Author: B
Genre: angst
Length: 655w. oneshot
Fandom: none
Pairing: Pandu-Winda
Disclaimer: The story belongs to me. 
Sinopsis: terkasih, di hari Minggu aku mencintaimu. dengan sangat.

.

Terkasih,

Melihatmu mengangkati jemuran di halaman belakang membuat hatiku menghangat. Di hari-hari yang sangat cerah kau akan tersenyum karena cucianmu kering, lalu kau masuk ke dalam rumah, menjawab sapaanku sembari tersenyum puas. Hatiku mengembang. Senang melihatmu senang. Kau berkeringat karena pekerjaan rumah, tapi aku tetap ingin mencubit pipimu sayang, mengecupnya ringan.

Kau yang mengelus Pusi dengan sayang membuatku tersenyum. Aku bisa merasakan kerinduanmu akan kehadiran buah hati kita yang belum juga mau muncul meski kita sudah berusaha sekuat tenaga. Aku tidak keberatan, aku tidak keberatan berusaha lebih dari kuat tenaga agar kau senang. Aku akan menyuapmu dengan kesabaran kalau kau sedang PMS. Toh semuanya untukmu. Dan untuk anak kita kelak.

Di atas kulkas ada celemek yang terlipat asal. Kau mengenakannya kapanpun kau mau, yang mana tidaklah sering. Kau yang minta dibelikan celemek, kau pula yang sering lupa memakainya. Tapi celemek itu aku suka. Saat kau memakainya aku jadi punya kesempatan melihat manisnya kamu.

Tutup saji di atas meja menutupi makanan kita malam ini. Kau masak apa? Telingaku tak mendengar apapun yang kau katakan, sebab aku terlalu bergembira melihatmu sibuk meladeniku. Aku akan makan semua masakanmu sembari menerima semua keluhanmu. Bibirmu tak berhenti membuka tutup demi melaporkan berita hari ini padaku. Bu Edi bertengkar lagi dengan Pak Edi? Ada orang tersesat nanya ke tempat tukang sayur tadi pagi? Pusi sudah bisa cuci muka? Semuanya kudengarkan, semuanya kudengarkan. Teruslah bicara.

Biar kusapukan lantai ruang makan ini untukmu, ya? Lantai ini sedikit berdebu dan aku tahu kau tidak akan bisa tidur nyenyak kalau tahu masih ada pekerjaan yang belum beres. Mumpung hari minggu, biarkan aku membantumu. Aku minta kecupanmu saja sebagai hadiahnya. Ayolah, kecupan kecil saja. Untukku.

Apa yang akan kita lakukan malam ini? Kau mau menonton televisi atau mau menonton film? Ah tunggu, aku tahu. Kau mau berdansa pastinya. Haha, aku senang aku bisa menebak dengan benar; dan tidak Sayang, tidak usah malu begitu, karena aku ada hanya untukmu, mengerti dirimu. Ini, raih tanganku dan mari mulai berdansa.

Kenapa kau berdiri jauh begitu? Mendekatlah lagi kemari. Mumpung belum ada anak-anak, kita harus menikmati waktu kebersamaan kita sebaik mungkin. Aku suka merasakan tubuhmu lekat padaku. Hembusan napasmu di pundak kiriku, genggaman tanganmu yang pasrah, serta belaian-belaian helai rambutmu yang mengusik bagian bawah daguku. Ikuti langkahku, aku akan membuatmu senang. Ini lagi kesukaanmu. Ludovico Einaudi, Le Onde. Dentingnya halus kan? Itu yang kau sukai darinya kan? Aku bahkan tidak tahu dia ada kalau kau tidak mengatakannya padaku. Sekarang, dia kesukaanmu juga. Denting yang dia buat bagai kaca tertimpa cahaya, kemilau sepertimu. Sayang, Sayangku, benar begitu. Peluk pinggangku, mari melangkah bersama.

Penuhi aku, aku ingin melengkapimu dengan sempurna.

Ah, siapa pula yang malam-malam begini merusak kesempurnaan kita. Sudah jam sembilan malam dan orang itu memilih bertamu. Kita diamkan saja, paling nanti dia pikir kita sudah tidur. Atau lebih bagus lagi kalau kita tertidur sambil berpelukan begini. Bahkan saat aku memejamkan mata, kau terlihat jelas, Sayang.

“Pandu… Nak…”

Kubuka mata dan mendapati Ibu menengadah menatapku. Sorotnya tak kumengerti.

“Ibu bel dari tadi kenapa tidak kau bukakan pintu?”

Oh. Yang datang Ibu. Aku nyengir.

Senyum Ibu bergetar. “Sedang apa kamu, Nak?”

Sedang berdansa dengan Winda, Ibu. “Hehe,” jawabku alih-alih.

“Ibu tidur di sini malam ini ya?”

Aku mengangguk. Lalu berlalu menuju kamar.

“Nak…”

Aku menoleh.

“Baca doa. Semoga kau bisa bertemu Winda dalam mimpi,” Ibu berkata pelan dengan mata berkaca-kaca.

Aku terdiam. Kupaksakan senyum sebelum berbalik kembali menuju kamar. Aku tidak tahu apa aku akan mengiyakan doa Ibu. Besok hari Senin dan kalau aku memimpikan Winda malam ini besok aku tidak akan bisa bekerja dengan baik. Hari Mingguku sudah sempurna, sudah saatnya aku mengakhiri hari ini. Mungkin aku akan melihat Winda lagi Minggu depan, mungkin tidak. Biasanya sih selama dua tahun setelah kepergiannya, aku selalu melihat dia di hari Minggu.

Karena aku tidak bekerja di hari Minggu.

Saat pikiranku tak punya hal lain untuk dipikirkan.

Selamat malam, Sayangku yang terkasih. Aku menunggu hari aku bisa menemuimu lagi. Tuhan, izinkan aku.

.

.kkeut.

Iklan