958w. http://wp.me/p1rQNR-pA

…/

Pernikahan mereka direncanakan orang tua. Kakek-nenek buyut mereka adalah sahabat dekat yang sangat dekat dan mereka ingin bersatu dalam ikatan kekeluargaan. Sayang generasi-generasi orang tua mereka selalu lahir dengan jenis kelamin yang sama atau berbeda jenis kelamin tapi memiliki jarak usia yang tidak lazim untuk disatukan dalam pernikahan. Sampai akhirnya mereka lahir. Semuanya bertepatan, waktu dan kesempatannya. Mereka bahkan tidak punya hak untuk bicara apapun. Saat mereka beranjak remaja dan terlibat dalam hubungan romantis dengan orang lain, mereka tetap tahu pada akhirnya mereka akan berakhir bersama. Tidak peduli secinta apapun mereka pada pasangan mereka pada saat itu, takdir jodoh mereka sudah bocor di tangan orang tua sehingga mereka tidak punya keinginan untuk buang-buang tenaga melawan kehendak orang tua. Di usia 25 dan 29 keduanya menikah.

Hidup seseorang tidak bisa digeneralisasi. Sedekat apapun hubungan kedua keluarga mereka, faktanya adalah mereka tidak mengenal satu sama lain selain teman masa kecil. Mereka memiliki lingkup pergaulan yang berbeda, pergi ke sekolah yang berbeda, kuliah di dua kota yang berbeda, bekerja dalam bidang yang berbeda. Mereka adalah individu yang berbeda. Menyatukan keduanya dalam pernikahan adalah kekacauan.

Namun toh mereka tetap bertahan dalam kekacauan. Dalam kecanggungan mereka menyentuh satu sama lain setelah malam pernikahan. Dalam kegelisahan mereka menerima pasangan hidup mereka sambil berusaha melupakan dia-dia yang lain yang sempat membuat hati mereka membuncah bahagia atau jantung mereka berdegup terlalu liar. Dalam kecemasan mereka melangkah untuk mengerti sifat masing-masing. Dalam keraguan mereka belajar saling menerima. Tahun pertama pernikahan adalah petualangan yang hampir seperti mimpi.

Tahun kedua dan ketiga adalah yang terberat. Ada hal-hal yang tidak mereka percayai dimiliki oleh yang lainnya. Bagaimana seorang suami berpikir bahwa pasar adalah mutlak keahlian seorang wanita termasuk mengangkut-angkut belanjaan yang terkadang bisa mematahkan punggung? Bagaimana seorang wanita bisa terus bicara demi protes tentang hal sama sekali tidak penting seperti letak keset yang miring di depan pintu kamar mandi? Tak bisakah suami lebih pengertian? Tak bisakah istri lebih memahami kelelahan suami? Dan mertua adalah bisul di pantat. Bayangan perceraian terasa bagai oase.

Tahun keempat, masalah mayor datang dari orang tua. Apa yang salah sampai empat tahun menikah belum sekalipun pernah ada tanda-tanda kehamilan? Siapa yang salah? Apakah suami tidak terlalu tokcer? Ataukah rahim istri bermasalah? Bahkan ketika empat dokter telah ditanyai, orang-orang tua memutuskan tetap harus ada “Kyai Anu” untuk jadi dokter kelima dan mengatakan letak kesalahannya. Hasilnya padahal sama saja: “Belum diberi kepercayaan oleh Sang Pencipta.” Tahun ini mereka belajar bahwa mereka telah hidup bersama dan kebersamaan itu telah ditakdirkan untuk menghadapi masalah-masalah semacam ini. Saat mereka berbaring lelah di tempat tidur setelah menerima telepon sindiran atau kunjungan dadakan dari mertua masing-masing, mereka menemukan kekuatan dan alasan untuk bertahan di genggaman tangan masing-masing.

Tahun kelima adalah saat kehamilan terwujud. Bahagia. Hampir tidak percaya. Dan rasanya tidak terlalu buruk menerima semua perhatian dari semua orang. Sampai keguguran terjadi.

