1,781w. Oneshot. Warning: menyeh-menyeh, sinetron. Terkadang manusia hanya terlalu keras kepala untuk move-on; tapi pada kesempatan lain, move-on bukanlah pilihan, meski telah berusaha.

.

Wanita itu tersenyum bersahaja saat Raharja melihatnya. Wajahnya sudah berubah. Tidak semanis saat mudanya dulu ketika keriput masih alergi menempel padanya, tapi tetap anggun dengan caranya sendiri. Ujung-ujung matanya berkerenyit dan galur-galur penuaan tampak menghiasi pelipisnya. Rambutnya hitam kemerahan; pada sosoknya sekarang, warna itu tidak lagi menunjukkan ketegasan seperti dulu, melainkan kelembutan yang asing.

Raharja maju dan setengah berharap wanita itu melihatnya. Setengahnya lagi berharap kakinya menurut dan membuatnya berlalu dari acara ini. Menjadi nasabah prioritas pertama membuatnya hadir di sini malam ini. Dia telah sukses, teramat sangat, mungkin di mata orang lain, dan malam ini adalah satu dari malam-malam yang dia gunakan untuk memetik hasil kerja kerasnya semasa muda dulu. Wanita itu pun tampaknya sama.

Berpakaian batik anggun, wanita itu duduk di jajaran pemilik saham terbesar dan wajahnya membuat semua orang yakin dia berjiwa Bunda Teressa. Sesuatu dalam hati Raharja bergetar, sesuatu yang mengingatkannya akan masa muda bersama wanita itu.

Raharja maju dan menyalami semua yang perlu dia salami, termasuk wanita itu. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya saat nama Raharja dipanggil, tidak ada kilas aneh di matanya saat Raharja melintas di depannya, tidak ada ketegangan dalam genggamannya ketika mereka berjabat tangan, dan Raharja tahu betapa hebat pelatihan yang telah dijalani wanita itu seumur hidupnya.

Bank ini memang lebih tua dari umurnya, tapi selama separuhnya, Raharja telah berkutat dengan bank yang sama dan bersama mereka mengalami naik-turun. Hanya seperempat dari kebersamaan mereka berarti kebersamaan kembali juga dengan wanita itu. Sejak beberapa tahun lalu, wanita itu hadir kembali dalam hidupnya, sebagai seorang pejabat bank yang sangat disegani. Sampai saat ini, saat wanita itu telah lebih hebat lagi, mereka masih bersama. Raharja tidak pernah lagi berpikir hendak mengakhiri hubungannya dengan bank ini.

Acara ramah-tamah berlangsung meriah. Penghibur kelas atas berada di atas panggung dengan dandanan yang meski luar biasa tebalnya tapi tetap tampak anggun. Raharja harus mengakui bank ini sangat bonafid. Dan semakin berarti dengan keberadaan wanita itu dalam lingkup pandangnya sepanjang malam.

Wanita itu terus berkeliling ruangan menyapa para nasabah prioritas utama. Termasuk Raharja. Sesuatu yang dikenali Raharja sebagai sakit hati, menyeruak ketika menyadari wanita itu sangat wajar berada di sekitarnya. Kehangatan pribadinya merambati orang-orang yang mengelilinginya dan Raharja agak kesal karena menikmati keramahannya sementara sudut hatinya mengharapkan lebih.

“Apa kabar?”, “Kamu kelihatan sehat.”, “Sebaiknya jangan makan ini, atau itu,” harap Raharja keluar dari mulut wanita itu. Seperti dulu, ketika dia masih menjadi pusat perhatian wanita itu, ketika dia memiliki seluruh dunia wanita itu. Tapi tidak, malam ini wanita itu sibu bicara bisnis, keluarga, dan menyanjung-nyanjung posisinya sebagai salah satu nasabah terkaya bank mereka.

Raharja merasa kecut. Dia tidak merasa bangga sama sekali akan apa yang ditunjukkan wanita itu. Membuatnya merasa sebagai nasabah.

