Tag

,

648w. Oneshot. Changmin-OC. Pacarku dan aku.

.

Pacarku penggemar buku. Dia suka membaca buku apapun, tapi yang paling disukainya adalah buku-buku renungan diri, filsafat dan yang semacamnya. Kalau orang bertemu dengannya lalu bertanya padanya apa yang sedang dia baca, jawabannya akan membuat mereka mengerutkan kening. Berat, bacaan kesukaannya berat untuk dicerna.

Tapi dia tidak selalu membaca hal-hal yang berat. Terkadang dia membaca novel fantasi, atau cerita remaja, atau bahkan komik. Intinya dia suka membaca. Hebatnya, matanya tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Matanya masih tajam dan normal meski dia lebih sering membaca daripada tidur di sela-sela waktu luangnya.

Saat membaca, dia tampak sangat keren. Pakaiannya konvensional. Dia punya selera berpakaian yang sangat trendi tapi sekaligus elegan. Terkadang dia mengenakan celana kain yang bagus dengan baju hangat rajutan yang tampak tua dan nyaman. Di bawahnya dia akan mengenakan kemeja bagus yang kerahnya terlipat sempurna. Di lain waktu dia akan mengenakan celana pendek selutut sementara kemejanya yang tidak berlengan dilapisi oleh baju hangat lain. Dia tampak elegan sekaligus nyaman. Seperti sofa bagus yang sudah tua dan beraroma rumah.

Saat dia memiliki waktu luang, aku akan punya kesempatan melihat ikal rambutnya jatuh ke kening. Tangannya terangkat menyingkirkan helai yang iseng itu tatkala dia merasa terganggu, tapi dasar bandel, rambutnya akan kembali menutupi kening dan sebagian matanya. Meski begitu, aku sangat suka rambutnya. Kilaunya indah dan warnanya berubah-ubah. Dia begitu mengikuti perkembangan mode, selalu memastikan tampilannya baru dan tidak membosankan. Kalau aku menyentuh rambutnya, aku akan cukup dekat padanya dan bisa membaui aroma dirinya yang selalu kusuka. Selain itu, rambutnya sangat halus.

Inilah satu hal tentang pacarku. Dia begitu keren dan sempurna sampai-sampai agak sulit membayangkannya dengan hobi membaca. Cowok keren tidak suka membaca buku. Mereka pergi keluar dengan teman-teman atau pacar-pacar mereka, pergi berpesta, atau sekedar makan di tempat yang trendi. Mereka berjalan-jalan dengan aura hebat sambil menelepon gadget yang paling baru. Mereka juga punya jadwal tetap di salon untuk memastikan penampilan mereka tetap keren. Tidak ada yang salah dengan itu, karena itu artinya mereka laki-laki yang rajin. Tapi mereka tidak membaca buku.

Mereka tidak senang duduk di sudut cafe dengan secangkir kopi dan sebuah buku di tangan yang terbuka setengahnya, wajah tenang dan larut, sementara musik tenang mengalun di belakang. Yang pertama kali mereka lakukan ketika mendapati waktu menunggu bukannya membuka buku yang tersimpan dalam tas mereka, tapi membuka telepon genggam. Cowok-cowok keren tersenyum pada orang-orang, bukannya mengabaikan mereka dengan bosan lalu memutuskan buku “Zen” jauh lebih menarik.

Dan pacarku orang keren. Apapun tindakannya, entah apa pilihan hobinya, tidak ada yang bisa menyangkal dia orang keren. Bahkan saat ini ketika dia duduk dengan bahu melengkung ke depan dan dahi serius, kaki terpentang lebar tidak peduli, rambut kusut masai, orang lewat masih akan mengatakan dia keren.

Kemeretak api terdengar dari perapian. Aku lebih suka perapian daripada pemanas ruangan. Aku mengulurkan tangan dan meraba dadanya. Di balik baju bertumpuk yang dia kenakan, aku bisa merasakan dadanya keras dan berotot. Di belakang kepalaku, ada lengannya yang liat dan membuatku merasa aman dan terlindungi. Saat ini, sekali lagi, aku tidak tahan untuk memberi tahunya.

“Changmin-a,” panggilku pelan, mengabaikan novel yang sedang kubaca untuk sementara.

Dia hanya melirik, wajahnya serius, dan tidak ada tanda-tanda dia hendak menjawab. Matanya tajam. Tapi dia hanya menatapku, menatap dan menungguku bicara. Aku meraba rahangnya dan mataku terasa setengah terpejam. “Kau keren sekali,” kataku pelan.

Sebuah senyum terbentuk di bibirnya. Tipis dan tidak kentara. Tanpa berkomentar dia kembali membaca bukunya. Hanya lengannya yang mengeratkan pelukan di bahuku yang memberi tahuku bahwa dia memperhatikan ucapanku.

Aku kembali pada bacaanku. Menikmati saat-saat langka bersama dengannya, saat dia tidak sibuk syuting ini-itu. Saat kami berdua berbagi hobi. Dalam keheningan dan kenyamanan dan keakraban.

Kurasakan tangannya menelusuri pipiku, turun ke daguku, lalu wajahku diangkatnya. Mataku bertemu dengannya. Dia sudah sedang menunduk. Bibirnya menyentuh sudut bibirku, agak lebih lama untuk disebut sebagai kecupan. Lalu dia mengangkat kepalanya, menatapku, memberiku senyuman kecil itu lagi.

Kunyamankan letak kepalaku di bahunya. Dan mulai membaca lagi.

.

.kkeut.

Iklan