Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 626w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not. 
Sinopsis: the cut of the line.


[kedua]

.

Seseorang bertanya sudah berapa lama kami berhubungan sebagai kekasih, sebagai pacar, ulangnya ketika kami berdua berpandangan dan tertawa mendengar kata kekasih. Aku menjawab untuk kami berdua, “Sepuluh tahun.”

Orang itu membelalak dan mengangguk-angguk kagum. Dia terus bicara tentang rasa salutnya pada kami berdua yang sudah sepuluh tahun tetap menjalin komitmen. Aku meraih tangan pacarku, menggenggamnya di atas paha. Pacarku tidak bereaksi. Atau mungkin bereaksi, tapi aku terlalu terbiasa pada reaksinya sehingga sudah tidak merasakannya lagi.

Orang itu kemudian menjauh ketika namanya dipanggil dan gilirannya berdiri di loket tiba. Aku dan pacarku masih bergenggaman tangan, tapi tanpa rasa. Hal itu sudah menjadi bagian dari kami, dia di kananku, aku di kirinya.

Pulang dari bank, kami tidak lagi bergandengan tangan. Jalanan begitu padat dan panas, terlalu gerah kalau kami harus saling menempel. Aku memperhatikan pacarku tanpa benar-benar melihatnya, mengawasinya tanpa benar-benar dekat dengannya. Selama dia berada dalam jarak aman, itu sudah cukup.

Sejak wajahnya masih manis kekanakan, aku sudah terpaut padanya. Dulu kami begitu bergairah sebagai pasangan. Sebutkan saja semuanya, baju pasangan? Berduaan? Sontrek—ost—khusus kami? Bahkan tempat yang kami sebut ‘tempat kami’, semuanya ada, pernah dialami, pernah eksis. Saat itu untuk eksis tidak harus ngisi pulsa.

Sekarang semuanya sudah sangat lumrah. Orang bertanya tentangnya, pasti terkait padaku. Temannya, temanku. Hidupku, hidupnya. Aku bahkan heran kenapa kami tidak boleh menyebut kami sebagai suami istri. Dia adalah bagian yang berdenyut dalam nadiku setiap hari.

Dia berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Matanya berhenti mencari saat menemukan sosokku. Ada beberapa orang berdiri di antara kami, tapi aku tidak merasakan desakan untuk meraihnya cepat-cepat. Ini, jarak di antara kami ini, adalah apa yang menjadikan dia bagianku. Kami saling merasakan tidak lengkap saat yang lain tidak ada ada atau ada namun terlalu jauh, namun kami tetap membutuhkan jarak untuk menyadari keberadaan yang lain. Tepat seperti saat ini, ketika aku melihat penemuan di matanya, aku merasa ditemukan. Rasanya tidak seperti dulu lagi, tidak membuatku melonjak-lonjak girang, tapi halus dan mengalir tanpa aku sadari datangnya.

Dia menemukanku di tengah keramaian, dan merasa tenang karenanya. Perasaan itu adalah apa yang kami dapat setelah sepuluh tahun bersama.

Di atas becak, aku dan dia berdesakan. Tanganku merangkul pundaknya, dia menatapkan belakang kepalanya ke mukaku, sementara mataku melihat kemana saja kecuali dia.

Dia berkomentar tentang toko roti lama yang masih berdiri, aku menanggapi positif. Lalu dia berkomentar tentang toko sepatu lama, tentang jalan lama, tukang pathuk lama, pasar lama, dan aku sadar dia merasakan yang kurasakan.

Pertanyaan yang dilontarkan orang yang tidak kami kenal di bank tadi adalah pertanyaan yang timbul dari udara kebosanan, tidak berarti apa-apa, hanya basa-basi. Tapi ketika kami menyadari bahwa memang sudah sepuluh tahun berlalu sejak aku memintanya jadi pacarku, kami berdua sama-sama terkenang akan tahun-tahun yang sudah lewat itu. Lihat, bahkan pola pikir kami sudah mirip selama sepuluh tahun bersama.

Di depan gerbang padepokan, becak berhenti, kami termangu.

Gerbang padepokan sudah tampak bertambah usia dalam sepuluh tahun. Memori melintas saat aku berseru pada tukang becak, “Sebentar ya, Pak.”

Kami berdua menikmati pemandangan dari dalam becak. Jemariku menyentuh kulit lengannya dan semuanya terasa pada tempatnya.

Mengetatkan pelukanku, aku memanggil nama pacarku, membuatnya menoleh. Melihat mataku, tubuhnya meluwes, terasa pas di lekukan tubuhku sendiri. Dia tahu apa yang hendak kulakukan, aku tahu aku tak perlu memberitahunya.

Mulutnya agak terasa asam ketika aku menciumnya. Singkat, apa adanya, tidak berarti apa-apa kecuali menegaskan apa yang sudah jelas: aku miliknya, dia milikku.

“Selamat ulang tahun, Dik,” kataku melepaskan bibirnya.

“Selamat ulang tahun, Mas,” balasnya sambil tersenyum.

Ulang tahun hubungan yang kesepuluh. Satu akhir perjalanan dari rangkaian napak tilas sehari termasuk menabung bersama di tabungan bersama kami. Besok kami akan memulai perjalanan tahun kesebelas, tapi hari ini, kami merayakan lengkapnya perjalanan di tahun kesepuluh.

Aku ingin menciumnya lagi, tapi mungkin nanti saja. Aku malu.

.

.kkeut.

Iklan