Tag

, , ,

3,891w. Fluffy-domestic. Oneshot.

.

Jadi, Jihye hamil. Dia dapat pacar orang Seoul dan setahun kemudian lelaki itu meninggalkannya demi Amerika setelah tes kehamilan Jihye positif hasilnya. Yah, jadi begitulah, adik tercinta dari seorang Jung Yunho luar biasa hamil dan ketakutan dan sedih dan marah dan terhina dan pokoknya terpuruk dalam kenegatifan.

Yang tentu saja membuat Yunho sama negatifnya. Dia tidak marah, dia murka. Dia sudah hampir membunuh lelaki itu kalau saja lelaki itu masih di Seoul. Sejak Jihye mengakui kehamilannya, dia mengutuk sepanjang waktu terhadap apapun. Dia terus mengutuk setelah ayahnya tahu mengenai kehamilan Jihye dan mengutukinya, menyalahkannya karena tidak menjaga adiknya baik-baik selama di Seoul. Yunho tahu ketika menelepon, ayahnya sedang memegang pedang warisan keluarga erat-erat sambil menyemprot penuh kemarahan dan berteriak padanya, jadi dia tidak repot-repot menjelaskan bahwa: satu, Jihye bukan lagi tujuh belas tahun untuk diawasi sepanjang waktu, tapi sudah dua puluh lima; dan dua, Jihye itu lebih keras kepala daripada kekeraskepalaannya dan kekeraskepalaan ayahnya digabung jadi satu, jadi apapun yang dikatakan Yunho mengenai lelaki manapun yang mengencani Jihye, akan diabaikan seperti butiran debu di jalanan oleh adiknya itu.

Tentu saja semuanya adalah salah Jihye sendiri. Yunho sudah cukup sibuk mempertahankan statusnya sebagai seorang ‘idola’, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa ketika Jihye selalu merasa tersinggung setiap kali Yunho menyuruhnya kembali saja ke Gwangju.

Lucunya adalah, meski begitu, Yunho tidak bisa menghapus rasa bersalah dari dalam dadanya setiap kali dia teringat lagi bahwa adiknya, adik satu-satunya, hamil di luar nikah.

Langkah selanjutnya, sehubungan dengan keawasan netizen yang luar biasa, adalah menyembunyikan Jihye dari sorotan publik. Jihye tinggal di sebuah rumah di luar kota, di daerah yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, di sebuah rumah milik ‘orang’. Secara teknis, rumah itu sebenarnya milik Yunho. Dengan cepat dia membeli rumah itu begitu ide itu muncul di kepalanya, dan membuat Jihye menempatinya. Namun rumah itu belum atas namanya, sebab dia tidak mau orang-orang menemukan bahwa dia membeli sebuah rumah di luar kota dan menemukan kehamilan adiknya. Rumah itu akan berubah nama menjadi miliknya setelah Jihye melahirkan, begitulah perjanjiannya.

Rumah itu kebetulan terletak tepat di sebelah sebuah panti asuhan dimana Yunho bertindak sebagai ‘Tuan Donatur Yang Baik Hati Tapi Tanpa Nama’. Hanya sebuah kebetulan Yunho menemukannya setelah tahu Jihye hamil. Kebetulan itu selaras dengan sesuatu bernama ide-saat-kepepet. Proses mendapatkan rumah itu sangat cepat, jauh lebih cepat dari proses apapun yang pernah dilakukan Yunho; dan Yunho lega orang tuanya tidak mengatakan apapun tentang hal ini. Yunho berhasil membujuk Jihye untuk tinggal di sana dengan seorang ‘teman’ (wanita, tentu saja) baru yang punya pekerjaan mengurus semua keperluan Jihye selama kehamilan, dari menyediakan diet yang tepat hingga beres-beres rumah. Dia dan Jihye punya kesepakatan bahwa Jihye tidak boleh dijenguk—oleh siapapun termasuk Yunho dan orang tua mereka—lebih sering dari tiga bulan sekali. Ini untuk membuat semua perhatian padanya terabaikan.

