Tag

, ,

1,992w. Oneshot attraction-Needy. PG13.

~

Bee

Jungsoo ada di ruang kerja. Aku sedang memasakkan sesuatu untuknya dan mendadak aku ingat dirinya. Pikiranku dipenuhi tentangnya. Bagaimana dulu ibunya memberinya makan? Bagaimana dia tumbuh semasa kecil? Bagaimana dia belajar berjalan? Bagaimana dia jatuh cinta untuk pertama kalinya—dan meskipun aku tahu ini tidak masuk akal, tapi ya, aku cemburu memikirkan ini. Lalu bagaimana dia bermanja pada kakaknya? Aku mendadak ingin tahu dan rasa rindu itu demikian tiba-tiba datangnya.

Aku menjadi rindu padanya.

Aku rindu pada lelaki yang sedang duduk di ruang kerja sambil memainkan pianonya itu. Lelaki yang tadi pagi baru bangun dari sisiku, mengecup kupingku asal kena sebelum bangun dan ke kamar mandi, menggosok gigi sambil mengosongkan kandung kemih, meninggalkan aku seorang diri di tempat tidur.

Aku merindukan Jungsoo yang membangunkanku dengan tatapannya. Dia punya obsesi aneh bahwa dia ingin memandangi istrinya yang sedang tidur sampai wanita itu bangun dan sekarang dia menerapkannya padaku setiap hari. Lelaki aneh dengan prinsip aneh. Prinsip membosankan yang anehnya tidak menjemukan.

Kuambil sendok kecil dan mencicipi masakan yang mulai matang. Kutambahkan serbuk ketumbar ke dalamnya, lalu mulai mengaduk lagi. Suara dentingan piano terdengar dari ruang kerja Jungsoo dan aku mengingatnya lagi saat kami baru menempati rumah ini bersama-sama. Bukan ingatan akan apa yang dilakukannya yang membuatku agak tercengang, tapi lebih bagaimana aku mengingatnya seolah Jungsoo tak lagi di sini bersamaku. Rasanya seperti rambutku sudah memutih dan Jungsoo mungkin sedang pergi mengunjungi cucu kami selama berminggu-minggu dan aku merindukannya sampai meradang. Aku mengingat seolah kalau ada tamu aku akan menceritakan padanya, dulu Jungsoo suka bermain piano sementara aku memasak, tapi kami selalu sarapan bersama-sama. Aku mengingatnya seperti itu, menganggap dia sudah begitu jauh dan ingatan ini berwarna sepia, kekuningan seperti foto lama.

Kuah di panci sudah mendidih, aku mematikan kompor. Kubawa panci itu ke ruang makan lalu menyimpan apron serta pelindung tangan di dapur. Dari dapur aku bisa melihat halaman kecil kami kosong dan rapi. Jungsoo membeli rumah, bukan apartemen, dan aku bersyukur karenanya. Sebenarnya lebih tepat kalau dibilang lelaki itu membangun rumah. Dia memanfaatkan semua waktunya dengan baik untuk membangun rumah tepat seperti yang kuinginkan. Dan dia bilang apa yang kuinginkan adalah apa yang dia inginkan. Dia pada dasarnya tidak peduli rumahnya akan seperti apa selama rumah itu rapi dan bersih, tapi dia sudah sejak lama menanyakan padaku rumah seperti apa yang kuinginkan.

Aku mau rumah yang setiap ruangannya mendapat cahaya matahari dan udara segar, begitu jawabku ketika itu. Dia mengabulkan keinginanku beberapa tahun kemudian.

Di depan dapur ini ada sebuah taman yang—karena sifatku—tidak terlalu banyak berisi tanaman. Tanahnya berlapis rumput hijau yang selalu pendek dengan sepotong pendek jalan setapak terbuat dari batuan putih kecil. Kalau suatu pagi aku bangun dengan badan kaku, aku akan berjalan bolak-balik di sana tanpa alas kaki untuk melancarkan peredaran darah. Taman ini bisa dilihat dari dapur, dari salah satu kamar mandi, serta memiliki akses masuk dari tempat cuci.

Saat tua nanti, aku ingin mengatakan pada orang-orang yang datang mengunjungi kami bahwa Jungsoo khusus membuatkan taman ini untuk memenuhi kecintaanku akan udara terbuka dan cahaya matahari.

Sekali lagi denting piano terdengar, kali ini suaranya mengalun lebih lama, lebih bermelodi.

