Tag

360w. flashfiction. oriStory. http://wp.me/p1rQNR-qS. Kau di waktu itu…

~

Waktu itu kau masih kelas dua SMP. Kau sungguh membenci semua hal termasuk dirimu sendiri yang kebingungan menghadapi hidup. Kau baru tahu bahwa hidup bisa menjadi sangat rumit sementara kau sangat tidak suka pada kerumitan. Lalu kenapa kalau kau menyatakan rasa sukamu pada seseorang? Lalu kenapa kalau kau suka menunggunya di depan gerbang sekolah? Lalu kenapa kalau kau diam-diam mengikutinya pulang dan merasa kecewa saat dia berbelok ke kanan sementara kau masih harus menempuh jalan lurus? Apa semua itu mengganggu teman-temanmu? Apa kau menyakiti mereka dengan menyukainya? Apa mereka kehilangan uang saku kalau kau mengikutinya dan bukan mereka?

Kau tidak habis pikir, dan tidak habis tidak mengerti.

Terutama karena kau tidak mengerti kenapa kau bisa menyukainya seperti itu. Kenapa kau tak bisa melepaskan matamu darinya. Kenapa kau terus saja berdebar-debar saat melihatnya dan mengartikannya sebagai rasa suka. Kau tidak mengerti semua itu. Itu membingungkan tapi kau juga tak mampu mengenyahkannya.

Dan ketika kau mulai bisa menerima kegilaanmu sendiri, dia lulus. Dia naik kelas. Dia pindah sekolah ke SMU, sementara kau baru naik ke kelas tiga SMP. Dan dia masuk sekolah swasta yang katanya bergengsi tapi tak kau ketahui dimana adanya.

Intinya, kau kehilangan jejaknya. Kau tak melihatnya lagi dimana-mana. Kau terdampar dengan harapan yang membingungkan dan tak akan pernah terpuaskan.

Sekarang, memandangi sekolah lamamu, kau berpikir: betapa kecilnya sekolahmu sekarang, betapa sempitnya lorong-lorong yang dulu kau lalui sambil lari-larian, betapa tuanya dia.

Kau lupa sama sekali setahun penuh yang kau lalui penuh perjuangan mencari harapanmu kembali. Kau lupa setahun terakhir di sekolah itu yang kau lalui dengan megap-megap mencari semangat. Kau lupa bahwa kau sempat kepayahan menjalani cinta pertamamu yang tak pernah kemana-mana. Di satu titik ketika kau beranjak dewasa, kau merelakan semua kehilangan dan kerugianmu. Kau mensyukurinya karena merasa akhirnya kau telah jadi dewasa.

Sementara aku—aku—memori yang kau lupakan, menutup mata kembali setelah tadi sempat kau sentil bangun saat kakimu tiba di depan bangunan SMP tua. Aku tak akan mengguncangmu agar mengingatku. Pergilah kau menuju masa depanmu yang lebih lebar lagi. Aku toh tak akan kemana-mana. Sudah saatnya kau membiarkanku lagi mengendap dan tak bersinggungan dengan perasaanmu yang sudah bertumbuh berdua dengan usiamu.

Selamat berlalu 🙂

 

KKEUT.

Iklan