Tag

, , ,

3,095w. Romance. Oneshot. Cast: Baekhyun, Tao, Kyungsoo, Ocs. Baekhyun benar-benar tidak tahan menghadapi Tao yang pacaran di depannya.

.

Baekhyun benar-benar tidak tahan. Dia setengah mati berusaha menahan gerutuannya melihat Tao dan pacarnya Mei Ing hanya diam menonton film di televisi. Pertama, Baekhyun tidak tahan karena film itu film paling up-to-date tiga tahun yang lalu. Kedua, Baekhyun tidak tahan karena Tao dan Mei Ing baru pertama kali menonton film yang ‘up-to-date tiga tahun lalu’ dan tampaknya tidak punya masalah sama sekali dengan hal itu. Ketiga, Baekhyun tidak tahan melihat Tao dan Mei Ing hanya duduk bergandengan tangan menonton film itu—ya Tuhan, itu film romantis dewasa yang kemanisannya bisa bikin muntah dan beberapa adegannya bikin Baekhyun agak… yah… agak tegang, dan Tao dan Mei Ing hanya dengan laknatnya menonton dalam diam sambil berpegangan tangan!

Keempat, Baekhyun tidak tahan pegangan tangan Tao dan Mei Ing. Rasanya sudah lama sekali Baekhyun selalu melihat Tao tidak pernah sendirian, selalu bersama Mei Ing, sudah berminggu-minggu, dan mereka baru… pegangan tangan?! Baekhyun memutar mata kesal. Tao bisa merangkul pundak Mei Ing, bisa mendekatkan tubuhnya ke tubuh Mei Ing, bisa menempel mencium pipinya—demi masakan dewa Kyungsoo, Tao bahkan—menurut Baekhyun—berhak menuntut minta ciuman dari Mei Ing kalau mengingat sudah berapa lama mereka bersama! Tapi tentu saja tidak. Tao dan Mei Ing baru sejauh berpegangan tangan. Ber-pe-gang-an ta-ngan.

Baekhyun melotot.

Dia sungguh tidak tahan. Wajah itu! Wajah Tao sekarang! Malu-malu. Malu-malu kutu busuk. Anak itu anak paling tidak tahu malu yang dia kenal. Suka minta dibelikan ini-itu tanpa basa-basi, bersikap menjijikan untuk tebar pesona, seperti cewek kalau sudah suka sesuatu, dan yang paling tidak tahu malu adalah tuntutannya untuk selalu ditemani mandi setiap saat. Mandi. Telanjang. Di hadapan orang yang menemaninya—walau sering kali kalau giliran Baekhyun yang menunggui, dia menunggui sambil setengah tertidur karena Tao yang tidak suka rebutan, memilih mandi paling pagi atau paling malam sekalian. Tidak tahu malu sama sekali. Dan sekarang wajah itu malu-malu saat menghadapi Mei Ing?! Baekhyun ingin menamparnya.

“Hyeong!” ujar Tao suatu ketika.

Baekhyun menengadah hanya sebentar dan berkata singkat, “O?”

“Hyeong! Belikan aku ini, Hyeong!” Tao merangseknya dan menampar wajahnya dengan sebuah majalah saking bersemangatnya.

“Ya!!” Baekhyun membentaknya, kesal karena kegiatannya terganggu. Dan lebih kesal lagi karena Tao dengan tanpa perasaan tetap ceroboh di sekitarnya. Baekhyun benci orang ceroboh.

“Ah, mian, mian,” Tao berkata dengan sikap dan wajah sama sekali tidak ‘mian’. Malah dia bisa dibilang menempelkan majalah itu di dihidung Baekhyun, membuatnya juling sambil berkata, “Belikan aku ini, Hyeong! Oh? Belikan~~”

Baekhyun menurunkan majalah dengan kasar dan memelototi teman serumahnya yang paling muda itu dengan galak.

