Tag

1,045w. Oneshot. Sebuah cerpen untuk [tantangan menulis] ombak. Romance.

.

Namanya Debur Ombak Selatan.
Oke, orangtua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan?

Jangan-jangan orang tuanya adalah pengagum laut. Seperti temanku, Peterson, yang orang tuanya sangat memuja laut. Peterson mendapatkan namanya karena ketika dia lahir, ayahnya yang baru pulang dari melaut mendapat perolehan pethek, teri dan sontong. Dan karakter Peterson yang bersuara keras, merupakan apresiasi terhadap pendidikan ayahnya yang hanya tahu bahwa laut membuatnya bisa makan dan dapat uang. Karena itulah Peterson dan sekeluarga menjadi pengagum laut.

Mungkin kalau si Debur Ombak Selatan ini perempuan, namanya bisa dipermanis jadi Debora. Debora Sela Tania? Ah, agak maksa juga sih kedengarannya.

Dan sebetulnya sama sekali tidak penting. Kenapa yang jadi fokus di sini kemudian adalah orang tua Debur? Kenapa bukan Deburnya sendiri? Padahal lelaki itu sedang berdiri memesona di hadapanku. Gagah dan gelap dan… pendek.

Rasanya ingin menghela napas. Namanya begitu gagah dan bernuansa agung. Tapi bahkan aku melihatnya sambil agak menunduk. Sayang, tidak sopan kalau aku benar-benar menghela napas di hadapannya. Bukan apa-apa, aku baru makan siang. Tadi aku tidak bisa bertahan untuk tidak makan balado jengkol buatan Ibu DPR—ibu-ibu penjual nasi di warung Di bawah Pohon Rindang—yang biasanya sudah habis sebelum pukul 12.

Aku beruntung hari ini, yah, kurasa demikian. Aku secara mengejutkan masih kebagian balado jengkol, dan mendapat nasabah seorang yang demikian menawan dengan nama yang tidak mungkin dilupakan. Meski balado jengkol membuatku tidak bisa bebas menyapa lelaki ini dan lelaki ini terlalu kurang tinggi untuk seleraku.

Masalahnya, kalau aku tulis namanya di blanko, jangan-jangan pengawasku mengira aku sedang melankolis, sedang waktunya sensitif sampai menulis judul puisi di blanko pendaftaran nasabah. Tapi kan bukan. Ini memang namanya, fakta dan jelas. KTP-nya juga bilang begitu.

“Jadi saya ulangi lagi alamatnya, ya Pak Debur—“ ugh, kedengarannya seolah aku sangat akrab memanggilnya ‘Brur’, padahal “—Jalan NK, No. 67, Bali Mester, Jakarta Timur.”

Si ‘Brur’ mengangguk. Kepalanya terangkat. Matanya langsung menatapku. Oh, jantungku tadi lupa aku pasang ya? Kok detakannya berhenti?

Dia berkedip. Dan aku menemukan napasku lagi. Lengkap bersama logikaku. “Dan mohon Bapak tanda tangan di sini,” kataku setelah menelan ludah dua kali. Mauku sih tiga kali, tapi terlalu lama jedanya nanti, jadi ya sudah, dua kali saja.

Si ‘Brur’ melakukan yang kuminta. Tangannya meraih pulpen yang kusodorkan dan dia menandatangani sebuah blanko bermeterai. Berkas-berkasnya terserak di meja di depanku, dan aku merapikannya sembari dia membaca syarat dan ketentuan yang tertera di dalam blanko, tepat setelah aku memintanya, “Harap dibaca lagi syarat dan ketentuannya, Pak Debur.”

“Baik, Mbak. Saya sudah mengerti,” ujarnya mengembalikan blanko padaku setelah selesai membaca.

Aku mengambil kartu yang sudah jadi, lalu mendorong kartu itu ke arahnya. “Ini kartu keanggotaan Bapak. Harap dibawa apabila Bapak mengikuti acara yang kami selenggarakan. Ini untuk membuktikan bahwa Bapak adalah member Benang Merah.”

Aku menarik tanganku, mengamati tangannya yang memegang kartu dengan hati-hati, lalu pandanganku merambat ke wajahnya. Matanya menyipit ketika membaca, dahinya yang lebar sedikit bergelombang seperti sudut-sudut matanya. Bibirnya membentuk garis tegas. Aku melanjutkan bicaraku. “Jadi kami biasanya mengadakan acara untuk para Penelusur setiap sebulan sekali. Bapak akan mendapatkan notifikasi melalui sms dan setiap sms-nya akan dikenakan biaya sebesar seribu rupiah. Hanya sebulan sekali—“

“Para Penelusur?” dia bertanya sambil menelengkan kepala.

