Tag

2,103w. http://wp.me/p1rQNR-qE

~

Namanya mundu. Begitulah yang aku tahu. Hijau bulat dan konon asam; dulu aku tidak tahu, karena tidak ada yang menjualnya dan orang tua mengatakan aku akan sakit kalau memakannya. Jadi dulu aku tidak tahu. Pohonnya tinggi, tinggi, sangat tinggi. Menjulang seperti pohon kapas. Rindang, dan menyenangkan bermain di bawahnya. Terutama dengan tanah lapang di hadapan jajaran pohon-pohon itu. Selalu menarik dan menyenangkan berada di sana, berandai-andai aku bisa memanjat pohon berbatang tunggal tegak sebelum bercabang di atasnya. Ketika angin semilir berhembus, aku masih ingat kesegarannya, namun lupa aromanya.

Setiap pulang sekolah aku melewati jajaran pohon mundu. Aku suka menatapi setapak semen di bawah sepatuku dan berpikir kalau aku akan sangat senang menyusuri tapak bersih itu jikapun dia tidak berakhir. Rok merah atau rok biru atau rok cokelatku terasa kaku dan aku tidak terlalu peduli biasanya. Yang aku pedulikan adalah buah-buah mundu. Keinginanku akan datang dan pergi seiring dengan larangan orang tua dan testimoni kakak-kakak kelasku yang tinggal tidak jauh dari pohon mundu. Terkadang saat aku yakin tidak ada yang mengamati, aku akan berhenti dan menengadah, mengharapkan ada buah mundu yang cukup matang dan sudah berwarna kuning jatuh di depanku. Agar aku bisa memungutnya, menyimpannya dalam tas, kemudian kucuci di rumah dan kunikmati. Tapi itu tidak pernah terjadi.

Kalau aku menyeberangi tanah lapang di hadapan jajaran pohon mundu, aku akan mencapai sawah kemudian bertemu dengan rumpunan alba. Aku tidak tahu, bahkan sampai sekarang, nama pohon itu yang sebenarnya. Aku hanya menyebutnya alba sebab ketika aku bertanya pada ayahku, dia menjawab itulah namanya. Aku percaya pada ayahku.

Aku bermimpi aku bisa membangun tenda di sela-sela batang ramping alba dan menikmati makan siang di sana sambil melamun. Dari dulu aku tahu aku suka melamun. Lalu aku berpikir bagaimana aku akan membangun tenda, sebab aku tidak bisa membangun tenda. Ayahku bisa, namun aku ingin berada dalam tendaku sendirian.

Saat aku bilang aku ingin berjalan-jalan ke hutan alba, orang tuaku sibuk menceritakan berbagai macam spesies ular di dunia. Aku tidak tahu ada ular sebanyak itu di dunia. Aku tidak pernah melihatnya tapi bukankah menyedihkan kalau kau tidak percaya pada orang tuamu sendiri? Maka aku pun mulai membayangkan ular-ular di bawah rerumputan yang mengalasi tanah hutan alba. Mendadak, berkemah tidak lagi terlalu membuatku antusias.

Aku kembali menyusuri jalan setapak di belakang sekolah. Pohon mundu tidak sedang berbuah, namun Gempa mengatakan dia sempat memakan buahnya saat terakhir pohon-pohon itu berbuah. Awalnya aku mengira nama Gempa itu keren, sampai aku tahu artinya. Yang kupikirkan kemudian adalah bahwa orang tua Gempa sangat menghargai memori karena mereka memutuskan mengenang memori dengan memberi nama anak mereka sesuai peristiwa yang terjadi saat temanku itu dilahirkan. Tapi aku tidak terlalu tahu peristiwa saat Untung, adik Gempa, dilahirkan.

Gempa mengatakan dia memanjat pohon mundu bersama teman-temannya, tidak bersama Untung. Untung adalah temanku yang sebenarnya, dalam tahun-tahun berikutnya, Gempa yang seharusnya kupanggil kakak, berubah menjadi hanya Gempa karena dia duduk satu meja jauhnya dariku di kelas yang sama. Tahun berikutnya lagi, aku hanya memanggilnya Gempa juga karena aku harus pindah kelas sementara dia tidak terlalu sering pindah kelas. Tapi aku selalu ingin berteman dengan Gempa, sebab mungkin dia akan mau mengambilkan buah mundu untukku kalau aku menjadi temannya.