Tao malah merajuk dan menyentakkan bahunya seperti anak kecil keras kepala, “Hyeong, belikan~~ belikan aku ini, Hyeong~~”

Menurut kebiasaan, hanya ketika sesuatu benar-benar diinginkan Tao maka temannya itu akan bertingkah seperti ini. Jadi, memaksa emosinya agak turun sedikit, dan melihat apa yang sebenarnya sangat diinginkan oleh Tao. Dia melirik apa yang ditunjuk Tao dan melihat sebuah baju hangat lucu dengan penutup kepala yang memiliki telinga kucing. Hanya sebuah baju yang sangat menjijikan imutnya samp—tunggu, tujuh ratus lima puluh ribu won?! “Ya! Kau gila ya?! Apa-apaan baju hangat saja sampai tujuh ratus lima puluh ribu won?!” dia membentak Tao. Lenyap sudah semua keinginannya untuk menahan emosi. Memang Tao pikir dia pohon uang, apa?!

Tao cemberut. “Ini pasangan, Hyeong. Aku ingin beli untuk Mei Ing… untuk hari jadi kami yang ke seratus…”

Baekhyun mendelik. “Itu urusanmu. Kenapa urusan kencanmu aku yang harus membelikan hadiah?”

Tao menatapnya terluka. “Hyeong! Ini hari jadi kami! Masa kau tidak mau membelikan hadiah?”

Bisa dibilang Baekhyun agak takjub dengan logika Tao yang ajaib. Yang merayakan siapa, yang harus ngeluarin duit siapa. Agak stres ya anak ini.

“Ayolah Hyeong, belikan aku. Mei Ing sangat suka ini…” Tao cemberut lagi.

“Ya itu urusanmu,” Baekhyun menjawab kejam sambil berusaha melepaskan diri dari Tao.

“Aku belum dikirimi uang~” Tao berkata manja. Kadang Baekhyun berpikir kenapa Tao tidak dilahirkan sebagai perempuan saja kalau sikap manjanya sebesar ini. “Kemarin uang kiriman orang tuaku langsung habis untuk bayar kuliah dan rumah. Mereka sedang agak kesulitan di Qingdao…”

Mendengar itu mau tidak mau Baekhyun agak tersentuh. Tao adalah satu-satunya penghuni rumah ini yang mahasiswa asing. Baekhyun dan Kyungsoo, sisa penghuninya, adalah orang lokal dan kapan pun kesulitan mereka bisa saja pulang atau menelepon untuk meminta tambahan uang. Tapi…

“Bukannya kau kerja sambilan?” Baekhyun bertanya sambil menyipitkan mata.

“Aku belum gajian,” Tao terduduk bersila di sebelah Baekhyun, tidak lagi berusaha membuat Baekhyun buta dengan menjejalkan majalah ke depan wajahnya. “Si Kanada brengsek itu menahan gajiku. Katanya aku sudah membuatnya rugi karena membuat mesin pembuat kopinya macet.” Tao bekerja di sebuah kopitiam yang dimiliki oleh mahasiswa kaya asal Kanada, Kris. Lelaki itu kadang memang brengsek, tapi Baekhyun tahu Tao juga sering tidak terlalu memperhatikan hal-hal di sekitarnya sehingga membuat beberapa barang mengalami—istilah ringannya—disfungsi.

“Salahmu sendiri. Makanya jangan ceroboh. Tidak—“ Baekhyun mengangkat tangan waktu melihat Tao membuka mulut untuk membantah. “Jangan membantah. Aku tinggal denganmu, jadi aku tahu. Kau tidak ceroboh, Tao. Tapi kau tidak memperhatikan sekelilingmu sama sekali. Kadang aku berpikir apa kau pernah memperhatikan ada manusia lain di sekitarmu.”

“Tentu saja! Tapi itu urusan belakangan. Jadi kau mau membelikanku ini kan?” Tao kembali menjejalkan majalah ke muka Baekhyun.

Menakjubkan bagaimana emosi Baekhyun bisa seperti naik roller-coaster kalau ada di dekat Tao. “Ya!” sekarang dia membentak anak itu sekeras-kerasnya karena tidak mendengarkan.

“Aiyaaa! Jangan bentak-bentak, Hyeong! Jantungku mau copot rasanya!” Tao malah balik berseru.

