Tag

Author: B
Genre: rune
Length: 974w.
Fandom: #ConveyorBelt
Pairing: kamu-dia-mereka-aku
Disclaimer: Bagian dari FF Berantai  
Sinopsis: Kamu hanya sedang bosan.

.

Hujan tadi dini hari.

Berani bertaruh semua penerbangan ditunda, bukan hanya penerbanganmu. Indonesia, gitu loh. Penundaan hanya berarti pekerjaan yang dikerjakan nanti setelah ini. Toh sistem yang terlambat, bukan hanya kita sendiri.

Kau berkutat dengan ponselmu dan tampak serius. Tapi pasti kau tidak sedang mengerjakan apapun. Persisnya, hanya ketak-ketik tidak jelas. Raut wajah itu, jelas wajahmu ketika bosan. Ponimu yang tergerai hampir menusuk mata saja tidak kau hiraukan, apalagi orang lewat di sekelilingmu. Enak sekali ya hidupmu, tidak suka, tidak perlu kau pikirkan.

Seolah menjawab, kau menengadah, mendesah dengan mulut terbuka, dan suara seolah jelas terlontar dari mulutmu, “Pengin ngemil…”

Padahal sih tidak. Kau hanya diam menahan keinginanmu itu tanpa menyuarakannya. Alih-alih kau merogoh tas kecil yang tersemat di pinggang, berkutat sebentar dan terlihat binar “Dapat!” saat akhirnya kau berhenti. Sejenak kemudian kau sudah sibuk mengupas bungkus lolipop bluberi kembalian dari beli minum tadi.

Bibirmu mengerucut saat bulat permen itu mendekat ke mulut, matamu terpaksa menjadi sayu ketika sang permen hampir tepat di bawah hidungmu. Lapisan mengilapnya menyentuh bibirmu yang bentuknya bisa dibilang: ‘bibir yang selalu minta dicium’. Seolah itu adalah gerak lambat, kepala permen itu mendesak masuk dalam rongga mulutmu, dan seolah bibirmu tidak bisa membuka lebih lebar, mereka mengapit batang sedotan putih dengan eratnya. Keriput bibirmu menggambarkan betapa kencang kau menahan lolipop itu di dalam. Hanya imajinasi yang bisa menggambarkan seberapa kuat kau menghisap si biru menggoda itu di dalam ronggamu yang hangat.

Hanya sebentar, tapi rasanya seperti beberapa detik lebih lama dari apa yang terasa terlalu lama. Sampai akhirnya, lolipop itu kau lepaskan juga. Meski kau tampak tak begitu rela karena ujung lidahmu keluar sedikit mengejarnya dan merasainya lagi dua kali, ah bukan, tiga kali. Cepat bagai melata, lidahmu membasahi permukaan lolipop.

Hanya sentakan situasi yang melepasmu dari kenikmatan memakan lolipop biru itu. Sentakan yang kau rasakan ketika seorang anak kulit putih berkepala bulat berambut keemasan menatapmu dengan mata lebar, lapar, kepingin, rakus, malu, yakin sekaligus tidak, dan mau. Mau lolipopmu, mau lolipopmu, mau lolipopmu. Peduli amat kalau dia belum genap bisa berdiri.

Kau dan dia bertatapan beberapa saat sebelum akhirnya kau menyerah. Mata anak itu terlalu pasrah dan kau merasa berdosa kalau tidak menyerah pada perintah absolutnya untuk memberinya permenmu. Tanganmu terulur, lolipop menjauh dari mulutmu sementara mulut anak itu terbuka, matanya semakin berbinar. Lalu ketika permenmu hampir menyentuh bibirnya yang basah bulat berwarna pink yang bersemu, “Vaughn!”

Kau terlonjak oleh seruan itu. Dan jelas kau kalah. Sebab anak itu sudah menggenggam sedotan lolipopmu, siap menjadikan benda itu miliknya. “Vaughn! ^%^$%#^%$&^*^(*”

Terlihat dari wajahmu, kau pasti berpikir, “Sialan. Bikin kaget aja!”

Si wanita yang tadi berseru sekarang sudah berdiri di depanmu, mengangkat anak yang rupanya bernama Vaughn itu, lantas mengomel, “#$@!%$%&^(*)_)&^%$*%”

Kau menggeleng, membuat beberapa orang di sekitarmu tertawa. Jelas sekali kau ini dibaca, semua orang langsung tahu kau bingung dengan apa yang dikatakan wanita itu.

