1,846w. Flashfiction.

.

Sudah lama, sekian lama benakmu terberkati tanpa meledak. Kau tahu apa yang kau butuhkan, menyadari apa yang kau inginkan, membiarkan hatimu menyeru mau, namun tak satu kau dapatkan. Kau sadari apa yang membuat matamu berbinar lebih, sayang binarmu memantul pada cermin kosong. Kau yakini suatu saat kau akan sentuh yang telah kau coba gapai, sayang tanganmu berakhir pada topi pesulap. Kau inginkan, kau inginkan, kau inginkan sekali lagi, dan kau dapat ‘tak mendapat’.

Maaf untukmu yang terluka, namun kau memang tersakiti. Ini adalah tentang dia yang sekali lagi merasuki hatimu dan tentang hatimu yang tak menggapai kemana kecuali hampanya udara.

Jadi begini; kau melihatnya, kau merasa dia melihatmu, kau terus melihatnya dan pada suatu titik, dia memutuskan penglihatan kalian. Tepatnya saat wanita itu hadir di antara kalian. Kau tak mengerti apa yang salah. Kau jaga hubungan kalian dengan sebaik-baiknya; kau jaga. Padanya kau lontarkan percakapan yang bersahabat, memberinya perhatian yang diperlukan, menggodanya karena kau tidak tahan melihatnya menatapmu tanpa senyum malu-malu itu.

Maka dari itu kau tak mengerti apa yang salah dengan usahamu.

Tanpa kau mau, matamu senantiasa tertarik padanya. Sudut mulutmu bersinggungan dengan tulang pipi melihatnya bergembira atas suasana menyenangkan di antara kalian. Kuluman tawamu penuh rahasia yang hanya kau dan dirimu sendiri yang memahaminya. Setiap kali satu rahasianya terkuak, seseorang di dalam hatimu berkata kau telah selangkah lagi mendekatinya.

Kau bangga.

Kau senang.

Bukan muluk-muluk jika kau memulai semuanya dengan pertemanan. Dia memberimu pertanyaan yang menyediakan celah bagimu untuk membuatnya lebih mengenalmu. Karena kau ingin mengenalnya secara itu. Sebab kau ingin bersamanya selambat itu, berlama menjemput akhir. Akibat dari keinginanmu menginginkan dia tidak kurang dari seluruhnya. Kau ingin mengenalnya seseluruh kau bersedia dikenalnya.

Sampai ketika wanita itu datang.

Kau tidak pernah menyadari seberapa rapuhnya status ‘pertemanan’ sampai ada orang lain di antara kalian. Untuk membuatnya nyaman bersamamu, kau telah melakukan segalanya termasuk memastikan dia tidak akan menjauh darimu sehari pun. Dan itu gagal. Dengan menyedihkan.

Kau telah melakukan segalanya termasuk menahan lidahmu yang ingin memanggilnya dengan sebutan “Sayang” dan membelokkannya menjadi “Bro”. Itu pun gagal. Dengan mengenaskan.

Kau telah melakukan segalanya termasuk mendengarkannya bicara tentang apapun sesuka dia selama dia bicara sambil menatap matamu. Itu gagal. Dengan menyakitkan. Dengan nama wanita itu terlontar dari ujung lidahnya.

Berkeletak andai bisa bunyinya hatimu.

Mau dikemanakan rasa yang telah kau arahkan padanya ini? Hendak dibawa kemana monolog-monologmu sepanjang malam mengenai arti pentingnya bagimu? Kemana disingkirkannya keyakinanmu mengenai kebersamaan kalian sebagai akhir tujuan?

Ini semua membuatmu bingung dan hilang arah. Kau tak tahu bagaimana melangkah apalagi menetapkan pasrah. Seolah semua yang kau rasakan selama ini hanya… seolah.

Perlahan kau bukan lagi belahan dirinya. Sedikit demi sedikit wanita itu menggantikanmu di sisinya. Jika dulu semua mengatakan ada dia ada kau, maka kali ini orang-orang bilang dia bahagia karena wanita itu. Dan kau menjadi temannya.

