Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 363w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not. 
Sinopsis: Aku pengin ketemu, Dek… Tapi kalo kamu belum bisa ya ndak pa-pa.

[kedelapan]

.

Aku ditanya, apa ndak kangen sama pacarku?

Tak jawab, kuangen biangettt.

Aku diledek, lemah-letih-lesu gara-gara pacarku lagi ke Jakarta ke tempat saudaranya.

Mukaku: manyun.

Pundakku ditepuk-tepuk, sambil dibilangin, sing sabar—sabar aja… sing sareh—santai aja  bentar lagi juga pacarmu pulang.

Aku: “Ya… ya…”

Aku njatuhin tumpukan kain yang sudah dicuci ke atas tumpukan konde yang dekat dengan kotak tempat nyimpen aksesori kethoprak yang akhirnya kesenggol terus jatuh, ‘KROMPYANG’ bunyinya keras banget, bikin malu banget.

Orang-orang ngeliatin aku kasihan. “Baru seminggu ditinggal ke Jakarta, Le… Udah kayak orang pikun kamu…” ujar Mbah Redi, tukang gendhing.

Aku menekuk muka, pasti mukaku merah, untung lampunya belum dinyalain di ruangan itu.

“Mas, ini tak bawain makan siang,” panggilan Nengsih dari belakang membuatku menoleh dan berbinar. Aku memang harusnya kesepian tapi… Makan!

“Mas, temenin aku ketemu Mbah Riyah ya, sore ini? Aku mau beli batik,” Ratih mengajakku sambil tersenyum manis. Aku menatapnya sayu; kesenangan karena akan melihat-lihat batik bareng Ratih yang ayu. Mendapat tatapan matanya yang teduh, senang karena berhasil membuatku senang waktu aku lagi sedih ditinggal pacar. Lalu aku nyengir pada Nengsih di pojokan yang memandangi kami dengan tajam.

“Mas, kamu jangan ngelamun terus tho… wong besok pacarmu ya udah pulang kok…” Sri, teman curhatku menyenggol bahuku dengan bahunya lalu nyengir agar aku ikut nyengir. Ketika aku benar-benar melakukannya, senyum Sri berubah. Ah… lagi-lagi malu-malu. Dasar, Sri.

Pokoknya, kalau sudah terbiasa dengan pacar yang berkeliaran di sekitarmu, kamu pasti langsung jadi linglung kalau dia ndak ada. Biasanya aku paling lama pisah sama pacarku tiga hari. Itupun karena aku biasanya harus belanja keperluan kostum kethoprak. Lha ini, seminggu, aku pula yang ditinggal pergi.

Tetep aja lho, ada yang ilang rasanya. Aku sih makan kayak biasanya, Nengsih sering banget ngirimin aku makanan. Terus kerja kayak biasanya juga, malah hampir jadi asisten pribadinya Ratih. Dan keluh kesahku tidak pernah berhenti di hadapan Sri yang selalu tahu caranya menghiburku sampai aku merasa bersalah karena tahu dia menghiburku karena benar-benar ingin melihatku senang—seolah-olah aku memanfaatkan rasa sukanya padaku.

Sungguh, aku kesepian kok. Aku bener-bener keingetan sama pacarku. Memang kadang lupa karena ada Nengsih, ada Ratih, ada Sri. Tapi aku tetep kangen pacarku kok. Aku kangen.

Tenan!—sumpah!

Kayaknya sih gitu.

.

[kesepuluh]

Iklan