Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 557w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not. 
Sinopsis: Long story short.

 

[keempat]

.

Kemarin malam aku tidur jam delapan. Tidur cepet, sengaja.

Hari ini aku bangun jam empat. Bangun cepet, sengaja juga.

Ceritanya, aku mau ke rumah orang tua pacarku di Ambarawa. Hari ini sudah kesekian tahun sejak kami bilang sama orang-orang bahwa kami ‘pacaran’. Tepat tanggal ini. Aku bilang sama pacarku bahwa aku ingin bertemu orang tuanya, toh kami sudah sangat lama menjalin hubungan. Pacarku mengiyakan dan kami berhasil mendapat izin libur dari Mas Luki, pemimpin padepokan. Tiga hari, tapi itu lebih dari cukup.

Sekarang ini pukul lima tiga puluh, aku sudah menggendong tas ransel, keliatan kece dengan sepatu kulit yang baru. Maksudnya baru tadi malem ku lap sampai mengilap, bukan baru beli. Aku menunggu pacarku di gerbang padepokan. Seharusnya kami mengejar bis pukul enam dari pinggir jalan, tapi sampai jam segini pacarku itu belum datang juga.

Ternyata aku cuman kelewat khawatir. Setelah kulihat jam begitu kaki pacarku kelihatan di balik tikungan, ternyata aku baru nunggu lima menit dan aku baru ingat bahwa memang semalam aku sengaja nyepetin jam tanganku, biar berasa cepet.

Aku menyambut pacarku dengan senyum dan merangkulnya saat akhirnya kami jalan bersisian menuju jalur bis. Sepuluh tahun, hanya pacaran. Waktu itu kami masih kecil, cuman tau pacaran itu enak. Sekarang sudah bosen, tapi anehnya memeluknya sambil berjalan begini tetap menyenangkan.

.

Aku berhasil menjadi calon menantu yang baik di rumah orang tua pacarku. Memang aku didukung latar belakang bahwa kami pada dasarnya sudah lama saling mengenal, tapi tetep aja aku gugup waktu bertanya kapan kiranya aku boleh datang ke rumah pacarku bersama orang tuaku. Yah memang sebenernya rumah orang tuaku sendiri ndak jauh-jauh banget, cuman di Salatiga, tapi kan ya sekali lagi, tetep aja: nggugup-nggugupi­—bikin gugup.

Aku menatap kedua orang tua pacarku penuh harap, sementara yang kuharapkan jadi pendukungku hanya duduk tenang tanpa ekspresi sambil memangku nampan bekas membawakan teh pagi untukku.

Semua daya sudah kukerahkan. Aku senyum-senyum, mbantu nimba air, ngobrol dan akrab dengan semua anggota keluarganya, tepat seperti yang wajar dilakukan seorang menantu, tapi jawabannya tak kunjung diberikan. Sejak pagi saat kami minum teh berteman nasi jagung goreng hingga malam menjelang tidur, orang tua pacarku tak juga mengatakan iya.

Sebelum memejamkan mata, harapanku sudah pupus. Kata iya itu tidak akan keluar. Aku tahu. Aku kenal mereka. Mungkin karena aku masih hanya seorang glidhik—pekerja—kethoprak.

Malam itu aku mengharapkan mimpi sakit hati, tapi tidak, aku mimpi Miyabi.

.

Sebelum pulang ke Jogja, kami mampir ke Rawa Pening. Pacarku ndak minta maaf, aku juga ndak nyinggung-nyinggung masalah lamaran. Apa karena sudah sepuluh tahun maka aku ndak ngerasa apa-apa walau ndak direstui kawin? Ndak tahulah. Aku betul-betul happy ever-after pagi ini.

Kami memutuskan menaiki perahu dan kebetulan penumpangnya tidak terlalu banyak sehingga kami bisa mojok berduaan. Angin berhembus, aroma air samar-samar, dan aku mendorong main-main pacarku sok mau ngelempar dia ke air. Kami tertawa-tawa. Bahagia, tapi biasa aja.

Sampai akhirnya pacarku menyusup di bawah lenganku, membuatku merangkul lehernya. Aku tertawa melihatnya, tapi berhenti saat dia hanya menatapku dengan mata lebar. Karena salah tigkah akhirnya aku kembali memandangi air.

Lama baru aku dengar suaranya, “Mas, kamu mau nikah sama aku?” Pertanyaan ‘Kamu masih mau nungguin aku?’ mengambang tapi tak terucap.

Lama baru aku berani melihat dia lagi dan menatap wajahnya yang penuh harap. Jawabnku adalah senyuman dan acakan lembut di rambutnya.

Kalimat ‘Ndak tahu masih atau ndak’ mengambang menyebalkan di antara kami.

.

[keenam]

Iklan