Tag

, , , ,

4.276w. Bagian dari [Antologi Abu-abu] yang di-published di OFH; kali ini tidak di-post di sana karena terlalu sedikit SuJu dan lebih banyak HoMin.

.

Waktu tidak bisa dibeli. Cinta pertama tidak bisa dihapus. Begitulah bagi kebanyakan orang. Ada emosi atau tidak saat mengingat cinta pertama, ingatan tentang itu biasanya tetap akan lekat. Dulu cinta pertamaku bernama Yunho, Jung Yunho. Lelaki yang sangat keren, gagah, populer. Waktu SMA. Dan karena waktu tidak bisa dibeli, apalagi disuap, kelebihan Yunho berhenti di satu frasa itu: waktu SMA.

Cinta pertamaku saat ini berdiri di hadapanku, tidak mengenaliku, dan tampak… yah, kalau boleh jujur, tampak agak menyedihkan. Tubuhnya sudah menggelembung di beberapa bagian, terutama lengan dan perut (dan diam-diam aku memutuskan bahwa penyangga dada untuk pria memang harus ada untuk pria-pria seperti Yunho). Jujur saja, melihat keringat membanjiri bagian atas bibirnya menambah kesan menyedihkan dari seluruh penampilannya.

Yunho tidak terlihat seperti orang kaya, meski aku yakin keluarganya juga tidak kekurangan. Celananya ketinggalan jaman beberapa masa—seandainya saja dia memutuskan memakai model netral dan bukannya terpaku pada tren mode saat kami masih SMA dulu, mungkin dia bisa tampak sedikit lebih baik. Giginya rata dan sudah diperbaiki, yang agak aku sayangkan karena menurutku, gingsulnya yang dulu itu lumayan manis. Matanya mengerjap-ngerjap cepat di balik kacamata berbingkai tebalnya, sesuai dengan ritme bicaranya. Yang satu itu ternyata tidak pernah berubah.

Dari tempatku aku bisa melihatnya berusaha keras menarik simpati lelaki di hadapannya. Karena cukup dekat, aku bisa mendengarnya beberapa kali melemparkan tebakan yang selalu salah.

“Tapi aku yakin pernah melihatmu!” katanya sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.

Lelaki yang menjadi lawan bicaranya hanya tertawa sambil menggelengkan kepala. “Masa?”

“Ya lagipula kalau tidak, untuk apa kau ada di sini? Tunggu!” Yunho mengangkat tangannya yang memegang gelas bir yang terisi setengah. “Jangan bilang dulu. Sialan. Aku tidak pikun. Aku belum pikun, kalau memang harus. Aku yakin aku pernah melihatmu sebelumnya—ani, mengenalmu. Kau dulu ikut organisasi apa?” Yunho menyondongkan tubuh, mendesak karena tidak sabar sendiri.

Lelaki itu tertawa, renyah dan menyenangkan didengar. “Organisasi?” dia bertanya sambil berpikir.

“Ya, di SMA dulu. Kau ikut organisasi apa?”

“Aku… mmm, coba kuingat… Kurasa dulu aku ikut paduan suara,” jawab lawan bicara Yunho.

Aku membelalakkan mata. Aku, ikut paduan suara. Lelaki itu jelas tidak ada di kelompok paduan suara kami.

Yunho menyipitkan mata. “Aku cukup kenal mereka. Hampir semuanya malah…” suara Yunho melirih dan dia tampak keluar dari bumi untuk sesaat. Matanya beredar ke seluruh ruangan dan tampak kecewa saat tidak menemukan apa yang dicarinya. Apa dia mencariku? Sesuatu dalam diriku menebak demikian. Bagaimanapun juga dulu Yunho mengenal hampir semua orang di paduan suara karena aku. Meski akhirnya aku tahu dia ingin mengenal semua orang bukan untuk aku sama sekali.

“Benarkah?”

Suara lelaki itu membuyarkan pikiran Yunho, membuatnya kembali memandang lelaki itu. Yunho tersenyum miring. Senyum itu membuatku kembali menyadari kebenaran pikiranku tadi; senyumnya sesuai yang kuingat, manis dan memikat, hanya saja kali ini tanpa efek membuat jantungku berdebar di luar kebiasaan. Seperti yang dulu. “Ya,” Yunho mengangguk. “Dan mestinya tidak sulit mengingatmu karena tidak banyak anggota paduan suara yang laki-laki.”

Lelaki di hadapannya mengangkat tangan yang juga memegang segelas bir terisi separuh, “Ah, tapi aku juga anggota klub olahraga, jadi aku jarang datang latihan paduan suara.”

Yunho membelalak. “Benarkah?! Well, kalau begitu kau pasti ingat aku. Aku dulu anggota klub basket. Kau tidak ingat aku?”