.

Kau benci menjadi temannya. Kau benci menjadi teman siapapun karena bukan itu yang paling berarti untukmu. Dia, di sisimu, untukmu, adalah yang kau sebut hidup. Namun apa dayamu? Di matanya kau temannya. Di mata teman-temannya, kau temannya. Di mata teman-teman kalian… kalian hanya berteman dan hanya itu yang mungkin.

Apa kau tak punya perasaan? Apa kau terbuat dari batu? Ketika dia bertanya kau juga harusnya mencari hati tempat menambatkan hati, apa dia pikir kau tidak tercabik dari dalam?

Tapi sebagai Bro, kau tak boleh menunjukkan cabikanmu. Tidak sama sekali.

Pikirmu, lebih baik kau bersamanya sambil menguatkan perasaanmu. Tetap di sampingnya sambil tak menggubris perihnya. Melangkah mengiringinya selagi membasuh luka. Ada dia, lebih baik daripada tak bersamanya sama sekali.

Pikirmu…

Memang siapa yang sedang kau ejek?

Bukankah hatimu kian lama kian menumpul? Kepahitanmu menumpuk makin tinggi, betul kan? Tidak ada lagi tempat untuk senyum kecuali senyum pura-pura yang bahkan kau sendiri sadar dia sudah sadar ada yang tidak beres denganmu.

“Tidak apa-apa,” adalah andalanmu untuk mengusirnya menjauhi gumpalan sesak di dada.

Yang tidak kau antisipasi adalah kau mengusirnya. Mengusirnya jauh dari dirimu sendiri. Saat kau sadar, kau tersadar kau terdiam sendiri di dalam kamar bercermin. Di dunia bayangan itu ada dirimu yang berambut kusut bermulut merengut, menatapmu kembali dengan kalut. Dia sudah tidak ada, menjauh darimu, tak lagi menjadi temanmu.

Kau sendirian.

.

Kau sendirian untuk selamanya.

Ah tidak juga.

Kau jengah dengan luka hatimu yang tak kunjung sembuh, maka kau memilih meluncur turun dari dunia berperasaanmu yang eksklusif, menuju dunia warna-warni tak berperasaan. Mungkin karena tingginya tumpukan luka hatimu, kau begitu menikmati prosesi terjun bebas menuju dunia tanpa rasa. Kau tahu tidak ada apa-apa di bawah sana dan tepat karena itulah kau membiarkan dirimu sendiri terbuai mabuk. Karena, memangnya ada yang akan menyakitimu ketika kau ada di dunia hampa?

Dunia hampa begitu ringan. Dingin dan tanpa emosi. Namun paling tidak bebas dari syarat. Kau tidak harus tersenyum ketika kau merasa ingin teriak. Bebas melotot saat memang kau butuh menjadi emosi. Sesukamu menggoda kalau memang sedang nafsu. Tidak ada larangan di dunia yang ini, dunia lama yang kau singgahi kembali. Kebebasanmu mutlak. Mau dia yang berambut pendek, dia yang berkaki panjang, ataupun dia yang membulat di perut yang membuatmu ingin bersandar padanya, kau bebas bersama siapapun yang kau mau. Kau menyandang status pemain dan sedikit bangga akannya.

Kemudian kau sadar. Bangga adalah sebuah emosi. Kau tidak butuh emosi saat ini, maka kau memilih melepaskannya. Kalau memang orang lain menginginkan menjadi pemain sepertimu, mereka boleh terus iri sampai neraka membeku. Sebab selama duniamu berisi hampa, kau tidak peduli sedikit pun tentang apapun yang bukan dirimu.

Kau menyongsong dia, menyambut dia. Dia dan dia yang lain lagi, selalu kau terima dengan terbuka. Prinsipmu, selama hatimu sama hampanya dengan duniamu, kau aman. Kau tidak butuh penawar sakit hati, hanya butuh perekat untuk menggumpalkan kumpulan perih. Menumpulkan mereka, membulatkan mereka tebal-tebal, menjadikan mereka tameng sempurna untuk hatimu yang rapuh dan masih berdarah-darah. Paling tidak dengan begitu tak perlu lagi kau melihat rembes kemerahan di sela-sela yang semakin lama semakin merapat.