Tapi teman perempuanku lebih banyak. Kami bermain karet, saling menyisir, bermain bola bekel, dan pura-pura menarik celana olahraga yang entah bagaimana dianggap kependekan. Aku, tidak terlalu menyadarinya.

Saat aku bermain dengan teman-teman perempuanku, aku ingin menambah koleksi orang-orangan kertasku. Aku ingin mengumpulkan biji bekel dari segala macam jenis. Aku ingin bertukan diari. Aku ingin berjalan-jalan bersama mereka meski tidak mengerti kenapa aku menginginkannya. Tapi saat pulang sekolah dan aku harus berjalan pulang sendirian karena arah rumahku paling berbeda dari mereka, aku akan kembali pada angan-angan buah mundu dan hutan albaku.

Ada harimau. Ada harimau di hutan alba. Harimau itu tidak berani mendekat ke pemukiman karena dia takut. Dan pohon alba tidak lagi terlalu diminati sebab orang-orang takut harimau akan memakan mereka kalau dia melihat mereka berkeliaran. Gempa tidak tampak dimanapun, apalagi Untung. Para petani tetap ke sawah dan aku tidak peduli pada mereka. Kalau petani tidak ke sawah, lalu apakah tukang becak yang harus pergi ke sawah? Ada harimau atau tidak, hidup di sekitarku tetap berjalan seperti biasanya. Sebab harimauku hanya ceritaku. Cerita yang kugumamkan dalam banyak versi setiap kali aku merasa iri karena tak berteman saat pulang sekolah.

Fajar adalah saudaraku. Akhirnya aku mengatakannya di bawah jajaran pohon mundu. Dia anak yang manis. Selalu berada di kelas yang sama denganku, dan tidak terlalu nakal seperti Eko atau Ardi. Tapi Fajar bermain bersama mereka dan aku bangga bahwa aku punya saudara yang berani berteman dengan Eko dan Ardi. Aku sudah lama mengetahu Fajar adalah saudaraku, tapi tak berani mengatakannya karena menurut ibuku lebih baik aku tidak mengatakannya pada siapapun. Aku menurut, sebab aku percaya ibuku. Tapi aku ingin Fajar tahu bahwa dia punya kedudukan berbeda di mataku sekarang setelah aku tahu dia adalah saudaraku. Ibunya memanggil ibuku dengan sebutan Kakak, jadi Fajar seharusnya juga memanggilku kakak. Urusan panggil-memanggil ini selalu membuatku antusias sebab aku pandai melakukannya.

Lalu aku mengikuti Fajar. Selama ini aku tidak terlalu banyak bicara dengan Fajar, tapi setelah mengetahu aku punya saudara yang tidak kusangka adalah saudaraku, aku jadi ingin sekali bicara dengannya. Banyak, banyak, bicara.

Tapi Fajar tidak berpikir sama denganku. Untuknya bicara dengan perempuan adalah aneh. Anak laki-laki hanya baik dan berteman dan bicara dengan anak laki-laki. Anak perempuan hanya main dan berteman dan bicara dengan anak perempuan. Kalau tidak nanti semua teman menganggap kalian pacaran. Sebenarnya aku tidak apa-apa kalau mereka mengatakan aku pacaran dengan Fajar, tapi bukankah aneh kalau kau pacaran dengan saudaramu sendiri? Jadi aku memutuskan aku hanya akan baik padanya dan berteman dan bicara dengannya sebagai saudara. Aku juga ingin main dengan saudaraku.

Di bawah pohon mundu Fajar berhenti dan menatapku sebal. Oh tidak, aku melihat dia ketakutan. “Hei, kau tahu kalau kau saudaraku?” aku langsung berseru karena tidak ingin dia membentakku.

Dia diam saja. Aku terus mengoceh. “Kau saudaraku. Kau adikku. Karena ibumu memanggil ibuku dengan sebutan Kakak, maka kau adalah adikku juga. Ternyata kita saudara.”

Aku tersenyum lebar ke arahnya dan dia tidak mau tersenyum. Aku sedih.

Lalu dia berbalik dan berjalan meninggalkanku. Aku kecewa.

“Lalu aku harus memanggilmu Kakak juga?”

