Tag

1,084w. Changmin-OC. Oneshot. “Sedang pacaran,” adalah status Changmin di socmed-nya.

~

“Yang biru, yang biru.”

“O ya.”

“It—ah, ya baiklah.”

“Yang mana?”

“Tadinya yang oranye, tapi karena kau meledakkan yang kuning sekarang sudah hilang.”

“…”

“…”

“…”

“Ng…”

“Kau melihat sesuatu?”

“Tidak. Kurasa hanya tinggal satu lagi dan kita harus mengacaknya.”

“Ha~ah…”

“Geser kepalamu sedikit.”

“Aku bukan bantalmu -___-“

“Memang bukan. AH! Aku melihatnya!”

“Apa?”

“Yang pelangi, yang pelangi!”

“Pelangi yang mana?”

“Itu yang di sebelah yang dirantai!”

“…”

“Masa kau tidak melihatnya? Sini ber—“

“Tidak mau!”

“Aku hanya mau menunjukkannya padamu~”

“Tidak, pasti nanti kau yang main!”

“Tidak akan. Memangnya aku pernah begitu?”

“…”

“Jangan menatapku begitu… Baiklah, aku kadang-kadang memang begitu…”

“…”

“Baiklah, aku memang sering begitu. Puas?!”

“…”

“…”

“Yang pelangi yang mana, Changmin-a?”

“Kau bertanya padaku? Aduh. Kenapa kau membentur kepalaku?!”

“Turun dari atasku!”

“Kau ini pemarah sekali sih. Sudahlah, tidak usah turun-turun. Sini kutunjukkan padamu. Ini, ini, pelangi yang ini…”

“…”

“Ke atas, Cinta… Ke atas. Masa kau masih tidak bisa melihatnya?”

“Berisik.”

“Aku tidak akan berisik kalau otakmu bekerja lebih cepat.”

“…”

“Padahal aku sudah menunjukkannya padamu.”

“…”

“Demi skormu.”

“…”

“Dan aku tidak merebut—aww! Kau jahat!”

“Kalau kau mau main kenapa tidak ambil iPadmu sendiri?”

“Isy kau ini tidak bisa lembut sedikit ya?”

“Kenapa sih kau sok sekali?”

“Apa maksudm—Aku bukannya sok, tapi itu m—Aku hanya mau membantumu!”

“Ya, sambil mengejekku.”

“Tidak. Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu.”

“Ya, ya, dan bumi mendadak kotak.”

“Sumpah!”

“Sudah sana mainkan gamemu sendiri!”

“…”

“Kenapa?”

“Malas~”

“…”

“Aku malas mengambilnya. iPadku di dalam tas. Tasku jauh, di ruang tengah. Ambilkan untukku?”

“Iiiih… maaf ya. Ambil saja sendiri.”

“Tuh kan, kau juga malas.”

“…”

“Akui. Saja.”

“…”

“Kau.pemalas.dasar.kau.pemalas.”

“Berhenti menusuki pipiku, Shim Changmin!”

“Ngh… tidak mau~”

“Aku sedang main game—aish, berhenti menggangguku!”

“Ti~dak~ ma~uuu~”

“Hen—ahhh…”

“Aku mauuu~ mengganggumuuu~”

“Berhenti… akh, geli. Hentikan…”

“Tidak maaa~uuu~”

“HYA!”

“OMO, kaget aku.”

“…”

“HYA!”

“…”

“Kau kan tidak perlu berteriak begitu~”

“Habisnya…”

“Habisnya apa?”

“Habisnya aku kan sudah bilang hentikan, tapi kau terus menggelitikiku. Aku tidak tahan.”

“Tapi kan kau tidak perlu meneriakiku.”

“Aku tidak meneriakimu—“

“Nah, nah! Itu! Itu! Matamu itu yang berputar-putar! Kenapa sih matamu harus mutar-mutar begitu kalau bicara denganku?!”

“Bukan beg—“

“Tuh, kau melakukannya lagi!”

“Ya habisnya kau membuatku gemas, makanya aku memutar mata!”

“Kau hanya senang mengejekku.”

“Tidak. Bukan begitu. Kenapa jadi kau yang marah?! Gameku belum selesai dan kau merusak konsentrasiku tapi kenapa kau yang marah?!”

“…”

“Awas kalau kau menggangguku lagi.”

“Mmhaku tidak mmmau mmengganggummuuu… hanya ingin memelukmuuu…”

“Tapi jangan menggangguku.”

“Kenapa kau terus menuduhku mengganggumu?—itu! Yang putih sekarang sudah lepas, cepat gerakkan, nanti rantainya muncul lagi kalau kau kelamaan bergerak.”

“…”

“…”

“…”

“…”

“Sial…”

“Ini lho…”

“Oh iya, bisa pakai sudut sembilan puluh derajat ya…”

“Lalu yang merah.”

“…”

“Sekarang yang oranye—yang oranye—aaah, kenapa kau gerakkan yang hijau?!!”

“Apa sih?! Memangnya kenapa? Apa bedanya?”

“Ah, kau payah! Kalau yang oranye tadi kau bisa dapat bom!”

“Hah?”

“Kau bisa dapat lima rangkaian lalu kau bisa dapat bom! Sekarang sudah hilang!”

“…”

“Bagaimana sih kau?”

“Maaf.”

“Makanya lain kali dengarkan aku.”

“…”

“Tapi untung selamat, kau sudah naik level tuh. Kenapa tidak main Angry Bird saja sih?”

“Malas.”

“…”

“…”

“Heey… Cintaaa…”

“Ya?”

“Baumu enak.”

“…”

“Jangan bergerak. Mainkan saja gamemu. Aku mau mencium lehermu.”