Tahun kelima adalah saat harapan ditebas sebelum benar-benar berkembang. Anehnya meski tidak sempat memiliki, rasa sakitnya demikian menyengat. Mereka tidak punya muka untuk memandang muka yang lainnya. Terlalu menyakitkan melihatnya terluka. Bagaimanapun, mereka punya lima tahun terakhir yang dihabiskan bersama, belajar, membangun kepercayaan, menciptakan rasa, menggantung kelemahan, bersandar pada kekuatan yang lain, dan itu semua dilakukan secara intensif. Hari demi hari. Lalu bagaimana bisa mereka tidak terluka melihat yang lain terpuruk? Kali ini perpisahan rasanya adalah anestesi. Sayangnya daya kekuatan anestesi tidak pernah selamanya.

Masih di tahun kelima, kedua keluarga selalu bertemu dalam ketegangan. Bukannya mereka tidak ingin mengakhiri ini, tapi mereka tidak mampu. Ada makna yang lebih dari istilah ‘setajam silet’ yaitu bahwa sisi-sisi silet sama tajamnya dan apapun yang dilakukan, dikatakan, dipikirkan oleh banyak orang, semuanya setajam silet dari keempat sisinya.

Mereka melarikan diri. Mereka lelah dengan tekanan dan lelah dengan kepedihan. Mereka berpikir bahwa melihat yang lain terluka lebih menyakitkan daripada menahan luka sendiri. Maka mereka mengunci diri di rumah. Tidak membiarkan siapapun menginterupsi. Mencabut kabel telepon, mematikan ponsel, keluar rumah hanya untuk kepentingan yang sangat mendesak, bahkan memilih cuti dari kantor. Sakit, alasan sang istri; menunggui istri yang sakit, alasan sang suami. Dan memang itulah yang mereka lakukan. Sebagai wanita si istri mengalami kelelahan mental dan fisik setelah kehilangan. Sebagai pria si suami hanya merasa sehat ketika istrinya telah kembali sehat. Pada akhirnya, mereka memang hanya bisa berakhir bersama.

Ketidakromantisan seorang pria realis terlupakan dan tak lagi melukai perasaan seorang wanita idealis-romantis yang kebetulan adalah istrinya. Pengertian selalu datang meski jarang bersama perhatian. Suaminya selalu menyediakan apa yang dibutuhkannya meski tak selalu apa yang diinginkannya. Istrinya selalu berada di sana untuknya meski dia selalu mengira dia tak membutuhkannya. Kali ini keduanya heran mengapa mereka bahkan bisa memikirkan perpisahan.

“Hei,” dia berkata menatap mata yang selama lima tahun terakhir senantiasa menantikan respon darinya. Tubuh feminin melekat hangat dalam pelukannya. “Aku… kalau tidak ada kamu… sepertinya akan hancur.”

Dia berkedip mendengar perkataan barusan. Dia sudah menyerah entah sejak kapan bahwa suaminya akan mengatakan sesuatu yang mengandung rasa sayang. Bagaimanapun mereka tidak punya pengertian romantis yang terjalin saat mereka dinikahkan. Dan ucapan itu, adalah sesuatu yang sangat layak ditunggu selama lima tahun. Maka alih-alih menangis seperti yang diinginkannya, juga karena ternyata tak ada sama sekali air mata yang ingin keluar, dia melakukan apa yang selalu dihindari dilakukannya. Yaitu menjadi wanita yang berinisiatif. Untuk pertama kalinya, dia percaya bahwa tidak apa-apa kalau dia menginginkan sesuatu, karena suaminya akan mengajaknya bicara dan tak akan mendorongnya menjauh hanya untuk menolaknya. Dia berkata, “Aku ingin anak. Ayo kita buat lagi.”

Tahun kedelapan, mereka terlalu lelah mengurus si kecil yang selalu haus perhatian. Malam-malam mereka selalu diisi dengan tidur lelap karena kelelahan. Pertengkaran tetap terjadi, ketidakcocokan selalu ada, dan keindahan di balik semua itu selalu ditemukan lagi dan lagi. Pada saat-saat tak terduga, malam mereka berakhir dengan bisikan, “Kalau ada kamu, aku bisa,” yang dilanjutkan dengan kecupan mesra atau sekedar pelukan hangat.

Cinta? Apa itu cinta?

 

/…

Iklan