Jungsoo sudah menjadi ahjussi sejati. Setiap kali menciptakan lagu dia hanya akan menghasilkan nada-nada lembek yang kalau tidak manis menjijikan ya menyayat hati sekaligus membosankan. Keponakannya berkata bahwa Jungsoo Samchon harus berhenti mengarang lagu atau dia akan merusak potensi kreatifitas pada anak-anak muda yang mendengarkan lagunya. Ketika mendengar pendapat itu, Jungsoo menelikung anak itu dan membuatnya menjerit-jerit minta ampun hanya untuk diejek lagi setelah Jungsoo melepaskannya. Sampai di rumah, Jungsoo tenggelam lama sekali di ruang kerjanya sampai aku harus menyeretnya keluar dari tempat itu dan meyakinkannya bahwa untukku dia tidak pernah terlalu tua.

Aku yakin masakan yang kubuat sudah mulai dingin, jadi aku menegakkan tubuh. Rasa rinduku masih begitu besar, aku masih sangat merindukan Jungsoo. Dia sudah meninggalkanku sendirian selama tiga jam dan aku rasa aku sudah sekarat karena merindukannya.

.

Leeteuk

Aku ingin lagu ini jadi lagu yang menyentuh perasaan semua orang. Dan lagu yang menyentuh perasaan semua orang biasanya lagu sedih. Tapi sedih yang terlalu menyayat hati sudah tidak populer lagi. Kenapa orang-orang berhenti menyukai perasaan haru? Padahal semua orang masih merasakannya setiap saat. Aku saja masih merasa haru saat terbangun dan menatap Yeppo yang masih tidur—kadang dengan mulut terbuka dan suka tersedak liurnya sendiri.

Aku masih terharu bisa mendapatinya bangun di sisiku setiap pagi. Mendapat kesempatan menjadi orang yang pertama dilihatnya saat bangun tidur untuk sepanjang sisa hidupnya.

Oke, itu mungkin tidak benar. Menyebalkan pakai sekali, tapi tetap saja itu bukan yang sebenarnya. Aku bukan selalu jadi orang yang pertama dilihatnya, terutama ketika dia harus pergi ke laut atau sekedar menilik ke pantai daerah terpencil, atau saat dia harus pulang ke Indonesia. Oh, ini menyebalkan, apa natal ini kami harus pulang lagi ke Indonesia? Tidak bisakah keluarganya saja yang datang ke Korea tahun ini? Seperti tahun kemarin, bukankah semuanya senang tahun kemarin?

Ah, benar. Tahun kemarin.

Baru tahun kemarin keluarga Yeppo datang dan menikmati natal dan tahun baru yang putih berliput salju, jadi tentu saja tahun ini giliranku menikmati natal hangat di Indonesia.

Masalahnya, aku sudah malas membayangkan harus menyamar di Indonesia. Negara itu panas, dan penyamaran selalu berhubungan dengan banyak lapisan pakaian dan itu panas!

Kenapa aku jadi memikirkan Yeppo? Aku harusnya menyelesaikan laguku. Perusahaan sudah menungguku menyelesaikan lagu ini secepatnya.

Ah, siapa pula yang hendak kutipu. Mereka tidak menunggu siapapun. Aku sudah cukup menghasilkan dengan menjadi MC paling disukai di seluruh Korea, dan itu—entah aku harus mengatakan ‘untungnya’ atau merasa terhina—membuat mereka lega karena tidak harus menerima banyak lagu ciptaanku. Mereka harus selalu mengaransemen ulang setiap lagu yang kuberikan. Menyesuaikan dengan minat pasar saat ini, alasan mereka. Yah, mau bagaimana lagi.

Apa salahnya sih dengan lagu-lagu sendu?!!!

Kata mereka seleraku sudah terlalu tua? Hah! Mereka pikir para remaja itu tidak menghadapi masalah cinta juga? Justru karena itu harusnya laguku—versi yang asli—cukup laku!

Tapi kuakui penghasilanku menjadi MC jauh lebih memadai daripada hasil jualan lagu.

Kecuali KRY dan M—sesekali—Super Junior sudah tidak lagi sebanyak dulu menerima tawaran manggung. Selain kami jadi sibuk sendiri-sendiri, rasanya juga kami sudah mulai malas berjumpalitan di atas panggung. Beberapa seperti Eunhyuk dan Donghae mungkin masih, tapi sisanya sudah jauh, jauh, lebih kalem sekarang. Shindong bahkan sudah malas sekali datang ke perusahaan, saking sibuk mengurus rumah makan dan anaknya.