Selama masa awal kehamilannya, Jihye terus murung dan sedih, tapi dia tidak lagi punya pilihan. Sekarang, setelah mendadak harus jadi dewasa, dia menyadari bahwa dia sudah menyebabkan sebuah kehidupan baru memiliki nasib masa depan yang tidak jelas. Yunho sudah mengajaknya bicara; dia mengajaknya bicara dengan sikap tubuh yang lelah sehingga Jihye tidak mampu merasa apapun kecuali merasa lebih menyesal setiap kali melihat Yunho karena diingatkan tentang apa yang sudah dia lakukan terhadap kakak yang sangat menyayanginya itu. Oleh karena itu, Jihye menelan pendapatnya sendiri dan selalu menuruti apapun kata Yunho.

Di sisi lain, Jihye jadi menyadari bahwa Yunho memang benar-benar cerdas. Setelah melahirkan, dia diharapkan untuk menyerahkan bayinya ke panti asuhan, semabri dijanjikan tidak akan dijauhkan dari anak itu. Bukannya hendak membuang anak Jihye, tapi Yunho berpikir bahwa Jihye harus bersabar sampai bisa dipanggil “Ibu” oleh anaknya. Dia bisa mengadopsi anak itu beberapa bulan setelah kelahirannya sehingga publik akan mengira bahwa Jihye mengadopsi anak orang lain dan bukannya hamil sendiri tanpa suami. Hasil akhirnya, Jihye akan bersatu kembali dengan anaknya, sementara publik tidak akan menekannya karena menjadi single mother.

Jihye mau melakukan itu karena entah bagaimana dia merasakan ikatan yang kuat dengan anaknya. Aborsi bukanlah pilihan. Bukannya dia cinta sekali pada mantan pacarnya yang sok ‘orang Amerika’ itu—sebenarnya kalau dipikir lagi Jihye mungkin hanya sekedar menyukainya sedikit lebih—tapi lebih pada rasa di dadanya yang sangat istimewa saat memikirkan janinnya. Sebelum akhirnya mengakui kehamilannya pada Yunho, Jihye telah menyembunyikan fakta itu selama tiga bulan, dan rupanya itu waktu yang cukup untuk membuatnya menyadari keistimewaan seorang anak pada perasaannya.

Ketika dia akhirnya tidak tahan lagi menyembunyikan semuanya seorang diri dan mengaku pada Yunho, dia merasakan kelegaan luar biasa karena dukungan Yunho padanya tidak pernah putus. Meskipun kemarahannya memang luar biasa.

Keputusan yang diambil Yunho untuk Jihye, dirasa merupakan keputusan yang terbaik. Yunho sudah menunjukkan bahwa dia akan selalu mencintai Jihye dan tidak akan pernah meninggalkannya. Orang tuanya tentu juga begitu, hanya saja, dia merasa lebih dekat pada Yunho daripada mereka. Karena itulah, dia menurut saja apa kata Yunho.

Setelah tiga bulan, kehamilannya tidak lagi menyulitkannya. Dalam lingkungan yang tenang, perlahan Jihye kembali ceria. Emosinya memang naik-turun akibat hormon, tapi hal itu normal. Teman serumahnya sangat baik dan suportif, dan dia berterima kasih pada Yunho yang telah memilihkan wanita itu untuk menemaninya.

Meski demikian, Yunho terlalu peduli pada Jihye untuk memenuhi aturannya sendiri. Orang tuanya mungkin percaya padanya untuk tidak sering-sering mengunjungi Jihye agar tidak ada yang curiga, terlebih setelah Yunho meyakinkan mereka bahwa Jihye ditemani oleh orang yang tepat dan profesional; tapi Yunho sendiri tidak bisa mengabaikan Jihye. Secara lokasi, dia tinggal lebih dekat pada Jihye dibandingkan orang tuanya. Dan rasanya sangat menyiksa ketika dia ingat adiknya sedang hamil dan sendirian tanpa ditemani keluarga apalagi suami. Akhirnya, dia malah jadi yang paling sering mengunjungi Jihye. Untungnya, Yunho sudah sangat berpengelaman menjadi ninja di hadapan para penguntitnya, sehingga kapanpun memungkinkan, dia bisa tanpa terdeteksi menjenguk Jihye. Tenggang waktu berkunjungnya yang paling lama adalah dua bulan dan itu membuat Yunho tersiksa sendiri karena khawatir.

Yunho benar-benar mengurus Jihye dengan baik, Jihye sangat bahagia memiliki Yunho sebagai kakak.