Lelaki di hadapan Yunho tertawa lebih renyah lagi. Dia menggeleng. “Maaf, aku tidak mengingatmu sama sekali.”

“Ah kau ini payah,” suara Yunho menuduh dan tangannya menuding. “Sudahlah, kalau memang kau dulu sebegitu tidak terkenalnya dan tidak gaulnya sampai tidak mengenalku, kita kenalan saja sekarang. Aku Jung Yunho,” ujarnya mengulurkan tangan.

“Aku Shim Changmin,” lelaki itu menjawab uluran tangan Yunho.

Yunho mengangguk-angguk. “Kurasa aku memang tidak pernah mendengar namamu di antara teman-teman seangkatan kita. Hmm, kau ini misterius sekali…”

“Tidak misterius. Mungkin terlalu biasa. Aku sekolah seperti biasa, lulus seperti biasa, bekerja seperti biasa, menikah seperti biasa, dan sekarang tetap hanya lelaki biasa.”

“Memang kau bekerja di mana?”

“Aku?” Yunho mengangguk. “Aku bekerja di selatan. Aku punya perusahaan pengepakan udang dan tiram.”

Kali ini Yunho membelalak. “Kau punya per—katamu kau tadi bekerja seperti biasa, punya perusahaan itu bukan sesuatu yang biasa! Ya! Sudah berhasil rupanya kau.”

Shim Changmin terkekeh. “Benar-benar tidak seperti yang kau bayangkan. Punya perusahaan itu hanya istilahnya. Aku masih harus bekerja sendiri memanen udang dan tiram, mengawasi pengepakan dan sebagainya.”

“Tetap saja kau melakukannya untuk perusahaanmu sendiri.”

“Bukan. Aku melakukannya demi keluargaku,” lelaki itu tampak tersadar akan sesuatu lalu mengangkat muka, wajahnya beredar ke sekeliling lalu aku melihat kekecewaan yang sama di wajahnya seperti kalau seseorang tidak menemukan apa yang dicarinya di tengah kerumunan.

“Istrimu ikut?” Yunho bertanya.

“Ya. Sebetulnya—“

“Shim Changmin,” suara itu hampir membuatku terbatuk.

Shim Changmin menoleh dan tersenyum sopan menutupi kebingungannya. Lelaki yang baru saja memanggilnya tampak malu sesaat sebelum dengan lancar menyebutkan, “Maafkan aku. Aku sedang duduk di sana dan mengenalimu. Kau diwawancarai majalah bisnis bulan lalu, bukan? Aku mengenalimu dari foto yang mereka pasang.”

Yunho tampak gusar dengan kedatangan orang itu. Tapi orang baru itu sepertinya tidak mempedulikan Yunho sama sekali, dia malah mengulurkan tangan dan bersenyum lebar, “Kenalkan, aku Park Jungsoo.”

Mataku tak bisa lepas dari wajah itu.

“Park Jungsoo ssi, Shim Changmin,” lelaki itu menjawab formal.

Jungsoo tertawa kecil lalu berkata, “Aku berlangganan majalah bisnis, dan aku selalu membacanya sampai tuntas,” aku mendengar suara dengusan setelah Jungsoo mengatakan kalimatnya. Kurasa kami semua di sekitar mereka bertiga bisa mendengar dengusan itu. Seketika perhatian teralihkan pada ketiga lelaki itu, seolah ada teater kecil di sana. Orang-orang mulai berbisik-bisik.

Jungsoo menoleh tidak senang pada Yunho tapi memilih mengabaikannya. “Kau hebat sekali bisa punya ide melakukan pengepakan udang itu. Kau berani mengambil risiko yang semua orang pikir mustahil ditaklukkan. Sebenarnya,” Jungsoo bicara cepat dan memikat, tangannya meraih ke saku kemejanya, lalu keluar lagi dengan sepotong kartu nama yang diulurkannya ke hadapan Shim Changmin. “Ini kartu namaku, sebenarnya, aku punya perusahaan pak. Kualitasnya terjamin.”

Dengusan itu terdengar lagi, disambung suara mengejek yang agak kasar. Jungsoo menoleh dan memandang tajam pada Yunho. “Jung Yunho,” angguknya pelan sambil menyapa dengan nada dingin.

“Ya, Park Jungsoo, ini bukan acara bisnis. Hanya karena kau tukang jualan bukan berarti kau bisa jualan seenaknya di sini,” Yunho berkata mengejek. “Ini acara reuni, reuni SMA kita. Kita di sini untuk kembali bertemu teman-teman lama, mantan-mantan pacar—“ Yunho berhenti dan tampak salah tingkah mendengar kata-katanya sendiri. Lalu dia tampak menyadari bahwa orang-orang di sekitar mereka bertiga juga sudah menegakkan telinga menanti drama yang mungkin terjadi.

