Tag

,

937w. Changmin adalah Shim Changmin. AU: Detroit, USA.

.

Changmin adalah seorang polisi, aku adalah jurnalis kriminal. Meski Changmin hebat di segala keahlian yang wajib dimiliki polisi, tapi menurutku Changmin adalah polisi yang payah. Prinsip tindakannya adalah meminimalisasi kerugian, baik itu dalam bentuk luka fisik, maupun luka emosional, termasuk di dalamnya luka finansial. Dia agak perhitungan, singkatnya begitu.

Changmin juga menyebalkan, kata-katanya tajam, candaannya sinis, bawel, banyak aturan, tidak terlalu mempedulikan perasaan orang, sering membuat orang mengira dia polisi gadungan karena kecenderungannya berbicara yang menguntungkan dirinya sendiri. Jika sedang bebas tugas dan memakai baju tugas, orang sering mengira Changmin adalah pedagang dan acapkali mengucapkan bahasa cina untuk menghinanya. “Ceng cong cuang chouw,” begitu mereka akan bicara. Changmin hanya akan memutar mata dan memanggil orang itu bodoh.

Panggilan bodoh Changmin untuk orang-orang bisa jadi sangat menyakitkan. Sebab caranya mengucapkan hal itu penuh penekanan di sikapnya yang merendahkan, membuat mereka paham bahwa bagi Changmin, mereka benar-benar bodoh yang artinya idiot. Tapi itu salah mereka. Karena Changmin orang Korea, bukan orang Cina. Dan orang Korea tidak bicara “Ceng cong cuang chouw.”

Changmin juga sangat keras kepala yang membuatku sering sangatsangatsangat putus asa menghadapinya. Dia sangat tekun mengumpulkan informasi untuk membangun strategi. Ini biasanya membuatnya susah dilawan. Dia punya semua alasan di balik sebuah argumen. Terutama jika dia yang memulainya, karena itu biasanya berarti dia sedang menginginkan sesuatu.

Seperti saat ini.

“Aku tidak akan kemanapun,” kataku melemparkan tangan ke udara, kaki bersila di atas sofa.

“Kau harus. Karena—“

“Tidak, kau tidak akan mengatakan alasan apapun yang ada di kepalamu sekarang. Tidak kepadaku. Aku tahu kau sudah mempersiapkan semuanya.”

“Tapi, Bee. Kali ini kau harus mendengarkan aku!”

“Changmin, kau sedang stres. Ini karena si Justin Hatch itu kan? Kau menjadi paranoid—“

“Aku tidak paranoid!”

“Kau panik! Kita semua tahu Hatch sudah digiring pergi, tapi kau tetap panik.”

“Kau tidak tahu Hatch!” Changmin berseru. Tubuhnya berdiri tegang di dekat jendela.

“Oya? Kau pikir sudah berapa lama aku jadi jurnalis kriminal? Hatch bersih, Changmin. Dia mata-mata negara. Dia hanya ingin menakut-nakutimu karena kau sudah menyebabkan kekasihnya mati.”

“Jewel Rose bukan kekasihnya,” Changmin berkata kaku.

Aku memutar mata. “Oke. Oke, Rose bukan kekasihnya. Hanya seorang wanita yang menjadi sumber obsesi Hatch.”

Changmin mengangguk. “Sekarang kau sadar?”

Aku menengadah putus asa. Changmin terus berpikiran bahwa Hatch masih mengejarnya. Padahal itu konyol. Justin Hatch sudah dibawa pergi oleh rekan-rekan Changmin dari DC dan mereka jelas menegaskan bahwa Hatch akan diberi lembur pekerjaan hingga tak sempat lagi memikirkan Changmin yang hanya—apa, SWAT officer? Officer, level yang paling pertama tertembak di lapangan.

Oh Tuhan, jangan.

“Bee, please…” Changmin berjongkok di hadapanku.

“Apa?”

“Bersembunyilah.”

“Changmin…” aku mengerang. “Jangan konyol—“

“Aku tidak bersikap konyol! Aku tahu orang seperti apa Hatch itu!”

Aku mengangkat alis. “Oh ya? Orang seperti apa?” tanyaku menantang.

“Dia menargetkan aku. Aku sasarannya. Dan dia sudah membuktikan bahwa menjadi penguntitku bukanlah hal yang sulit.”

