Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 612w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not. 
Sinopsis: Libur kok, Pakdhe…

[sembilan]

.

“Eh udah datang tho, Le? Kene-kene—sini-sini—masuk. Gimana di jalan tadi? Lancar?”

Aku melangkahi pintu pagar dan menyalimi lelaki tua di hadapanku. “Nggih—ya, Pakdhe. Lancar. Naik motor jadinya gampang nyelip-nyelip.”

“Oh iya ya. Motormu saiki—sekarang—dimana?” Pakdhe bertanya sambil celingak-celinguk.

Aku menunjuk ke luar pagar, “Itu Pakdhe, di bawah pohon belimbing.”

“Lha mbok dibawa masuk aja…”

Ndak pa-pa, Pakdhe?”

“Lha yo ndak pa-pa, memang kenapa?”

Aku nyengir lalu menggaruk kepala. Setelah permisi sebentar, aku memasukkan motor. Ketika aku kembali ke teras rumah, Pakdhe sudah tidak ada, sepertinya masuk ke dalam rumah.

Kopi, ketan bakar, rokok. Nikmat. “Ketannya mbakar sendiri, Pakdhe?” tanyaku sambil mengunyah sementara Pakdhe menghisap rokoknya.

“Iya… si Jar itu tadi pagi ke pasar ada yang jual ketan terus dibeli. Tak suruh bakar aja.”

“Oh, Yu Jar masih kerja di sini tho, Pakdhe?”

Yo masih… Wong mau apa lagi dia? Anaknya sudah pada kerja, ada yang di Jakarta, ada yang di Malaysia, dia nganggur, cucu juga ndak ada yang ditinggal di sini. Kebetulan rumah ini juga ndak keurus kalo Pakdhe hanya sendirian, jadi dia yang ngurusin. Tapi kalo malem ya pulang ke rumahnya sendiri. Paling sampe sore thok.”

“Begitu ya, Pakdhe…”

“Ya iya tho. Orang udah tua-tua itu maunya ditemeni… Maunya sih ditemeni anak, tapi wong anaknya udah pada sibuk sendiri-sendiri ya sesama orang tua saling menemani. Haha…”

Aku manggut-manggut. Mata penuh perhitungan, ambil ketan lagi, ndak, ambil, ndak.

“Untung ada anak muda koyo kowe iki—kaya kamu gini, Le… Jadi pakdhe ndak kesepian.”

Aku mengangkat mata dan menatap wajah Pakdhe yang penuh keriput. Lelaki itu menatapku wibawa dan hatiku tenang. Kuambil ketan satu potong lagi, tahu dari wajah Pakdhe bahwa ketan itu memang sengaja dibelikan untukku, jadi Pakdhe ndak akan marah kalau aku yang menghabiskan. “Hehehe,” aku hanya tertawa.

Pakdhe punya koleksi batik satu joglo. Aku ndak bercanda, memang sebanyak itu. Itu koleksi Pakdhe sendiri, hobi Pakdhe, yang didukung oleh Budhe. Tapi setelah Budhe meninggal, Pakdhe ndak punya dukungan lagi, jadi kerepotan mengurus semua koleksinya. Pernah ada yang menawar satu lembar batik Pakdhe dengan harga 7,5 juta, tapi sama Pakdhe ndak dilepas. Kenangannya, kata Pakdhe waktu itu, bukan uangnya.

Kerjaku di tempat Pakdhe adalah mengurus batik-batiknya. Sebagai lelaki, aku ndak tahu apa-apa tentang mesin, tapi aku tahu cara terbaik menilai, merawat dan menjaga sepotong kain. Dibesarkan oleh eyang tukang mbathik, aku mencintai seni itu dalam darahku. Kain-kain itu berharga tinggi untukku, kupuja, kusanjung, dan tidak ada yang bisa mengalihkan cintaku dari batik asli yang dilukis secara tradisional.

“Kemarin itu di sini hujan angin guedhe bianget, Le… Tempat ini agak tempyas—kemasukan air, Pakdhe khawatir batiknya ada yang kena. Coba kamu liat ya Le…”

Nggih, Pakdhe… Wah, kayaknya banyak yang harus dijemur, nih Pakdhe, kalo ndak nanti jamuran…”

Pakdhe manggut-manggut dan menyuruh Yu Jar yang berdiri di sebelahnya menyiapkan jemuran khusus batiknya. Yu Jar pergi dan Pakdhe bertanya, “Apa banyak banget, Le? Kering ndak ya, nanti sore? Kamu harus pulang lagi, tho?”

Tanganku mengelus satu lembar batik kawung yang sangat bagus. Tanpa menatap Pakdhe aku menjawab, “Ndak pa-pa, Pakdhe. Saya bisa nginep.”

Suara Pakdhe terdengar lebih ceria saat menjawabku, “Ngono—begitu? Kethopraknya libur, po piye—atau gimana?”

Melintas dalam bayanganku semua latihan keras sejak pagi ini, semua orang di padepokan—kampung kethoprak—sudah heboh sejak kemarin karena kethoprak ditanggap Kepala Desa yang baru menang pilihan. Bayarannya gedhe, dan Pak Kades baru itu menanggap kelompok kami selama tiga malam. Sibuk, sibuk, sibuk.

Lalu aku teringat di tengah kesibukan itu dia—pacarku—tadi malam mengenalkan aku pada keponakannya yang baru datang dari Jakarta, “Tukang kostum kethoprak ini,” katanya memperkenalkanku.

Dan sudah. Itu thok.

Aku terus ditinggal pergi.

Sakit ati!

Aku tersenyum pada Pakdhe, lebar, ceria dan meyakinkan. “Nggih, Pakdhe. Libur!”

.

[sebelas]

Iklan