Hari-hari berlalu dan Jihye tahu dua orang yang akan menjadi orang yang paling dicintainya di dunia adalah anaknya dan Yunho.

Begitulah yang dipikirkannya, sampai seminggu sebelum dia melahirkan.

Pada waktu itu dia terkejut mendapatkan seorang tamu yang tidak pernah disangkanya akan datang. Begitu melihat tamunya, wajahnya langsung merah padam saking malunya. Bagaimana tidak, dia hamil dan tidak pernah ada pesta pernikahan mengawali kehamilannya. Tamunya menjadi ikut malu dan sama merahnya, tapi tidak bisa pergi kemana-mana. Dia tidak bisa, tidak ada kesempatan untuk itu sekarang setelah mereka berhadapan.

Mereka berdiri saling menatap dengan canggung selama apa yang seperti berjam-jam. Akhirnya si tamu menyarankan mereka untuk berjalan-jalan mengelilingi daerah tempat tinggal Jihye, memilih tidak masuk rumah karena khawatir akan membuat suasana lebih canggung. Jihye menurut saja.

Mereka berinteraksi dengan sangat canggung dan penuh basa-basi. Hal itu terus berlangsung sampai akhirnya rumah Jihye kembali terlihat dan mereka hampir selesai satu putaran mengelilingi daerah tersebut. Akhirnya Jihye memaksa tamunya untuk bicara maksud yang sebenarnya dari kunjungan yang dia lakukan ini.

Selama beberapa saat, tamunya tampak terbengong dan menerawang. Bahunya yang tegang menandakan bahwa dia tidak sedang melamun, tapi mungkin lebih sedang memikirkan apa yang ingin dikatakannya. Mata tamunya berkeliaran memandangi apa saja yang bukan Jihye. Jihye menanyakan kembali pertanyaannya, tapi tamunya tidak juga menjawab. Sampai ulangan ketiga, baru tamunya tampak membulatkan tekad untuk bicara, meski suaranya terdengar tidak pasti, “Maukah… kau memberikan anakmu untuk diadopsi oleh Yunho?”

Jihye terpaku mendengar itu. Dia benar-benar terkejut, pertanyaan itu sangat tidak disangka-sangkanya. Ketika akhirnya dia bisa menguasai diri dan bermaksud menjawab, tamunya bicara lagi, “Itu… Itu sebuah permintaan.” Tamunya berkedip dan saat itu sebuah sinar pengharapan terlihat dari matanya yang lebar. “Maukah kau memikirkannya? Yunho akan jadi ayah yang sangat hebat. Aku tahu kau pasti juga tahu itu. Dan aku pikir ini akan menjadi solusi yang sangat bagus untuk kalian semua. Untukmu, untuk orang tua kalian, untuk bayimu, dan tentu saja… untuk Yunho. Dia… Dia sangat… sangat menyukai anak-anak dan… Dengar, bayimu akan selalu menjadi milikmu, dan jika anakmu diadopsi oleh Yunho, maka anakmu tidak akan pergi kemanapun. Dia akan kembali ke dalam lingkaran keluarga. Aku yakin dia akan merawat anakmu layaknya anaknya sendiri karena—karena… mereka punya hubungan darah, benar kan?”

Jihye berkedip saat kebingungan, persetujuan dan pemahaman menyerbu kepalanya dalam sekejap. Tentu saja hal itu akan menjadi sempurna. Sebagai wanita, dia akan lebih sulit berargumentasi jika memiliki anak meskipun itu anak adopsi. Untuk Yunho, hal itu berbeda. Karena bagaimanapun Yunho adalah seorang selebriti yang pasti kesulitan untuk berumah tangga di usia muda. Semua orang sudah tahu betapa sukanya Yunho pada anak-anak, dan tidaklah aneh kalau dia kemudian mengadopsi seorang anak. Tentu saja hal itu sangat memungkinkan. Baik, malah. Kalau saja Yunho tidak sesibuk itu dan/atau seorang bujangan. Seorang bujangan yang berantakan dan ceroboh.

“Aku bersumpah, Yunho tidak memintaku untuk mengatakan hal ini padamu. Hanya saja aku melihat betapa sulit baginya membagi waktu untuk pergi ke sini dari Seoul tiap kali. Dia sangat mencintaimu dan dia sudah jatuh cinta pada bayimu juga—“

Seperti Jihye buta saja tidak menyadari hal itu.

