Tag

1,164w. Flashfiction. nyamber Suara Hujan punya Adis.

~

Di balik jendela, bus kota berlalu lalang cepat, orang-orang berjalan cepat, angin meniup pucuk dedaunan—cepat; semua cepat. Aktivitas cepat di hari yang cepat. Semakin cepat bergerak, semakin sedikit waktu yang kau buang, semakin banyak hal yang kau dapat, semakin jauh kau dari rasa dingin. Mengamati kecepatan dari dalam ruangan seperti ini rasanya seperti menonton film.

Jendela kaca yang terlalu luas—selebar dinding restoran, terima kasih—membuatku lebih banyak melihat langit daripada aktivitas manusia lain. Benar, pikiranku menjadi lebih lambat saking luasnya langit. Lalu daguku mulai terangkat, benakku melayang.

Di suatu tempat di bawah langit yang seperti ini, suatu ketika—masa itu—ada hujan tropis yang turun deras di hari Minggu. Terlepas dari betapa mudahnya suara hujan dinikmati, hari itu aku sedang bekerja. Penat dan tenaga terkuras demi menyelesaikan proyek ambisius, dengan kontras hari itu menawarkan kenyamanan di dalam kantor. Tanpa orang lain, hanya aku dan kolegaku, kami berdua menikmati kebebasan yang manis berbatas dinding-dinding kantor. Aroma kopi menyeruak dan meski saat ini seharusnya aku lebih membaui aroma masakan Italia sebab di restoran Italia lah tempatku menunggu kolegaku yang baru, rasanya hidungku menyentuh uap kopi yang nikmat yang berbaur dengan bau khas stasioneri kantor.

Dalam benakku, masa itu ada di satu masa di belakang; lama, sedikit usang, berkesan—paling tidak saat ini. Kopi instan, parkiran kosong, langit kelabu. Basah.

Di sini langit selalu kelabu, meski tak selalu basah. Rasanya aku lebih memilih perasaan aman di dalam gedung daripada kelabu tak jelas yang meniadakan alasanku untuk tidak keluar ruangan.

“Kehl? Simon Kehl?”

Di hadapanku berdiri seorang lelaki besar bersetelan abu-abu. Konservatif. “Hallo, Guten Tag,” ucapku mantap menjabat tangannya.

Gut. Schön, danke. Christian Bechtolsheim. Sudah pesan minuman?”

“Belum, saya menunggu Anda.” Dan menurut saya Anda datang terlalu cepat.

Christian melirik jam tangannya, saat memandangku kembali, sorot matanya tidak meminta maaf, meski mulutnya bicara lain. “Maaf membuat Anda menunggu. Saya pikir saya sudah datang lebih cepat.”

Aku tersenyum menghalau ucapan permintaan maafnya. “Tidak masalah. Ini justru bagus bukan? Sepertinya kita akan jadi tim yang bergerak cepat.”

Christian tertawa bersuara namun cukup pelan untuk masih bisa disebut sopan. “Anda benar. Saya rasa saya bisa melihat kita akan bisa bekerja dengan efisien di masa depan.”

Sekali lagi aku tersenyum, melambaikan tangan padanya agar duduk, agar aku bisa duduk juga. Semacam deja vu membuatku agak termangu. Hanya sepersekian detik, terlalu cepat untuk menarik perhatian Christian, tapi sudah cukup untuk membuat separuh pikiranku melayang ke masa itu, masa yang tak bisa dengan tepat kukatakan kapan.

Suatu ketertarikan terasa jelas saat aku mengenalnya. Ketertarikan yang semakin kuat saat akhirnya kami bekerja sama dalam proyek yang melibatkan lembur di hari Minggu. Lembur yang membawakan suaranya yang kusukai dan menjembatani suaraku agar sampai padanya. Suaraku yang mendendangkan sesuatu mengenai hujan. Hujan yang indah, ditambah kenyamanan saat bersamanya, keletihan aneh yang justru menyenangkan, dan sebuah kecupan singkat yang seperti kepakan sayap capung di kulit kering.

Di masa ini seorang Christian sedang memberikan menu padaku dan aku tidak sempat terkejut dengan keberadaan pelayan yang tiba-tiba siap mencatat pesanan kami. Bahkan saat memesan, aku tidak ingat apa yang sedang kupesan. Oh mulutku tersenyum dan berkata iya pada perkataan pria di depanku yang mulai besok menjadi kolegaku ini, tapi pikiranku berkelana pada kolegaku yang berjenis kelamin perempuan, sangat menarik dan merebut semua kesan menyenangkan yang bisa kudapat saat itu.

Christian menanyakan sesuatu padaku, aku menjawab, tapi yang sibuk kupikirkan adalah sebuah kata, “Apa?” yang ditanyakan wanita itu padaku. Suaranya eksotis. Jauh lebih indah dari suara hujan.

