Tag

Hal pertama yang kusadari saat membuka mata adalah hari hujan. Lalu ingatan tentang tadi malam datang, saat suara guntur terdengar bergemuruh dan saat aku terburu-buru mematikan komputer dan memutuskan sambungannya dengan sumber listrik rumah. Tidak pernah aku ingin berurusan dengan petir di kota ini. Terlalu beresiko. Aku sudah kehilangan alat elektronik, dan menyaksikan banyak lagi alat elektronik lain yang jadi korban.

Tapi hujan di pagi hari selalu membawa hal istimewa. Sendu, sejuk—kalau tidak dingin, tenang dan saat aku memperhatikan tiap helainya jatuh pasti mencium bumi, mataku akan menangkapnya bagai helaian satin. Aku suka hujan di pagi hari.

Meski itu menyebabkanku benci untuk beraktivitas. Aku ingin selamanya pagi dan selamanya hujan. Itu pasti akan menyenangkan. Tidak perlu meringkuk di bawah selimut karena dingin tidak cukup menggigit, sekaligus tidak perlu memperkosa kipas angin karena kepanasan. Ingin bercinta dengan kasur selamanya, tidak merasa lapar, tidak merasa rindu kamar mandi, hanya air hujan, udara kelabu, dan mata yang memandang. Rasanya menyenangkan.

Tapi seperti yang pernah beberapa kali—atau hanya sekali?—dalam tulisan-tulisanku, waktu tidak menunggu. Dia tak sudi menunggu. Dia diciptakan untuk berlalu dan dia tak kenal dengan konsep menunggu a la manusia. Manusialah yang hidup di dalam waktu, lalu mengenalnya, berusaha beradaptasi dengannya dan berusaha mengejarnya, mengisinya, memanfaatkannya. Tapi waktu tak mengenal manusia. Jadi… pagi pun berlalu.

Sebentar lagi siang datang, mungkin hujan akan berhenti, mungkin juga tidak, tapi pada akhirnya tubuhku yang seorang manusia akan harus merasakan apa yang dirasakan manusia lain. Haus, lapar, ingin ke kamar mandi, ingin bicara, ingin tahu tentang dunia, dan di sanalah aku, tergopoh berlari bersama waktu.

Tapi toh pagiku tetap indah. Dan aku suka pagiku kali ini.

.

.kkeut.

Iklan