“—Ini ideku sendiri karena aku pikir dia akan lebih tenang dan bahagia. Aku hanya—“ tamunya melanjutkan sambil tergagap.

Dan tentu saja Jihye sama sekali tidak buta akan kepedulian yang demikian besar terpancar dari mata tamunya. Sebuah kepedulian yang lahir dari cinta yang besar terhadap Yunho.

“Aku tahu, kau peduli, iya kan?” akhirnya dia bersuara.

Tamunya langsung mengangguk.

Jihye tersenyum penuh sayang. Yunho sudah memberi semua untuknya, jadi dia akan mendukung kakaknya itu apapun pilihannya untuk hidupnya. “Aku tidak tahu. Pasti akan sangat berat baginya merawat bayiku sendirian..”

“Dia tidak sendirian!” tamu Jihye berseru dan mukanya langsung memerah begitu sadar dia sudah menaikkan nada bicaranya. Jihye hampir tersenyum mengenali kegugupannya, tamunya sendiri sibuk menggelengkan kepalanya. “Aku berjanji, dia tidak akan sendirian. Aku—maksudku.. Aku akan membantunya. Aku—“

Jihye gagal lagi dalam hidupnya. Kali ini, dia gagal menahan senyumnya atas sesuatu yang sangat lembut yang terpancar dari cara tamunya memikirkan Yunho.

“Aku percaya padamu, Changmin ssi,” ujarnya. “Aku percaya kau akan menjaga baik-baik Yunho Oppa dan anakku.”

Dan Changmin, tampak sangat terkejut dengan kata-kata Jihye. Saat dia melihat Jihye menganggukkan persetujuannya, Changmin berseru kegirangan dan memeluk Jihye sangat erat, tidak bisa menahan dirinya sendiri.

Hari itu, Jihye memutuskan akan paling mencintai tiga orang dalam hidupnya, anaknya, Yunho, dan Changmin.

.

Keputusan itu berlaku delapan tahun yang lalu.

Saat ini, Minho—Jihye memaksa untuk menamai anaknya dengan nama itu—telah tumbuh sebagai anak yang tinggi, ribut, dan kelewat percaya diri, bahkan cenderung sok. Meskipun sifat-sifat itu bisa jadi datang dari gen yang dimilikinya, Changmin curiga sifat Minho menjadi demikian karena dia telah dibesarkan oleh dirinya yang sedikit sombong dan Yunho yang terlalu percaya diri. Dan mungkin juga karena anak itu telah dibesarkan sebagai seorang bintang sejak bayi. Bagaimanapun, ketika seorang bintang seperti Yunho, yang belum menikah, memutuskan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan, hal itu akan menjadi pusat perhatian. Minho disebut-sebut sebagai Pangeran dan karena anak itulah Yunho gagal melepaskan niatnya mundur dari dunia hiburan. Ada situs internet tersendiri yang ditujukan untuk mendukung keberadaan Minho yang diikuti oleh ribuan netizen, dan Changmin dan Yunho telah berusaha sangat keras untuk membesarkan Minho agar kebal terhadap para anti.

Menjalani hidup yang demikian tidaklah mudah. Tentu saja tidak. Dia harus bangun tengah malam karena menurut bayi Minho, tengah malam adalah waktunya bermain, dia harus tetap tenang saat Minho mengalami fase sakit pertamanya, dia belajar kerepotan memandikan, menyuapi, mengontrol amarahnya karena Yunho dan Minho membuat rumah sangat berantakan seperti kapal pecah; hidup Changmin benar-benar berat setelah kehadiran Minho.

Dia juga masih harus berwajah santai dan tenang ketika masyarakat menghujaninya dengan pertanyaan tentang keputusannya kembali tinggal serumah dengan Yunho. Dia menulikan telinganya terhadap spekulasi-spekulasi yang bisa jadi benar terhadap preferensi seksualnya karena lebih memilih Yunho dan Minho dibandingkan menikah dan memiliki anak sendiri. Sudah lama dia dan Yunho memutuskan bahwa strategi terbaik lolos dari keterpojokan akibat keingintahuan masyarakat adalah dengan mengabaikan mereka. Orang-orang boleh bertanya, tapi dia dan Yunho tetap melangkah maju.

