Tag

,

1,346w. Oneshot. R. Dia hanya menginginkan kenyamanan yang Sora tawarkan padanya.

.

Tangan Leeteuk meregang, jemarinya menyebar di pinggang Sora yang tipis dan putih. Geliat otot perutnya membuat Leeteuk ingin memejamkan mata namun di saat bersamaan dia merasa sayang membiarkan pemandangan indah di hadapannya tenggelam dalam kegelapan. Bibir Sora bersemu merah muda, sedikit membuka saat Leeteuk mengangkat pinggulnya. Kulitnya lembap, melicinkan pegangan Leeteuk padanya; dia menambah tekanan jemarinya di sana.

Sora mengulurkan tangan lalu menunduk menatap Leeteuk. Rambutnya yang kini telah panjang bergelombang, halus dan tipis membingkai wajahnya. Setelah beberapa lama tak bertemu, Leeteuk menyadari kedewasaan telah menyapa Sora, membuatnya tampak lebih matang. Bulu mata itu bergetar kala Sora setengah memejam menikmati keberadaan Leeteuk dalam di dalamnya. Lehernya panjang terulur, membuat Leeteuk dapat melihat kilau kulit yang berhias titik keringat. Leeteuk tidak pernah melihat wanita secantik ini sebelumnya.

Dada Leeteuk bergemuruh ketika Sora menunduk. Harapan akan sentuhan bibir Sora di bibirnya meremas-remas rongga dalam perutnya. Dia menginginkan Sora, itu tidak diragukan lagi. Tangan Sora kini bertumpu menjaga lehernya, napas hangatnya menyentuh kulit pipi Leeteuk. Lelaki itu berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpejam. Lalu Sora meliuk dan bibirnya mendarat di bawah telinga Leeteuk.

Leeteuk gemetar. Ujung dada Sora membelai dadanya, bibir Sora menyapu telinganya, dan tubuh mereka yang bersatu melekat makin dalam, terasa panas, kontras dengan udara dingin yang menghembus dari penyejuk ruangan. Dengan kepuasan tersendiri karena bisa merangkul Sora bulat-bulat dalam lingkar lengannya, kekecewaan Leeteuk karena tidak jadi mencium Sora menguap tanpa disadari.

Pikiran telah berganti dengan rasa. Emosi yang mengembang penuh debar saat Sora mengiyakan ajakan temunya telah lama berganti dengan keinginan mencari kelegaan bersama wanita itu di sini, di atas tempat tidur empuk berhias pelapis lembut, berlatar langit biru yang sebentar lagi menggelap. Kekagumannya akan kaki Sora yang tadi tampak semakin jenjang telah terpuaskan melebihi ekspektasi ketika dia menelusuri setiap inci kulit kaki wanita itu menuju titik yang dipujanya dengan segenap gairah yang dia miliki. Rasa rindunya pada Sora terbayarkan dengan perhatian wanita itu yang tak pernah surut.

Seseorang mengatakan bahwa seks adalah wujud emosi  dalam mosi. Leeteuk memiliki emosi istimewa ini terhadap Sora sejak perjumpaan pertama mereka. Terlepas dari banyaknya kamera yang menyorot, atau betapa anehnya kursi-kursi kosong di sekitar mereka, Leeteuk tahu dadanya menggemuruh tidak biasa akibat kehadiran wanita luar biasa ini. Bukannya dia kurang percaya diri, tapi bisa bersama Sora hingga seperti ini tetap terasa seperti keajaiban.

Di mata Leeteuk, Sora adalah definisi lengkap sempurna. Secara fisik, di departemen talenta, juga di bagian emosi. Sora melengkapinya sedemikian rupa, Leeteuk tahu akan susah menemukan wanita sepertinya lagi (kalau tidak boleh dibilang tidak ada). Kang Sora merupakan sosok idamannya, sesederhana itu.

