Tag

, ,

1,535w. Oneshot Attraction serie. Domestic life, well.. nothing else.

.

Kalau boleh jujur, ini memang apa yang kuinginkan. Aku adalah manusia yang banyak keinginan, tapi semua keinginanku itu bermuara pada sesuatu yang seperti ini.

Ini, adalah apa yang kami lakukan sekarang. Aku di mejaku, menatap komputer yang memutarkan banyak cuplikan acara, dan dia di mejanya sendiri, menghadapkan punggungnya padaku, sibuk berkutat dengan tulisannya yang entah apa.

Aku tidak pernah benar-benar memahaminya, dunianya, tapi aku tahu ada yang begitu dicintainya di sana sehingga bahkan dalam kondisi tersulit pun dia tampak bersinar. Laut dan segala yang terkait dengannya, bagiku hanyalah tempat indah yang terbuka. Kadang melegakan, kadang menakutkan. Namun baginya, laut berarti sesuatu yang lebih. Lebih besar, lebih kompleks, lebih… hidup. Laut adalah hidupnya.

Dia, bisa tidak berhenti bicara jika itu tentang laut. Sampai saat ini, sudah berapa ilmu tentang laut yang bisa kuserap? Bahwa laut itu sangat kuat, bahwa laut itu—mengejutkannya—juga rapuh, bahwa laut itu rumah, bahwa laut itu sumber kehidupan. Aku tidak percaya bahwa air asin yang bercampur segala macam buangan manusia itu bisa menjadi demikian murni sampai tak sanggup membeku. Dia yang memberitahuku bahwa luas laut yang luar biasalah yang membuatnya tidak mudah dikalahkan oleh perubahan apapun yang terjadi di bumi.

Andai saja dia tahu bahwa bagiku, lebih luar biasa dirinya yang bersemangat bercerita.

Lehernya bergerak ke kanan-kiri, kemudian aku melihat jemarinya memijat pundak yang tampak tegang.

Aku menatapnya dengan seksama. Sebagai seorang suami, aku tahu bagaimana caranya menguraikan ketegangan dari tubuhnya. Aku paling suka menggantikan ketegangan itu dengan ketegangan bersebab lain, sebab aku suka melihatnya santai setelah ketegangan yang kuciptakan berhasil menguasainya. Tapi tentu saja aku tidak bisa selalu membuatnya setegang itu kan? Bisa-bisa dia marah karena aku mengganggunya bekerja.

Di hadapannya terhampar dinding kaca yang memperlihatkan gelapnya malam. Saat kami memilih tempat ini untuk mendirikan rumah, aku agak keberatan saking sepinya daerah ini. Tapi dia bilang kami pasti akan menyukai tempat ini karena tempat ini memberikan ruang terbuka yang tidak bisa kami dapatkan di kota. Kami punya apartemen di kota, tapi itu hanya kami tempati empat hari seminggu. Belakangan, kami lebih banyak tinggal di rumah daripada di apartemen. Toh aku juga sedang tidak terlalu banyak kerjaan.

Sorot lampu mercu suar bergerak. Ya, dari tempat kami, kami bisa mendapat pemandangan mercu suar di malam hari. Aku yakin suara angin laut menderu di luar sana, tapi dinding kaca kami cukup tebal sehingga itu megisolasi kami dari suara-suara luar yang tidak selalu ternikmati saat malam hari. Dia, istriku, rupanya juga menyadari pergerakan lampu di kejauhan dan seperti biasanya, dia menatap geraknya selama beberapa saat sebelum mulai menunduk lagi mengamati pekerjaannya.

Istriku. Beberapa lama menjadi suaminya belum membuatku bosan bersama dengannya. Masih banyak hal-hal baru yang bisa kuperoleh darinya setiap hari. Tapi setiap hari itu hampir jadi kemewahan bagi kami. Aku bekerja di kota, dia bekerja di laut. Kalaupun ke kota, dia akan terbenam di laboratoriumnya, sementara aku tak bisa lepas dari stasiun televisi satu ke stasiun televisi lainnya. Biasanya kami hanya bertemu malam hari di kamar, dengan masing-masing dari kami sudah terlalu lelah untuk menyapa lebih dari kecupan singkat sebelum tidur.

Karena begitu, waktu sarapan menjadi ajang kami berbagi. Kami membagi apa saja. Gosip-gosip rekan selebritiku, perkembangan ilmunya, atau rencana-rencana pekerjaan yang mengharuskan kami membagi tanggung jawab pekerjaan rumah. Dia sering pergi melaut. Paling lama tiga hari, tapi itu membutuhkan pengaturan yang seksama; kalau tidak kami bisa tidak bertemu sampai seminggu dan aku jelas keberatan dengan itu.