Minho sendiri adalah anak yang cerdas. Yunho sangat bangga padanya. Di luaran, Yunho akan mengatakan pada semua orang bahwa Minho adalah kebanggaannya karena selalu yang paling pintar di sekolah. Di dalam rumah, Yunho akan memeluk Changmin dari belakang lalu menciumnya dengan sayang dan setelahnya berkata, “Terima kasih sudah membesarkan Minho bersamaku. Aku senang dia mewarisi kecerdasanmu.”

Hati Changmin selalu mengembang setiap kali Yunho mengatakan Minho mewarisi sesuatu darinya. Minho anaknya, meski dia tidak mungkin menjadi ibunya. Dia sudah membesarkan Minho sebaik yang dia bisa dan anak itu adalah bagian dari hidupnya sejak pertama dia memasuki rumah mereka. Tapi tentu saja Changmin adalah Changmin. Kadang sekali dia akan menunjukkan kegembiraannya dengan balas mencium Yunho. Lebih sering dia memukul kepala Yunho sambil main-main. Dan lebih sering lagi, dia bisa merasakan kehadiran Yunho sebelum lelaki itu memeluknya dan dia akan mengusirnya pergi karena Yunho pasti menyelinap saat dia sedang mencuci piring—Changmin benci tempat cuci piring yang basah kemana-mana!

Momen-momen yang terkadang itu, yang jelas, bukanlah saat ini.

Saat ini Minho sedang dengan tenang menikmati sarapannya, telur dadar dan nasi dengan kecap manis, tidak terganggu oleh perdebatan antara Yunho dan Changmin di hadapannya. Sudah biasa.

“Karena kau dia jadi tidak menyikat giginya dengan benar!” Changmin menyerang Yunho.

Yunho berubah kaku. “Apa maksudmu bilang itu karena aku? Dia sudah delapan tahun, Changmin. Dia sudah pandai menyikat giginya dengan sempurna!”

“Kalau begitu katakan kenapa gurunya meneleponku dan bilang bahwa tiga giginya bolong dan membusuk? Kau harusnya mengawasinya untuk menggosok gigi setiap kali dia selesai makan.”

“Bagaimana bisa aku melakukan itu?!” Yunho meninggikan suaranya, menatap Changmin tidak percaya. “Aku harus bekerja! Aku bekerja untuk kita—“

“Hei! Aku juga bekerja!” Changmin memotongnya dengan kesal.

Yunho tidak mau menyerah. “Lalu? Aku bekerja lebih karena kau memutuskan tidak mau menerima pekerjaan lebih dari tiga supaya bisa merawat Minho!  Ada kebutuhan yang harus dipenuhi, Changmin. Dan aku harus bekerja dua kali lipat untuk memenuhi itu! Sekarang coba katakan bagaimana aku bisa mengawasinya untuk gosok gigi setiap kali dia selesai makan?!”

Changmin menghela napas dengan kesal. “Aku mungkin tidak bekerja di luar tapi aku sudah bekerja keras menjaga agar dia tumbuh dengan baik dan menjaga agar rumah ini tidak jadi kapal karam! Aku hanya meminta bantuanmu tentang mengawasinya menyikat gigi, masa itu saja kau tidak bisa melakukannya? Minho! Paprikanya jangan disisihkan!”

Minho menatap menantang pada Changmin. Changmin balas menantangnya. Minho cemberut kalah, tapi menuruti perintah Changmin dan dengan ogah-ogahan mengambil potongan paprika yang tadi sudah berhasil disingkirkannya.

“Ini kan hanya masalah menyikat gigi, kenapa sih kau tidak bisa membicarakannya dengan tenang dan tanpa marah-marah?” Yunho mengeluh keras-keras.

Changmin mengulurkan tangan, membersihkan sudut mulut Minho yang belepotan kecap, kemudian menekan dagu anaknya hingga bibirnya membuka sedikit. Dia menekan sedikit lebih keras hingga Minho sadar bahwa Changmin ingin dia membuka mulutnya lebar-lebar. “Karena, Minho Appa, lihatlah giginya,” Changmin menunjukkan gigi Minho pada Yunho.

Yunho mengintip dalam mulut anakya dan mengerutkan hidung. “Ewwh, aku sedang sarapan!”