Duh, perutku lapar, Yeppo sudah selesai masak belum ya?

Mungkin aku harus meneruskan lagu ini dulu sebelum makan. Aku harus punya tekad. Makanan keluarga kami datang dari lagu ini juga. Park Jungsoo fighting!

Aku menoleh kaget saat mendengar pintu dibuka. Rupanya aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

Melihat siapa di sana, aku nyengir. “Makanannya sudah siap?”

Yeppo berdiri di pintu, mengangguk.

Aku menoleh ke layar komputer sambil berkata, “Baiklah, aku simpan ini dulu.”

Tidak ada jawaban darinya jadi aku menoleh dan terkejut melihatnya melangkah lebar-lebar ke arahku, tatapannya tajam.

Dia melambat di dekatku, tapi tatapannya tetap tajam dan sekarang dia menunduk sementara aku mendongak. “Yeppo? Ada apa?”

Yeppo menatapku aneh lalu memutar kursiku. Aku belum sempat berpikir ketika dia menaiki kursiku dan memerangkapku di antara pahanya. Dia mengangkangi pahaku dan kedua lengannya memerangkap kepalaku. “Ye—Yeppo?” aku mendadak gugup.

Dia tidak menjawab tapi menciumku.

Menciumku! Ya ampun.

Ya ampun… ada apa ini? Kenapa Yeppo mendadak ganas begini? Apa yang terjadi?

Oh, yah, karena tidak ada gunanya aku menebak-nebak juga, lebih baik aku menikmatinya saja dulu.

Oh, aku masih suka sekali berciuman dengannya. Masih terasa tidak seperti apa-apa. Masih hanya dia yang bisa menciumku dan terasa seperti ini.

Tanganku yang otomatis sudah berada di pinggangnya, merayap naik, meraba rusuk di bawah dadanya. Sejak kecelakaannya waktu itu, aku senang merasakan tulangnya di bawah rabaanku, merasakan tidak ada yang tidak beres. Meski akhir-akhir ini tidak terlalu jelas lagi teraba karena lapisan dagingnya semakin bertambah, tapi aku sudah menemukan kenikmatanku sendiri dari menyusuri tulangnya dengan tanganku.

Yeppo melepas ciumannya dan matanya berkabut memandangku. Kini dia sudah ku pangku sepenuhnya. Kakinya menekuk ke belakang dan lengannya menjadi beban nyaman di bahuku. Aku membuka mulut hendak bertanya padanya, tapi dia mencegahku.

Dan menciumku lagi.

Oh yah, terserah saja. Aku sih senang-senang saja.

Bibirnya membuka bibirku, lidahnya membasahi interaksi kami. Aku sudah demikian mengenal tubuhnya sehingga aku hampir otomatis menjangkau ke sudut mulut yang selalu membuatnya mengerang.

Dia mengerang dan aku menegang ketika tangannya menyusup di antara rambutku, menyusuri kulit kepala. Pinggulnya mulai berputar membuatku berpikir mungkin di hari-hari santai seperti ini kami bisa melewatinya tanpa berpakaian. Demi kepraktisan.

“Jungsoo…” desahnya di mulutku.

Dan aku tidak diberi kesempatan bicara. Dia menciumku lagi dalam-dalam, karena itu.

Tangan Yeppo menggerayang kemana-mana, aku pun mulai menarik-naik ujung kausnya.

Yeeey, berhasil lepas. Kini tinggal penutup dadanya. Ini menantang.

Aku tidak menggodanya kemana-mana dengan mulutku, hanya dengan tanganku dan tangan Yeppo sendiri sudah lebih dari kemana-mana di tubuhku yang masih berpakaian. Tanganku meraba dadanya yang berpenutup. Lembab.

Yeppo mengerang dan menengadah. Lehernya tertarik semakin jenjang dan aku berdosa kalau mengabaikan leher itu.

Kuserang lehernya dan Yeppo menekan wajahku semakin dekat ke sana. Tanganku masih bermain di dadanya yang semakin basah. Suara ah ah dari mulutnya membuatku berpikir dia sebenarnya sedang kenikmatan atau kesakitan.