Itu dulu. Sekarang, dia membatasi aktivitasnya, dengan syarat aku mau tinggal di rumah dan mengurangi intensitasku pergi ke kota untuk bekerja. Enam bulan lalu akhirnya kami menemukan pengaturan yang sesuai. Dia mengambil pekerjaan sebagai penulis artikel ilmiah di jurnal kelautan, sementara aku lebih berkonsentrasi sebagai perancang acara dan hanya memandu dua acara di akhir pekan di dua stasiun televisi berbeda di kota. Dengan begitu, kami bisa bekerja dari rumah. Kecuali harus rekaman, aku mengatur perencanaan acara dari rumah; aku mencari ide-ide lewat internet. Sementara itu dia selalu ada di rumah, berkutat dengan tulisannya yang kemudian akan dikirimkannya lewat e-mail. Mudah dan nyaman.

Untuk inilah aku bekerja keras, kini aku menyadarinya.

Terkadang teman-teman yang sudah seperti adik-adikku sendiri datang mengunjungi kami dan dia masih suka tersipu berinteraksi dengan mereka. Dia agak kaku dengan Siwon, tapi cukup santai saat bersama Donghae dan Sungmin. Tapi paling cemburu kalau dia sudah bersama Heechul. Ada sesuatu di antara mereka yang tidak aku mengerti. Sepertinya Heechul sangat mengerti istriku dan aku paling terganggu ketika mereka mulai berbisik-bisik mencurigakan. Di antara semua temanku, Heechul-lah yang paling sering dihubunginya. Pada satu titik, itu mengesalkan.

Aku tidak mengerti mengapa begitu. Sebab dulu Heechul adalah yang paling alergi terhadap istriku. Ketidaksukaannya ditunjukkan dengan jelas, meski istriku—dulu masih pacarku—sepertinya tidak menyadari hal itu. Rasanya tidak adil kalau sekarang mereka justru bersahabat. Tidak adil bagiku.

Pikiranku berhenti kala dia menoleh. Dia mengedip sekali dan tanpa dia bertanya pun aku tahu dia menanyakan kondisiku. Aku mengangguk kecil. Semuanya terkendali, jawabku tanpa suara.

Dia mengerutkan kening dan menelengkan kepala. “Apa?” tanyanya.

Aku menatapnya dulu sebelum menjawab, “Apa apa?”

Dia menyipitkan mata. Kursinya yang bisa berputar membuat tubuhnya kini miring menghadapku. Aku bilang, “Aku hanya sedang berpikir.”

Alisnya terangkat. “Tentang kita?”

Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darinya. “Tentang kamu.”

Dia tertawa kecil. “Memang aku kenapa?”

Aku melepaskan headset. “Kamu kelelahan.”

Dia menggeleng. “Tidak juga.”

Aku mencibir. “Bahumu kaku.”

Bibirnya terbuka untuk gumaman, “Aaah.” Lalu, “Yep.”

Aku diam sejenak, lalu memutuskan pekerjaan bisa menunggu. Bangun dari kursiku, aku menghampirinya. Kuraih bahunya dan perlahan kupijat dengan jemariku. Dia mendesah nikmat. “Kau luar biasa,” pujinya berterima kasih.

Aku mengecup puncak kepalanya. “Itu sih aku sudah tahu.”

Dia terkekeh.

Tanganku merayap turun di tulang punggungnya. Dia menggeliat. Dulu, dia pernah mengalami kecelakaan di laut. Punggungnya cedera dan hingga kini, seperti duri ikan di tenggorokan, terkadang nyerinya yang samar masih mengganggunya. “Punggungmu sakit?” tanyaku di telinganya.

Dia menggeleng. Aku bisa melihat matanya terpejam.

Kucium pipinya keras-keras, membuatnya terkejut dan membuka mata. “Bangun, pemalas! Masih sore, jangan tidur,” ucapku menggodanya.

Dia mengeluh. “Mumpung bisa,” erangnya memprotes.

Aku tidak menyalahkannya. Kami jarang bisa tidur nyenyak. “Kalau begitu, mumpung bisa, bagaimana kalau kita…” aku sengaja menggantung kalimatku, membiarkan tanganku menjelaskan maksudku dengan merangkum dadanya dan memijatnya perlahan.

Dia mendesah sambil mendongakkan kepala. Kini, dadanya lebih penuh daripada sebelumnya. Dan aku tidak pernah bertemu wanita seseksi dia. Rasanya memang tidak pernah lagi sejak dia memasuki hidupku. Aku terobsesi padanya.