Maka itulah Leeteuk tidak sudi menghapus nomornya, tidak berkenan mengakhiri interaksi mereka, tidak ingin melewatkan kesempatan menemuinya. Membuat Sora memercayainya hingga bersedia menyatu dengannya bukan perkara mudah, dan Leeteuk bangga akan hasil akhirnya yang sesuai harapan. Hari ini bukan interaksi pertama mereka, dan meski hal ini tidak terjadi sesering yang Leeteuk inginkan, Leeteuk menganggap ini yang terbaik. Jarak yang diciptakan jadwal dan kesibukan membuat pertemuan mereka terasa sangat berharga, dan indah, kalau Leeteuk boleh menambahkan. Dan yang membuat Leeteuk nyaman adalah mereka tidak selalu berakhir di sebuah hotel atau tempat tidur salah satu dari mereka. Pola ini membuat Leeteuk yakin ada sesuatu yang lebih kuat dari sekedar pencarian kebutuhan fisik.

Leeteuk meraih leher Sora, membawa wajah wanita itu ke hadapannya. Mereka bertatapan dan Leeteuk menemukan tantangan di sana. Sora menantangnya untuk meneruskan dengan semangat. Sora menantang Leeteuk untuk mendominasi. Sora menantang Leeteuk melakukan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh wanita itu.

Pada dasarnya Sora wanita yang penuh rencana. Dia ambisius sekaligus fokus pada tujuannya. Tapi Leeteuk terkejut—lalu terpesona—pada kebiasaannya mengimprovisasi detil. Sifat inilah yang membuat Leeteuk tidak pernah bosan akan Sora.

Sora juga bukan wanita manja. Dia bekerja keras untuk semua pencapaiannya. Sora tidak menuntut Leeteuk melakukan sesuatu untuknya karena itu memang tidak perlu. Leeteuk bersyukur karena itu, meski sedikit sedih karena tidak dijadikan sandaran oleh Sora.

Tapi kalau dipikir lagi, ini membuat segalanya lebih mudah. Di mata semua orang, mereka berteman baik. Terkadang Leeteuk yang menghubungi Sora, dan tidak jarang Sora yang melakukannya. Ada status yang harus dijaga dan ada pilihan yang harus tetap terbuka, sehingga tidak satupun dari mereka berdua memilih untuk menjadi eksklusif bagi satu sama lain. Tepat hal inilah yang membuat Sora semakin berharga di mata Leeteuk.

Di antara banyak pilihan yang dimilikinya, Sora merupakan suatu pegangan, suatu standar, yang masih belum terkalahkan oleh wanita lain di luar sana. Sekali pertemuan biasanya sudah lebih dari cukup bagi Leeteuk, tapi rasa nyaman bersama Sora membuat Leeteuk menginginkan kesempatan lain lagi dan lagi. Tidak melulu, cukup hanya sesekali. Leeteuk tahu level konektivitas mereka berdua berada pada area abu-abu, tapi bukan sesuatu yang menggelisahkan. Sepertinya, suatu saat nanti, Leeteuk akan dengan ringan mengatakan bahwa Kang Sora adalah wanita idealnya. Dia tahu Sora tidak akan keberatan.

Mereka membutuhkan kecepatan sekarang. Leeteuk tidak lagi menahan diri. Waktu yang lain adalah waktu yang lain. Yang dia jalani adalah saat ini. Dia menginginkan saat ini bersama Sora sepenuhnya. Maka Leeteuk mempertemukan bibir mereka. Sora membiarkan Leeteuk membimbingnya sekejap, lalu berusaha melepaskan ciuman Leeteuk.

Leeteuk melepaskannya, lalu berbisik, “Hampir…”sebelum menarik Sora kembali turun untuk dicium.

Kali ini Sora tidak menolaknya. Sora membiarkannya dan oleh persatuan di kedua ujung tubuh, Leeteuk memahami arti ‘bersatu’.

Sora tersengal dan Leeteuk tidak sampai hati membuatnya kehabisan napas. Maka dia melepaskan Sora dan membuat diri sendiri dipuaskan oleh pemandangan cantik di atasnya. Sora tidak malu. Sora bangga akan dirinya, akan tubuhnya, dan dia tidak kesulitan membiarkan orang menikmati pemandangan tubuhnya. Termasuk Leeteuk. Dari bawah sini, Sora tampak bagai dewi.

