Setelah sekian lama akhirnya aku jatuh cinta lagi. Aku tidak tahu akan bisa benar-benar jatuh cinta pada seseorang setelah kehampaan yang menguasaiku selama ini. Rasanya aku menemukan alasanku lagi untuk hidup. Seperti aku dibangunkan dari tidur panjang tanpa mimpi yang hanya membuat punggungku sakit. Rasanya begitu bahagia. Tidak sabar menjalani hari demi hari dengan memikirkannya. Menyusun segala rencana agar dapat bertemu dengannya, kemudian berdebar-debar dengan kemungkinan itu.

Seperti remaja bodoh naif yang baru mengenal dunia, aku seolah lupa bahwa dunia tidak sepolos itu. Tidak ada yang berjalan sesuai rencana manusia karena hanya Tuhanlah pemilik segala rencana dan eksekusinya. Namun tak dapat dicegah, semua rasa sudah tumbuh. Merajai segala pikir dan ingin. Fokus hidupku berubah, yaitu menuju padanya, sang manusia dalam hati. Penguasa semua mimpi pun obsesi. Tanpa berpikir Tuhan ada mencipta manusia dan segala yang menyertainya, aku larut begitu saja dalam suka cita rencana untuk bersama dengannya. Aku melupakanNya dan terjajah olehnya.

Dalam larut kedewasaanku tersingkirkan. Otakku dibuntukan. Tak tahu awalnya, tujuan hidupku berubah dan dengan bergegas menjadi berada di sekitarnya. Tersenang dengan fakta bahwa paling tidak aku memiliki rencana untuk mendekat padanya dan hendak mulai melangkah mendekatinya.

Rencana yang tak berguna.

Aku tak memiliki kesempatan itu. Itu tak pernah ada. Semuanya hanya ada dalam benakku.

Satu pagi, semuanya terpuruk hancur. Dalam satu pagi.

Pagi indah bermatahari bola voli, hatiku terbakar hangus dalam jilat panasnya. Padahal udara bahkan tidak panas. Kehilangan cinta yang sekejap tumbuh, lalu runtuh. Tanpa kesempatan sama sekali. Menyakitkan melihat semua langkahku diharuskan berhenti. Sakit sekali melihat kembali apa yang sudah kubangun sebelum ini harus dilontarkan dalam wadah pembinasaan. Sungguh aku tak bohong, sakit sekali kehilangan harapan yang kupercaya begitu kuat dalam singkat waktu yang belakangan ini.

Terkejut aku mendapati air mataku mengalir. Bahkan aku sempat berpikir aku tak memilikinya lagi. Tak kukira aku masih punya hangat hati. Tak kusangka dingin emosiku bisa dilenyapkan. Mencintainya begini dalam adalah hal yang mengagetkan.

Ah, lagi-lagi aku hanya bertindak bodoh. Yang menyedihkan, aku melakukannya dalam kesunyian. Sekali lagi, aku terluka dalam sendiri.

Apa yang harus kulakukan? Kini semuanya habis. Dalam sekejap inspirasiku menghilang.

Apa yang harus kulakukan?

.

.kkeut.

Iklan