“Ck! Gigi anakmu, juga!” Changmin berdecak sebal melihat sikap Yunho yang menyebalkan.

“Baiklah! Baiklah! Aku sudah melihatnya. Tidak usah khawatir, sudah waktunya gigi susunya tanggal. Sebentar lagi—“

“Dia kesakitan waktu mengunyah tadi malam!”

Yunho berhenti makan kemudian menoleh pada Minho. Dia menyadari kebenaran perkataan Changmin. Dia ingat bagaimana Minho lama sekali menghabiskan makanannya tadi malam dan bagaimana wajahnya mengerut-ngerut menahan sakit. Dia menatap Minho dan anaknya itu balas menatap dengan sorot memohon.

“Baiklah, Nak. Kita ke dokter gigi nanti sore.”

“Appa!!! Kata Appa aku tidak harus ke dokter!” Minho berseru dengan marah. Setengah ketakutan membayangkan dokter gigi, setengah terluka karena sudah dikhianati perkataan ayahnya yang harusnya adalah pahlawannya dalam menentang changmin.

Di sisi lain meja, Changmin membuka mulut tidak percaya. “Bukannya membujuknya untuk pergi ke dokter kau malah— Yunho?”

Yunho mengangkat tangannya. “Aku tahu, aku tahu. Ini salahku. Kau tahu aku lemah terhadap bujukannya…” dia menoleh pada Minho yang sekali lagi menatapnya memelas, mata terbuka saaangat lebar. “Maaf Nak, kali ini kau harus ke dokter. Appa tidak suka melihatmu kesakitan saat makan. Gigimu harus dicabut.”

Minho mengerang keras, jelas-jelas kesal sekali.

Changmin merasa puas. Dia menegakkan duduknya kembali, mengabaikan tatapan memohon Minho. Dia malah mengajak bicara Yunho tentang kondisi rumah mereka di luar kota. “Apa kau sudah melihat gambar yang dikirimkan Kim ssi?”

Yunho hanya berkedip, agak bingung dengan pergantian topik yang sangat mendadak.

Dia ingin tahu pendapat kita tentang tembok pagar rumah pantai kita. Pagarnya miring.”

Yunho tampak berpikir. Keras. “Pagar? Pagar apa ya?” dia bertanya.

“Pagar yang mengelilingi rumah pantai kita. Pagar itu miring gara-gara angin keras beberapa waktu yang lalu. Sebentar lagi kan liburan, kita akan ke sana kan? Aku tidak suka membayangkan kita sedang di dalam rumah dengan tembok pagar yang miring.”

Yunho membuka mulutnya tanda mengerti, lalu dia melanjutkan sarapannya. “Yeah. Kalau begitu lakukan saja sesukamu.”

Changmin berkedip. “Apa?”

“Aku bilang, lakukan saja sesukamu. Kalau kau mau ganti pagar ya lakukan saja.”

“Yunho, apa kau mendengarku? Pagarnya miring. Pagar itu berbahaya.”

Yunho terlihat bingung. “Ya, aku dengar yang kau bilang.”

“Aku bukannya lagi ingin pagar baru.”

Yunho mengedip sekali, tapi tetap sambil makan. Tetap tidak mengerti. “Lalu kau mau apa?”

Changmin menganga. “Kita harus membetulkan itu, Yunho,” suaranya kaku sekarang.

Minho menghela napas pelan, menungu pertengkaran selanjutnya dimulai.

“Ya sudah kan, makanya kubilang, lakukan terserah kau saja.”

“Kenapa semuanya jadi terserah aku? Rumah itu rumah kita. Kita membelinya bersama.”

Sekarang Yunho bisa merasakan ketidaksabaran Changmin yang tertuju padanya. “Lalu sebenarnya apa yang kau ingin aku lakukan?”

Changmin memutar matanya. “Kau lihat dulu gambar yang dikirimkan Kim ssi! Setelah itu kau beri tahu kami pendapatmu!”

Sekarang Yunho setengah bingung, “Lalu mana gambarnya?”

Bibir Changmin menipis, setipis kesabarannya. Dengan tangannya dia menunjuk telepon Yunho di atas meja. “Coba cek e-mailmu. Dia mengirimi kita gambar-gambar tentang pagar itu dua hari yang lalu. Dia sudah sangat baik mau menjaga rumah itu untuk kita, kau harusnya lebih perhatian.”