“Jungsoo…” bisiknya.

Aku mencium lehernya dengan sensual, memainkan lekukan dadanya yang sempurna, yang kini tidak cukup lagi kurangkum di telapak tangan.

Dia beringsut, memberikan keluasaan bagiku menjelajahi tulang selangkanya. Entah dari mana datangnya, mendadak aku ingat bahwa ini hari Selasa. Ingatan tidak penting dan tidak berpengaruh apapun pada kami.

Tangannya terangkat ke belakang, menarik belakang kepalaku, menahanku wajahku di kulitnya. Namaku terdengar lagi keluar dari mulutnya.

Tanganku menyusup ke balik kaosnya. Tidak seperti dulu, kini dia rajin pakai penyangga dada. Kain lembap terasa di tanganku dan rasanya menggairahkan mencari dimana pengaitnya agar aku bebas bertemu kulitnya. Kukulum daun telinganya setelah membisikkan namanya, “Yeppo…”

“Mmm…” hanya itu jawabnya.

Aku menemukan pengaitnya. Ada di depan, di atas gundukannya. Kutarik dan kubuka. Dia mendesah. Dari luar kaos, tangannya menumpang di atas tanganku, membimbingnya menjelajah. Dari posisiku aku bisa melihat ujung dadanya yang mengeras dari balik kaos. Untuk saat-saat seperti ini, celanaku terasa terlalu ketat.

Aku menggumamkan sesuatu di telinganya. Sesuatu tentang membuang kaosnya jauh-jauh agar aku bisa bebas menikmati kulitnya yang keemasan. Dia membalas dengan erangan tidak senonoh. Aku memutar kursinya dan akhirnya…

Akhirnya bibir kami bertemu.

Aku menikmatinya seperti biasanya. Aku mencintainya dan aku pastikan dia mengerti itu lewat ciumanku. Aku memuaskan diriku sendiri dengan menikmati mulutnya. Dia menyambutku, menerimaku.

Kami terhanyut dalam sensasi pertemuan itu dan dunia semakin hening di sekitar kami. Hanya desir gairah dan suara gesekan pakaian yang menimbulkan keributan di ruangan luas a la studio ini. Hanya aku dan dia. Hanya rasanya untukku di sini.

Sampai mendadak kami dikagetkan oleh lengkingan mengerikan itu.

Aku dan dia sama-sama terlonjak dan langsung menjauhi satu sama lain. Aku mendesah kecewa sementara dia perlahan mulai tertawa. Lengkingan itu semakin menuntut, dan Yeppo hanya tertawa. Kutarik kepalanya dan kucium singkat, lalu kutempelkan dahiku ke dahinya, berusaha menenangkan debar jantung yang terlalu berdentum akibat kaget.

“Aku harus pergi,” katanya pelan tapi tidak melakukan apapun untuk beranjak.

“Mmmh,” ujarku tanpa minat.

Dia tertawa. Dia menciumku sekali lalu menegakkan tubuh. Kutarik dia lagi mendekat ke tubuhku. Aku masih tidak rela.

“Jungsoo-ya, aku harus pergi.”

“Sebentar lagi,” kataku berusaha mengingkari tuntutan berisik yang mewarnai udara.

Dia menoleh dan bibir kami bertemu dalam ciuman yang hangat dan penuh ingin. Dia melepaskannya tak lama kemudian, sambil berkata menyesal, “Anakmu kelaparan, jangan kejam.”

Aku mendesah kalah. Baiklah. “Aku tahu. Aku harus mengajarinya disiplin. Ada waktu-waktu tertentu untuk makan, dia harus tahu itu.”

Dia terkikik. “Dia baru lima bulan, Sayang… Bukankah agak terlalu dini mengajarinya disiplin?”

Aku menatapnya penuh horor. “Di militer tidak ada istilah terlalu dini untuk apapun,” aku berkeras.

Dia bangun dan mengacak rambutku. Kini tangis anakku yang terdengar dari alarm bayi di meja kerjanya sudah terdengar mengibakan. Mungkin anak itu benar-benar lapar. Yeppo tertawa sebelum beranjak, “Dia perempuan, Jungsoo, masa kau lupa? Aku yang akan membunuhmu kalau kau paksa dia masuk militer.”

Kupandangi kepergiannya dan goyangan pinggulnya membuatku benar-benar merana. Aku berseru padanya, “Aku sudah mati sekarang, kau tahu? Anuku mau mati saja rasanya!”

.

.kkeut.

Iklan