Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 477w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not.
Sinopsis: Woke up this morning then… voila! Life gets you!

 

[kesebelas]

Mulutku terasa ndak enak, tapi toh itu bukannya ndak biasa. Sumukndak nyaman, kayaknya sebentar lagi mau hujan. Dari luar kamarku di bedengan masih terdengar ribut tukang jaga malem yang lek-lekan. Aku yakin sambil main domino pasti di sebelahnya ada kopi, singkong-pisang goreng, terus beberapa botol bir oplosan. Biasa. Setiap malam pasti begitu. Sajiannya tetap, orang-orangnya aja yang ganti-ganti. Kemarin giliranku, hari ini sampai sepuluh hari ke depan bukan giliranku.

Kumpulan laki-laki itu sering mendapat pengunjung, yaitu mereka yang tidak bisa tidur. Ada saja. Ada yang tidak bisa tidur karena mikir utang, ada yang karena lagi ditolak istrinya di kamar—atau ditolak pacarnya karena pacarnya lagi ‘ndak pengin’, ada yang sekedar kepengin minum bareng yang ronda, ada yang bangun kelaparan lalu niat minta dibikinkan mie ke Yu Suni, penyedia tunggal sajian kopi dan singkong-pisang goreng—birnya ndak dijual  di depan warung, ambil sendiri di belakang, itung belakangan, atau ditagih akhir minggu, anaknya yang megang, mumpung badannya masih kayak preman.

Ngomongin Yu Suni aku jadi ingat masih punya utang bir dua botol. Aku ndak pernah utang biasanya, tapi kemarin aku ketiduran jadi ditinggal tidur di pos sampai pagi.

Aku merinding. Untung ndak diparani sundel. Sontoloyo tenan cah-cah kuwi, pulang ndak bilang-bilang.

Malam-malam tertentu aku juga sering nggabung sekedar icip-icip main sekali terus nonton yang pada taruhan. Aku ndak hobi judi, wong ndak ada yang menarik menurutku. Paling main bantinganmboseni. Lebih enak nonton sambil meluk dia. Aku suka nongkrong begitu kalau lagi pacaran sama dia. Dia perempuan yang kuat lek-lekan, soalnya pekerjaannya selalu malam. Jam sepuluh dia mulai nari, nanti pulangnya dia masih seger belum pengin tidur. Biasanya dia minta aku temeni jalan-jalan. Ndak jauh-jauh, ya cuman keliling kompleks thok, terus baru pulang menjelang subuh. Dia tidurnya habis subuh, aku tidur agak siangan dikit.

Kami manusia kalong. Pekerjaan dan lingkungan sekitar membentuk kami demikian. Hidup sederhana biasanya, hanya merasakan kemewahan sekali-kali, pas grup kethoprak wayang kami mendapat tanggapan lumayan besar. Kalau sedang dijalani sih semuanya rasanya biasa aja, tapi kalau sedang sendirian begini, baru terasa kalau acara jalan-jalan kami itu istimewa.

Tangannya selalu aku pegangi, kami sama-sama merinding kalo lewat daerah yang angker, tapi ya kami selalu lewat situ lagi, lewat situ lagi. Pernah aku tanya ndak niat kenapa kami selalu tanpa sadar lewat situ terus, dia—ndak disangka—njawab, “Lha wong enak tho yo, mlaku rapet-rapetan karo kowe, Mas.

Meski ndak tahu kenapa tiba-tiba ingat jawabannya yang seenaknya itu—Kan enak, jalan rapet-rapetan sama kamu, Mas—tapi aku tetap tersenyum. Dia memang begitu, terlalu biasa untukku, saking lamanya pacaran, tapi tiba-tiba bikin hatiku mengembang.

Dan tiba-tiba bikin hatiku ndak berasa. Siapa yang bisa ngerasa kalo mendadak siang bolong, bangun tidur, pacar sendiri datang ke rumah terus bilang: “Kita istirahat saja dulu. Mulai lagi dari awal, biar ngerti masing-masing maunya apa.”

Sompret tenan. Pantesan jam 2 uput-uput begini aku pengin minum.

Wes kono, karepe! Karepe!

Terserahlah!

 

[ketiga belas]

Iklan