“…”

“Kenapa tertawa?”

“Tidak ada orang yang mengumumkan akan mencium leher orang lain.”

“Ada. Aku.”

“Cih.”

“Sudahlah. Sini kau.”

“Aww.”

“Sini kau. Angkat rambutmu sedikit.”

“Changmin-a, aku jadi susah main gamenya.”

“Mmmh…”

“Ah, geli…”

“Nanti mandi bareng ya?”

“Nggak mau.”

“Apa? Kenapa?”

“Hehe, lihat wajahmu itu.”

“Kau menggodaku ya?”

“Hehehe…”

“Kau menggodaku kan?”

“Haha.”

“Dasar nakal.”

“Hei, aduh, aduh, aduh, hentikan. Cukup. Ampun. Aww, geli. Sudah.”

“Rasakan.”

“Aduh, sudah, sudah, Changmin-a. Sudah… please…”

“Nanti mandi bareng, oke?”

“Tidak mau!”

“Harus mau.”

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Karena nanti jadi lama. Dingin. Aku tidak mau.”

“…”

“Changmin-a?”

“Hmm?”

“Kenapa berhenti?”

“Katanya geli.”

“Iya siiih~ heeei… Ada apa? Kenapa mendadak serius begitu?”

“…”

“Changmin-a?”

“Aku hanya merasa kau benar.”

“Eh?”

“Dingin.”

“…”

“Hari ini dingin. Lebih baik kita tidur saja sepanjang hari.”

“Huu… mentang-mentang libur…”

“Iya dong… Dan karena libur, aku sengaja datang ke sini.”

“…”

“Aku suka senyummu yang ini.”

“Oh sudahlah, kau membuatku malu.”

“Serius. Aku suka senyummu yang ini. Kau di atasku, tersenyum senang, setengah malu; dari bawah sini pemandangannya luar biasa. Bisa beri aku ciuman tidak? Aku rasa aku ingiiiiin sekali dicium olehmu saat ini.”

“…”

“Bagaimana bisa kau selalu tertawa tanpa suara?”

“Hehe, entahlah. Tutup matamu.”

“Tidak mau. Aku mau melihatmu saat kau menciumku.”

“Oh, dasar mesum. Baik, ke sinikan bibirmu.”

“Mmm… mmmhh… ooohhh… ciuman yang luar biasaaahhh…”

“Dasar. Kau berlebihan! Aku tidak mau menciummu lagi. Aww!”

“Siapa bilang kau boleh lepas dariku? Di sini saja. Mainkan lagi gamemu. Aku akan diam saja dan tidak mengganggu. Janji.”

“…”

“Sumpah.”

“…”

“Aku tahu kau tidak percaya padaku.”

“Kau memang tidak bisa dipercaya.”

“Hei, aku lelaki setia!”

“Bukan itu!”

“Lalu apa?!”

“Aku tidak percaya kau tidak akan menggangguku.”

“…”

“Tuh kan, apalagi kau sudah menatapku begitu.”

“Mau bagaimana lagi? Aku suka menatapmu.”

“Uuuuh…”

“Ke sini kau. Tidak usah main game.”

“Tuh kan?! Kata-katamu memang tidak bisa dipegang!”

“Jangan salahkan aku. Aku kangen padamu.”

“Haaa~aahhh… kau tidak tertolong lagi.”

“Selamatkan aku, pacar-nim…”

“… Bagaimana?”

“Bermesraanlah denganku sampai besok.”

“Gila ya? Aku juga butuh makan.”

“Kalau begitu makan sambil bermesraan.”

“Heh…”

“Main game sambil bermesraan. Nonton tivi sambil bermesraan. Mandi sambil bermesraan—“

“Dasar mesum.”

“Bermesraan sebelum tidur, bermesraan sambil jalan-jalan di dalam rumah, bermesraan terus sampai besok.”

“Oh Tuhan. Kenapa kau pacarku?”

“Karena kau mencintaiku.”

“Ih, maunya…”

“Auch, kau melukai hatiku!”

“Ahahaha, hentikan, kau menjijikan!”

“Aku tidak bisa berhenti! Kau sudah membuatku gila! Aku akan terus gila!”

“Hentikan Changmin-a, aku serius. Kau menjijikan.”

“Biar saja aku menjijikan. Untukmu.”

“Eeeeuuuwwh!”

“Hanya ada satu cara untuk menghentikanku…”

“…Shim Changmin kau idola gila. Sini biar kucium kau sampai kegilaanmu menguap habis.”

“Kuserahkan hidupku padamu.”

“Oh dan kuharap aku bisa menyembuhkan sikap menjijikanmu ini. Mmmh…”

“Hmm… bagus. Teruskan. Aku rasa aku langsung merasakan khasiat ciummmh…anmuh…”

“Kau…mmm…gila…”

“Gila padamu…”

“Oh, shut up and just kiss me.

“Aku sedang melakukannya!”

“…”

“…”

“…”

“…”

“…”

“Cinta?”

“Mmmh?”

“Bagaimanammh… kalau… mmmh… Bagaimana kalau kita main Starcraft?”

“… Apa… Maksudmu sekarang?”

“Yah… daripada tidak ada kerjaan…”

“Kupikir kau mau ciuman sampai dehidrasi…”

“Kau gila ya? Aku hanya mau menghentikanmu bermain game menyedihkan itu.”

“…”

“Aww! Kenapa kau memukulku?!”

Shut up. Shut up dan cium aku sekarang. Starcraftnya nanti saja.”

“Ng… oke… tapi… janji?”

“…”

“Awh, oke, oke. Kau suka main kasar ya? Sini biar kutunjukkan padamu cara yang benar bermain kasar dengan pacarmu.”

.

.kkeut.

Iklan