Tag

, , ,

1,842w. fluffy. HoMinOC. Harusnya mereka makan malam bersama. http://wp.me/p1rQNR-q1

~

“Cicipi ini, Hyung.”

“Naaah… aku masih kenyang.”

“Ayolah.. cicipi ini lalu ambil jatahmu. Piring masih banyak, sebanyak spaghetti dan sausnya. Aku sengaja membuat banyak.”

Yunho mengangkat kaleng bir di tangannya dan menyesap isinya dengan nikmat. Kepalanya menggeleng lemah. Setelah minumannya tertelan, dia berkata setengah mendengus, “Kubilang aku sudah makan tadi.”

“Kapan? Aku pikir kita sepakat makan malam bersama!” Changmin protes.

“Ya, tapi kan aku bilang aku akan datang sangat telat, jadi kupikir kau sudah makan duluan.”

Changmin cemberut. Tangannya tidak mau turun. “Aku bikin saus carbonara campur udang kesukaanmu!” dia berkata kesal.

Wajah Yunho tampak bersalah. Dia mengangkat kaleng birnya lagi tapi memutuskan lebih baik dia menenangkan Changmin. “Baiklah, baiklah, aku mencicipi punyamu saja. Aku tidak sanggup kalau harus makan satu porsi. Coba kucicipi,” dia membuka mulutnya dan memajukan lehernya mendekati sendok Changmin.

Changmin berusaha menyembunyikan cengirannya dan menyuapi Yunho satu gulung spaghetti di garpu di tangannya.

Yunho mengunyah dan matanya melebar, “Mmm, enak. Kau memang pintar memasak, Changdola.”

Changmin tersenyum malu-malu, tapi saat berkata kata-katanya jauh dari seseorang yang pemalu, “Makanya, makan ya? Aku ambilkan satu porsi.”

Yunho menggeleng. “Tidak. Kekenyangan. Suapi aku saja.”

Changmin tampak kecewa, tapi dia tahu kalau Yunho tidak benar-benar kekenyangan, lelaki itu tidak akan benar-benar menolak. Perut Yunho pasti sudah terasa hampir meledak kalau menolak sampai segitunya. Mempertimbangkan hal itu, Changmin tidak memaksa. Dia melanjutkan makannya sendiri.

Yunho meraih ke dalam tas yang dibawanya ke dapur, belum sempat sama sekali diletakkan di tempatnya. Changmin memanggilnya begitu dia datang dan dengan patuh dia mendatangi Changmin di dapur. Pemandangan di sana membuatnya tersenyum. Dapur yang hangat, aroma masakan menguar di udara, dengan Changmin di depan kompor berpakaian santai berupa celana training dan sweater buluk. Kesenangan Yunho terpancar semua di matanya. Sekarang, dia mengeluarkan kaleng-kaleng bir dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. Satu dia bawa dan langsung dibuka di hadapan Changmin. Lelaki yang lebih muda berhenti menyuap spaghetti dan memajukan bibirnya saat Yunho mengulurkan kaleng bir untuk disesap.

Changmin ber-“ahh!” nikmat setelah menelan minumannya. Dia kemudian menggulung spaghetti lagi di garpunya, tidak terlalu banyak, dan mengulurkan pada Yunho untuk dimakan. Yunho menerima suapannya tanpa ragu-ragu. Sekali lagi pria itu memuji, sekali lagi mata Changmin berbinar senang mengetahui masakannya dipuji.

Mereka berdiri berhadapan dengan nyaman. Yunho bersandar di konter dapur dengan masing-masing tangan memegang satu kaleng bir terbuka; yang kiri miliknya, yang kanan milik Changmin. Di hadapannya Changmin memegang sepiring besar spaghetti yang isinya tinggal separuh. Menyuapi Yunho sekali setelah dia sendiri menyuap tiga hingga empat kali. Yunho berkomentar tentang rasa udang yang jelas dari saus yang dibuat Changmin, dan Changmin menimpali dengan kemungkinan bahwa mungkin dia perlu menambahkan lada hitam. Yunho meminum birnya lagi, Changmin menggumamkan pertimbangannya menggunakan jahe bubuk lain kali. Yunho berkata dia tidak suka rasa jahe yang terlalu kuat pada spaghetti, lalu Changmin berkata mungkin jahe tidak terlalu signifikan, jadi dia tidak akan menambahkan jahe.