Karena ada kemungkinan kesakitan, aku berhenti dan menatap wajahnya. Dia membuka mata dan balas menatapku. Kami terus bertatapan dan perlahan gairah yang seperti puting beliung tadi berubah menjadi gelombang lembut yang hangat dan memuaskan. Aku ingin bercinta dengan wanita ini, pikirku. Bukan sekedar memuaskan keinginan, aku ingin menemukan cinta bersamanya karena untuk itulah dia datang padaku.

Kukecup rahang Yeppo lembut sementara tanganku berhenti meremas dadanya kuat, berganti dengan mengusapnya lembut. “Maaf,” gumamku di bawah dagunya. “Sakit?” tanyaku.

Yeppo menggeleng. “Bukan yang tidak kuinginkan,” jawabnya.

Aku bermain-main mengecup bibirnya. “Untuk apa itu tadi?” tanyaku.

Yeppo memiringkan kepala dan aku mendapat sudut yang sempurna untuk menatap bibirnya. Saat mataku kembali ke matanya, Yeppo tersenyum. Dia mencium pelipisku, berbisik di telingaku, “Aku kangen padamu.”

Aku terdiam. Itu bukan sesuatu yang menyakitkan, atau buruk, atau apa, tapi tetap saja, “Apa?”

“Aku merindukan dirimu,” Yeppo berbisik lagi, kali ini di bibirku.

“Rindu… dalam arti…?”

Yeppo menggeleng. Lalu tersenyum.

“Kita baru bercinta semalam kan? Atau itu kemarin? Yang jelas bukan minggu kemarin karena aku masih ingat jelas rasanya. Kau merindukanku? Ada apa denganmu? Kau baik-baik saja?”

Yeppo memelukku dan di belakang kepalaku dia berkata, “Tidak tahu. Tiba-tiba saja aku teringat padamu dan dadaku sesak oleh rasa rindu. Aku ingin bertemu, ingin melihat, ingin merasakanmu. Jarak dari dapur ke sini jauh lebih jauh dari Indonesia ke Korea, kau tahu?”

Siapa yang bisa berkata apa terhadap pengakuan seperti itu? Beritahu aku.

Tet tot, waktu habis. Karena tidak ada yang bisa memberitahuku, aku rasa aku hanya bisa merespon wanitaku ini dengan memeluknya balik.

“Jungsoo-ya…”

“Mmm?” sahutku dengan wajah terbenam di helai-helai rambutnya yang mulai terurai.

“Aku mencintaimu.”

Aku tersenyum dan tertawa. “Aku mencintaimu.”

“Cium aku,” pintanya, eh bukan, tuntutnya.

Aku menjauhkan tubuhnya dan mulai mendekat untuk menciumnya. Bibir kami bersentuhan dan dalam sekejap kami kembali saling memagut. Lebih khidmat kali ini.

Lalu—saat sedang khidmat-khidmatnya—terdengar suara alarm bayi dan suara tangisan putri kami terdengar keras.

Akh, anak itu, kenapa mengganggu di saat yang penting???

.

Bee

Aku melepaskan Jungsoo dengan segera dan turun dari pangkuannya. Aku sudah berjalan ke pintu saat Jungsoo akhirnya menyadari apa yang sedang kulakukan. Dadaku berdenyut sakit seperti yang biasa terjadi saat anakku merasa haus ataupun lapar. Aku masih takjub bahwa seorang ibu bisa benar-benar merasa sakit secara fisik ketika anaknya tidak nyaman.

Perasaan ini menakutkanku. Bagaimana aku begitu terikat dengan putriku, bagaimana aku masih sangat menginginkan Jungsoo, bagaimana aku demikian serakah untuk melihat kedua orang ini bahagia selamanya. Semua keinginan itu membuatku takut, jujur saja.

Aku hampir patah hati melihat kekecewaan di wajah Jungsoo, tapi putri kami membutuhkanku. Jadi aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Aku berjalan kembali pada Jungsoo, menciumnya singkat tapi dalam, menjanjikan apa yang bisa kujanjikan, sambil berbisik, “Makanannya sudah siap di meja makan. Akan kubawa Eunmi ke sana dan kita bisa makan bersama. Eotte?

Perlahan senyum Jungsoo kembali. Dia mengecupku sebelum melepaskanku. “Sampaikan salamku untuk Eunmi. Katakan padanya Appa kangen dan menunggunya di meja makan.”

Aku tertawa lalu beranjak.

“Tunggu kami, Appa,” ujarku sambil mengerling segenit yang ku bisa di pintu ruang kerja.

.

.kkeut.

Iklan