Pandangan Jungsoo keras dan tajam pada Yunho. “Begitu ya, wajar saja kalau itu yang kau cari. “

Yunho tampak tersinggung. “Apa maksudmu?”

Jungsoo mengabaikannya, dia menoleh ke arah Changmin sambil berkata seolah menggumam, “Tidak ada.”

“Cih. Pengecut. Pantas saja Miho dulu memilhku, kau selalu diam tak terdeteksi,” Yunho mengejek penuh kemenangan.

Jungsoo menoleh begitu cepat sampai-sampai semua orang terkesiap mengira dia akan menyerang Yunho. Tapi tidak, dia hanya berkata pelan sebelum berpamitan pada Shim Changmin, “Kita tahu siapa pilihan terakhir Miho, meski itu bukan hal yang pantas dibicarakan sekarang ini. Aku kembali ke mejaku dulu, Shim Changmin ssi. Mungkin nanti kita bisa bicara lagi.”

Shim Changmin mengangguk dan dengan bijaksana tidak berusaha bicara apapun. Yunholah yang pada akhirnya membuka pembicaraan terlebih dulu sepeninggal Jungsoo. “Kami bukan musuh,” ujarnya pada Shim Changmin. Dia punya cukup sopan santun menunjukkan rasa malu saat mengatakannya. “Mungkin kelihatannya seperti itu, tapi sebetulnya aku dan dia tidak punya masalah apapun. Kami hanya—“ Yunho melambaikan tangan dan mengedarkan pandangan, “—tidak punya frekuensi yang sama atau semacamnya.”

Shim Changmin mengangguk sopan. “Kau tidak perlu menjelaskan, Yunho ssi,” katanya datar.

Yunho menggeleng dan tersenyum kecil. “Tidak. Ini hanya cerita, bukan penjelasan. Pada dasarnya dia orang yang terlalu pendiam menurut standarku. Temannya, teman baiknya, agak mendingan, aku bisa bicara dengan temannya tanpa ketegangan. Tapi Park Jungsoo itu, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang dia pikirkan.”

Shim Changmin meneguk birnya.

“Mungkin kau pernah mendengarnya, seingatku itu peristiwa yang lumayan heboh. Miho, dulu pacarku, memutuskanku dengan drama di hadapan banyak orang. Kau pasti kenal Miho. Dia klub paduan suara juga. Dan meski tidak semua orang, kurasa cukup banyak orang yang tahu bahwa Jungsoo menyukai Miho bahkan saat dia masih menjadi pacarku,” Yunho bercerita pelan.

Aku menghela napas di tempatku berdiri. Merasa aneh karena tak punya emosi apapun saat kenangan kembali mengalir.

Selama beberapa saat tidak ada yang berbicara sampai Shim Changmin bicara, “Apa… Park Jungsoo yang membuatmu putus dengan Miho?”

Yunho menggeleng sambil tersenyum. Tangannya terangkat meminta agar gelasnya diisi kembali. “Anehnya, bukan. Miho tahu aku menyukai wanita lain, jadi kurasa aku memang pantas dipermalukan seperti itu,” alis Yunho terangkat, matanya menyiratkan pandangan ‘tahu’ sesama lelaki pada Shim Changmin.

Lelaki itu tersenyum meminta maaf dan berkata, “Aku pasti tidak masuk hari itu karena tidak ingat pernah melihat drama kau diputuskan Miho.”

Yunho tersentak. “Bercanda! Itu terus dibicarakan orang selama seminggu dan cewek yang benar-benar kusukai bahkan tidak mau bicara denganku karena itu! Ya, Shim Changmin, kau benar-benar nggak gaul ya?”

Shim Changmin menggaruk telinganya dengan kikuk. Ada berkas-berkas keperakan di tepi garis rambutnya yang tercukur rapi.

Yunho mendengus lalu melanjutkan, “Pokoknya, setahuku Miho dan Jungsoo akhirnya bersama. Meski tidak sampai menikah. Tidak seperti aku dan Nara. Kalau Nara kau ingat kan? Sampai tidak ingat ketua klubmu sendiri, kurasa aku mulai curiga sebenarnya kau berbohong.”

Lagi-lagi Shim Changmin hanya tertawa, hanya saja kali ini tawanya lebih lepas dan lebih meyakinkan. Kepalanya mengangguk-angguk samar.

“Dia wanita yang betul-betul kusukai. Kucintai. Atau apalah namanya itu. Awalnya aku hanya melihat Nara dan mengira aku akan mendekati temannya untuk meminta informasi tentangnya. Entah bagaimana aku berakhir memiliki hubungan dengan Miho. Kuakui Miho membantuku mendapatkan informasi mengenai Nara tapi—“ Yunho terdiam dan terpekur menatap gelas barunya. “Bertahun-tahun aku selalu berpikir bahwa aku lelaki brengsek. Memanfaatkannya seperti itu. Bukan sebentar, aku bersama dengannya selama… berapa… mungkin hampir dua tahun?”