Lampu dapur berwarna putih dan terang, semuanya tampak jelas dan hangat. Panci berisi spaghetti matang di atas kompor, rak cuci piring berisi dua spatula tidak terpakai bekas memasak saus dan merebus mie spaghetti, Changmin yang berpenampilan nyaman, Yunho yang tampak gagah dengan pakaian yang dipakainya untuk keluar tadi.

“Bir,” Changmin meminta pada Yunho.

Dengan sigap lelaki yang lebih tua mengulurkan tangan kanannya. Changmin menyesap minumannya dan ada bir yang tercecer dari sudut bibirnya. Yunho tertawa. Dia meletakkan bir Changmin dan meraih lap kemudian mengeringkan dagu Changmin. “Mian,” ujarnya merasa sedikit bersalah.

Changmin tampak tegang. “Kenapa kau mengelapku pakai itu?”

Yunho tampak bingung dan mulai meraba kesalah lain yang mungkin dilakukannya. “Eh?” tanyanya bingung.

“Itu lap kompor, Hyung! Paling tidak harusnya kau memikirkan tisu untuk mengelap dagu seseorang,” Changmin mengeluh. Dia cemberut lagi.

Yunho melemparkan tatapan ke arah meja, menggigit bibirnya dengan malu karena lagi-lagi dia membuat Changmin kesal. “Mianhae… Aish, lagipula aku tidak tahu ini lap kompor!”

“Kalau kau sedikit saja mau beberes dan memperhatikan kata-kataku, kau pasti tahu,” Changmin tidak melepaskan Yunho begitu saja.

Yunho benar-benar tampak sangat bersalah.

Changmin mendesah. “Sudahlah, habiskan ini,” perintahnya pada yang lebih tua. Di tangannya yang sekarang teracung di depan mulut Yunho, tergulung satu suap spaghetti terakhir. Yunho menurutinya lebih karena rasa bersalah.

Changmin memperhatikan dengan seksama saat Yunho menghisap mie spaghetti yang kepanjangan, lalu meletakkan garpunya di piring untuk membebaskan tangannya agar dia bisa mengelap sisa saus yang membuat bibir Yunho belepotan. “Ibwa! Aku mengelapmu pakai tangan,” Changmin, menjadi magnae yang selamanya kejam, mengingatkan Yunho lagi atas kesalahannya.

Yunho protes, “Tapi aku baru pulang! Aku takut tanganku lebih kotor karena aku bahkan belum sempat mencuci tangan!”

Changmin melotot, “Kau membuka birku dengan tangan! Eww, Hyung!” sekali lagi dia menemukan kesalahan Yunho.

“Hya! Kau yang menyuruhku mendekat dan langsung memberiku makan!” Yunho kali ini berusaha melawan, meski dia tahu kecil sekali kesempatannya menang melawan Changmin.

Changmin sudah hendak protes ketika mendengar suara mendengus dari arah meja. Dia menoleh lalu memutar matanya. Yunho tampak malu dan nyengir salah tingkah.

“Teruskan saja,” ujar seorang wanita dari meja. Sejak Yunho pulang dan memasuki dapur dia terus mengamati keduanya berinteraksi. Bukan Yunho tidak sadar dia ada di sana, bukan Changmin tidak tahu dia sedang mengamati.

Dia menumpukan satu pipinya ke satu tangan dan pandangannya berbinar-binar melihat HoMin berinteraksi. Ekspresinya seolah sedang melayang.

“Tambah?” tanya Changmin padanya saat dia melihat piring di hadapan wanita itu sudah kosong.

Dia menggeleng tidak, kemudian menurunkan kepalanya hingga tergeletak di atas meja, matanya terus menatap HoMin.

Melihat itu Changmin melotot. “Hya!” lelaki itu mengacungkan garpu ke arahnya. “Jangan berpikir yang bukan-bukan!”

Dia tertawa malas, tapi mengangguk. Changmin tahu pasti arti anggukannya, “Ya, ya, terserah… Insting HoMin-shipperku pasti benar.”