Apa yang menghinggapiku saat itu aku tidak terlalu paham. Semua jiwa gombalku keluar, aku bertingkah layaknya remaja tanggung yang sangat ingin membuat cewek incarannya terkesan. Rasa ini, debaran ini, mendadak jelas kembali tergambar. Rasa itu muncul saat perempuan itu tertawa senang mendengar apa yang kukatakan, juga ketika dia memejamkan mata sejenak saat bibirku mendarat singkat di bibirnya. Kering dan hangat, berkebalikan dari hujan yang basah dan dingin. Kontrasnya membuat kami berdua terbalut reaksi kimia yang melonjak-lonjak. Oh ya, aku rasa kami berdua merasakannya.

Christian membicarakan keantusiasannya mengenai proyek kami ke depan. Aku mencoba mengingat apakah perempuan itu pernah mengatakan hal yang sama. Begitu banyak kolega baru setelah perempuan itu, begitu banyak juga proyek baru. Banyak hal-hal menarik terjadi di sekitarku, baik secara profesional maupun pribadi. Keberhasilan yang membuatku jadi sorotan utama selama beberapa saat bersanding dengan putus-sambung hubungan pribadiku dengan beberapa wanita cantik. Aku ingat Kanja, yang berambut cokelat dan sangat artistik, jiwa bebasnya membuatku mustahil melupakannya. Aku ingat jelas Ahn Peng, wanita Thailand eksotis yang ambisius dan sukses, tak mungkin aku lupa dengan prestasi yang pernah kami raih bersama. Lalu Caroline, yang membuat hatiku melembut lalu teremas pedih, aku tidak lupa sedikitpun perasaan yang masih dengan berani kusebut cinta untuknya.

Lalu kenapa perempuan itu bisa muncul? Aku ingat suaranya, aku ingat tawanya, aku ingat perasaan menakjubkan ini di suatu sore saat kami hanya berdua mengamati hujan sambil lembur. Tapi aku tak bisa ingat wajahnya. Seperti apa bentuk bibirnya? Aku hanya ingat kehangatannya. Apakah rambutnya panjang? Aku hanya ingat ada yang menempel di pipiku setelah kujauhkan wajahku darinya. Wanita seperti apa dia? Aku hanya ingat dia cukup mungil untuk membuatku menunduk menggapai bibirnya.

“Jadi besok kita bertemu pukul sembilan?”

Aku mengerjap terkejut. “Oh, santai saja,” terima kasih otakku, kau sudah mau bekerja sama untuk tetap (agak) fokus. “Walikota ingin tahu apa yang akan kita lakukan jadi kita harus menemuinya dulu. Pertemuan kita dengannya pukul sebelas siang, jadi santai saja. Besok masih hari pertama, sebaiknya kita manfaatkan waktu kita sebaik-baiknya sebelum diperbudak pekerjaan,” aku menjelaskan pada Christian.

Lelaki itu tertawa lebar dan sebuah, “Saya suka ide itu,” keluar dari mulutnya.

Aku menyaingi tawanya. Yah, kita lihat saja besok-besok apakah kami masih akan banyak tertawa atau tidak, pikirku sambil melemparkan pandangan ke luar jendela.

Langit itu masih kelabu. Kolegaku masih berganti-ganti. Proyek-proyekku masih menjadi alasan aku bisa hidup dengan layak. Dan saat ini aku masih memikirkannya, perempuan itu.

Setelah hujan yang satu itu, langit kembali cerah dan hujan-hujan yang lain datang. Pasti begitu, bukan? Sebab begitulah hidup. Beberapa dengan guntur dan halilintar, beberapa selembut kabut mistis. Waktu menuntun hidup terus berjalan dan aroma kopi tetap menyenangkan di sepanjangnya. Ingatan dan rasa yang sama rupanya memilih momennya sendiri untuk kembali dan bagiku momen itu adalah saat ini, saat satu-satunya penghubungku adalah langit putih kelabu. Seperti botol sampanye yang dikocok, sedikit celah di ujungnya melontarkan buih-buih menyenangkan yang menciprat ke berbagai arah. Begitupun kenanganku akannya, akan saat itu, akan perempuan itu. Seolah langit adalah lorong waktu yang sempit, aku menemukan kembali jejak-jejak kecil penghangat hati.

“Minggu. Kita bahkan bekerja di hari Minggu, Tere,” suaraku sendiri mendadak terngiang ketika aku baru memaksakan diri untuk tidak memandangi langit.

Kembali kupandangi langit sambil menahan mataku agar tidak melebar. Di sana, akhirnya titik-titik halus air hujan jatuh. Di sela-selanya, senyuman perempuan itu terbayang sempurna lengkap dengan seluruh fitur wajahnya.

Namanya Tere, dan rasaku hangat karena mengingatnya dengan sempurna sekarang.

 

.kkeut.

 

In a far land across
You’re standing at the sea
Then the wind blows the scent
And that little star is there to guide me
adhitia sofyan: after the rain

Iklan