Baekhyun mendelik. “Biar saja jantungmu copot! Kau ini tidak mendengarkan ya? Kalau ada orang yang lebih tua sedang ngomong, dengarkan baik-baik!” katanya menjewer kuping Tao.

“Aaaa aaa aaa! Arasseo! Arasseo! Arasseo! Aaarasseeoo!! Sakit, Hyeong! Lepaskan kupingku!”

Baekhyun melepaskannya dengan gemas.

“Belikan ya?” Tao kembali menuntut. Matanya dilebarkan yang justru lebih membuat Baekhyun ngeri daripada terkesan. Itu kan mata panda…

“Memang kau pikir aku pohon uang?” Baekhyun menggerutu.

“Ayolah, Hyeong. Nanti kubuatkan kencan untukmu dengan teman Mei Ing.”

Baekhyun mendadak kehilangan kata-kata untuk menolak permintaan Tao. Dia menatap Tao lalu pikiran curiga mendatanginya. Matanya menyipit curiga, “Dia pasti jelek sekali kau mau menjodohkannya denganku.”

Tao memandangnya terkejut. “Eeeeiii… Kau ini kenapa, Hyeong? Kenapa aku mau menjodohkan cewek jelek untukmu? Songeun manis. Dia tidak secantik Mei Ing sih, tapi matanya lebar, dahinya indah, dan dia sangat menyenangkan diajak mengobrol.”

Tidak secantik Mei Ing menurut Tao, tapi menurut anak itu juga, Song Hyekyo kalau jauh dibandingkan Mei Ing, jadi standar kecantikan menurut pendapat Tao tidak bisa dipercaya. Sangat mungkin si Songeun ini benar-benar manis. Tao tidak tampak bercanda saat mengatakannya.

“Ayolah. Aku ingin memberikan ini pada Mei Ing. Hari itu aku tahu Kyungsoo Hyung juga ada kencan, jadi kita bisa kencan tripel,” Tao berkata lagi.

Baekhyun tidak suka kencan ganda. Tapi kalau Kyungsoo juga mau kencan di hari Tao hendak berkencan, Baekhyun merasa agak merana. Kenapa di antara semua orang yang tinggal di rumah ini, hanya dia yang belum punya pacar.

“Ayolah, Hyeong… Aku janji, Songeun bukan orang aneh. Dia teman Mei Ing. Tidak mungkin kan Mei Ing berteman dengan orang aneh?” Tao bertanya agak absurd.

Maka Baekhyun menjawab absurd juga, “Aku nggak yakin. Soalnya dia pacaran sama orang aneh.”

“Heee—mwo?!” Tao melotot. Baekhyun terkekeh, menyadari kelemotan Tao yang kadang-kadang sejelas kaca yang baru dilap. “Kau bilang aku orang aneh?!”

Tao marah-marah berkepanjangan, Baekhyun diam-diam merasa puas bahwa dia berhasil membuat Tao kesal. Kata-kata Tao terus terlontar tanpa henti, dan akhirnya berhenti dengan, “Jadi belikan aku ya, Hyeong?”

Baekhyun mendengus keras. Harus diakui Tao memang hebat. Ketika Baekhyun berhasil membalas sedikit dan membuatnya kesal, anak itu sanggup membalas dan membuatnya lebih kesal lagi. Entah ini karena Tao yang luar biasa lihai dalam membuat orang marah, atau dia yang kelewat emosional, Baekhyun tidak mau memikirkannya. Lalu Tao menyebut-nyebut Songeun lagi dan menggambarkan rupa cewek itu dengan kata-kata dan sikap tubuh yang ekspresif sehingga dalam benak Baekhyun akhirnya muncul gambaran seorang cewek yang manis dan pemalu tapi pintar. Hampir tanpa sadar Tao menggiringnya berkata, “Baiklah.”