“Changmin…”

“Dia masuk ke rumahku, Bee. Aku tidak mengada-ada. Karangan bunga kirimannya ada di sana.”

“Ya, lalu?”

Changmin menunduk. Tangannya erat menggenggam tanganku. “Dia tahu,” gumamnya lirih.

“Tahu? Tahu apa?”

Wajahnya terangkat dan aku menatap mata polisi paling konyol dalam sejarah. Konyol karena cantiknya. Mata polisi harusnya tidak secantik itu. Hampir kriminal. “Tahu tentang ini,” kata-katanya menarik kembali pikiranku yang melantur.

“Ini?” aku masih bertanya. Tapi kurasa aku tahu kemana arah pembicaraannya. Dan karena tahu itulah, suaraku lebih rendah, lebih lirih. “Ini apa?”

Changmin membuka mulut, menarik napas, menutup mulut, membukanya lagi, semua sambil memandang satu titik di belakang kepalaku. Lalu akhirnya suaranya keluar, “Tahu aku peduli padamu.”

Tadi aku sudah bilang mata Changmin cantik ya? Nah, sekarang kukatakan: wajahnya luar biasa tampan sampai bisa dibilang cantik juga. Apalagi setelah dia mengaku peduli padaku.

“Aku peduli padamu,” wajah Changmin mendekat.

Hidungku hampir bersentuhan dengan hidungnya, aku bisa merasakan hangat napasnya. Kami sedang bicara apa, tadi? Aku mendadak lupa.

Oh iya, “Hatch? Kau pikir dia akan mengincarku?”

Lengan Changmin melingkari pinggangku. Hidungnya menyentuh pipiku. Jawaban ‘iya’nya tak terkatakan, tapi terasakan.

Tapi kenapa aku tidak peduli ya? Aku hanya peduli kedekatan tubuh kami berdua.

“Jadi…” kataku menggoda. “Sekarang ada ‘ini’?” tanyaku mengingatkan bahwa dia dulu mengajakku makan malam bukan untuk sebuah hubungan atau apalah namanya. Tahu-tahu saja rencana one-night stand kami tidak bisa berhenti. Tahu-tahu saja dia menyebutkan ‘ini’.

Dia tertawa tanpa suara. Manis sekali.

“Kau peduli padaku?” tanyaku memajukan wajah. Bibir atas kami hampir bersentuhan.

“Mmm,” gumamnya mengusap bibirku dengan bibirnya.

Lalu kami berciuman. Logika yang sangat sederhana. Sebab sekali Changmin dekat denganku, aku tidak pernah menjauh tanpa sebuah ciuman darinya. Jadi kami berciuman seperti kami biasa melakukannya. Hanya saja… lebih penuh kepedulian setelah sekarang dia mengatakan dengan gamblang bahwa dia peduli padaku.

Kami menjauh untuk mengambil napas. “Oh Tuhan…” bisikku.

Senyuman Changmin miring. “Yeah, oh Tuhan…” timpalnya.

Aku menggigit bibir bawahku sekarang. “Ini seksi sekali,” kataku parau. Changmin tersenyum normal sekarang. “Kau juga menyadarinya kan?” Dia tidak berkedip, tidak menjawab. “Maksudku, ini. Berciuman sambil membahas pelaku kriminal. Menurutku ini sangat seksi.”

Changmin menciumku lagi. Sampai punggungku melengkung, ingin seluruh tubuhku merapat serapat-rapatnya dengan tubuhnya. Telapak tangannya terasa lebar di punggungku. Aku balas menciumnya, dengan jemariku tersesat di rambutnya yang ikal tebal, sementara lenganku bersangga di bahunya yang liat. Ya ampun ini benar-benar seksi.

Saat kami berpisah lagi, aku mengucapkan hal pertama yang melintas di pikiranku, “Tolong katakan ini saatnya kita mulai seks yang hebat. Dengan kau yang khawatir dan posesif, lalu aku yang pasrah menjadi milikmu. Tolong katakan sekarang kita pindah ke kamar, karena kalau tidak, aku akan telanjang di sini dan aku tidak mau tahu apa-apa lagi.”

Changmin tertawa. Dia mengecup bagian bawah daguku. Aku gemetar penuh antisipasi.

Lalu dia mengangkatku, menggendongku seperti menggendong koala sambil terus menciumiku. “Kamar? Oke,” jawabnya.

Yeah. Justin Hatch be damned.

.

.kkeut.

Iklan