Tag

1,342w. Flashfiction.

~

“Pelanggan.”

“Agen.”

“Tidak, lihat pakaiannya, dia pelanggan.”

“Kau bercanda ya? Dia profesional, dia agen.”

Aku memandang temanku dengan merendahkan. Dia jelas tidak tahu apa-apa tentang menilai manusia.

Temanku itu balas memandangku dengan keras kepala campur kesal. “Untuk apa wanita seperti dia mau datang ke tempat ini sebagai pelanggan?”

“Kau lupa Han Hyojo juga datang ke tempat ini?”

Temanku tampak syok.

“Kau tidak mungkin bilang Han Hyojo pelanggan kalau bukan dia sendiri yang mengatakannya.”

“Itu tidak masuk hitungan, Han Hyojo itu artis! Tentu dia butuh bantuan kita untuk menemukan pasangan yang tepat!”

Aku melambaikan tangan di depan wajahnya. “Oh sudahlah, kau pikir aku percaya teori labil begitu? Han Hyojo wanita kebanyakan aturan, akui saja, itu membuatnya sulit mendapatkan laki-laki.”

“Oh, jadi menurutmu semua wanita cantik yang memiliki standar pasti kesulitan mendapatkan laki-laki?”

“Bukan begitu maksudku. Han Hyojo itu kebanyakan standar, bukan sekedar memiliki standar. Lagipula siapa yang mengeluh terus karena harus menjadi agen Han Hyojo? Hah?”

“Aku tidak mengeluh! Itu namanya berkonsultasi! Apa gunanya rekan kerja kalau tidak bisa membantuku menyelesaikan bisnis?”

Aku menghela napas. Dia tidak perlu diberitahu bahwa aku tidak percaya satu hurufpun yang keluar dari mulutnya, wajahku sudah menyiratkan pendapatku dengan jelas.

Temanku itu memukul belakang kepalaku. “Aku tidak mengeluh! Aku senang bekerja untuk Han Hyojo!”

“AW!” aku mendesis keras dan marah padanya. Dari sudut mataku tampak wanita yang awalnya kami bicarakan tadi duduk di depan meja Customer Service. Setelah mendengar pertanyaan “Selamat siang, Love Match siap membantu Anda. Ada yang bisa kami bantu?” yang meski tidak terdengar dari tempat kami duduk tapi aku tahu pasti dilontarkan oleh petugas kami, wanita itu mulai menjelaskan.

“Wajahnya datar saja, lihat,” temanku menunjuk wanita itu. “Semua pelanggan yang datang ke sini pasti punya ekspresi aneh di wajah mereka. Campuran perasaan malu dan berharap. Wanita itu agen.”

“Tasnya terlalu kecil untuk membawa berkas-berkas calon pelanggan.”

“Siapa peduli? Mungkin dia hanya membawa sedikit. Mungkin malah hanya satu. Kalau  mak comblangnya cantik seperti itu, biasanya pelanggan wanita agak khawatir.”

“Dia tidak bersemangat, dia pasti pelanggan.”

“Kau buta ya? Lihat senyumnya yang cemerlang itu. Dia pasti sedang membayangkan uang persenan yang masuk.”

“Memangnya wanita itu kau? Dia berdandan dengan seksama, kurasa dia sedang berusaha menaikkan nilainya di mata kita.”

“Dia berdandan karena itu pekerjaannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu hari ini.”

“Tidak ada yang terjadi padaku, aku hanya mengamati seperti biasa. Kita lihat siapa yang akan menanganinya. Kurasa Bos akan menyuruh Charlie menjadi agennya.”

Temanku memutar mata tidak sabar. Di depan meja Customer Service wanita itu menyerahkan sebendel berkas. “Berkas itu akan masuk ke bagian distribusi, bukan masuk jalur kita.”

“Berkas itu akan masuk meja Bos siang ini,” ucapku keras kepala.