Meski seharusnya tak ada yang salah tentang itu.

Tapi itu sama sekali salah. Raharja tidak mau jadi nasabah—hanya nasabah. Dia dulu bercinta dengan wanita itu, sialan. Dia dulu memiliki hatinya, senyumnya, keramahannya, perhatiannya, tangisannya. Dia dulu, dan wanita itu dulu, adalah satu kesatuan. Dan menyakitkan betapa sekarang mereka terlihat sangat dekat dan akrab sementara di mata Raharja sendiri, ada sesuatu setebal jarak samudra menghalanginya dari wanita itu.

Raharja kesal karena tidak menemukan kesalahan dari wanita itu sama sekali. Atau mungkin bukan kesalahan yang dicari Raharja, dia mencari kesempatan, kelemahan, kelengahan.

Dia sakit hati dan tidak tahan lagi dan dia harus pergi dari hadapan wanita ini segera.

Di lorong, Raharja terpaku. Beberapa meter di depannya yang sedang berjalan kembali ke ruang pesta, wanita itu berjalan sendiri dengan santai dan tenang mengaduk-aduk tas tangannya.

Raharja berdeham kecil saat mereka berpapasan. Wanita itu mendongak dan tampak terkejut. Seandainya lampu di lorong ini tidak temaram, pastilah Raharja bisa melihat sesuatu dengan cepat bersembunyi di balik tatapan ramah wanita itu. “Oh, Pak Sunarjo, baru dari rest room, pak?” tanyanya dengan suara halus dan serak karena usia.

Raharja tidak menyembunyikan isi hatinya sama sekali. Dia berdiri kaku dan mengamati wanita itu dengan tajam. “Nggak perlu basa-basi begitu kan, Win?”

Wanita itu mengerjap dan kekagetannya tak mungkin disembunyikan. Senyumnya tetap lebar, tapi dibayangi kehati-hatian sekarang. Dia tertawa pelan, sopan, “Maaf. Apa Bapak baik-baik saja?”

Hidung Raharja mengembang. Entah, semakin tua, rasanya dia semakin susah menahan emosi.

Ralat, sejak bertemu wanita ini lagi, dia semakin susah melakukannya.

“Win!” serunya dengan kekecewaan tidak bisa disembunyikan.

Wanita itu mengalihkan pandangannya dengan cepat. Senyumnya tidak hilang, hanya berubah wujud. “Maaf. Sebaiknya kita menjaga sikap. Tidak baik kalau kita—“

Raharja tidak tahu dari mana datangnya refleks itu, tapi tahu-tahu saja dia sudah menggenggam tangan wanita itu. “Win, aku tidak mau menjaga sikap,” ucapnya sedih.

Ya, dia sedih. Wanita ini harus tahu berapa tahun Raharja pernah lewatkan untuk tidak mengamatinya. Sebab jawabannya adalah tidak pernah. Sejak mereka berpisah, dia tidak pernah melepaskan pengawasannya dari wanita ini. Dan keramahannya di dalam sana justru membuatnya merasa paling jauh dibandingkan semua tahun-tahun itu.

Wanita itu menarik tangannya dan berdeham. “Sudahlah Pak Sunarjo, tidak baik kalau kita terlihat seperti ini. Anak-anak Bapak bisa melihat dan mungkin ada salah paham.”

Raharja mengejar tangan wanita itu yang dengan cepat menjauh. Dia terus mengejarnya sampai wanita itu merapat tanpa jalan keluar di dinding. “Panggil aku Jaja,” desaknya. Matanya penuh luka. “Seperti dulu, panggil aku Jaja…” lirihnya. Dia rindu.

Wanita itu seketika menegang. Matanya terangkat dan Raharja lupa bahwa mereka sudah tua sama tua. Inilah wanita yang diingatnya, yang pernah dimilikinya. Hati Raharja mengembang dengan harapan.