Aku menganggukkan kepala, karena memang aku biasa menganggukkan kepala pada setiap nasabah dan karena aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa di hadapannya, menjelaskan, “Para Penelusur adalah sebutan kami untuk anggota Benang Merah, Pak. Di sini semua anggotanya ingin menelusuri benang merah yang mengarah pada jodoh mereka masing-masing. Kami berusaha sebaik mungkin membantu mereka menemukan ujung satunya dari benang merah yang melekat pada mereka.”

Dia tertawa. Dia tertawa dan aku sesak napas seperti ketika setelah berbulan-bulan terjebak di ruangan kecil ber-AC lalu mendadak dilontarkan ke hadapan laut yang luas. Aku sesak napas dan tekanannya demikian kuat sampai-sampai aku tidak bisa bernapas. Oh tunggu, aku memang tidak bernapas. Suaranya membuatku lupa bagaimana caranya, tapi memberitahuku alasan akan nama yang disandangnya.

“Haha, intinya, para pencari jodoh kan, Mbak?”

Aku mengangguk. Menyerah untuk memasang tatapan sopan. Aku bahkan tidak terlalu bisa berpikir waras saat ini, mana punya tenaga untuk menjadi sopan? “Ya, singkatnya sih seperti itu, Pak.”

Dia mengangguk-angguk. Untuk sesaat dia terlihat terpekur merenungi kartu di tangannya.

Karena kebiasaan, aku mengira dia mencemaskan pertemuan anggota yang akan pertama kali dihadirinya. Kukatakan, “Tenang saja, Pak. Acara kami biasanya hanya seperti outing biasa. Kami menghindari ruang tertutup untuk lebih membuat peserta merasa santai dan menjadi diri sendiri sehingga mereka bisa menunjukkan sisi terbaik mereka. Saya yakin Bapak akan menikmatinya.”

Dia mengangkat kepala dan lagi-lagi tatapan kami bertemu. Tidak apa-apa, tidak apa-apa, ini sudah yang kesekian kalinya, jadi kurasa jantungku sudah agak terbiasa menghadapi pesonanya. “Bukan itu, Mbak,” dia berkata sambil menggeleng pelan. “Saya cuma penasaran kira-kira wanita seperti apa yang akan saya temui dan mungkin membuat saya bisa berkata ‘akhirnya’. Gitu.”

Aku tersenyum. Ah, lelaki ini manis sekali. “Menurut saya Bapak tidak perlu khawatir. Semua orang memiliki potensinya masing-masing. Saya yakin sekali Bapak kandidat yang potensial untuk menarik hati wanita.”

Dia mengedip. Itu bulu mata pencipta badai ya? Harus pinjem bulu mata anti-badainya Syahrini, nih. Ada badai di dadakuuu… Ough, aku menjijikan.

“Gitu ya, Mbak?”

Aku mengangguk. Lalu tersenyum. Tapi aku tidak ngiler, oke. Tidak ngiler sama sekali. “Ya. Mungkin pada pertemuan pertama ini Bapak langsung beruntung menemukan seseorang yang benar-benar cocok untuk Bapak.”

Dia mengangguk-angguk.

“Atau Bapak mau membatalkan pertemuan saja? Saya yakin saya mau mencocokkan diri untuk Bapak.”

Eh?

“Eh?” dia menengadah, matanya terkejut, melebar, dan wajahnya mengendur seperti orang bodoh.

Aku berkedip. Tunggu, itu tadi… Siapa yang bicara?

“Mbak tadi bicara apa?” dia bertanya.

Aku yang bicara? Ini lelucon ya?

Dia terus menatapku. Sial. Sial. Sial. Rupanya memang aku yang barusan bicara.

Aku tersenyum—atau paling tidak, aku mencoba—dan memandangnya dengan kedipan mata gugup. Mulutku membuka dan berusaha mengucapkan sesuatu seperti ‘bercanda’, ‘main-main’ atau apa, tapi tidak ada yang keluar. Aku hanya megap-megap, bingung, gugup dan bodoh.

“Mbak?”

Sial. Sial. Sial. Bahkan dalam kebodohan ini aku masih ingin bicara, “Saya rasa saya naksir Bapak.”

Ya salam, inikah ketika mulut bisa bicara tanpa perintah otak?

Lalu dia menganga. Membentuk senyuman perlahan dan menebarkan kerlip lewat matanya. Oh Tuhan, tolong biarkan aku dipecat saja dari perusahaan ini dan menikahinya.

Dia tertawa, lepas dan lebar. Lalu mencondongkan tubuh, “Jadi, Mbak selesai kerja jam berapa? Mau jalan?”

Ya. Ya, tentu saja.

.

.kkeut.

Iklan