Tag

Author: B
Genre: romance
Length: 486w. Oneshot
Fandom: 13HariNgeblogFF
Pairing: Aku-Dia-Sri
Disclaimer: The story belongs to me. The title is not. 
Sinopsis: Ini hanya masalah persepsi, Dik.

[ketiga]

.

Pukul tujuh pagi itu sakral. Aku biasanya baru tidur dini hari, dan pukul tujuh pagi adalah saat yang paling tepat untuk tidur paling nyenyak. Bagusnya lagi, karena aku masih tidur pukul tujuh pagi, aku ndak perlu mikirin semrawutnya Jogja akibat serbuan pasukan ‘berangkat sekolah’.

“Mas, jangan lupa, besok jam delapan ya.”

Nah, ini dia masalahnya. Jam sakralku terpaksa diusik gara-gara Pak No, tukang tratag kehilangan satu pekerjanya. Si Sudri, salah satu pekerja tratag, menerima tawaran kerja di Dubai dan sekarang Pak No kekurangan orang untuk membersihkan tratag. Karena aku satu-satunya yang paling cepet nganggur setelah pertunjukan, Pak No ndak minta tolong lagi padaku melainkan main perintah aja. Lelaki itu salah satu sesepuh, ya jelas aku ndak berani nolak.

Kalau aku harus membersihkan perkakas pukul delapan, artinya aku harus bangun pukul tujuh karena dari tempatku ke tempat Pak No butuh empat puluh lima menit perjalanan. Jalannya hanya sepuluh menit, sisanya sarapan di warung.

Ini.nyebelin.banget.

Hari kedua mbantuin Pak No, aku telat. Pak No sih ndak marah-marah, tapi pekerjanya yang lain cemberut melulu ke aku sepanjang pagi. Akhirnya sejak itu, aku minta dibangunin sama pacarku.

“Dik, bangunin aku jam tujuh ya, besok?”

Pacarku menjawab iya dan hari pertama minta tolong, semuanya baik-baik saja.

Hari kedua, pacarku ternyata sama masih lelap-lelapnya. Kacau, aku telat lagi. Kali ini Pak No bertanya sambil senyum, “Apa mau tak bangunin, Le?” Harap bayangkan senyumnya serupa bulan sabit yang letaknya horizontal. Ngeri.

Pacarku minta maaf, tapi aku ndak bisa marah wong aku tahu persis bagaimana capeknya dia. Akhirnya, seharian itu aku sibuk merenung. Aku ndak bisa terus mengandalkan pacarku. Aku harus jadi laki-laki sejati. Laki-laki dewasa. Meski ndak mudeng juga hubungannya sejati dan dewasa dengan bangun pagi, yang penting aku sudah nemu tekad.

“Pokoknya besok aku pasti bangun jam tujuh,” ucapku pada Sri yang kujadikan tempat curhat.

Sri hanya menggumam.

Kemudian datanglah besok.

Hari yang disebut besok itu, aku bangun sebelum pukul tujuh. Langsung mandi cibang-cibung, aku kegirangan karena bisa ngalahin alarm. Begitu keluar kamar mandi, cuman pake lilitan handuk dan rambut basah, aku ketemu Sri.

Ya, Sri. Di dalam rumahku, masuk lewat pintu belakang yang memang ndak pernah kukunci, menenteng nampan isi kopi dan lopis manis, tampak malu luar biasa.

Awalnya aku ndak punya kemaluan—maksudnya, rasa malu—yang sama dengan Sri. Sampai aku sadar aku ndak pakai apa-apa di balik handuk. Aku terbata dan buru-buru masuk kamar. Sri juga terbata dan buru-buru mau meletakkan bawaannya. Karena buru-buru, aku melangkah ke kiri saat Sri melangkah ke kanan.

Kami tubrukan.

Kami jatuh di lantai.

Aku di atas Sri.

Handukku ndak melorot, catat itu. Ndak melorot ya.

Hanya sialnya, saat itu pacarku datang, ndak bawa apa-apa, rambut kaya singa sisiran dikit, mata merah. Keliatan banget usahanya mau membangunkan aku.

Kami bertiga ndak bilang apa-apa. Ndak bilang apa-apa sampai malem. Hanya saling menghindari pandangan.

.

Malam itu, aku sms pacarku.

Dik, besok bangunin aku ya…

Smsku ndak dibales.

Besoknya aku telat lagi.

.

[kelima]

Iklan