Jadi, kembali ke masa sekarang, Baekhyun benar-benar tidak tahan. Tao dan Mei Ing benar-benar membuatnya kehilangan kesabaran karena tidak melakukan apapun, sementara di sisi lain ruangan, Kyungsoo dan Hyein seperti sudah lupa mereka sedang menonton film dan malah lebih tertarik pada bisikan-bisikan bernada rendah mencurigakan yang mereka lakukan. Baekhyun merasa terganggu karenanya, dan dia makin terganggu karena Tao dan Mei Ing sama sekali tidak terganggu.

Dengan resah Baekhyun berjengit dan langsung membuang muka ke kiri saat dirasakannya sosok di sebelah kanannya ikut bergerak. Wajah Baekhyun terasa panas.

“Kau tidak apa-apa, Baekhyun ssi?” suara Songeun yang halus membuat dada Baekhyun berdebar lebih cepat.

Dengan tegang dia mengangguk. “O-o…” jawabnya terbata.

Tarikan napas Songeun terdengar, seolah dia hendak mengatakan sesuatu lagi, tapi lalu Baekhyun tidak mendengar apa-apa. Saat dia melirik sedikit, dia langsung tegang. Songeun ternyata sedang mengamatinya. Baekhyun langsung membuang muka lagi. Baekhyun mendengar tarikan napas yang lebih berat kali ini.

Di layar, film terus berputar dan dua pasangan lain sama sekali tidak terlihat peduli pada Songeun maupun Baekhyun. Baekhyun berusaha memikirkan sesuatu. Sesuatu apapun yang bisa membuatnya pergi dari ruangan ini. Songeun membuatnya gugup setengah mati dan rasanya tempat duduknya sudah terbakar dari tadi.

Lalu Songeun bangun dan melangkah melewatinya. Baekhyun terkejut hingga sedikit melompat di kursinya. Dia menatap punggung Songeun yang menjauh. Dari tempat lain, Baekhyun bisa mendengar suara Mei Ing, “Mau kemana, Songeun-a?”

“Aku ke kamar mandi sebentar,” Songeun menjawab tanpa menoleh.

Baekhyun memejamkan mata dan menggelosor di bangkunya. Saat dia membuka mata, dia melihat Mei Ing pergi meninggalkan ruangan. Dia menangkap pandangan Tao dan tahu pandangan itu tidak akan membiarkannya begitu saja.

Tao menghampirinya dan langsung bertanya, “Wae? Kau tidak suka padanya?”

Baekhyun gelagapan. Meski sudah tahu Tao adalah orang yang terus terang, kali ini Baekhyun tidak siap ditodong langsung. Dia menggumam tidak jelas.

Tao menghela napas. “Yah, kalau kau tidak suka kan kau bisa bersikap lebih baik padanya, Hyeong. Anggap saja dia tamu biasa, bukan kencan butamu,” kata anak itu pelan.

Kadang Tao benar-benar bijaksana. Tapi Baekhyun kan bukannya memperlakukan Songeun dengan buruk. Tao memandanginya, lalu berkata kesal, “Apa kau bilang? Kau mendiamkannya sepanjang malam. Apa sih masalahmu?”

Masalahnya adalah, Baekhyun bahkan tidak merasa sama sekali kalau dia mengatakan sesuatu dan Tao ternyata mendengarnya. Kalau dia sampai mengatakan sesuatu tanpa dia sadari, artinya dia sudah setengah sadar sepanjang malam ini dan, Baekhyun terpikirkan sesuatu, benar juga, kalau Tao saja menganggap dia sudah bersikap tidak sopan, tentunya Songeun merasa dialah yang membuat bersikap demikian. Astaga, dia sudah bersikap sangat buruk.

Baekhyun menegakkan tubuh bersamaan dengan kembalinya Mei Ing ke dalam ruangan. Sendirian. Mei Ing menangkap pandangannya yang bertanya dan wajahnya yang tadi agak tegang, langsung melembut, mungkin karena menangkap tatapan Baekhyun padanya. “Dia di dapur, tidak pulang kok,” kata Mei Ing lalu menyambut tangan Tao yang terulur dan menariknya kembali ke sofa mereka. Baekhyun sudah setengah jalan menuju pintu saat terdengar Mei Ing bicara, “Kalau kau sampai membuatnya pulang duluan, kau berhutang pesta jadianku dengan Tao tahun depan.”