Shim Changmin terbatuk. “Kau, bersama dengannya dua tahun sementara kau sebenarnya menyukai temannya?”

Yunho tersenyum kecut. “Kupikir lagi, sebetulnya aku cukup menyukainya juga, Miho itu.”

“Eh?” suara Shim Changmin terdengar lagi.

“Maksudku, meski dia bukan Nara, aku ingat pernah merasa bahagia dan senang bersamanya. Dia sama sekali tidak buruk.”

Yunho mendongak dan Shim Changmin memandangnya lurus-lurus. “Maksudmu kau menyukai keduanya?”

Yunho menggeleng. “Tidak. Aku menyukai Miho, tapi aku mencintai Nara. Kalau misalnya aku pernah mencintai Miho pun, itu bukan cinta yang akan bertahan sebab—aku tahu ini konyol, tapi dia bukan Nara.”

“Kurasa kau juga orang yang sulit dimengerti. Meski bisa dibilang aku agak mengerti maksudmu barusan,” Shim Changmin menggumam.

Yunho tertawa kecil. “Lihat? Aku memang orang yang mudah dimengerti, tidak seperti Park Jungsoo itu. Dia seperti malas bicara pada orang-orang yang bukan teman lamanya,” Yunho berhenti sejenak, “Atau bicara yang tidak ada hubungannya dengan bisnis. Kurasa karena itulah aku susah memahaminya. Bukan berarti aku ingin, pokoknya hanya susah saja.”

Shim Changmin tersenyum. “Kalau begitu sekarang ini kau sudah menikah dengan Nara?” tanyanya seperti main-main.

Yunho mengangguk. Lalu matanya beredar lagi ke seluruh ruangan. Aku mengikuti pandangannya dan melihat sosok yang kukenali. Kang Nara. Agak berbeda dari sosoknya yang dulu, tapi itu dia. Auranya tegas dan bisa diandalkan. Yunho selalu lebih diam di hadapannya daripada di hadapanku.

Suara Yunho terdengar lagi, “Sudah menikah dan punya tiga anak dengannya. Selalu dimarahi olehnya dan kami selalu bertengkar untuk hal-hal aneh. Dia sangat keras kepala sementara aku tidak terlalu suka diatur. Dia sangat menyebalkan.”

Sesuatu dari cara Yunho mengatakan menyebalkan membuatku tahu bahwa artinya adalah sebaliknya. Yunho masih memuja Kang Nara seperti dulu. Sama kuat dan fokusnya. Dan sekarang bahkan ditambahi rasa bangga saat dia mengatakan bahwa ada tiga anak yang dimilikinya dari hasil pernikahan bersama wanita itu. Aku tahu tatapan di matanya itu, dan itu membuatku mau tidak mau tersenyum. Kali ini ingatan yang muncul agak terasa manis. Yunho masih semanis itu dalam hal mencintai Nara.

“Kau sangat mencintainya,” rupanya Shim Changmin setuju denganku.

Yunho berpaling lagi pada lelaki itu dan tersenyum sayang. “Ya. Sangat mencintainya dan anak-anak kami yang penuh tuntutan dan hidup kami yang sekarang.” Senyum Yunho berubah lebih sayu, “Meski kebahagiaan ini terasa berat karena aku masih berhutang maaf pada Miho.”

Shim Changmin menelengkan kepala.

“Aku tidak pernah sempat meminta maaf padanya. Dulu aku terlalu angkuh untuk meminta maaf padanya. Harga diriku diterjunkan ke jurang olehnya saat dia menamparku di tengah aula olah raga saat orang-orang sedang mempersiapkan pertandingan antar kelas. Bisa dibilang seluruh isi sekolah—kecuali kau—ada di sana dan melihatku dicampakkan.”

Shim Changmin menyengir.

“Tapi semakin dewasa aku semakin terganggu dengan perasaan bersalahku sendiri. Dia tidak pernah datang untuk reuni, dia tidak pernah memberi kabar, bahkan aku tidak bisa menemukan seorang pun yang bisa menghubungkanku dengannya.” Yunho menghela napas. “Hanya Park Jungsoo. Tapi dia pun menghilang selama beberapa tahun. Saat kabarnya kembali terdengar, kudengar dia sudah menikah. Dengan perempuan yang bukan Miho.”

Suara Yunho mengalun seperti latar belakang saat aku memutar kepala ke tempat Jungsoo sedang duduk. Seolah merasakan tatapanku, lelaki itu mengangkat kepala dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak lama kemudian seseorang memanggilnya dan dia kembali mengarahkan tatapannya ke lawan bicaranya.