“Ini bukan apa-apa, kau tahu? Kami biasa begini!” Changmin berseru lagi, kali ini sambil membawa piringnya ke kompor, mengambil satu porsi lagi untuk dirinya sendiri.

Yunho berdeham dan duduk di hadapannya, “Benar, ini sudah biasa,” ujarnya mendukung Changmin.

Dia berkata malas dengan suara kecil, “Kalian bahkan saling mendukung.”

Suara piring Changmin bertelekan dengan meja terdengar, lalu suara kursi ditarik, dan suara tubuh Changmin terhempas ke atas kursi. Tak lama kemudian, ketiga orang di ruangan itu mendengar suara nikmat seseorang menghabiskan porsi makan malamnya yang kedua.

“Bagaimana,” Yunho berkata, “Bagaimana kau bisa makan semua itu sendirian, tidak hanya tidak kekenyangan, tapi sekaligus tidak gemuk? Dan perutmu!”

“Karena aku keren,” jawab Changmin dengan mulut penuh.

Dua pasang bibir mendengus mendengar jawabannya. Changmin tidak peduli, dia malah mengambil sepotong tomat dan mengangsurkannya pada satu-satunya wanita di ruangan itu.

Dia menggeleng. Changmin melihatnya tajam, “Makan, kau butuh sayur,” paksanya.

Dengan malas dia mengangkat kepalanya untuk menerima suapan dari Changmin, kemudian meletakkannya kembali seperti tadi. Yunho mengambil kaleng bir Changmin yang tertinggal di konter dapur, lalu meletakkannya di samping tangan Changmin.

Changmin melanjutkan makan dengan nikmat, bertekad membuat perutnya kenyang. Itu bukan masalah melihat banyaknya sisa spaghetti di atas kompor.

“Kau mau aku yang mencuci?” Yunho bertanya.

Changmin menggeleng. “Tidak perlu. Kau juga tidak benar-benar makan. Cih, padahal sudah jelas-jelas aku mengirimimu sms, makan malam bersama.”

“Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menolak saat diajak makan. Tidak sopan itu namanya,” Yunho menjelaskan.

Changmin menunduk mengambil suapannya lagi. “Paling tidak kan kau bisa memberitahuku.”

“Maaf, maaf,” Yunho berkata sambil menyusupkan sejumput rambut Changmin yang mengganggu matanya. “Rambutmu sudah panjang lagi. Mau kau potong lagi?”

“Molla,” jawab Changmin singkat. “Haruskah kupotong?” dia malah bertanya.

“Tidak juga tidak apa-apa, cordi noona senang kok menata rambutmu,” jawab Yunho sambil kembali meneguk birnya.

Changmin berkata lagi-lagi dengan mulut penuh, “Kau terlalu banyak minum akhir-akhir ini, makanya perutmu semakin gendut.”

Wajah Yunho berubah. “Aku hanya perlu berlatih lebih banyak di gym!”

“Tapi kau tidak,” Changmin melawan enteng dengan kenyataan.

“Berisik. Paling tidak kau bisa mengajakku kalau ke gym dan bukannya meninggalkanku sendirian lalu mengkritikku!” Yunho bersungut-sungut.

Di bawah lampu putih yang bersinar terlalu terang, dua pria tampan saling berbantahan dengan sayang. Isi ejekan yang satu sebenarnya adalah perhatian dan isi bantahan yang lain sesungguhnya adalah ungkapan terima kasih. Mereka saling menatap kesal karena yang satu terlalu banyak mengatur, atau yang lain terlalu seperti anak kecil, atau masing-masing terlalu peduli untuk tetap diam tapi terlalu sebal karena harus memprotes terus-menerus. Lalu Yunho mulai menggoda Changmin karena terlalu menjiwai perannya sebagai istri, dan Changmin memprotes bahwa kalau Yunho menganggapnya sebagai rumah, paling tidak dia harus lebih memperhatikan rumahnya.

Mereka terlalu dekat. Terlalu manis untuk tidak diperhatikan. Terlalu  mengundang cinta untuk diabaikan. Seolah ingin memeluk kebersamaan yang hangat itu, pendar lampu putih membentuk halo di sekitar kepala mereka. Wanita yang selama ini terus memperhatikan mereka tersenyum, dan mulai menemukan arti baru dari kata ‘indah’.

