Ketika sebuah rembulan muncul dalam prosa, mataku mulai menggelinjang tidak nyaman. Kemudian susul-menyusul sebuah kalimat berisi rangkaian keindahan, kabut dan jantung yang berlomba dengan ombak. Itu membuat otakku bertanya-tanya, alamkah yang bercerita, atau si pengarang yang terlalu mencintai alam hingga tak rela biosfer tak dapat peran dalam dunia kecilnya?

Huruf-huruf menari dalam barisan yang diketikkan. Tidak, tanganku tak bisa cukup dipercaya untuk menguntai setiap kata yang berdesakan ingin mencerita. Namun mereka juga terlalu banyak dalam kombinasi untuk dibuat klise. Selalukah bahagia dan cinta datang bersamaan dengan personifikasi alam? Haruskah kesedihan dan kecewa terungkap lewat metafora? Tapi kata begitu ragam.

Satu huruf setelah yang lain dan menjadi kata. Sebuah kata bersambut yang lain dan menjadi kalimat. Satu kalimat menari berkelompok dalam satu paragraf. Kemudian cerita pun terbentuk. Seberapa banyakkah non-klise dapat terbentuk? Meski bukan matematisian, aku tahu jawabannya dapat disingkat menjadi simbol ‘tak terdefinisi’. Ironis bukan, betapa tak mampu didefinisikan adalah definisi dari kombinasi kata? Maka mengapa membatas anggap dengan kebiasaan?

Ah, sungguh aku aku benci klise. Dunia ini terlalu menakjubkan dan beruji untuk dibuat klise.

.

.kkeut.

Iklan