“Kita taruhan saja. Kalau kau yang benar, aku alihkan Han Hyojo padamu; kalau aku yang kalah, kau terima Han Hyojo dariku.”

Aku awalnya tidak memperhatikan ucapan temanku itu, tapi begitu kata-katanya meresap dalam benakku, aku jadi terpingkal-pingkal. “Ahahahaha.. Jadi kau memang tidak betah menjadi agennya!”

Temanku tampak jengah sesaat tapi lalu tidak peduli. Dia mengangkat bahu.

Pandanganku beralih, dan saat itu aku berpapasan pandang dengan wanita yang sedang kami bicarakan. Dunia berhenti sedetik. Yap, benar, dandanannya terlalu rapi, dia sedang berusaha membuat agen-agen tetap kami terkesan untuk mempromosikan dirinya di hadapan calon-calon suami potensial.

Suara temanku menjalankan kembali dunia yang berhenti, “Aku tidak bilang begitu.”

Butuh waktu bagiku untuk menyadari apa yang sedang dibicarakan temanku. Ah, benar, Han Hyojo. “Bukannya dia sumber penghasilan utamamu?”

“Benar. Persenannya bagus sekali. Kau harusnya berterima kasih karena aku mau membaginya denganmu.”

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Lalu kenapa kau berikan padaku?”

“Han Hyojo itu sempurna. Tapi kau tahu, kurasa itu menjadi masalahnya. Dia terlalu sempurna untuk pria manapun. Dan…yah, dia tidak bisa dibilang masih sabar menunggu lelaki yang cocok untuk bersanding dengan kesempurnaannya.”

Benar, ketidaksempurnaan kadang justru menarik. Seseorang di depan meja Customer Service menekuk kakinya yang berbalut stoking hitam dan menggaruk telapak kaki yang baru dikeluarkan dari sepatu formal berhak lima senti. Si pemilik kaki itu mengangkat wajah dan oh, matanya bertemu mataku. Lagi.

Dunia berhenti. Sedetik lagi.

Stokingnya bolong di tumit.

“Kurasa ada yang salah.”

“Hah?” aku menoleh pada temanku. Dia mengagetkanku. Sejak kapan dunia berputar lagi?

“Berkasnya sangat sedikit. Kurasa dia tidak terlalu cakap sebagai agen.”

“Sudah kubilang dia itu pelanggan.”

“Sebenarnya kenapa sih kau berkata begitu?”

“Ya sudah jelas kan… Dia… tidak menoleh kanan-kiri, sangat fokus saat memasuki pintu masuk.”

Temanku menghela napas. “Pelanggan akan menoleh kanan-kiri karena ingin memastikan tidak ada yang melihat mereka memasuki tempat ini. Apa lagi yang lebih memalukan daripada menyewa jasa profesional untuk mempertemukanmu dengan calon pasangan?”

“Dia ingin orang berpikir begitu.”

“Dia tidak tampak sedang berpura-pura.”

“Dia terlalu berhati-hati memutar kepalanya.”

“Apa?”

“Dia tidak ingin tatanan rambutnya rusak, jadi dia tampak kaku seperti agen profesional, tapi para mak comblang itu biasanya lebih ingin tahu banyak hal. Wanita itu tidak, lihat, dia bahkan hanya meletakkan tangannya dengan sopan di atas paha. Matanya hanya menatap Minji dan permukaan meja.” Dan aku.

Minji itu nama petugas Customer Service kami. Meja itu tidak punya nama. Aku yakin wanita itu tahu dia seharusnya menatap Minji saat memberitahu namanya. Dia kan bukan hendak berkenalan dengan meja.

“Menurutku kau salah mengambil kesimpulan.”

“Tidak.”

“Kau serius?”

“Hah? Apanya?”

“Tentang Han Hyojo.”

“Tentu saja. Aku bahkan akan mengatakannya sendiri pada Bos.”

“Sebentar lagi wanita itu pulang dan kita bisa menanyakan langsung pada Minji siapa wanita itu,” ucapku tanpa melepaskan pandangan dari meja Customer Service.