Astaga, cewek itu dan Tao memang sama saja. Dan bagaimana mungkin keduanya bisa membaca Baekhyun sedemikian jelas?! Cih, pasangan mengerikan.

Baekhyun memasuki dapur dan untuk sesaat lupa caranya melangkah maju ketika dia melihat Songeun duduk menggenggam segelas air di tangannya. Wajah cewek itu datar saja. Untuk beberapa saat Baekhyun mengamatinya dalam diam sambil memikirkan caranya meminta maaf.

Tapi Songeun mengalahkannya, “Kau tidak perlu menemaniku. Aku juga tidak terlalu tertarik dengan filmnya, jadi kurasa di sini lebih baik.”

Baekhyun, yang tidak mengira Songeun menyadari keberadaannya, tergagap. “O-a-itu…”

Songeun akhirnya mengangkat muka dan menatap Baekhyun lurus-lurus. Tatapannya datar dan tanpa emosi. Baekhyun menelan ludah. Songeun lalu menawarkan senyum. Secara otomatis Baekhyun langsung memalingkan muka, tidak menangkap kernyitan yang timbul di dahi Songeun saat dia melakukannya.

“Apa aku sejelek itu?” suara cewek itu terdengar.

Sekali lagi Baekhyun otomatis berputar, kali ini untuk menatap Songeun. Tapi kali ini cewek itu tidak menatapnya. Dia menatapi gelasnya.

Lalu suaranya terdengar lagi, masih datar dan tanpa emosi seperti sebelumnya, tapi ada nuansa jauh di sana, seolah Songeun sedang berusaha untuk menjauhkan diri dari Baekhyun meski tubuhnya tidak bergerak sama sekali. “Aku tidak pernah dibilang jelek sebelumya, meski tidak selalu dipuji cantik juga. Tapi aku tidak tahu aku benar-benar tidak enak dilihat sampai kau tidak sebegitu tidak inginnya menatapku. Mei Ing pernah bilang seleramu tinggi, jadi sebenarnya aku datang ke sini tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya ingin membuatnya senang. Ini perayaannya. Maaf kalau itu membuatmu jadi tidak nyaman.”

Tiba-tiba Songeun mengangkat wajah dan menatap Baekhyun lurus-lurus. “Tidak apa-apa, aku benar-benar tidak ada niat memaksamu. Kau nonton lagi saja,” kata cewek itu.

Baekhyun menatap wajahnya yang datar, memperhatikan sorot matanya yang tenang, bertanya-tanya bagaimana seorang cewek bisa sangat tenang saat berpikir dirinya tidak diinginkan. Lalu Songeun berkedip, dua kali, dengan cepat, dan Baekhyun tahu Songeun tidak setenang sikapnya. Cewek itu gugup dan Baekhyun mendadak menyadari itu dari pundaknya yang kaku, cengkeramannya yang erat di gelas di tangannya, dari garis bibirnya yang tampak tegang, meski tidak kentara. Dan matanya menyiratkan sesuatu, meski benar-benar samar. Astaga, dia sudah membuat Songeun terhina, dan bahkan terluka.

“Aku suka menonton bola,” Baekhyun mendengar suaranya sendiri. Dia terkejut kenapa dia mengatakannya. Dia sama sekali tidak berpikir hendak mengatakan apapun. Di tempatnya, Songeun pun tampak terkejut.

Cewek itu memandang ke bawah dengan hati-hati dan menggigit bibirnya sebelum berkata hati-hati, “Oh ya?” Dia sama tidak mengertinya seperti Baekhyun kemana kalimat Baekhyun mengarah.

Tapi kata-kata Baekhyun sudah di ujung lidah, jadi dia membiarkannya keluar, “Aku suka menonton basket juga. Aku suka menonton acara-acara olahraga, tapi aku tidak terlalu suka olahraga. Makanya aku tidak bisa jadi tinggi…” Baekhyun tertegun.

Astaga.

