Tag

, , ,

773w. Oneshot. Sebuah cerpen yang telat dipublish untuk ‘[tantangan menulis] ombak’. Romance.

.

“Namanya Debur Ombak Selatan. Oke, orangtua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan?”

Dia bertanya padaku dengan gemas. Lalu, “Apa hanya karena kami sedang di pantai dan dia malas menjawab lalu dia bisa melakukan itu? Mempermainkanku. Lebih baik dia bilang terus terang kalau dia tidak mau berbincang denganku.”

Aku mengernyit. “Ngarang-ngarang nama tapi bagus begitu? Apa bukan kamu yang berlebihan menyikapi tanggapannya? Mungkin saja kan namanya memang Debur Ombak Selatan?”

Dia mendengus. “Lagi ya, nih, dengar kata-kataku: orangtua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan? Menurutmu namanya bagus? Menurutku malah nggak ada nilainya sama sekali. Hanya karena dia sedang memandangi ombak yang datang di pantai selatan, maka dia mengarang nama itu untuk mengelabuiku? Aku berani bertaruh nggak ada orangtua waras yang akan menamai anaknya dengan frase keterangan.”

Aku tergelak. “Tapi mungkin dia tidak punya orang tua?”

Dia memandangku melotot. “Aduh, kamu jangan mulai jadi penulis skenario deh. Pokoknya, sikapnya, jika dipandang dari sudut pandang manusia normal, adalah sikap menolak—“

“Memang sikap menolak itu gimana?” aku bertanya memotong ucapannya.

“Ya itu tadi, nggak mengacuhkan yang diajak ngomong, melirik aja nggak. Terus, sampai mengarang-ngarang nama nggak jelas.”

“Mungkin dia bukan hendak menjawab pertanyaanmu?”

“Nggak mungkin. Waktu aku menyapanya, dia menoleh dan menatapku lama, melontarkan senyum.”

“Atau mungkin dia tidak mendengar pertanyaanmu dengan jelas?”

“Tolong deh ya, itu nggak masuk akal. Aku sangat dekat dengannya. Sangat, sangat, dekat dengannya. Suaraku juga keras. Dia itu hanya lelaki nggak sopan.”

“Oh, jadi dia lelaki…” tanyaku sambil tersenyum menggoda menatap matanya.

“Ya iya lah… Aku dari tadi menceritakan seorang lelaki.”

“Hmm,” aku menunjuk ke depannya. “Senjamu belum selesai,” kataku.

Dia menoleh ke depan lagi, lalu tangannya bergerak-gerak menyelesaikan senjanya.

“Sudah berapa lama kau melukis senja?”

Kali ini dia tertawa kecil. “Kau pasti tidak mau tahu,” jawabnya.

“Aku mau tahu, makanya aku bertanya.” Perlahan-lahan langit berubah semakin manis.

“Aku melukis senja sejak bumi resmi dinyatakan jadi oleh Tuhan.”

“Kau pernah bertemu Tuhan?” aku menyipitkan mata.

“Tidak. Aku hanya menjalankan perintahNya. Kalau kau?”

“Aku? Bertemu Tuhan? Tidak, tidak. Tentu tidak pernah.”

Dia menelengkan kepalanya. Matanya terarah kepadaku dengan tertarik. “Jadi, kau mendekatiku di sini, bertanya macam-macam, apa maumu?”

Aku tertawa renyah. “Tidak ada. Siapa namamu?”

Dia menatapku dengan waspada.

“Aku hanya bertanya.”

Dia mengangkat bahu, “Aku Gadis Pelukis Senja.”

Aku memandangi horizon. “Dan kau selalu melukis senja dengan warna merah muda?”

“Tidak, hanya ketika senja harus berwarna pink.”

Aku mengangguk-angguk. “Dan hari ini adalah hari ‘pink’?”

Dia tampak tertegun. Matahari sudah tenggelam lebih dari separuh dan bias cahayanya di langit masih sangat manis; merah muda, kuning, oranye muda. “Kurasa aku sedang…” dia tidak menyelesaikan kata-katanya.

Aku ikut terdiam di sisinya.

“Siapa namamu?” dia bertanya pelan. Aku melihat kegelapan mulai merayapi senja di horizon.

Aku menoleh padanya. “Apa kau takut?”

Kegelapan semakin merapat.

Dia menggeleng. “Tidak, tentu tidak. Aku hanya khawatir.”

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Siapa namamu?”

Aku memandangnya lekat. “Namaku Debur Ombak Selatan.”

Dia terdiam lama sebelum akhirnya mendesah. “Baiklah. Kau mengolokku.”

Aku menggeleng. “Tidak. Aku sama sekali tidak mengolokmu. Namaku Debur Ombak Selatan. Ibuku adalah Samudra Hindia Indonesia. Saudaraku banyak sekali dari Gelombang hingga Tsunami. Aku adalah anak bungsu, merupakan yang terakhir dan paling dekat dengan daratan.”

Dia terdiam.

“Setiap hari aku melihatmu melukis senja. Setiap hari aku menunggumu datang mewarnai langit. Berusaha menebak bagaimana perasaanmu hari ini dan warna apa yang akan kau riaskan di langit. Aku menantimu. Dan sangat bahagia ketika kau menyapaku kemarin.”

“Kau berbeda,” dia berkata pelan. “Dari kemarin, maksudnya.”

“Aku selalu berbeda setiap hari. Tapi aku selalu ada di pantai menunggumu.”

Langit senja merona.

Aku mengamatinya lalu mengamati langit. “Apa…” tanyaku berlambat-lambat, “Kau akan membiarkan senjanya bertahan sedikit lebih lama?”

“Saudariku Malam sudah mengantri untuk datang,” bisiknya. Aku mengedip pada sepupuku Angin yang melintas. Diam-diam berterima kasih padanya yang membuat udara terasa lebih sejuk.

Aku menyentuh kakinya. Aku selalu ingin melakukannya. Lalu aku tengadah menatapnya, “Tidak apa-apa. Esok senja kita bertemu lagi. Mungkin kalau kau datang lebih awal, kita bisa berbincang lebih lama. Atau kita bisa bercerita sambil kau melukis.”

Dia mengangguk, menatap langit, membuatku menatap langit juga. Kali ini kegelapan yang datang lebih anggun. Bukan kegelapan keraguan, tapi ini adalah Dewi Malam yang datang.

“Aku harus pergi,” katanya enggan.

“Ya,” kataku meyakinkan.

“Sampai besok,” dia bersiap.

Aku mengangguk.

“Hei,” panggilnya sebelum benar-benar pergi. “Debur Ombak Selatan. Ibumu seperti apa sih, memberimu nama itu?”

Aku membuka mulut. Tidak menduga dia akan menanyakan itu, lagi.

Saat suaraku baru hendak keluar, dia tersenyum sangat lebar, nyengir jahil. “Besok,” katanya melambaikan tangan. “Besok ceritakan padaku!” serunya.

Aku melebur sambil tersenyum memandangi kepergiannya. Kuputuskan untuk beristirahat sejenak di pasir. Kupandangi horizon yang semakin gelap. Titik oranye kecil berjuang keras kepala sebelum Malam memaksanya menghilang. Besok, aku menanti besok.

.

.kkeut.

Iklan