Punggungnya membuatku berpikir, jika cinta pertama begitu istimewa sampai tak mungkin dihapus, bagaimana dengan cinta kedua?

Punggung Jungsoo sekarang sedikit lebih bungkuk dari saat aku bersamanya dulu. Dia lebih berisi, tapi aku menyukai punggungnya yang keras dan kurus dulu itu. Gelenyar perasaan membuatku menggigit bibir. Menatap dan mendengarkan Yunho tidak membawakanku perasaan apapun, tapi memandangi Jungsoo yang tidak tahu di mana aku berada membuat ulu hatiku hampir mulas. Rasa itu menggulung begitu samar di balik semua lapisan perasaan yang pernah kumiliki.

Aku memutuskan tidak ada gunanya terus membiarkan rasa ini menggangguku, jadi aku berputar dan melangkah pelan menuju pintu keluar. Aku bersyukur memilih toilet di dekat pintu keluar. Dengan begitu aku tidak harus terlihat untuk benar-benar keluar.

.

Kubiarkan angin dingin membuat wajahku kaku. Restoran tempat reuni ini diadakan cukup luas sehingga aku tidak kesulitan menemukan tempat menyendiri tanpa risiko terpergok siapapun yang kebetulan mengenaliku. Sejauh ini, tidak ada yang benar-benar mengenaliku, kudapati perasaanku lega karenanya.

Tapi ketenanganku tidak lama. Sebab aku mendengar suara langkah kaki.

“Shim Changmin ssi,” punggungku semakin dekat saat aku mendengar suara itu.

“Park Jungsoo ssi,” suara Shim Changmin kali ini terdengar.

“Apa anda sudah hendak pulang?” suara Jungsoo. Diam-diam aku berpikir suaranya lebih berat dan matang dari terakhir kali aku mendengarnya. Yah, tidak mengherankan. Sudah berapa lama kami tidak bertemu? Aku bahkan tidak ingin menghitung angkanya.

“Belum, saya hanya mencari udara segar. Agak terlalu banyak minum di sana,” terdengar suara Shim Changmin menjawab lagi.

“Jung Yunho memang kuat minum. Dia bisa jadi menyenangkan setelah beberapa tegukan,” suara Jungsoo yang ringan dan kalimatnya yang lebih mirip pujian membuatku terkejut. Aku dan Jungsoo tidak banyak membicarakan Yunho bahkan di awal-awal hubungan kami, tapi aku tahu Jungsoo juga tidak mudah mengakui bahwa Yunho memiliki sisi baik. Rupanya waktu sudah berhasil menyuap pribadi Jungsoo.

Terdengar suara tawa Shim Changmin. “Ya, dia lelaki yang cukup bersemangat.”

“Benar, cocok sekali sebagai pegawai negeri yang melayani masyarakat,” Jungsoo.

“Pegawai negeri? Saya pikir dia juga memiliki perusahaan atau setidaknya manager di perusahaan tertentu. Dia terlihat sangat agresif,” Shim Changmin.

“Agresif dan terlalu tulus sampai bisa dibilang naif. Bukan pebisnis yang baik,” Jungsoo. “Tapi pribadi yang luar biasa.” Masih Jungsoo.

Diam selama beberapa saat sampai, “Jadi, bagaimana bisnis anda?” kembali kudengar suara Jungsoo bicara. Aku tidak pernah mendengarnya bicara seperti itu. Ada yang masam saat kusadari tahun-tahun kehilangan waktu bersamanya.

Shim Changmin berdeham lalu menjawab agak ragu, “Baik. Baik-baik saja.”

“Saya tidak tahu bahwa anda bersekolah di sekolah yang sama dengan saya. Saya bahkan tidak pernah mendengar nama anda di sekolah.”

Shim Changmin terbatuk.

Jungsoo tertawa. “Haha, saya sempat mendengar apa yang Yunho katakan. Anda benar-benar tidak terlalu dikenal rupanya. Saya tebak anda juga belum pernah mengenal saya sebelumnya?”

“Belum,” Shim Changmin tidak langsung menjawab.

“Yah, saya juga tidak terkenal. Tidak seperti Yunho. Saya anak pendiam di sekolah. Hanya karena pekerjaan memaksa saya makanya saat ini saya lebih banyak bicara. Dulu saya hanya bicara pada orang-orang tertentu, orang-orang yang sangat dekat dengan saya.”

“Ya, Yunho ssi juga berkata hal yang sama.”

“Sudahlah, lupakan saja. Saya menyusul anda karena ada yang ingin saya bicarakan. Saya harap anda tidak keberatan,” Jungsoo menyahut cepat.

Tidak terdengar suara Shim Changmin bicara.

