Tag

, ,

503w. R. Bee-Yesung. Oneshot.

.

Ketika mencintai adalah kumpulan rasa ingin memberi, ingin mengasihi, ingin menyentuh, maka hidup menjadi lengkap dengan keberadaan seseorang di sisimu. Aku selalu berpikir akan sangat susah bagiku hidup berteman. Aku seorang yang lebih puas jika mengerjakan semuanya sendiri, and yet, perasaan lelah itu selalu membayang berlebihan, memanggil harap seandainya saja ada orang yang bisa memenuhi standar kepuasan di batinku sehingga aku tidak perlu sendirian lagi.

Mungkin saat itu adalah sekarang, ketika aku begitu ingin memberi tanpa terlalu memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan pemberianku. Atau ketika aku mengasihinya selembut yang kubisa, menerima keras dirinya sepasrah yang kumau. Pun saat aku menyentuhnya—hanya untuk disentuh kembali olehnya. Mungkin saat yang kunanti-nanti itu adalah sekarang, sebab aku merasakan perbedaan yang sangat dalam cara hatiku bereaksi.

Deg-deg, deg-deg, bahagia.

Senyumnya muncul dalam pandanganku. Begitu dekat. Mudah sekali diterima. Dan sejenak kemudian, senyum itu mendarat di pelipisku. Inderaku yang lain dipenuhi olehnya selama aku menikmati hembus napasnya di kulitku.

Sepasang tangan kami bersatu dalam jalinan. Tanganku yang lain tidak memasangkan diri padanya. Tapi itu karena aku ingin merasakannya di tempat lain. Di ramping pinggangnya, di hangat kulitnya, di liat punggungnya. Di lekukan-lekukan yang membuatku menarik napas cepat karena tercekat. Tangannya yang lain tidak berusaha mendekat padaku. Sebab dia sibuk membelai rambutku, merangkum wajahku, menyayangi dadaku.

Dua pasang bibir kami bertemu dalam kerinduan setelah dua detik berpisah. Itu terlalu lama. Dan pertemuan kembalinya membuat kami menari dalam suka. Lembutnya, hangatnya, inginnya, semua itu teranyam bersambung. Sampai panjang. Sampai panjaaang~

Setelah terputus, aku tersenyum padanya, dia tersenyum padaku.

Betapa gairahnya telah membangunkanku. Membuatku tak sanggup berpikir menyangkalnya lagi. Beban tubuhnya nyaman bagiku. Lengannya sudah seharusnya memelukku. Kulitnya memang sepantasnya menghangatkanku.

Memiringkan wajah, dia mendekati leherku. Kami terlihat saling menggeliat kalau ada yang melihat. Aku merasa menggeliat bersamanya. Meski kehilangan rasanya di bibirku, rasanya di leherku juga tidak ingin kuhentikan. Dia membauiku, merabaiku, merasaiku. Menyatakan cinta padaku tanpa bicara.

Udara sepi. Ramainya adalah napas kami. Dan kami tidak sempat memikirkan itu sama sekali. Tepatnya kala merangkulnya terasa sangat tepat sekaligus sangat kurang.

Kujauhkan wajahku darinya dan melihat binar di matanya. Menurutku, binar itu artinya dia mencintaiku. Bagiku, binar itu kilasan kesenangannya bersamaku. Mungkinkah… pada akhirnya aku menyerah padanya?

Sepertinya hari ini tepat.

Sepertinya aku tak akan sanggup lagi lebih lama menyangkalnya. Ketika kulit kami bertemu, suara yang menjerit-jerit dalam dadaku mengatakan bahwa kami memang ditakdirkan bersama. Penerimaan itu, kenyamanan itu, rasa puas itu, pasti ada yang salah kalau tidak diartikan sebagai kecocokan.

Mungkin aku memang harus menyerah padanya, pikirku saat dia menumpukan semua kekuatannya untuk bangun membebaskan tubuhku dari tekanan.

Berlutut di atasku, dia menunduk, memberi bibirku kecupan ringan yang manis. Sesudahnya, senyumnya terbentuk sambil menempel di bibirku. Mata kami saling terpejam sesaat.

“Bahaya,” bisiknya.

Aku mengejar bibirnya yang menjauh.

“Kita harus berhenti. Jangan sampai tidak bisa lagi.” Matanya membuka, hanya sesaat setelah mataku terbuka terkejut mendengar kata-katanya. Ciuman kami berhenti.

Dia tersenyum. Pasti karena melihat ekspresiku yang padahal-aku-sudah-siap.

Digelengkannya kepala. “Jangan,” katanya.

Aku tiba-tiba merasa kesepian.

Suaranya hangat menyapaku lagi, “Karena aku mencintaimu.”

Oh.

Oh, Jongwoon-a…

.

.kkeut.

Iklan