Tag

Tiba-tiba aku punya pacar. Dia orang bule. Kami pergi kepesta bersama. Herannya, itu pesta orang-orang Indonesia. Kami tidak pergi ke sana bersama, hanya ada di sana bersama. Dia menungguku, lalu cemburu setelah melihatku turun dari bus bersama teman orientalku. Aku merasa dia bodoh.

Pacarku tiba-tibaku, meminta diambilkan makanan karena perutnya lapar. Tapi dia banyak menuntut. Tidak mau ini, menolak itu, alergi anu. Menyebalkan. Meski banyak makanan di pesta, aku terpaksa pergi ke supermarket terdekat untuk membelikannya makanan yang cocok dengan mau dan perutnya. Hohenstrasse hujan lebat dan aku pasti kebasahan kalau ngeloyor begitu saja. Aku benci. Tapi aku tetap pergi. Tapi aku tetap benci.

Kutitipkan makanan untuk pacarku pada salah seorang temannya. Dia menerimanya dan bingung karena bukan aku yang menyerahkannya. Tapi aku tidak peduli. Dia tidak mau datang bersamaku, hanya menyuruh-nyuruhku dan menyalahkanku atas segala sesuatu, aku merasa disia-sia. Lebih baik aku bersembunyi. Jauh darinya, dari teman-temannya, dari orang yang tidak mengenal kami tapi melihatku aneh karena pacarku dengan menyebalkan membuatku tampak aneh.

Aku menikmati waktuku dengan Jaejoong. Aku tidak tahu bagaimana pria itu ada di sini. Tapi dia ada dan kami bersenang-senang. Di belakang tempat pesta, aku dan Jaejoong mengasuh anak-anak titipan para tamu undangan. Aku menyukainya, meski kepalaku pusing mendengar teriakan anak-anak. Tapi aku menyukainya. Anak-anak membutuhkanku. Jaejoong menghargaiku. Tak pernah sekalipun aku mengira Jaejoong bisa begitu perhatian terhadap anak-anak.

Lalu Jaejoong mengatakannya padaku. Bahwa dia menyukaiku. Aku ingin meludahinya. Bagaimana dia bisa mengatakan menyukaiku kalau mengenalku saja baru terjadi dalam hidupnya malam ini? Dan aku benci karena pacarku sendiri tidak pernah bilang dia menyukaiku. Tidak masalah siapa yang lebih kusukai, aku sudah berkomitmen dengan pacarku dan mustahil untukku bersama lelaki lain, sebahagia apapun aku dengan si lelaki lain.

Aku kabur. Aku sebal dengan Jaejoong yang terus mendesakku dan aku benci terus merasa waswas kalau-kalau pacarku tahu aku sedang bersenang-senang dengan anak-anak kecil milik orang lain dan pria lain yang… lain sama sekali.

Aku bersembunyi. Dimana ini? Apakah ini di atas pohon? Apakah mereka akan menemukanku? Kenapa mereka tidak juga menemukanku? Apa mereka tidak peduli padaku? Aku tahu mereka berlarian mencariku, tapi apa aku setransparan itu? Kertas kaca, itukah aku? Mereka tidak bisa mengira dimana aku? Apa aku ini? Apa sebenarnya aku sudah mati? Kenapa hanya aku yang bisa melihat mereka? Kenapa mereka tak bisa melihatku?

Aku benci diabaikan. Aku benci. Aku benci.

Aku ingin pacarku melihatku. Aku ingin Jaejoong memujaku. Aku mau anak-anak merindukanku. Kenapa tak seorangpun melihatku?

Lalu titik-titik air hujan mengenai pucuk hidungku. Kemudian mataku. Lalu memaksaku setengah terpejam karena tiba-tiba menjadi terlalu deras untuk kulihat. Di belakangku ada kotak telepon a la Inggris. Lampu sephia menerangi jalanan yang sepi.

Dingin, basah, tenang, pusingku sudah berhenti. Tapi aku tidak sendiri. Dia, lelaki itu, seorang bule yang lain, sedang menatap jalanan. Aku memutar kepalaku ke arah tatapannya. Bus kami belum datang, itu yang kurasakan. Apa yang sedang kulakukan di sini menanti bus?

Lalu tiba-tiba saja bus itu datang. Merah, bertingkat, dan sangat Inggris. Kami masuk, namun hanya di lantai bawah. Kenapa supirnya menyapaku dalam Bahasa Jerman dan aku tiba-tiba mengerti apa yang dikatakannya?

Kami meluncur pelan. Perlahan Fjord mulai terlihat, langit di atasnya kelabu suram, tapi aku senang karena itu artinya matahari sudah terbit. Akhirnya aku bertemu pagi lagi. Aku tak tahu dimana aku harus berhenti. Hanya tahu aku merindu berjalan di tepi Fjord. Hanya saja itu aneh karena aku belum pernah sekalipun berjalan di sana.

Bus berhenti dan aku turun. Hanya turun. Tidak tahu mestikah aku turun atau hanya karena harus turun. Kupandangi kakiku dan bertanya padanya apakah dia sudah berotak sekarang. Tak ada yang menjawab. Hanya angin dari Fjord yang menyapaku.

Hatiku sakit. Tak ada yang mengejarku. Tak ada yang menemukanku. Kurasa kalau aku mati di Fjord ini aku akan mati sendiri. Bahkan sampai jasadku terurai. Bahkan sampai aku dibangkitkan. Dan tak ada lagi yang akan mengenaliku pada hari itu karena semua orang hanya mengenali dirinya sendiri.

Hatiku sakit.

Suara berkelotakan membangunkanku.

Benar-benar membangunkanku.

Saat mataku menatap jam dinding, itu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang tiga puluh menit.

Aku mengerjap. Bingung. Apa yang kulakukan?

Bangun aku meresapi alam hidup di sekelilingku. Seseorang menyapu di luar kamarku. Seseorang baru keluar dari kamar mandi. Seseorang memanggil seseorang yang lain. Seseorang merasa mulutnya tidak enak dan butuh cuci muka… oh tunggu, yang terakhir itu aku. Aku bangun dan memulai aktivitasku dalam hidup.

Sepuluh kurang lima belas. Aku sedang membaca dan aku digulung aneka perasaan. Lagi, tadi malam, aku bermimpi aneh. Aneh sekali.

Pacarku yang bule itu, dia mendatangi mimpiku. Harusnya kami sudah putus lama sekali. Apa yang dia lakukan di mimpiku? Kurang ajar! Datang tak diundang, pulang tak mengantar!

.

.kkeut.

Iklan