“Anda sudah menerima kartu nama saya kan? Begini, salah satu usaha saya adalah memproduksi pak makanan. Sejujurnya saya sangat tertarik dengan usaha anda. Saya ingin bergabung dengan anda dengan cara menyediakan kap pengepak.”

“Eh…”

“Ah, maaf, maaf. Saya terlalu terburu-buru. Masalahnya begini. Saya tidak bisa berlama-lama. Sebentar lagi saya harus pergi dan karena dari tadi anda terus dimonopoli oleh Jung Yunho ssi, saya agak sulit mendekati anda. Bisakah kita bertemu kapan-kapan dan makan malam… atau makan siang kalau anda berkenan?”

Diam sejenak lalu suara Shim Changmin akhirnya terdengar, “Baiklah. Saya rasa saya juga belum memberi anda kartu nama saya? Sebentar… Nah ini dia. Telepon saja saya dan kita bisa membuat janji temu. Saya senang anda tertarik pada usaha saya.”

Jungsoo tertawa singkat, tapi lebih menyenangkan daripada tawanya sebelumnya. Kemudian terdengar sayup-sayup suara perempuan, “Appa?”

“Ah, anak saya sudah menjemput. Sebaiknya saya segera pergi. Hari ini ulang tahunnya, dia pasti kecewa kalau saya membatalkan janji kencan saya dengannya. Saya janji akan segera menelepon anda, Shim Changmin ssi.” Bersama itu aku mendengar derap kaki menjauh. Gemanya ikut mengecil di dalam dadaku.

Cukup lama aku terbenam dalam pikiranku sendiri yang entah apa sampai akhirnya aku mendengar dan merasakan seseorang duduk di sebelahku. “Halo,” ujar suara itu. Suara Shim Changmin.

Aku menoleh dan akhirnya bertemu mata dengannya. Mata itu besar dan berkilau. Berhias kantung mata yang cukup terlihat, mata itu menatapku lembut dengan senyum tipis terpancar. Aku membalas senyumnya.

“Udara cukup dingin, anda tidak merasa kedinginan duduk di sini?” dia bertanya.

Senyumku makin lebar. Kualihkan tatapanku darinya. Telapak tangan yang terkepal di pangkuan kubuka, kubiarkan menengadah menatap langit. Sesaat kemudian sebuah tangan hangat menyelimuti tanganku itu dan menggenggamnya erat. Tangan Shim Changmin. Berhias sebuah cincin kawin sederhana di jari manisnya.

Aku berkata, setengah menjawab, setengah menggumam, “Dingin, tapi tidak terlalu. Sebab aku tahu kau akan datang.”

Changmin mengubah genggamannya, dia menelusupkan jemarinya di sela-sela jemariku. Aku merespon dengan meremasnya pelan, membiarkan kehangatan yang dia pancarkan merambat melalui lenganku, ke seluruh tubuhku. Kuperhatikan kulit lengannya yang tidak lagi sehalus saat muda dulu. Kulit lengan yang sering kuperhatikan setiap kali aku berhasil bangun dulu darinya di pagi hari. Kulit lengan yang sama, namun terus berubah setiap hari.

Lalu dia bicara, memecah keheningan yang aneh di antara kami, “Mantan pacarmu menyesal.”

Aku mendongak menatapnya bertanya.

“Yunho. Dia ingin mengucapkan maaf padamu. Kenapa tadi kau tidak kembali duduk dan menghampiri kami?”

Kuperhatikan hidung Changmin yang lurus, cupingnya yang melebar dan dagunya yang menarik, “Sebab aku tidak mau dipaksa berkenalan dengan anak baru klub paduan suara yang nggak gaul.”

Changmin tergelak mendengar itu. “Yah, aku memang sedikit melebih-lebihkan. Aku ikut band, bukan paduan suara.”

Aku mengangkat sebelah alis.

Dia melebarkan mata, “Itu benar!” Dia menarik tanganku, memaksaku bergeser ke arahnya, “Dan aku sering latihan badminton sehingga jarang latihan band.”

Kugigit bibirku menahan senyum yang ingin keluar.

Tentu saja Changmin melihat itu. “Dan akhirnya aku dikeluarkan dari bandku.”

Akhirnya aku tersenyum, senyum yang sebenarnya. Changmin membalas dengan merangkul pundakku dan merapatkan tubuh kami. Aku menengadah dan dia menurunkan wajah, bibirnya menempel di kelopak mataku yang tertutup. Kemudian dia mencium pelipisku sambil berbisik, “Kau tidak apa-apa?”

“Kenapa?” tanyaku.

“Sebab aku entah bagaimana ingin meninju Jung Yunho meski aku mengerti penjelasannya tentang mencintai satu wanita istimewa itu.”