Sekarang giliran Yunho yang memutar mata. Dia menelan keinginannya untuk meng’oke’kan Changmin dengan sikap mengejek dan alih-alih menuruti apa yang dikatakan Changmin. Beberapa menit kemudian, setelah berjuang dengan tangan berminyak untuk membuka e-mailnya, dia berhasil menatap foto-foto yang dikirimkan Kim ssi. Dia sedang mengamati foto-foto itu sambil hendak menyuap sarapannya lagi ketika sebuah tangan menghentikannya.

“Ck, hati-hati. Kecapnya bisa menempel di bajumu,” Changmin menggumam pelan. Entah bagaimana dia sekarang sudah ada di samping Yunho sambil memegang sebuah tisu makan untuk mengelap lelehan kecap di tangan Yunho yang hampir mengenai lengan bajunya. Dengan keakuratan seseorang yang sudah melakukan hal itu beribu-ribu kali, Changmin menjaga agar Yunho tetap bersih dan bebas dari noda.

Mata mereka bertemu dan sebuah kedipan mengingatkan Yunho tentang bagaimana Changmin mengamatinya ketika semalam dia keluar di atas lelaki itu.

“Tolong jangan ciuman di meja makan,” Minho memprotes dengan nada suara yang bosan tapi cukup keras untuk mengeluarkan Yunho dan Changmin dari dunia mereka sendiri.

Yunho tersenyum sementara Changmin mengerang sebal dan meraih Minho. “Ke sini, anak naka.!” Dia mengangkat Minho dari kursinya lalu menyerangnya dengan ciuman basah di pipi anak itu. Minho menjeritkan “EEEEEWWWW”nya keras-keras.

Sementara mereka berdua bergumul, Yunho bangkit dari duduknya dan menghabiskan gigitan terakhir sarapannya. Dia lalu melangkah mendekati pergumulan dua laki-laki favoritnya. Lengannya yang panjang diayunkan melingkari keduanya dan membawa mereka dalam pelukannya yang erat, tidak ada yang mampu bergerak saat dia melakukannya. Pertama dia mengecup kening Minho dengan suara keras, memancing ‘eww’ yang sama kerasnya seperti ketika Changmin melakukannya, dan kemudian dia mencium Changmin keras dan tepat di bibir, meski hitungannya terlalu singkat untuk Changmin bisa menikmatinya. “Aku mencintai kalian berdua. Dan Changmin, kuserahkan semuanya padamu. Termasuk urusan rumah itu.” Dengan itu, Yunho mengecupnya sekali lagi, lebih lembut kali ini, kemudian melepaskan mereka berdua.

Dia keluar dari ruang makan dan berkata keras, “Minho, ayo. Kita tidak mau kau terlambat dan aku harus ada di studio pagi-pagi juga.”

Changmin ditinggalkan sendirian di tengan ruangan setelah Minho akhirnya berhasil melepaskan diri darinya. Ketika dia mendengar keceriwisan Minho tentang sepatu yang hendak dipakainya hari ini, Changmin tersadar dari keterpakuannya. “Yunho!” serunya. Tapi Yunho tidak menjawab.

“Yunho!” dia mengulang, pada saat yang sama dia berlari mengejar Yunho ke pintu depan. “Yunho, aku juga ada rekaman hari ini. Aku tidak bisa menghubungi Kim ssi! Dan kau tidak bisa membiarkan aku memikirkannya sendiri. Kita harus berbagi—“

Changmin terhenti. Di hadapannya, di pintu, Yunho dan Minho sedang bergandengan tangan menghadap ke arahnya dengan pose yang berlawanan. Masing-masing tangan mereka terangkat membentuk “V” miring di ujung mata terluar mereka dan keduanya nyengir lebar ke arah Changmin. Kaki mereka tertekuk seperti gaya cewek SMA.

“Kami berangkat dulu, Min Appa,” ujar keduanya berbarengan. “Sampai jumpa nanti malam…”

Dan Changmin menemukan dirinya menahan senyum bahagia yang hendak keluar, karena Changmin tidak tersenyum bahagia seperti orang bodoh.  Dia langsung lupa apa yang hendak dikatakannya pada Yunho. Yunhonya yang konyol, berantakan, tampan; Yunho kekasih, ayah dari anak mereka satu-satunya yang luar biasa.

