Tag

, ,

759w. Oneshot. HoMin. PG-15.

.

Changmin membiarkan air panas menyirami tubuhnya. Tapi toh dia tetap menggigil kedinginan. Dia mengamati bagaimana air itu mengalir cepat ke bawah di atas kulitnya yang telanjang. Pandangannya mengambang saat bayangan seseorang menyelinap dari bawah lengannya yang terulur ke dinding di hadapannya. Bayangan itu memiringkan kepalanya dan menatap Changmin menggoda dari bawah. Changmin melihat bayangan itu merayap naik, sepasang bibir menyuruk ke bawah rahangnya. Changmin melihat sepasang tangan meraih tubuhnya. Dia menegang dan tercekat. Dia melihat bayangan itu menelusuri tubuhnya mesra dengan ujung-ujung jari. Changmin menegang dan tercekat.

Changmin membiarkan air panas menyirami tubuhnya. Dia tetap menggigil.

Di kamar, Changmin berbaring telentang menatap langit-langit. Napasnya teratur, sayang pikirannya melantur. Ada sebuah bayangan akan sosok seseorang mengamatinya dari samping. Sosok itu bertelekan pada satu tangan dan tangan lain terentang di atas perut Changmin. Rasanya sosok itu bersuara, membujuknya bercerita tentang hari ini. Changmin menoleh dan membuka mulut, tapi tidak ada apapun di sampingnya. Bayangan itu muncul dari belakangnya, lengan menyelinap di bawah lengan Changmin. Lalu Changmin mendengar suara lagi, menanyakan Changmin mau makan apa malam ini. Changmin menelan ludah.

Di kamar, Changmin melihat bayangan-bayangan. Napasnya teratur, pikirannya terus melantur.

Banyak piring berserakan di meja makan. Mengumpul di sisi tempat Changmin makan. Mengambil nasi, menyendok kuah, mencomot ikan dan kimchi, kemudian Changmin mengunyah. Di seberangnya ada sebutir nasi terjatuh. Changmin mengerutkan dahi tidak suka. Entah sudah berapa kali dia mengingatkan agar Yunho makan dengan rapi. Seperti sesuatu yang seharusnya selalu menjadi keharusan, Changmin mengharapkan Yunho bisa rapi dan lebih anggun dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Piring di meja sisi Yunho berantakan dengan sisa lauk memutar di tepian mangkuk. Changmin menggeretakkan gigi, mencoba bertahan untuk tidak mengomentari Yunho agar jangan pilih-pilih makanan, agar makan saja semua yang sudah dipilihkan Changmin untuk dimasak.

Banyak piring berserakan di meja makan dan nasi di seberang sisi tempat Changmin duduk. Changmin mengunyah dan sadar tidak ada apa-apa di sisi yang dipelototinya terus dari tadi itu.

Changmin membenarkan letak sepatunya saat hendak keluar. Satu tangannya bertumpu di salah satu dinding. Tatapannya mengarah ke lantai, berkonsentrasi. Lalu menyelinap pergi, ke masa dimana dia tidak punya kesempatan berkonsentrasi sebab Yunho berlari ke dalam rumah mengenakan sepatu. Kakinya turun dan dia terpekur menatap lantai. Bersih dan mengilap. Sepatu-sepatu tersusun rapi, mantel dan jaket menggantung tertata di dalam kloset. Tidak ada sidik jari di cermin dekat pintu masuk. Keset tidak miring. Ada topan dalam dada Changmin.

Lantainya bersih, rumahnya rapi, cerminnya mengilap sempurna. Hatinya teraduk-aduk oleh topan.

Make-up Nuna menaburkan bedak di wajahnya. Membingkai matanya dengan eye-liner. Menyapu bibirnya dengan lipstik. Mulut Nuna itu lebih sering terbuka berceloteh daripada menutup berkonsentrasi. Changmin ingat ocehan lain yang tidak pernah berhenti. Changmin ingat ocehan yang sering membuatnya terganggu. Changmin ingat ocehan yang mengantarnya pergi tidur. Changmin ingat ocehan yang menyambutnya bangun. Changmin ingat ocehan yang tidak jelas di kamar mandi. Changmin ingat ocehan yang sembunyi-sembunyi kala kamera mengintai. Changmin ingat ocehan yang tak pernah berhenti, dan dia ingat, dia tidak mengingatnya.

Changmin mengingat banyak ocehan. Ingatannya berbaur dengan ocehan di balik punggungnya hingga terasa terlalu nyata.

Panggung gemerlap, riuh penggemar menyentak. Changmin berkedip silau ke arah lampu sorot. Mulutnya bergerak menyapa dan menjawab. Suaranya berkumandang menyanyi dan tertawa. Dahinya berkerut kelelahan dan kecapekan. Kakinya melangkah dan berlari. Tubuhnya mengayun dan bergoyang. Tubuhnya berkeringat dan panas. Rambutnya lepek dan menutup mata.

Changmin ingin menutup mata selamanya. Selama Yunho masih di depannya. Berlari bersamanya, menyanyi bersamanya, tertawa bersamanya. Selama Yunho masih menyapa, menjawab, menari, bergoyang, berkeringat, panas dan lepek bersamanya. Hanya ingin menutup mata, Changmin hanya ingin menutup mata.

Saat kembali, Changmin akan kembali pada rumah yang kosong dan berbayang-bayang. Kesepiannya tak terkendali. Saat selesai, Changmin akan berpamitan dan berterima kasih pada semuanya. Rasa lelahnya tak terperi. Saat tiba waktunya, Changmin akan menaiki mobilnya dan berjuang agar tidak ceroboh saat mengemudi. Hujaman di dadanya tak berhenti juga.

Kapanpun tiba saatnya pulang, Changmin akan mendengar itu:

“Aku tidak mencintainya seperti aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Ya, aku mencintaimu. Akan kukatakan padanya. Ya, aku tidak mencintainya seperti aku mencintaimu.”

Dan suara itu tidak pernah hilang dari benaknya. Bahkan setelah akhirnya dia memutuskan untuk pindah. Sudah berapa lama, Changmin tidak tahu. Yang jelas, bahkan rumah baru pun tidak bebas dari bayangan-bayangan itu.

Yunho berkata, “Aku tidak mencintainya seperti aku mencintaimu,” dan Changmin tahu siapa ‘nya’ siapa ‘mu’.

Semua sentuhan, bisikan, belaian, adalah sandiwara. Changmin terlalu mengenal Yunho untuk tidak menyadari hal itu. Changmin adalah ‘nya’.

Itu menyakitkan, dan Changmin ingin menutup mata selamanya. Bahkan jika dia harus berteman bayang-bayang saja. “Pembohong,” pikir Changmin.

“Pembohong,” gumam Changmin.

Karena padahal Changmin tidak mencintai apapun di dunia ini seperti dia mencintai Yunho.

.

.kkeut.

Iklan