Kutarik tubuhku dari dekapannya. “Jadi kau juga jatuh cinta pada Kang Nara? Tapi kau melihat mukanya saja tidak!”

Bibir Changmin maju, kesan bapak-bapak tua penggerutu langsung terlihat dari sosoknya. “Bukan itu. Maksudku, aku mengerti tentang hanya mencintai wanita yang paling tepat. Nara untuknya, dan dalam kasusku, wanitanya adalah kau.”

“Cih, ahjussi, ingat umur. Masih bicara cinta-cintaan.”

“Biar saja. Toh paling tidak pernikahan kita baru tujuh tahun usianya. Masih sangat muda.”

Tatapanku padanya melembut. Dia benar. Dan sesuatu yang indah mengembang dalam diriku, menekan kepahitan samar saat mendengar langkah kaki Jungsoo yang menjauh.

Senyumku sedikit berkurang, “Maafkan aku,” kataku agak menyesal.

“Apa? Kenapa?”

“Karena tidak mengiyakan ajakanmu menikah dari dulu-dulu.”

“Go Miho ssi,” katanya setelah terdiam beberapa lama hanya menatapku. “Aku tidak percaya pada pernikahan dini.”

Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya yang tidak masuk akal itu. Bagaimanapun kami menikah saat Sora, putriku, sudah cukup umur untuk menikah. Bagian mana ‘dini’nya aku juga tidak mengerti.

Rupanya Changmin menangkap hal itu dan dia melanjutkan, “Kalau dari sejak jatuh cinta padamu aku sudah menikah denganmu, aku akan langsung meninju Jung Yunho dan Park Jungsoo saat aku bertemu mereka tadi. Cintaku perlu dewasa dulu, tahu, sebelum akhirnya menikah.” Perasaanku mengembang mendengar itu, tidak cukup di dada, luapannya sampai ke mata. Wajah Changmin mendadak kabur di pandanganku. “Kenapa malah menangis?”

Sekuat tenaga kuusahakan agar tidak ada air mata yang tumpah. “Aku tidak menangis. Mataku memang indah dari sananya.”

Dia tertawa rendah, getarannya terasa di dadaku. Lalu, “Serius, apa aku mengatakan hal yang salah? Kau menyesal sekarang menunda mengatakan iya pada lamaranku?” katanya.

Aku menggeleng. “Aku hanya senang kita menunggu sampai kita benar-benar dewasa.”

“Tua, maksudmu?”

“Berisik. Kau sendiri yang bilang dewasa.”

Dia lalu menciumku. Pelan dan lembut. Setelah itu dia hanya menatapku lama sekali. “Aku menyesal,” katanya akhirnya.

“Untuk apa?”

“Meski aku tahu semua tidak bisa diubah, aku berharap kau bertemu denganku sejak pertama dan kau tidak perlu merasakan semua kepahitan masa lalumu.” Aku membuka mulut tapi Changmin lebih cepat, “Park Jungsoo, kan?”

“Hah?”

“Ayah Sora. Dia Park Jungsoo, bukan? Bukan Yung Yunho? Sora cukup mirip dengannya.” Aku mengamatinya sesaat sebelum akhirnya mengangguk. “Sial. Padahal aku ingin bilang Sora sebenarnya mirip denganku.”

Aku tertawa. Tapi sambil menyesal sekaligus. “Maaf,” ucapku. Karena kami menikah di usia yang sudah melebihi usia produktif, sampai saat ini aku tidak hamil lagi.

Changmin menggeleng. “Tidak, aku yang minta maaf. Ini pembicaraan yang tidak berguna. Kalian keluargaku, aku tidak pantas meminta lebih lagi.”

“Tentu saja pantas!” aku menyanggah. “Meski belum tentu bisa terjadi. Aku sudah terlalu tua untuk ham—“

“Aku tidak bisa punya anak, Miho-ya.”

Aku terpaku. Ucapannya menghentikanku seketika. Dia menggaruk belakang telinganya dan hanya berani mencuri-curi tatapan ke arahku. “Kupikir akan adil kalau aku mengaku sekarang. Aku memaksamu datang ke reuni ini. Aku yang memaksa ingin tahu masa lalumu. Dan adil rasanya kalau aku juga memberitahumu rahasiaku yang paling buruk.” Dia mengangkat wajah dan menatapku sedih, “Aku tidak bisa punya anak. Tidak subur. Mandul. Cacat. Produk gagal. Katakan saja semuanya, semua dokter sudah mengatakan hal yang sama.”

Dia tampak begitu rapuh dan tidak yakin saat mengatakannya sehingga aku harus menelan ludah. Lalu kilat rasa itu melintas di wajahnya saat dia meneruskan, “Maka dari itu aku sangat bahagia saat kita bersama-sama. Jauh sebelum kita menikah, aku sudah berangan-angan bahwa Sora adalah anakku. Kalian seperti paket lengkap. Maafkan kalimatku, tapi memang seperti itu.”

