Tag

,

Cast: Bee
Reality : fiction = 100 : 0 (%)
Setting: Kiel, winter
Category: oriStory, oneshot
OST : Brown Eyes (DJ Okawari feat. Brittany Campbell)
PS: Sunyi itu nyata dan hidup. Maaf atas postingan yang galau.

~

Sunyi.

Tanpa suara, tanpa manusia, tanpa gonggongan anjing yang mengajak bermain. Pada dasarnya kota ini memang sunyi. Orang-orang terlalu senang berada di dalam rumah dan memilih berkumpul bersama yang lain dengan penghangat berdengung daripada berjalan di luar di tengah udara minus delapan belas.

Oh angin bernyanyi, burung bersenda gurau, di kejauhan terdengar bus menderum menelusuri jalanan kecil yang sunyi. Sejenak telingaku terpaku pada derumnya yang agak berat; ah, pikirku, pasti bus itu tertahan proyek galian yang tidak juga selesai di perempatan tak jauh dari sini. Lalu aku tersenyum.

Sepi sekali. Meski nanti malam kami akan berkumpul, melakukan makan malam terakhir, tapi aku tak bisa antusias menghadapi itu. Kalau bisa, aku mau di sini saja, membiarkan alam membuaiku, melupakan manusia. Menyaksikan matahari perlahan semakin merah lalu menjadi semakin redup, membawa kehangatannya total. Paling tidak dengan mengharapkan matahari aku masih bisa bertemu esok.

Esok yang tak akan lagi ada bersama yang lain.

Menggigit bibir aku memaksa pikiranku beralih dari bayangan sepi. Gereja ini terlalu menarik. Aku setengah berharap ada drakula yang sedang mengintaiku dari menaranya, menunggu matahari benar-benar hilang sebelum akhirnya menyantapku. Pikiran itu terasa lebih menyenangkan daripada bayangan membuat pizza beramai-ramai dan menyesap bir dan cola dan jus sambil mengobrol tidak jelas. Karena bayangan yang terakhir jelas bayangan yang terakhir. Tak ada lagi apapun setelahnya.

Burung gagak bertengger di ranting telanjang sebuah pohon tinggi. Aku bergidik. Separo untuk dingin yang tajam yang menelusup di lubang leher, separo untuk imaji yang tanpa bisa dicegah melayang terlalu nisbi. Gagak, gereja kosong, prasasti yang berdiri dingin, menara yang gelap, matahari yang kian condong. Drakula; menakutkan sekaligus menggairahkan. Pizza, laporan, gelak tawa, minuman hangat, oven berasap, ruang makan bersama. Perpisahan; hangatnya saat terakhir.

Tak ada yang benar-benar hangat saat semua harus berakhir. Begitu kan?

Namun tentu saja drakula itu tidak ada, waktu terus berjalan, dan perpisahan sudah diciptakan sebelum pertemuan. Menyadari hal itu, aku berhenti mengarahkan kameraku. Tanganku gemetar.

Di sini menyebalkan. Dingin, susah mencari makanan, bahasanya tak kumengerti. Tapi kenapa aku tak rela begini untuk pergi?

Aku suka kesendirian yang kuciptakan untuk bertahan di kota ini. Bukan berarti aku tak suka orang-orang menyapaku di jalanan dengan bahasa yang kumengerti, hanya saja aku sangat menyukai kenyamanan saat aku hanya harus jadi pengamat. Tidak perlu senyuman basa-basi, tidak butuh kerutan di dahi untuk membantah perkataan orang, berkonsentrasi pada hal-hal yang kusukai tanpa diganggu karena mereka tahu arti privasi.

Kedengarannya menyedihkan. Tapi kesendirian itu eksklusivitas. Aku membutuhkannya. Jiwaku memerlukannya. Panggilan telepon internasional sesekali sudah cukup untuk membuatku yakin bahwa aku tidak sendirian di dunia. Banyak pertanyaan dan tuntutan untuk bercerita secara lisan membuatku mual. Kurasa berbicara bukan hal favoritku.

Angin membuat ranting-ranting bergemerisik lagi. Biru langit semakin gelap, elevasi bayangan sudah meningkat. Kini hanya ujung menara gereja yang tersorot cahaya. Halaman gereja tampak kering dan terabaikan dengan udara abu-abu yang tipis. Kuhirup dalam-dalam aroma musim dingin yang beku. Bagaimana makhluk-makhluk lain bisa bertahan tanpa penghangat adalah hal yang menakjubkanku. Tuhanku Maha Besar. Dan aku ingin seperti mereka yang diberi keistimewaan merasakan makhluk-makhluk itu bercengkerama dengan empat musim yang berbeda.

Sungguh, aku baru percaya kalau rindu bisa tercipta bahkan sebelum kehilangan terjadi.

Aku akan merindukan tempat ini. Merindukan orang-orangnya yang berjalan cepat seperti kesetanan. Merindukan jalanannya yang lengang. Merindukan cuacanya yang kusukai. Merindukan rasa khawatir saat bertemu anjing yang dibawa jalan-jalan. Merindukan membeli makan di stasiun. Merindukan mengendap-endap di loteng untuk beribadah. Merindukan pemandangan taman yang sunyi dari jendela kamarku. Merindukan lapisan demi lapisan selimut, lapisan demi lapisan kaos kaki, lapisan demi lapisan pakaian.

Mungkin karena musimnya? Atau sesederhana sebuah alasan: karena tempat ini? Atau karena perpisahannya? Atau karena aku tahu akan lama sekali sebelum aku bisa kembali kemari? Atau?

Aku benci merasa sedih. Mungkin yang lain tidak sesedih aku, jadi percuma saja kalau aku membiarkan kesedihan merajalelai pikiranku.

Satu jepretan. Satu jepretan lagi. Lalu aku akan berlalu.

Karena waktuku belum saatnya berhenti.

KKEUT.
http://wp.me/p1rQNR-nT

Iklan