Astaga, apa yang baru dia katakan? Apa dia baru saja mengakui kekurangannya yang paling fatal pada Songeun? Pada cewek yang baru dikenalnya malam ini? Ya ampun, bahkan Mei Ing mengira dia punya terlalu banyak kepercayaan diri sampai punya selera cewek yang tinggi, tapi dia malah mengakui kekurangannya yang paling dibencinya pada Songeun?

Songeun sama terkejutnya dan dia mengedip cepat dengan mulut terbuka. Lalu dia tampak tersinggung. Kemudian seperti hendak marah. Tapi lalu menjadi tenang lagi. “Apa… itu yang membuatmu jengkel?” tanya Songeun hati-hati. “Padaku?”

Baekhyun berkedip. Mulutnya membuka-buka mencari kata-kata yang tadi seenaknya keluar. Mereka seperti sembunyi di balik lidah. “Bu-bukan-bukan begitu… Maksudku…”

“Aku tidak sesuai seleramu dan terlalu tinggi untukmu?” kini nada bicara Songeun tidak sedatar tadi. Kekesalan mewarnai suaranya.

Baekhyun buru-buru maju dan menempatkan diri di depan di hadapan Songeun. “Bukan begitu,” katanya dengan suara berbisik yang keras. “Maksudku, aku yang terlalu pendek,” mendengar kata-katanya sendiri Baekhyun mendadak jadi kesal. Lalu kenapa memangnya kalau dia pendek?!

Dia mengacak rambutnya dan menarik napas dalam-dalam. Dia mencoba bicara sekali, gagal. Mencoba lagi, gagal lagi. Lalu pada percobaan ketiga dia menemukan kata-katanya, “Aku pernah ditolak cewek.”

Oke, sekali lagi Baekhyun mengutuki mulutnya yang tidak bisa diatur. Tapi sudah terlanjur basah, sekalian saja dia menyeburkan diri, “Aku— Kau tahu sekolah model di perempatan dekat universitas? Aku pernah menyukai seseorang yang bersekolah di sana. Aku menyukainya dan memberanikan diri memintanya jadi pacarku. Tapi di pinggir jalan itu dia menolakku. Dia bilang aku terlalu pendek untuknya. Dan memang, dia tinggi sekali, mataku hanya setinggi mulutnya. Maksudku, itu memang agak mengesalkan, dan mungkin memalukan, tapi… kau tahu, kalau kau ditolak, kau jadi berpikir kau harus berhati-hati dengan kekurangan yang tidak bisa kau apa-apakan—“

“Aku tahu,” Songeun memotong kata-kata Baekhyun yang gugup.

“Karena—eh, apa?” Baekhyun mendongak cepat menatap Songeun lurus-lurus.

Songeun kali ini tampak bersalah. “Aku tahu. Aku melihatmu waktu itu. Aku tidak berteman dekat dengan Maru, tapi aku ada di sana waktu kau ditolak.”

Baekhyun melongo.

Songeun tampak merasa bersalah. “Sebenarnya, begitu tahu Mei Ing berkencan dengan Tao, aku jadi sangat bersemangat karena aku juga tahu Tao berteman denganmu. Kupikir mungkin akhirnya aku bisa punya kesempatan untuk suatu saat berkenalan denganmu. Dan tentang tidak mengharapkan apapun, itu bohong. Sebenarnya aku berharap bisa kenalan dan jadi temanmu malam ini, itu sudah merupakan perkembangan besar untuk—“

“Tapi kau sangat tinggi!” Baekhyun berseru. Seketika wajah Songeun menjadi keruh. Tatapannya tidak lagi diarahkan pada Baekhyun. Baekhyun buru-buru melanjutkan, “Maksudku, kau bahkan lebih tinggi dari Maru, mataku hanya sampai di lehermu, apa kau tidak akan merasa malu? Maksudku, aku ini cowok, lalu kalau kau berjalan bersamaku, kau bisa diolok-olok dan—dan—“ Baekhyun kehabisan kata-kata.