Kaki Sora yang panjang seperti tak berakhir, terpatri di kedua sisi pinggang Leeteuk. Lekuk pinggangnya manis dengan pusar menggoda. Dadanya membusung, terlalu anggun untuk dikatakan vulgar, terlalu seksi untuk diabaikan. Leeteuk menyerap semua itu. Cerukan lehernya, cantik dagunya, indah rahangnya.

Lalu Sora menarik napas. Mengetat.

Leeteuk lupa bernapas. Merasa panas.

Dan mereka melebur bersama. Untuk sesaat yang bagai pusaran, Leeteuk membayangkan suatu saat di masa depan dia akan menandai Sora sebagai miliknya. Dia tidak akan memerlukan pengaman. Dan di suatu saat itu, mereka akan melebur bersama diiringi ciuman.

Manis sekali.

Beberapa saat kemudian, Sora menggeliat di sebelahnya. Wanita itu meraih tangan Leeteuk dan mengurainya dari pinggangnya. Sejurus kemudian, kakinya telah menapak lantai dengan punggung menghadap Leeteuk. Leeteuk membelai garis tulang belakangnya dengan lembut.

“Aku mandi dulu, Oppa. Habis ini aku ada pemotretan.”

Leeteuk mengerjap.

Sora menoleh. Wanita itu tersenyum dan wajahnya berbinar. “Terima kasih makan malamnya tadi. Enak sekali. Oppa akan langsung kembali ke pangkalan malam ini?” tanyanya.

Leeteuk meletakkan tangannya perlahan di kasur. Dia mengangguk dan merasa telah melewatkan sesuatu yang penting.

Tanpa merasa perlu menutupi tubuhnya dengan apapun, Sora berbalik badan dan menggenggam tangan Leeteuk. “Jaga kesehatan di sana ya, Oppa. Aku mungkin akan mengajak yang lain untuk mengunjungimu. Aku akan memperkenalkan Inguk padamu. Kalian belum saling kenal, kan? Tapi janji, jangan katakan hal-hal buruk tentangku padanya, ya…” Sora bicara penuh semangat.

Di sana, Leeteuk hampir mendengus. Raut Sora begitu cantik, matanya menyorot penuh harapan, semangatnya hampir bisa terlihat berwarna pink saat menyebutkan Inguk. Leeteuk mendadak menyadari sesuatu.

Sora menikmati kebersamaan mereka. Tapi Sora tidak berpikir. Paling tidak, tidak berpikir dengan frekuensi yang sama dengan Leeteuk. Untuk sesaat tadi dia membayangkan akhir bersama Sora, tapi Sora menikmati kebersamaan mereka dan hanya sampai situ. Tidak ada akhir bagi Sora dan Leeteuk. Tidak ada keinginan akan kenyamanan yang sama untuk Sora. Tidak ada bayangan mengenai berdiam bersama Leeteuk di benak Sora.

Intinya, tidak ada Leeteuk dalam rencana hidup Sora.

Sora mengakhiri malam ini seperti biasanya. Dengan pesan untuk menjaga kesehatan, dengan pesan agar bertemu lagi lain kali, dengan pesan agar cepat kembali, dengan semua pesan yang mungkin disebutkan. Tapi tidak disertai nada berat menanti, tidak disertai keinginan yang mendesak, tidak disertai tuntutan untuk mengingat, tidak sama sekali.

Leeteuk mengharapkan udara tanpa bobot. Leeteuk tidak merasakan apapun.

Momen manis bersama Sora hanya ada dalam benaknya, tidak kemana-mana lagi. Di sana adalah jalan buntu.

Naif sekali dia, pikirnya kecut sambil memandangi punggung Sora yang melangkah ke kamar mandi.

Dan sisa malam itu dilalui Leeteuk sekosong botol anggur yang telah ia dan Sora habiskan bersama. Anggurnya sudah habis, ya sudah. Memangnya ada apa lagi?

.

.kkeut.

Iklan