195w. Drabble. OriStory. http://wp.me/p1rQNR-q9

~

It was when you picked that knife then let me see the tip.

Ujungnya meruncing aku tahu aku dalam masalah karena kau tidak tampak hendak menghentikan tanganmu. Pisau itu berkilat dan aku tahu sakitnya saat kau menghujamku dengannya. Parahnya, pisau itu lebar dan tebal. Maka kau tidak hanya menyobek sebaris tipis kepangan otot dada kiriku, tapi juga mengacaukan sisanya. Sekitarnya. Tanpa kau sadari kau membuat semuanya berdarah. Di sana, saat kau tersenyum tanpa sedikit pun merasa bersalah, jantungku kau hancurkan.

Merah gelap warna darahku. Hampir tanpa sadar aku melihatnya meluruh turun menuruni tubuhku. Seolah seluruh selku memiliki telinganya masing-masing, mereka mendengar bagaimana aliran itu bergerak. Berdesir, menebarkan kesadaran akan rasa sakit yang timbul. Namun jantungku telah tercabik. Berkali setiap kau menatapku. Sambil tersenyum. Dengan senjatamu teracung gagah.

Kalau jatuh bisa menyebabkanku mati, maka aku memohon itulah yang terjadi. Sakitnya tak terperi. Aku tak mengerti bagaimana kau bisa tersenyum melakukan kejahatan serupa ini. Aku ingin mati. Karena ini sakit sekali. Tiap tusukan yang kau tujukan lagi dan lagi, membuat jiwaku semakin menipis. Harusnya jatuh bisa membunuh.

Then I’m more than willing to die for falling to you while I said, “Jadi beginikah rasanya jatuh cinta padamu?”

 

KKEUT.

Iklan