Yang langsung dibanting kembali. “Maaf, itu tidak etis. Permisi, ijinkan saya lewat, saya hendak ke kamar kecil.”

Seolah tidak mendengar itu, Raharja mengangkat tangan dan mengusap pipi wanita di hadapannya. “Kau tidak menikah,” bisik Raharja.

Tangan wanita itu mengepal sampai memutih.

“Kau tidak pernah menikah, Win,” Raharja mengulangnya. Hatinya berdenyut sakit.

Wanita itu tidak lagi bicara. Tubuhnya kaku seperti senar gitar yang siap putus kapan saja.

“Win, aku mi—“

Raharja didorong kuat-kuat sampai menabrak dinding di belakangnya. “Minggir!” serunya lalu berjalan meninggalkan Raharja.

Tapi Raharja tidak akan menyerah kali ini. Tidak akan melepaskan wanita itu lagi. Tidak. Dia punya hak.

Wanita itu terkesiap saat tarikan tangan Raharja membuatnya terbanting ke dada Raharja. “Win,” Raharja merintih rindu. Wangi wanita itu sudah berbeda, tapi wanita ini tetap wanita yang sama seperti dulu. Pasti begitu.

“Lepaskan saya, Pak Sunarjo,” wanita itu bersuara tercekik.

“Kenapa?” Raharja bertanya pilu.

Wanita itu seperti kehabisan saat Raharja menatapnya dari dekat.

“Kenapa kau tidak menikah? Aku pikir kau akan langsung menikah begitu aku meninggalkanmu. Kau berhak untuk itu, kau tahu?”

Wanita itu tidak lagi memandang ke tempat lain kecuali Raharja.

Raharja membelai rambutnya. Halus, masih sehalus dulu. “Aku ingin kau bahagia.”

Wanita itu diam saja.

“Kenapa Win? Kenapa?”

“Kalau kau begitu ingin tahu, lepaskan aku,” nada dingin dalam suara wanita itu membuat Raharja kembali ke masa lalu. Wanita itu akan sangat dingin saat Raharja melakukan kesalahan yang akan merugikan dirinya sendiri. Wanita itu sangat perhatian padanya.

Raharja menurut, dia tidak lagi mendekap wanita itu, tapi membiarkannya mengambil jarak di antara tubuh mereka. Raharja menanti.

Wanita itu menatap lurus-lurus. Pandangannya sekeras besi. “Jawabannya karena aku masih mencintaimu. Sudah puas?”

Raharja terkesiap. Ada rasa puas menguasainya seperti ledakan mercon yang tiba-tiba. “Masih?” tanyanya pelan.

Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Senyum simpul yang entah bagaimana terasa menyakitkan untuk dilakukan. “Aku masih mencintaimu, Raharja Sunarjo. Bahkan sampai saat ini ketika aku melihatmu berkeriput dan tangan pucat, aku masih memiliki rasa cinta yang kumiliki untukmu. Aku sudah lelah mencoba menghentikannya. Aku tahu itu tidak akan ada gunanya. Setiap hari aku lalui dengan perasaan yang sama. Aku tidak kemana-mana, tidak bisa, bukan tidak mau.”

Suara wanita itu begitu tenang, dada Raharja berdenyut sakit.

“Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk tidak mencintaimu lagi. Aku tahu kau tidak pernah mengharapkanku mengatakannya. Tapi kali ini aku harus mengatakannya. Aku mencintaimu, masih dan akan selalu. Dan aku harus mengatakannya juga padamu bahwa kau tidak perlu repot-repot membalasnya. Tidak kali ini. Meski untukmu, rasa ini milikku sendiri. Silakan kau jalani saja hidupmu. Aku permisi.”

“Win,” Raharja memanggil, menahan wanita itu pergi. “Win, maafkan aku. Jangan pergi. Maafkan aku. Aku tidak tahu.”