Kami terdiam. Aku karena tidak tahu apa yang harus kukatakan. Changmin, karena… entahlah, dia tampak sangat sedih bergelung dengan pikirannya sendiri.

.

Kami meninggalkan restoran dalam diam. Acara masih berlangsung, tapi baik aku dan Changmin sama-sama tidak ingin kembali ke sana. Aku berpikir ini akan jadi terakhir kalinya aku datang ke acara reuni dengan sengaja.

Di mobil pun kami tetap diam. Changmin terlihat menjauh dan aku takut mengatakan hal yang salah. Jadi kubiarkan kediaman di antara kami berlarut-larut.

Kami berhenti di sebuah studio foto. Memang sebenarnya tempat inilah alasan kami datang ke Seoul hari ini. Reuni itu hanya selipan acara. Di bagian depan studio terdapat sebuah kafe. Baik bagi kafe itu maupun studio foto itu, kami sudah menjadi pelanggan tetap mereka selama tujuh tahun. Kami mendatangi tempat-tempat ini dua kali dalam setahun.

Duduk di pinggir jendela yang menghadap studio foto, aku dan Changmin saling diam sambil sesekali mencuri pandang. Pintu masuk kafe bergemerincing lalu masuklah sebuah keluarga kecil dan mereka memilih tempat duduk tidak jauh dari kami. Changmin terus memandangi mereka. Ada tatapan merindu yang kulihat dalam matanya.

“Changmin-a…”

Dia menoleh dengan terkejut.

Kugenggam tangannya. “Dulu, Sora akan bersorak gembira di hari-hari ulang tahunnya. Pagi-pagi sekali Jungsoo akan datang dan menggendongnya ke seluruh rumah. Dia akan mandi dan bersedia didandani dengan manis agar hari itu kami bisa pergi piknik dan bergembira bersama. Dia akan tertidur dengan senyum yang sangat lebar karena ayahnya menjadikannya putri seharian penuh.”

Changmin menatapku agak menyipit. Matanya terluka. Aku menelan ludah melihat kekecewaannya. Dia pasti sakit hati karena aku menceritakan masa lalu yang tidak dikenalnya. Tapi aku meneruskan, sebab ceritaku belum selesai. “Tapi, dari semua tahun-tahun itu, Jungsoo tidak pernah ada lagi keesokan harinya. Sebelum berangkat tidur di malam ulang tahunnya, Sora akan tidur dengan dahi berkerut, khawatir ayahnya tidak akan datang merayakan ulang tahun. Dan sehari setelahnya pun dia akan lebih diam dari biasanya karena ayahnya sudah tidak ada lagi. Mungkin rasanya hanya seperti mimpi. Setelah kami berpisah, keadaannya lebih buruk. Sora tidak bisa melihat ayahnya sama sekali. Lalu sekarang, bahkan Jungsoo pun sudah punya putrinya sendiri yang berkencan ulang tahun dengannya.”

Changmin menatapku lurus-lurus. Aku menggigit bagian dalam pipiku, mencegah tangisku terpancing karena mengingat ketegaran Sora sebagai seorang anak.

“Tapi bertahun-tahun lalu, ada seorang paman yang datang setiap hari. Yang lama-kelamaan menjadi penghuni tetap dalam rumahnya. Yang ada pada hari sebelum hari ulang tahunnya dan tetap ada setelahnya. Bertahun-tahun lalu, paman itu dengan kikuk membuat Sora tidak lagi hanya berdua dengan ibunya. Lalu akhirnya, tujuh tahun lalu, Sora berangkat tidur dengan mengetahui ada paman yang dipanggilnya Aboji yang akan tetap ada sebelum, saat dan sesudah hari ulang tahunnya berlalu.”

Raut Changmin menegang. Aku menggenggam tangannya. “Tujuh tahun, Changmin-a. Paling tidak kau sudah lebih lama dua tahun menjadi ayah penuh waktu baginya daripada Jungsoo. Dan aku berterima kasih banyak padamu. Kau memberiku satu lagi alasan aku bisa membalas cintamu.”

Di hadapanku, lelaki itu menggigit bibir sambil menunduk. Tatapannya tidak lepas dari permukaan meja, tapi aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.

“Jangan menangis. Sora sebentar lagi datang,” bisikku, lebih karena terharu daripada karena khawatir dilihat orang.

Dia mengangkat wajah dan memasang seulas senyum. “Ya,” angguknya. “Temani aku memeluknya di hari ulang tahunnya ini?”

Aku mengangguk dan tersenyum. “Selalu, kan?”

.

.kkeut.

 

Iklan