Tag

, , , , , , ,

Cast: Isaiah, Henry, Chitose, Jofre, Annika, Bee, Christian

Reality : fiction = 90 : 10 (%)

Setting: Kiel, winter

Category: oristory

***

 

“Cepat! Cepat!” kau berkata sambil merangkul lengan Chitose dan menggeretnya bersamamu.

Aku mengawasimu, tapi juga mengawasi yang lainnya. Tidak boleh ada yang tahu aku mengawasimu.

“Menurut kalian apa menu makan siang kali ini?” Jofre bertanya dari belakangku, membuatmu menoleh.

“Aku mau daging!” seru Henry mengalahkan kecepatanmu menjawab. Kau tampak kehilangan kepercayaan diri sesaat dan memandang sekeliling untuk mencari jawaban lain.

Dan pandangan kita bertemu. Aku tak merubah senyumku. Aku sudah tersenyum sejak kita keluar dari gedung institut. Kau mengalihkan pandanganmu cepat, tak menyadari bahwa aku menyadari kau sempat melihat ke arahku. Sambil menelan kenyataan pahit bahwa lagi-lagi aku ada di titik butamu. “Kurasa ikan juga boleh,” kau berkata.

Kau menjilat bibirmu yang tipis dan aku berharap jadi ikan seketika. Oke, aku pasti gila. Ini jam makan siang yang dingin, berapa? -18 derajat celcius? Dan aku ingin jadi ikan.

Jadi ikan artinya aku hewan air. Air dalam temperatur sedingin ini? Hmm… lalu untuk bisa dijilat dan digigit olehmu aku harus mati dulu, digoreng, atau dipanggang, atau diasapi, atau dimasukkan dalam bumbu, mungkin juga digiling. Kau akan merasaiku, mendapat kenikmatan dariku, tapi lalu aku masuk dalam tubuhmu dan apa yang tersisa dariku akan meneruskan perjalanan ke tempat yang… euwh… aku berpikir terlalu jauh. Aku manusia. Hanya ingin jadi ikan saat kau mengecapku.

“Kalian harus berhenti memikirkan ikan sebagai bahan santapan. Mereka tidak selamanya jadi sumber daya tak habis, tahu?” Annika bicara dari sebelahku dengan wajah penuh senyum.

Kau mengangkat tangan. “Jangan salahkan aku. Aku hanya makan ikan sesekali, kau kan tahu. Tapi aku juga pria, aku butuh protein,” katamu.

Haha, alasan bagus. “Aku akan makan menu vegetarian hari ini,” kataku menatap lebar ke arah Annika.

Yang kutatap menatapku senang dan setuju. “Terima kasih,” ujar Annika.

“Terima kasih,” ujarmu, Jorge, Henry dan Chitose bersamaan.

Aku tahu arti terima kasih kalian, para pria. Kalian berterima kasih karena aku membela Annika kali ini dan itu membebaskan kalian dari perasaan bersalah karena makan daging—ikan—di depannya, kan?

“Ngomong-ngomong kemana Mandy dan Caro?” kau bertanya pada kami yang lain.

Henry menjawabnya untukmu, “Mereka ke bank. Ada yang harus mereka lakukan di sana.”

Kau hanya mengangguk mengerti kemudian menatap kembali ke depan. Padahal aku masih ingin melihat wajahmu. Aku suka saat kau berbicara. Aku suka melihat matamu yang biru hampir kelabu. Mata itu selalu membuatku melihat kecerdasan otak di baliknya. Matamu dingin sekaligus penuh gairah. Kau punya banyak hal yang ingin kau lakukan, sekaligus tak peduli kalau orang lain tak bisa atau tak mau mengikutimu.

Aku berharap aku seperti udara. Ada di sekitarmu dan kau butuhkan, meski kau tak pernah mencintainya. Maksudku, berada di sekitarmu sudah cukup untukku tanpa harus mendapatkan perhatianmu. Mengetahui kau membutuhkanku sudah sangat memuaskan. Aku benci membayangkan kekecewaan di wajahmu kalau aku melakukan hal yang salah, jadi lebih baik aku berada dalam zonaku yang bisa mengamatimu dengan leluasa tanpa resiko membuatmu tak puas.

Kau bercanda dengan Jofre dan mengabaikan yang lain. Mengabaikan Chitose yang sibuk mengobrol dengan Henry lambat-lambat, mengabaikan Annika yang berdiskusi serius dengan Christian yang mendadak jadi pendiam hari ini, mengabaikan aku yang berjalan sambil memasukkan tangan ke saku dan sesekali menyesap hidung karena udara dingin.

Kita berjalan sampai di persimpangan. Untuk sekejap aku mengalihkan tatapanku dari punggungmu dan menatap lampu pengatur lalu lintas, menunggunya berganti hijau.

Bel berbunyi dan lampu berganti hijau. Aku melangkah mengikuti kalian yang lain. Jalanan menurun dan secara otomatis kakiku melangkah lebih cepat, melewati kalian semua. Saat akhirnya jalan datar kembali, kita sudah sampai di depan kantin. Aku membukakan pintu untuk semua orang dan satu per satu kalian masuk ke dalam. Kau yang paling akhir.

Kau mengambil alih gagang pintu untukku dan mempersilakanku masuk. Di dalam, semua orang sudah sibuk memilih tempat duduk dan kau mencolek pipiku. “Kau kedinginan?” tanyamu padaku.

Aku melebarkan senyumku dan mengangguk. Kau menundukkan tubuh, menyejajarkan matamu dengan mataku, menyesuaikan perbedaan tinggi kita yang hampir dua puluh senti. Satu tanganmu menepuk kepalaku. “Ehehe, kasihan boneka tropis kami… Sini tanganmu,” kau mengambil tanganku tanpa ijin lalu menggosoknya cepat-cepat.

Seketika kehangatan mengalir dalam tubuhku. Bukan sekedar hangat dari friksi antara kulit kita, tapi lebih akibat kehangatan perhatian yang kau tunjukkan. “Setelah makan kau pasti akan lebih hangat,” ujarmu setelah selesai menggosok tanganku dan melepasnya kembali. “Ayo,” ajakmu.

Aku menatapmu, sengaja berjalan di belakangmu, memastikan kau mendengar langkahku mengikutimu. Membiarkan perasaan bodoh menyergapku karena tersipu oleh perlakuanmu yang baik yang pada dasarnya kau tunjukkan pada semua orang.

“Kau tahu, aku rasanya tidak terlalu lapar lagi,” ujarku lirih dengan hati berdebar terlalu kencang. Tanganku terulur menyentuh jaketmu.

Kau menoleh dan tersenyum, “Kenapa? Kupikir kau bilang udara dingin dan berpikir seharian membuat selera makanmu meningkat?”

Aku menggeleng dan menyembunyikan senyumku. Senyum senang karena kau membiarkanku berpegang pada jaketmu. “Aku tak tahu,” jawabku.

Mungkin karena kebaikanmu sudah memenuhi perasaanku, membuatku kenyang dengan sendirinya. Sungguh, aku menyukaimu.

.

.kkeut.

Iklan