“Dari mana kau tahu wanita itu hendak pergi?”

“Seorang pelanggan tidak akan duduk di sana lebih dari sepul—“

“OH KAU BENAR! DIA PERGI!” temanku berbisik keras.

Lalu dia segera berdiri dan menghampiri Minji. Aku tidak melewatkan tatapan terakhir wanita itu padaku.

Di luar dugaan, dia menatapku balik dengan pasti dan tidak ditutup-tutupi, dia memang sengaja membuatku tahu bahwa dia sedang menatapku. Temanku sudah menemui Minji, tapi aku melangkah malas-malasan ke sana, tatapan tetap mengarah pada wanita itu, pada matanya, lalu pada punggungnya ketika dia berbalik. Aku sampai di meja Minji terlalu cepat; terlalu cepat untuk mengalihkan tatapanku darinya.

Tapi toh aku benar. Temanku mengeluh lebih karena aku menang tebakan daripada karena Han Hyojo akan jadi pelangganku. Wanita itu memang pelanggan. Aku tidak salah mengartikan sorot matanya yang terlalu malu-malu untuk seorang agen, sikapnya yang terlalu tertata, serta kenormalannya yang tergambar dari caranya berdandan, berpakaian, dan menata rambut. Pasti dia mencari ‘lelaki mapan yang siap berkeluarga, tertarik memiliki anak, memiliki penghasilan menengah ke atas, tidak merokok, pekerja kantoran, menyukai musik dan seni’. Standar lelaki Korea Selatan baik-baik.

Suara langkah terdengar cepat dan bersemangat di belakang kami dan aku menoleh. Padahal tidak ada yang istimewa, tapi aku menoleh.

Aku mendapati seorang wanita yang rambutnya ikal besar-besar dan terangkat manis membingkai wajahnya yang berahang tegas. Lehernya tidak terlalu jenjang, tapi memiliki lekuk yang manis. Wanita itu berpakaian seperti gipsi dengan celana aladin, sepatu sporty dan kaus berlengan sedikit di bawah pundak. Aku seperti melihat pelancong orang barat dalam wujud wanita Korea Selatan. Tasnya terbuat dari jerami berwarna-warni alam, dan dia baru saja memasukkan segumpal kantong plastik ke dalamnya. Wanita itu keluar dari toilet.

Dan wanita itu memilik wajah yang kukenal.

Kukenal karena belum lama tadi aku baru melihatnya berlalu; bersetelan formal, sepatu hal lima senti dan stoking hitam yang tumitnya bolong.

Ketika wanita itu mengangkat wajah, kami—untuk kesekian kalinya dalam jam itu—saling—bertemu pandang. Kali ini, dunia memang benar-benar berhenti, kecuali suara halus Minji yang sayup-sayup, aku tidak mendengar suara lain. “Dia hanya meminta kita memberikan pertanyaan ‘Apa pendapat Anda tentang Wisata Pekuburan’ pada lelaki yang kita pikir calon potensial untuknya,” begitu suara Minji.

Tepat saat itu wanita itu mengangkat sudut-sudut bibirnya padaku lalu menuju pintu. Aku tahu itu senyum tantangan. Sekelumit tatapan kembali kuterima sebelum wanita itu akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar. Kurasa aku mendengar lonceng kaki berdenting ketika dia melangkah.

Oh Tuhan. Duniaku berputar lagi. Hanya saja arahnya terbalik kali ini. Wanita itu, akan mendapatkan telepon lamarannya nanti malam, ketika aku meneleponnya jam dua belas malam untuk mengajaknya bertemu di taman sambil makan kue beras pedas dan mengatakan bahwa itu adalah latihan Wisata Pekuburan.

Aku tahu aku akan melakukannya, dan besok wanita itu akan datang mencabut aplikasinya. Karena dia sudah menemukanku.

 

.kkeut.

Iklan