Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 484w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not.
Sinopsis: What does a ‘beginning’ mean to you?

 

[kedua belas]

Bukan aku namanya kalau tidak pusing memikirkan sebuah masalah. Bedak berceceran, aku pusing bagaimana menghapus jejaknya dari atas meja. Nasi berjatuhan, aku pusing memungutinya satu per satu. Selendang kurang satu, aku pusing berlarian mencari pengganti. Korupsi, aku pusing tujuh keliling. Dua dari masalah yang aku beritahukan pada Anda adalah masalahku sendiri sementara sisanya tidak ada hubungannya denganku. Benang merahnya adalah aku tetap pusing. Begitu, jelas?

Jadi intinya, ketika dia, yang membuatku megap-megap berlarian menjemputnya setiap malam demi tidak dijatuhi ultimatum berjudul ‘putus’ ternyata dengan tegarnya memutuskan bahwa kami ‘harus beristirahat sejenak’, tentu saja aku pusing enam belas kali empat puluh sembilan pangkat dua puluh tujuh keliling. Tidak perlu repot-repot menghitungnya, aku hanya mengatakannya untuk menempatkan dengan tepat harga kepusinganku.

Cintakah yang membuatku kepusingan? Entahlah. Cinta itu apa? Dia selalu marah-marah kalau aku telat menjemput. Dia mengabaikanku kalau aku melupakannya barang sehari. Dia cemberut sepanjang hari kalau aku menolak diolesi krim penangkal sinar surya olehnya. Lalu masihkah aku harus cinta padanya? Sebab jujur saja penari-penari baru jauh lebih cantik darinya. Mereka molek dan mataku memanja ayem memandang kulit-kulit kuning langsat yang lebih halus dari miliknya. Mereka yang mondar-mandir di belakang panggung pun kebanyakan wanita berkarisma yang lebih darinya. Lebih dari segala-gala dirinya. Bagaimana harusnya aku masih mencintainya?

Kami berpapasan dan dia tersenyum kecil padaku hanya untuk menunduk kemudian. Mengabaikanku. Benakku meliar dengan pertanyaan, apa salahku?

Mungkin sebenarnya aku hanya terlalu lemah, terlalu menuruti semua kemauannya. Dipikir-pikir lagi, sudah saatnya aku membangun diriku sendiri dengan lebih baik. Adalah Ratih yang selalu berbinar menatapku setiap kali aku memastikan semua peralatan manggungnya lengkap. Senyumnya halus, perangainya imut, perhatiannya menyanjung. Semua orang bilang Ratih senang tarik ulur dan masih menunggu lelaki yang bisa menarik dengan pas.

Kupingku belum budheg kok. Aku masih sering mendengar akulah juaranya dalam tarik-ulur dengan perempuan. Ujung-ujungnya aku pasti menang. Kata mereka. Yang mana biasanya aku buktikan benar.

Dia—bukan Ratih, tapi dia—menyematkan sebatang jepit rambut di bagian bawah sasakannya. Dari tempatku jelas terlihat lekukan tubuhnya sudah lebih matang dari sejak kami pertama saling kenal; Ratih lebih menarik dilihat dengan tubuh mudanya. Dia sekarang banyak berperan sebagai “Yu”, Ratih sedang laris menjadi pemeran utama. Dia menoleh dan tatapan kami bertemu lagi, matanya tegas, tidak lembut syahdu seperti halnya milik Ratih.

Di belakang panggung selalu pengap, rasanya. Aku harus berkonsentrasi untuk bisa bernapas lagi dengan normal.

Matanya melebar di wajahnya yang mendongak padaku. Penuh tanya, berkedip menekankan pertanyaannya, ada apa?

Memangnya di tanganku ada selendang ya? Terserahlah, toh kostumnya juga butuh selendang. “Sampun siap, Yu?” Sudah siap, Yu, tanyaku. Dia tersenyum tidak pasti. “Ini lho selendangnya, baru nemu saya. Sampeyan namanya siapa?”

Sorot matanya tak mengerti. Aku sendiri kurang terlalu mengerti apa yang sedang kulakukan, hanya saja sedari tadi suaranya beberapa hari lalu terdengar berulang-ulang di dalam benak: “Kita istirahat saja dulu. Mulai lagi dari awal, biar ngerti masing-masing maunya apa.”

Cinta? Mungkin aku akan mengerti kalau mengulang semuanya dari awal. “Sinten asmane, Yu?

Siapa namamu, Yu?

 

.kkeut.

Iklan