Aku kaget mendengarnya bicara beberapa langkah jauhnya dariku. Aku senang. Senang sekali. “Eh?” aku agak bingung. “Tidak, tidak, aneh rasanya mendengarmu memanggilku Kakak. Kita seperti biasa saja. Kau selalu pulang lewat sini?”

Fajar mengangguk dan menoleh padaku. Ada senyum di wajahnya. Aku senang. Senang, senang, sekali. Saat senang, senang, sekali, aku bicara semakin banyak.

Keesokan harinya aku tidak bicara pada Fajar sedikit pun. Dan dia pulang lewat rute yang berbeda. Aku pulang sendirian lagi.

Aku kembali berhenti di bawah pohon mundu, memandang kepingin ke arah buah mudanya yang mulai bermunculan lagi, setengah berharap Gempa muncul dan menawarkan mengambilkan mundu untukku. Tapi aku tahu, bagaimana mungkin seorang anak lelaki menawarkan mengambilkan buah untukmu kalau kau tidak bermain atau berteman atau bicara dengannya di sekolah?

Pohon mundu tetap berjajar dan aku sudah memiliki ular, siput, kelinci, burung elang yang mondar-mandir setiap aku lewat di bawahnya. Aku sudah bosan dengan semua binatang itu. Aku masih menginginkan mundu, tapi pohonnya tak pernah mau memberiku satu jatuhan buahnya sekalipun.

Lalu teman perempuanku yang tak terlalu kukenal namanya menyapaku di jalan pada suatu hari. Dia memperkenalkan jalan baru padaku, dan aku suka saat aku merasa aku akan tersesat tapi tahu bahwa aku tidak mungkin tersesat. Aku bertualang bersama teman perempuan baruku itu.

Tapi hanya sebentar. Karena kemudian dia harus memunguti kaca sepulang sekolah. Dia tidak boleh main lama-lama dan aku harus kembali pulang sendirian.

Suatu siang saat aku keluar dari mulut gang, aku bernapas lega menyadari aku sudah keluar dari labirin. Dan itulah saat aku menyadari sesuatu. Aku tak akan pernah tersesat di sini. Aku tahu daerah ini, dan aku akan menemukan jalan-jalan yang kukenali meski aku masuk dan berbelok-belok dalam labirin. Aku tahu.

Aku tertawa. Tertawa kesenangan dan hari itu aku mandi sore tanpa disuruh.

Hari Minggu adalah ketika aku memutuskan menantang harimau, ular, siput, kelinci dan burung elangku. Aku berjalan ke sawah tanpa melewati pohon mundu, terus ke arah hutan alba. Aku tidak tahu bahwa saat dekat hutan alba sebenarnya kecil sekali. Tapi aku tidak terlalu memusingkannya. Aku berjalan, terus berjalan, kesenangan karena tidak kepanasan meski tak membawa payung. Dan akhirnya aku sampai di ujung hutan alba.

Di sana aku bertemu dengan rumpun jagung. Banyak sekali pohon jagung! Dan aku berpikir untuk mencuri jagungnya dan kubawa pulang untuk kurebus atau kubakar. Hanya saja, saat itu jagungnya belum ada yang tumbuh. Tapi tak mengapa, karena aku senang berada dikelilingin pohon jagung. Seperti dipeluk oleh dahan-dahan yang membikin geli. Aku terus berjalan di pematang sampai akhirnya dahan-dahan jagung menyingkir dan tak lagi memelukku.

Aku ganti disapa oleh pucuk-pucuk daun singkong. Ketika angin menyibak poniku. Pohon-pohon singkong kurus tinggi meliuk seolah ingin ikut melilit-lilit rambutku. Hei, mereka membentuk terowongan untukku, dan kali ini aku ingin berkemah di bawah pohon singkong. Kalau lapar aku bisa mencabut satu pohon dan membakar singkongnya di dalam ranting-ranting terbakar. Baiklah, lain kali aku akan membawa korek api bersamaku. Tapi sepertinya aku harus belajar cara menyalakan korek api terlebih dahulu.

Aku menunduk, merangkak, tegak di sela-sela pohon singkong. Bau tanah dan pepohonan sepertinya masih kuingat. Menenangkan dan kalau aku tak akan rindu pada ayah dan ibuku, aku ingin bermain di sana selamanya.

Aku tersesat!