“Lalu kenapa?” Songeun berkata pelan. “Aku bangun setiap pagi tidak untuk membuat semua orang terkesan. Aku punya hal-hal yang penting untuk diriku sendiri, dan tidak semua orang penting untukku. Aku tahu apa yang kusuka—eh, maksudku—“ wajah Songeun memerah “—maksudku, apa yang bisa membuatku nyaman.”

Mendengar pengakuan Songeun, Baekhyun ikut memerah. Tawa gugupnya terlontar. Songeun tersenyum tertahan. “Oh, begitu,” Baekhyun berkata singkat.

Lalu mereka berdua terdiam. Baekhyun yang kini menyadari pikirannya sendiri telah membuatnya berlaku tidak adil, sedang meresapi pengetahuan baru ini pelan-pelan. Dia perlu mengendapkan hal ini dalam dirinya. Seolah ini adalah obat bagi harga dirinya yang terluka oleh Maru beberapa bulan yang lalu. Bukannya Baekhyun sangat menyukai Maru, tapi rasa malunya susah sekali hilang kalau ingat peristiwa itu. Padahal seseorang seperti Songeun mengira dia layak ditunggu. Songeun bahkan lebih tinggi dari Maru. Lebih seperti model yang sering dilihatnya di papan-papan iklan besar itu. Hati Baekhyun mengepak cepat.

Aww.

Songeun terbatuk pelan sebelum akhirnya bicara lagi, “Anu, Baekhyun ssi?” panggilnya.

Baekhyun menatapnya lagi, senyuman seperti tidak mau pergi meski dia sudah menyuruh mulutnya untuk bersikap ‘biasa aja’.

Songeun tersenyum padanya dan Baekhyun tahu, tahu banget dengan pasti, bahwa wajahnya pasti memerah. Cewek itu berkata, “Kalau duduk, tinggi kita jadi sama, kan?”

Akhirnya Baekhyun berhenti tersenyum. Dia mengulangi perkataan Songeun di kepalanya, mengulanginya lagi sampai akhirnya sadar apa yang dimaksudkan oleh cewek itu. Baekhyun menatap wajah Songeun lama-lama sebelum akhirnya menyerah dan membuang muka lagi.

“Wae? Ssireo?” nada Songeun terdengar khawatir. “Apa… menurutmu aku masih terlalu tinggi?” kali ini, Baekhyun mendengar rasa tidak percayanya sendiri dalam nada bicara Songeun.

“Ani!” cepat-cepat dia mengilah. “B-bukan itu!” Baekhyun menghela napas dalam-dalam.

Songeun menatapnya lurus, tidak bertanya, tapi matanya menyiratkan tanya.

Baekhyun menggigit bibirnya. Dia berharap dia memegang sesuatu untuk mengipasi wajahnya saat ini. “Anu, itu… Karena… karena… ng… karena kau terlalu manis, aku rasanya jadi malu sekali.”

“Eh?” Songeun terdengar tidak menduga akan mendapat jawaban seperti itu dari Baekhyun.

Baekhyun tidak sanggup berkata apa-apa lagi dia hanya menelungkup di atas meja, menyembunyikan wajahnya di lengan yang terlipat. Dia mengeluh, “Oh, memalukan sekali!”

Sangat, sangat memalukan. Sungguh benar-benar memalukan. Seorang Byun Baekhyun tidak sanggup menatap seorang cewek hanya karena cewek itu terlalu manis. Mengesalkan. Tapi entah kenapa Baekhyun tidak bisa menghilangkan senyum dari bibirnya. Sepanjang malam dia mengira dia akan patah hati lagi karena, sialan Tao, dia mengenalkan cewek yang sangat manis sampai-sampai Baekhyun gugup setengah mati hanya duduk di sebelahnya, yang kebetulan adalah cewek yang sangat tinggi.

Ya ampun, sepertinya hidupnya tidak akan pernah tenang lagi setelah malam ini. Karena tentu saja Baekhyun tidak akan mengakhirinya tanpa meminta nomor telepon Songeun.

Astaga. Tapi tetap saja ini memalukan sekali. Sialan Tao.

.

.kkeut.

Iklan