Wanita itu menoleh ke arahmu dan kau setengah dimarahi olehnya meski kau juga dimintai maaf olehnya. Anaknya tidak sopan, itu betul, tapi harusnya kau tidak semudah itu menawarkan permen pada anak-anak. Apalagi permen yang sudah masuk ke mulutmu. Wajahmu yang sama dengan wajah induk beranak itu menjadi agak merah, tapi kau tak mampu mengatakan apapun. Hanya bisa mengalihkan pandang…

Oh tidak.

Oh tidak. Tidak boleh. Pandangan itu, di matamu itu, tidak boleh. Siapa yang kau lihat kali ini?

Tepat di belakang ibu Vaughn—yang sudah bersiap berlalu, seorang cewek berwajah imut sedang berdiri dengan tas ransel khas backpacker dan sepatu sporty melangkah dengan cepat. Dia hampir tidak melirik ke arah conveyor belt nomor tiga dimana banyak orang berkerumun menunggu barang mereka, tapi dia melirikmu sama cepat seperti langkahnya. Wajah cantikmu berbinar melihatnya, kepingin. Secara otomatis, sinar matamu berubah, dan percikan nafsu menggeletar di udara.

Oh gelagatmu itu… Bisa tidak diganti yang lain?

Seperti sudah terduga, cewek itu melambatkan langkahnya. Bibirnya terangkat sedikit menyunggingkan senyum menantang. Namun dia tidak berhenti.

Kau menyilangkan kaki, bertumpu pada lenganmu yang meregang lurus di belakang tubuh, dagumu kau naikkan. Ponimu tersibak, helaiannya terjatuh indah di pelipismu.

Seseorang lewat. Roknya melambai, langkahnya tegas dan kesal. Conveyor belt tujuannya berputar statis.

Kau naikkan ujung telapak kakimu, menaikkan satu tangan, menjilat lolipop bluberimu. Cewek itu melirik cepat ke arah pintu, tampak ragu-ragu.

Seorang backpacker kali ini yang lewat, bercelana cargo tapi berani bertaruh kau tidak peduli tentang itu sama sekali.

Lolipopmu tertinggal di mulut, kau lepaskan silangan kakimu, tanganmu meluncur turun ke tulang panggul, ke paha, dan naik sampai hampir bisa disebut tidak sopan karena mengarah ke…

Siulan rombongan backpackers terdengar dan kau tahu? Mereka menyiulimu. Astaga, sikapmu itu… Dasar jiwa tersesat, kau sama sekali tidak menggubris mereka, kan?

Astaganaga, cewek itu berhenti. Oke, kau menang. Kau menang terutama setelah dia berjalan mundur mendekatimu.

Kalian bertatapan beberapa lama dan meski tidak seriuh sebelumnya, para backpackers tadi kini sedang menunggu kalian berdua penuh bisikan ketegangan. Pria mana yang tidak akan tegang saat melihat dua makhluk cantik saling memandang penuh godaan? Ini seperti awal film porno yang melibatkan dua pemeran wanita di dalamnya, bukan begitu?

Ketegangan memuncak, napas tersirap, saat cewek itu menggelembungkan permen karet yang dikunyahnya dekat sekali dengan wajahmu. Para penonton pun bersorak ketika balon itu meletus dan cewek tadi memasukkan sisa-sisa permen yang melekat di bibirnya ke dalam mulut dengan sensual. Aroma stroberi menguar di udara.

Kau… kau mengeluarkan lolipopmu sampai terdengar bunyi ‘pop’ cukup keras. Penonton bersorak lagi tentunya.

Cewek itu tertawa, tawaranmu sudah diterima, semua terlihat di matanya. Kini kau bisa mengajaknya kemana saja, termasuk ke dalam toilet di bandara ini.

Sorot menang menyemburat dari matamu. Senyum penaklukmu tercipta. Lalu kau buka mulut, “Pop my lolly, Babe?

Cewek itu melongo, penonton terdiam. Cewek itu berkedip, penonton mengutuk. Cewek itu tertawa, penonton bubar—sambil tetap mengutuki suaramu yang tidak mungkin luput dari sebutan maskulin. Cewek itu berkata, “Sorry, Mate. I don’t do boys,” sambil kemudian berlalu sembari melambaikan tangan.

Giliranmu yang tercengang. Dan giliranku berdeham.

Kutepuk bahumu penuh simpati.

.

.kkeut.

Iklan