Dia baru benar-benar tersenyum ketika akhirnya pintu tersebut menutup dengan suara ‘klik’ di belakang punggung Yunho. Dia pikir dia pasti sudah gila selama bertahun-tahun karena mencintai Yunho sampai seperti ini.

.

.

.

PS:

Pintu depan membuka tepat ketika Changmin berbalik hendak kembali membereskan rumah. Yunho masuk lagi dan Changmin sama sekali tidak terkejut melihatnya. Yunho selalu melupakan sesuatu.

“Apa yang—“ kata-katanya terpotong.

Oleh ciuman Yunho.

Ciuman Yunho yang panas, basah, penuh lidah. Sebuah ciuman yang menjanjikan bahwa mereka akan kembali bertemu di akhir hari ini, untuk melakukan pekerjaan yang mereka berdua sama-sama senang melakukannya.

Saat bibir bawahnya dihisap penuh gairah oleh Yunho, Changmin merangkulkan kedua lengannya ke leher Yunho sementara mulutnya membalas ciuman Yunho sama bergairahnya. Changmin bisa measakan dua tangan menggerayangi bokongnya melalui kain jins belel yang dikenakannya. Dia mengerang senang dan menggesek-gesekkan pinggulnya pada pinggul Yunho.

Hari ini rambut Yunho ditata dengan agak berantakan, membuat Changmin senang karena dia tidak harus merasa bersalah sudah membuat rambut Yunho lebih berantakan. Sebentuk suara yang dalam keluar dari tenggorokannya ketika Yunho menekan tubuh mereka lebih dekat. Changmin bisa merasakan dirinya terangsang dan Yunho juga mulai bangun. Mencium Yunho terasa seperti sarapan mereka ditambah pasta gigi dan ditambah rasa yang hanya dipunyai pria itu. Changmin tenggelam dalam ciuman kekasihnya.

Itulah sebabnya mengapa dia memprotes serak ketika Yunho berhenti. Yunho mengecupnya dua kali dan pandangan Changmin mengabur karena gairah. “Changmin-a…” dia mendengar Yunho berbisik.

“Mmm?” Changmin bahkan tidak merasa perlu menatap mata Yunho saat menjawab. Dia terus menatap bibir Yunho, bibir yang basah dan sekarang berwarna pink. Dia bahkan menelusuri bibir itu dengan jarinya agar Yunho tahu bahwa dia masih membutuhkan ciumannya. Amat sangat.

“Changmin-a, aku mencintaimu.”

“Mmm…” adalah satu-satunya yang bisa Changmin berikan sebagai jawaban.

“Tapi aku tidak terlalu menyukai Kim ssi. Jadi akan kubiarkan kau yang berurusan dengannya. Oke?” Yunho mendesaknya dengan pertanyaan.

Sebuah kesadaran tipis mengambang dalam benak Changmin. “Ap—“

“Kumohon, Cintaku?” Yunho berbisik. Dan dia tidak berbisik di telinga, melainkan di satu titik tepat di bawah telinga. Di titik yang paling tepat yang membuat Changmin menjadi lupa diri apabila disentuh Yunho.

Changmin tidak bisa menjawab, hanya bisa mengerang keenakan.

Yunho tersenyum lebar. Dia lalu mengecup Changmin sekali lagi, cepat-cepat, sebelum melepaskan pelukannya. “Bagus. Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu. Sampai jumpa nanti malam.

Lalu Yunho pergi. Meninggalkan Changmin sendirian di lorong. Merinding dan menginginkan lebih dan—

“Sial. Ya! Jung Yunho!” dia berteriak saat akhirnya kesadarannya kembali. Dia mengejar lelaki itu ke pintu dan berhasil menangkapnya tepat sebelum dia berhasil menyelinap keluar sepenuhnya. Dia sudah hendak memarahi Yunho karena memanpulasinya seperti tadi, tapi dia melihat bayangan Minho di sudut matanya, maka dia alih-alih dia berbisik tegas di telinga Yunho. “Baiklah! Tapi malam ini, aku yang di atas, ingat itu!”

Dia melepaskan Yunho dan berkata ceria, “Jal ga, Minho-ya… Sampai nanti malam.”

Lalu dia menutup pintu dengan sebuah seringai kemenangan.

.

.kkeut.

Iklan