Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 484w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not.
Sinopsis: Kalo kamu tega sama aku, mbok ya kamu kasian sama dia.

[kesepuluh]

.

“Nengsih iku… ya cuman temen buat aku. Kok kamu ndak percaya-percaya tho yo?”

Dia tersenyum mendengar ucapanku. Tapi kalau senyumnya tidak sampai ke mata, artinya dia ndak bener-bener tersenyum seperti yang aku harapkan. Wajahnya ndak memperlihatkan apa-apa tapi cara dia tiba-tiba meremas ujung baju yang sedang dipakainya. “Percaya,” ucapnya. Tidak, dia tidak menatapku.

Aku mengambil bedak dan kuas bedak dan menggenggamnya di masing-masing tangan. “Jangan gitu tho… Kasian kan Nengsih, selalu kamu pleroki, kamu pelototin, dia pasti bingung dia salah apa sampe kamu segitu nggak sukanya sama dia.”

Sebetulnya, aku tahu betul kenapa Nengsih ndak suka sama dia ini yang katanya pacarku. Ya karena dia pacarku, makanya Nengsih sebel.

“Aku ndak mleroki dia kok,” pacarku menjawab ringan. “Lha wong dia yang ndak suka sama aku. Kalo kamu mau tak bilangin sih, sebaiknya kamu jangan deket-deket sama Nengsih. Aku kasian, wong kamu ndak niat macari tapi mbaik-mbaiki terus. Dia kan jadi berharap.”

“Kita kan semua kerja bareng-bareng, Dik… Ya aku harus baik sama dia, kalo ndak nanti malah jadi masalah,” alasanku.

Mungkin menemani Nengsih jalan-jalan hari Minggu kemarin itu memang berlebihan. Aku tahu Nengsih hanya ingin kencan denganku, tapi waktu dia bilang dia sedih habis dimarahi Mas Sutradara ya aku jadi ndak tega.

Dia, pacarku, akhirnya menoleh dan memandangku. Dia menghela napas dan aku mencoba tersenyum. Selalu ada ketenangan yang terasa setiap aku melihat matanya. Tapi meski aku merasa tenang, dia tidak tampak begitu. Sorot matanya sedih. “Mas, aku sama kamu itu udah lama. Aku tau persis kamu itu mikir apa walau aku cuman ngeliat wajahmu. Aku tau kamu ngerti maksudku apa. Jangan baik yang ndak perlu.”

Aku ikut menghela napas. Beginilah kami selalu bertengkar. Diam dan tanpa teriakan. Mbokyao sekali-sekali dia itu marah sama aku, teriak gitu. Ya meskipun nanti aku balas teriak, tapi paling nggak kemarahan ini ndak terus-terus ngendap.

“Aku udah berusaha kok, Dik. Tapi kayaknya kamu ndak puas-puas juga. Ya wis, aku ndak akan ngomong sama Nengsih lagi. Aku ndak akan ngobrol lagi sama dia, biar orang lain yang ngurus kostum-kostumnya, aku ndak akan deket-deket dia lagi. Gitu? Puas?” aku bertanya sembari mengambil konde dari tumpukan di meja rias. Untuk Nengsih.

“Ya ndak gitu maksud aku. Maksudku kamu ati-ati kalau bersikap, jangan ngasih harapan palsu sama dia.”

“Aku ndak ngasih harapan apa-apa.”

Dia diam.

Aku diam. Sambil memunggunginya.

Dia terus diam.

Kalau dia nangis… Aku seneng.

“Aku ndak ngasih harapan apa-apa sama Nengsih, Dik. Kemarin dia cuman minta ditemani beli korset. Aku yang tau caranya milih korset. Kamu aja aku kan yang mbeliin korset?”

Dia menuju pintu ruang rias. Sebelum pergi dengan sabuk kuningan di tangan, dia bilang dengan suara pelan, “Dari dulu kamu selalu bilang begitu, Mas. Dari dulu banget, sejak kita masih baru pacaran. Selalu Nengsih yang jadi sasaran kamu untuk bikin aku jengkel. Kalo kamu tega sama aku, mbok kamu kasian sama Nengsih.”

Aku menggigit bibir begitu punggungnya tak terlihat lagi.

Sial. Gagal lagi aku bikin dia cemburu!

.

[kedua belas]

Iklan