Wanita itu tertawa. Dia berputar dan Raharja mendadak bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita itu. Selama bertahun-tahun. “Tidak, kau tidak tahu. Mana mungkin kau tahu, kau sadis. Bahkan setelah bertahun-tahun mengawasiku pun kau tidak akan mungkin tahu itu. Kau membuatku yakin bahwa memaksamu bukanlah ide yang baik waktu kita masih bersama. Dan yang kudapatkan pada akhirnya hanyalah kau memilih wanita lain untuk kau nikahi.

“Tentu kau tidak tahu bahwa mendadak jiwaku bolong separuh. Tentu kau tidak tahu kalau aku tidak pernah utuh lagi. Kau hanya tahu bahwa setiap hari sejak kita berpisah, aku hanya menjalani hidupku, berusaha memenuhi kebutuhanku yang tidak pernah terlengkapi. Kau memilih menjadi penonton. Kau tidak berperasaan.

“Kau puas mengamatiku dari jauh? Kau puas mendapat tontonan seumur hidup? Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku tidak mengenalimu yang bersembunyi di sudut-sudut yang kau kira tak kulihat? Kau tahu? Aku bahkan masih bisa mengingat mobil apa saja yang kau gunakan untuk mengamati aktivitasku setiap hari. Aku bisa merasakanmu, Raharja Sunarjo. Kau, di balik punggungku, setiap hari.

“Dan aku bisa merasakanmu menikmati setiap yang kau saksikan tanpa benar-benar merasakan apa-apa untukku. Aku tahu bagaimana benakmu bekerja bahkan setelah bertahun-tahun kita tidak bicara. Aku dulu siapa? Aku sekarang siapa? Tidak ada bedanya bagimu. Dulu aku milikmu, kini pun kau pikir aku milikmu. Dulu aku memang milikmu, tapi sejak kau menikah, tidak ada siapapun yang memilikiku.

Wanita itu menghela napas, tampak sangat berat. “Aku mencintaimu sampai seperti itu.”

Raharja diam, tapi tangannya meraih wanita itu. Wanita itu mengelak. Dia menatap Raharja, lalu tersenyum lagi dengan kesedihan yang amat sangat. “Aku masih mencintaimu sampai seperti itu, tapi akhirnya aku menemukan jalan keluarnya.” Kepala wanita itu dimiringkan dan dia menatap Raharja penuh spekulasi. “Aku akan terus mencintaimu. Semua kelebihan dan kekuranganmu. Bahkan ketidaknormalanmu yang terus mengikutiku kemanapun. Cintaku sama tidak normalnya seperti penyakitmu itu. Tapi aku sudah memiliki pegangan, sekarang.”

Raharja terdiam.

“Selamat tinggal, Jaja. Jaja-ku yang kucintai mungkin sampai aku mati. Karena mencintaimu tidak baik untukku, aku putuskan untuk mencampurnya dengan yang lain. Tolong kuasai dirimu dan jaga sikapmu lain kali kita bertemu.”

Wanita itu mundur dan memutuskan kembali ke arah datangnya tadi. “Selamat malam, Pak Sunarjo.”

Raharja terus terdiam. Dia melihat punggung wanita itu menjauh. Rapuh dan tua, tapi dengan pasti menjauhinya. Dia bahkan tidak pernah melihat punggung mendiang istrinya, tapi dia menyaksikan punggung wanita itu. Tiap langkah membawa pergi semua isi dalam benak Raharja. Saat akhirnya punggung itu menghilang di balik pintu ruang pesta yang tertutup, Raharja merasa kosong.

Hanya kosong. Dan tepat di tengah-tengahnya terisi gambaran undangan pernikahan yang anggun dan mahal yang tergeletak di rumahnya, berisi nama wanita itu sebagai mempelai wanita, dan nama laki-laki lain sebagai mempelai pria. Raharja ingat melihat foto pasangan tua yang terpasang di bagian belakang undangan, dan tidak bisa tidak merasa sakit hati melihat senyum penerimaan yang ditampilkan keduanya.

.

.kkeut.

Iklan