Aku tersesat dan tak menemukan jalan pulang. Ladang singkong ini ternyata jauh lebih luas dari dugaanku. Pematangnya tak beraturan dan meliuk-liuk, aku tak mengenali daerah ini lagi. Dimana-mana pohon singkong dan aku tak bisa melihat cahaya matahari karena naungan dedaunan singkong yang semakin rapat. Kali ini aku berteman dengan cacing. Mereka keluar masuk lubang seperti permainan dan aku tak bisa menahan diri berusaha menutupi lubang yang mereka buat dengan ujung sendalku. Dan aku semakin jauh tersesat.

Kupikir cacing-cacing itu akan menunjukkan jalan pulangku dan aku bisa kembali ke rumah, tapi aku malah makin tersesat. Aku memikirkan ayah dan ibuku. Mereka pasti menangis kalau aku tidak pulang juga sampai malam nanti. Mereka akan mencariku kemana-mana dengan cemas dan sedih. Mungkin mereka akan bertanya pada teman-temanku dimana aku, tapi aku pergi bermain sendiri, maka aku pasti tak akan mudah ditemukan. Aku akan tersesat sampai bertahun-tahun dan mereka akan sangat kehilanganku. Oh tidak, aku ingin menangis. Aku akhirnya pasti bisa menemukan jalan pulang saat aku dewasa dan saat itu orang tuaku sudah lupa pada wajahku. Aku akan datang memeluk mereka dan mengatakan bahwa aku anak mereka. Aku benar-benar menangis. Aku akan menyebabkan banyak derita kalau aku menghilang. Tapi mungkin mereka akan semakin sayang lagi padaku setelah aku kembali.

Tapi lalu bagaimana aku akan makan dan berganti pakaian? Aku tidak mungkin kembali pada mereka dengan tubuh lebih tinggi tapi pakaian tetap sama. Tapi mungkin aku tidak akan tumbuh sebab aku kan tidak makan dan aku akan bertubuh tetap seperti anak kecil dan tidak perlu ganti baju. Tapi aku akan mati kalau tidak makan. Sekarang saja perutku sudah mulai lapar.

Angin berhembus dan pohon singkong tersibak. Sudah panas. Aku bangun dan pohon singkong di sekitarku hanya setinggi mata, lebih pendek dari jajaran pohon singkon di awal ladang. Kurasa aku akan tersesat lain kali saja. Kali ini sudah siang dan panas. Aku ingin main orang-orangan kertas di rumah sambil makan.

Aku sampai di rumah dan dimarahi ibuku karena wajahku hitam legam.

Aku selalu tersesat setiap kali bertualang dalam labirin, tapi aku selalu berhasil keluar dengan selamat. Aku bertualang di belakang rumah penduduk, di sekitar sumur terbengkalai, di jalan baru, di kuburan belanda, dan tak pernah lagi mendatangi hutan alba, sawah jagung dan ladang singkong.

Pohon mundu dan buahnya yang selalu kuinginkan terlupakan dalam labirin benak yang tidak lagi terlalu kukenali.

 

Langkahku jauh lebih lebar. Jalan setapak jauh lebih kecil. Dan jauh lebih penuh lumut. Aku mendongak dan merasakan panas matahari yang tidak ramah. Tanah lapang berganti jajaran rumah. Hutan alba sudah lenyap. Sawah jagung tidak tampak. Ladang singkong berganti semen untuk menjemur padi. Setengah mati aku berusaha mengingat bagaimana aku bertahan sebagai anak kecil di sini. Aku mengingat Gempa dan Untung dan Fajar, tapi seperti apakah wajah mereka? Aku mengingat rasanya berada dilingkupi dinding dalam labirin gang sempit, tapi seperti apakah dinding-dinding itu? Tak satupun ada ingatan yang terpanggil. Semuanya terlupakan. Hidupku sekarang terlalu penuh dengan dilema dan keserakahan orang dewasa, aku tak bisa memanggil aku yang dulu dengan harimau, ular, siput, dan kelinci.

Pohon-pohon munduku menghilang tanpa jejak. Dulu aku tak tahu rasa buah yang konon asam itu; kurasa sekarang aku tak akan pernah tahu. Mundu? Apa itu mundu? Aku juga tidak begitu tahu, tapi aku kehilangannya. Gedung dan pendingin ruangan yang mudah didapat sama sekali bukan mundu.

Aku ingin melihat mundu. Sekali lagi. Berharap buah dan pohon itu tidak benar-benar lenyap.

 

KKEUT.

Iklan