Begitu rapatnya kau menyimpan hatimu, gumpalan serpihan itu kini kau kenali sebagai hatimu. Itulah hatimu, penuh puing yang terbalut jadi satu. Kuat dan tebal, tidak masuk hitungan dalam benda berpredikat rapuh. Tidak, tidak lagi.

Tapi ternyata masih bisa berkembang. Karenanya kau takjub.

.

Ketakjubanmu bersumber dari pria itu. Lagi-lagi seorang pria. Yah, seperti biasanya. Memangnya kau bisa apa lagi kalau kau memang hanya bisa merasa tertarik pada pria?

Dia seorang pria yang membuat gumpalan serpihan yang kau sebut hati mendadak merekah. Kau temukan dia di duniamu yang hampa. Dia tidak hampa, tapi dia melintasi duniamu tanpa sadar, dan kau tertarik pada kekuatannya memancarkan kehangatan. Emosi, itu yang kau rasakan ketika dia bergerak mendekat padamu.

Emosi, itu yang ternyata agak kau rindukan.

Merasakan nostalgia pada rindu ternyata tidak begitu buruk. Kau cukup menyukainya. Kau… menikmatinya. Semua karena pria itu. Orang bilang, seseorang bisa membangkitkan emosi bagi orang lainnya. Kau bilang, pria itu membangkitkan emosimu.

Ah ya, bukan membangkitkan. Hanya membangunkan.

Kau mengenali datangnya aliran emosi itu lagi. Kehangatan, kecemasan, ketidakpastian, keraguan, dan kalau boleh sedikit ge-er, kebahagiaan. Pria itu mengembalikan semua itu padamu. Pria itu bukan dia yang sudah membuat hatimu berdarah-darah, pria itu adalah yang membuatnya melembut meski telah di-gips dengan kekecewaan yang teramat besar. Melalui pria itulah kau mengenali lagi ekspresi wajahmu sendiri.

Saat kau terbangun di suatu pagi yang panas, kau kembali berhadapan dengan cermin. Hanya saja kali ini dunia di sana menawarimu wajah kotor berhias liur bau jigong yang berekspresi bahagia.

.

Kau bahagia karena dimengerti. Kau bahagia karena dipenuhi. Kau bahagia karena pria itu membuat dunia hampamu tersingkir dengan cara paling tidak menyakitkan yang bisa kau bayangkan. Selama ini kau berpikir, kau akan tetap memunguti perihan hati yang tercecer di dunia hampamu setiap kali kau melihat dia terintip dari balik kisi-kisi. Dia yang selalu terlihat bersama wanita itu, kau pikir akan memenuhi jiwamu dengan kekakuan. Tapi ternyata kau masih bisa melembut.

Kau tak lagi melihat dia di sekitarmu. Kau tahu seharusnya sudah sejak lama hal ini terjadi, tapi nyatanya kau tetap terus melihatnya tak peduli setidak ingin apa pun kau tentang hal itu. Sejak pria itu datang, semua berubah. Pasti, kau yakin bahwa kebahagiaan sang dia dengan wanita itu bukan lagi hal yang perlu kau risaukan.

Sebab bukankah kau sudah memiliki kehidupanmu sendiri?

Dan itu adalah pertanyaan retoris.

Jika kau masih memerlukan jawaban, kau hanya akan mengulurkan tanganmu, dan pria itu—yang kini kau sebut priamu—akan menyambutnya lembut, membawamu dalam genggamannya.

.

Seberapa indah dunia dalam genggaman priamu? Indah sekali. Kali ini kau bahkan tidak sempat berpikir tentang siapa dirimu dulu, atau bagaimana duniamu dulu berjalan. Kau hanya punya masa ini, masa yang ini, bersama pria itu. Priamu.

.

