lagi di masa depan. Hatinya mengembang, bergemuruh dengan antusiasme yang luar biasa, seolah baru saja menyaksikan kembang api besar dan luar biasa indah dan sedang menantikan keindahan luar biasa yang berikutnya.

bay01

pic credit: The Bay Bali gallery

.

.kkeut.

Iklan