~

Pada akhirnya  Changmin tidak mampu menghabiskan semua spaghettinya. Dia mengemas semuanya ke dalam kotak dan memasukkannya ke lemari pendingin.

“Bagaimana dengan dia?” Yunho bertanya dari arah meja. Ujung telunjuknya menusuk pipi wanita yang sudah terlelap sekian lama.

“Dia akan menginap. Tinggalkan saja dia di sini, kau boleh ganti baju dan beristirahat kalau mau,” Changmin menjawab sambil mengeringkan panci bekas memasak saus. Dia berpikir bahwa Yunho sudah bersikap manis dengan menungguinya selesai makan dan beres-beres. Dan dia juga cukup puas Yunho tidak memaksa membantu yang biasanya justru berakhir dengan lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Yunho tidak beranjak dan malah meletakkan dagunya di atas tangan mengamati wajah wanita yang sedang tertidur itu.

Changmin selesai dan dia membungkuk di atas Yunho, ikut memperhatikan wajah wanita itu. “Apa yang kau lihat, Hyung?”

“Ani, hanya memperhatikan,” Yunho menjawab singkat.

“Memperhatikan apa?” tanya Changmin sekarang ganti melihat Yunho. Kecemburuan dapat terdeteksi di sana.

Sebelum Yunho sempat menjawab, wanita itu bergerak dan matanya membuka. Saat dia menemukan kepala HoMin yang dekat sekali dengan bias lampu dari balik badan keduanya, dia tersenyum. “Aaah… aku sudah di surga… HoMin…” erangnya halus.

Changmin terpaku. Terpaku karena kata HoMin dan karena suara si wanita. Dia menegakkan tubuh dan pindah berjongkok ke sebelah wanita itu. Sekarang kepalanya sejajar dengan kepala wanita yang matanya kembali terpejam itu. Changmin ingin mengeluh lagi, tapi dia tidak bisa, karena wanita itu tersenyum sekarang. Mungkin dia sudah setengah tertidur lagi dan sedang bermimpi tentang HoMin yang melakukan entah apa.

Yunho memandang Changmin tajam. “Jangan memandanginya begitu. Kau menakutkan.” Bibirnya cemberut saat melihat Changmin tidak peduli.

“Masuk kamar sana, Hyung,” lelaki yang lebih muda malah berkata.

Yunho menohok kepala Changmin pelan. Changmin menghela napas setengah putus asa, setengah sayang. Dia bangun setengah lalu mencium pipi si wanita penuh rasa sayang. “Eotteohkaji?” gumamnya. “Kenapa aku harus punya pacar HoMin-shipper?” lanjutnya memandang si wanita dengan putus asa.

Yunho mendengus. Dia memutar mata lalu bangun. Mulai lagi, pikirnya. Changmin selalu mengeluhkan fetisme pacarnya, tapi tidak pernah benar-benar melarangnya berhenti menjadi HoMin-shipper. Dipikir-pikir lagi, Changmin justru tampak menikmati saat pacarnya memandang mereka, HoMin, penuh pujaan. “Hya! Pokoknya aku tidak mau mendengar bunyi-bunyi mencurigakan malam ini, mengerti?”

Changmin tidak menanggapi, dia sedang membayangi bibir pacarnya dengan bibirnya sendiri.

Yunho berkata lagi sebelum benar-benar pergi, “Hotel, Changdola. Jangan mengganggu tidurku malam ini!” Yunho memutuskan.

“Mwoya?! Apa kau tidak bisa melihat dia sudah tidur?!” Changmin membantah tanpa benar-benar peduli.

“Ya~ ya~” Yunho menanggapi seratus persen tidak percaya.

Ketika suara pintu kamar Yunho sudah terdengar menutup, Changmin tersenyum dan mencium pipi pacarnya sekali lagi sebelum mengangkatnya dan membawanya ke kamarnya sendiri.

Senyumnya melebar sayang saat wanita di lengannya mengalungkan lengan ke lehernya dan membisikkan namanya. Hanya namanya.

 

KKEUT.

 

[a/n: Inspired when a German male friend invited us for dinner and then a Russian (also male) came very, very late, and the German insisted the Russian should try first before saying no. And yeah, the scene was more or less the same unless for some parts.]

Iklan