Pertanyaan itu merasuk dalam benakmu sekali. Apakah dia bahagia dengan wanita itu? Kau dan wanita itu, mungkin tidak akan pernah sebanding, apalagi layak dibanding-bandingkan. Kau membiarkan pertanyaan itu mengambang kurang ajar menyayati dinding lembut yang tetap kuat di dalam sana, di dalam rongga yang kau tahu ada tapi tidak mau kau ketahui.

Untungnya, priamu datang bagai pangeran berkuda putih menyelamatkanmu. Dengan kecupan ringan di bibir, dia menyapamu dan memaksamu membuka mata. Senyumannya menyilaukan, mengeliminasi tatapan-tatapan tidak suka di sekitar kalian. Matamu terbuka, begitu pun hatimu. Priamu, menginginkanmu. Lalu kenapa kau masih sudi dikurangajari pertanyaan tidak sopan itu?

.

You are so special to me.”

Priamu mengucapkan itu berkali-kali padamu. Bukan untuk diiringi oleh ucapan perpisahan seperti yang biasa kau saksikan dalam sinema-sinema. Hanya untuk diikuti oleh, “Melangkahlah bersamaku selamanya.”

Oh, what a happy ending.

Dia, pasti menyesal tidak pernah memperhatikanmu dulu. Dia harus melihat betapa luar biasanya kau saat ini ketika dicintai sedemikian rupa oleh priamu.

.

Dan dia menyaksikannya. Dia menyaksikannya, kok. Jelas dan tanpa dihalangi apapun. Saat dia melangkah ke depanmu, tangan terulur, senyum teregang lebar. “Selamat, Bro!” ucapnya sehangat yang biasa kau dapatkan dulu. Senyuman di matanya masih sekuat dulu. Ketulusan mendalam mewarnai sikapnya. Penghargaan dan kebahagiaan yang dirasakannya karena melihatmu bahagia masih ada di sana. Jauh di bawah pijakanmu, kau rasakan getaran halus.

Priamu menoleh ke arahmu, matanya bertanya, mulutnya bergumam halus, “Bro?” Riasan wajahnya sudah melekat sempurna, menyempurnakan ketampanannya sebagai seorang suami baru hari ini.

Dia yang menyahut untukmu. Sambil tertawa, “Haha, maaf. Sis! Selamat, Sis. Akhirnya kamu nikah juga. Aku sahabatnya, dulu dia tomboy banget, we were brothers!”

Dan getaran bumi jauh lebih kuat kau rasakan sekarang.

Priamu menatapmu sekali sebelum menyambutnya hangat dan legowo. “Oh!” Keduanya berjabat tangan seolah sahabat lama, mengabaikan kau yang mungkin sudah melesak ke dalam bumi yang meretak.

.

Duniamu hilang.

Seribu kebahagiaan bersama priamu, melebur bersama perca lukamu. Tidak, lukamu tidak sembuh. Hatimu masih berdarah-darah. Kebahagiaan yang meledak bersama apa yang tadinya kau sebut hati kini berwarna serupa memar, penuh sepenuh-penuhnya rongga jiwa yang kau miliki.

Dia mendatangimu. Hangat dan tetap seperti dia. Hatimu hangat dan tetap sakit. Untuk keberadaannya yang tidak berdiri di sampingmu di pelaminan. Untuk genggamannya yang tetap melindungi wanita itu. Untuk ketiadaannya menjawab apa yang kau punya untuknya.

Seribu kebahagiaan, sepanjang masa melupakan, segenap upaya bangkit kembali, semua hadir kembali saat itu. Meledak dan membunuhmu. Kau tahu kau akan hidup lagi. Namun oh betapa kau berharap kau bisa bangun lagi sebagai yang baru. Betapa inginnya kau bangun satu paket dengan kealpaan, lupa akan semuanya.

Tapi tidak, bukan? Pada dasarnya kau masih hidup. Hanya hatimu saja yang tidak bisa berubah. Jadi hatimu ternyata memang tidak bisa berubah.

Oh.

.

.kkeut.

Iklan