Tag

,

Author: BeeNim
Pairing: HoMin
Length : 1371w. Oneshot
Rating/Genre
: AA/brotherhood.
Ost: Do Dashi Neoegereo (Outro) by Alex
http://wp.me/p1rQNR-pf

~

Aku bukan tidak mau tahu. Hanya saja aku sudah tahu semuanya dan itu membuatku tak bisa melakukan apapun. Aku tidak tahu dengan orang-orang, tapi saat kau melakukan kesalahan yang menyakitiku, aku selalu menemukan bahwa kau melakukan hal yang salah karena aku yang membawamu pada kesalahan. Maafkan aku.

Aku tak pernah jadi contoh yang baik untukmu. Perkelahian, mencuri, mengirim barang-barang berbahaya, bahkan aku pernah membawa senjata api ke rumah sementara aku tahu kau bisa saja mengambilnya dan membahayakan dirimu sendiri. Maafkan aku yang terlalu ceroboh dan impulsif. Aku tak tahu bagaimana menjadi kakak yang baik.

Yang kuinginkan sejak awal hanya kebahagiaanmu. Aku tak pernah merasakan kebahagiaan yang lebih dari melihat dan mengetahui kau bahagia. Aku ingin membelikanmu robot-robotan setiap saat, agar selalu mendapatkan senyummu; aku ingin memasakkanmu ramen selalu karena aku tahu kau paling suka makan ramen; dan aku ingin menepuk-nepuk punggungmu sampai kau tertidur lelap meski tak nyaman karena tempat tidurmu terlalu kecil untuk diisi kita berdua.

Tapi apakah aku akan selalu punya waktu untuk mencarikanmu robot-robotan sekarang? Apakah aku tega melihatmu sakit karena terus-menerus makan ramen? Apakah kau tidak akan tidur kalau aku tidak pulang dan menepuk-nepuk punggungmu? Changmin, bagaimana Hyung tidak kecewa melihatmu kecewa karena Hyung pulang dengan tangan kosong? Bagaimana hati hyung tidak sakit melihatmu menangis merajuk ingin makan ramen sementara Hyung memaksamu makan sayur? Bagaimana Hyung tidak pedih melihatmu meringkuk di tepi sofa menunggui Hyung pulang.

Meskipun… Meskipun Hyung sibuk karena Hyung ingin punya banyak uang untuk membelikanmu semua yang kau suka. Meskipun Hyung hanya khawatir seperti orang gila takut kau sakit. Meskipun Hyung jadi sibuk karena dengan begitu kita bisa punya tempat tidur yang cukup besar untuk kita berdua. Tapi tetap saja, harusnya itu tidak membuatmu menatap sedih saat Hyung keluar rumah.

Aku benci Hyung! Aku mau Hyung yang dulu! Aku mau Hyung yang dulu!” serumu jengkel karena lagi-lagi aku harus pergi dan kau tahu kali ini pun aku harus pulang malam. Demi apapun aku tidak ingin membuatmu tinggal sendirian, Changmin. Tapi menjadi bagian dari geng itu tidak sebebas yang dikira orang-orang, dan aku tidak bisa meninggalkan mereka karena aku belum cukup kuat untuk melindungi kita berdua kalau mereka tahu aku hendak melarikan diri.

Dibenci olehmu sangat menyakitkan.

Changmin, Changmin adikku tersayang, mengertilah bahwa kau yang terpenting untukku. Semua kulakukan untukmu karena tak ada lagi yang kupunya selain kau. Kekhawatiran itu akan selalu ada bahwa pada akhirnya hanya tinggal kau sendirian tanpa aku, atau aku tanpa kau, dan kita akan menjadi gila karena kehilangan satu-satunya manusia yang kita sayangi. Aku tak ingin mati duluan karena aku tak mau meninggalkanmu kebingungan sendirian menghadapi dunia, dan aku sama takutnya kau tinggalkan kalau tiba-tiba kau pergi. Jangan tinggalkan Hyung, Changmin-a. Hyung mohon.

Tapi tetap saja itu tidak adil. Mungkin suatu saat aku akan tertembak atau terpukul besi di kepala, atau tertikam pisau, dan kau tak tahu sama sekali, terus menungguku di rumah yang lampunya tak kau nyalakan karena menungguku pulang. Apa yang harus kulakukan, Changmin? Apa aku harus membawamu kemanapun agar aku selalu bisa melindungimu?

Aku menyayangimu dengan seluruh hidupku. Biarpun mereka bilang kau terbelakang, meski dokter bilang jantungmu tidak normal dan bisa berhenti kapanpun, walau aku tetap harus main petak umpet denganmu yang sudah 25 tahun, aku tak bisa tidak menyayangimu. Saat tanganmu menggenggamku dulu, waktu kau kau masih keriput dan baru bisa menangis, aku tahu kau sudah memiliki seluruh hidupku. Dijual oleh Eomma, ditelantarkan oleh panti asuhan, aku tetap bisa menjagamu di sisiku, tapi semakin dewasa aku tahu perpisahan kita semakin dekat.

Tolong kuatlah untukku, Changmin-a. Temukan orang lain yang kau sayangi dan menyayangimu sama sepertiku agar saat kita terpisah, kau punya orang lain untuk sandari.

Tidak, memikirkannya saja membuatku ingin memelukmu dan dan tak mengikatmu jadi satu denganku selamanya. Tapi itu tidak mungkin kan? Tak peduli seberapa banyak vitamin yang kuberikan untukmu, kau tetap semakin lemah setiap hari. Tak peduli memalukannya aku dituduh pengecut oleh bosku, aku tetap akan terancam bahaya setiap hari.

Matamu tertutup, kelopak matamu bergerak-gerak, tanganmu tak mau melepaskan tanganku. Bagaimana mungkin selama ini aku punya hati meninggalkanmu di rumah sendirian, Changmin-a? Kakak macam aku ini? Meskipun saat tidak bersamamu aku merasa hatiku tidak di tempatnya, melainkan tertinggal bersamamu, tetap saja aku tak mengerti bagaimana setiap pagi aku tega meninggalkanmu yang cemberut sambil meremas robot-robotan kesayanganmu. Maafkan aku, Changmin-a. Maafkan aku.

Changmin-a, kalau aku memintamu untuk pergi bersamaku sekarang, apa kau mau melakukannya?

Tapi aku tak akan tega melihatmu kehabisan napas kalau aku mengajakmu gantung diri. Aku tak bisa melihatmu kesakitan kalau memutuskan untuk mengiris nadi kita besama. Aku tak sanggup melihatmu kejang kalau aku membuatmu minum racun. Lalu apa yang harus kita lakukan, Changmin-a? Aku sangat menyayangimu sampai bingung rasanya bagaimana lagi aku bisa menjagamu.

Kau bergerak merapat ke arahku. Tubuhmu mempercayaiku bahwa dengan aku di sampingmu, duniamu adalah yang paling aman. Benarkah begitu? Kenapa saat ini aku sangat takut? Rasanya ada yang mencengkeram jantungku, membuatnya hampir lumat karena pikiran kita akan terpisah semakin kuat belakangan ini.

Betapa aku berharap suatu hari nanti aku bangun dan melihatmu tersenyum padaku, lalu bicara padaku dengan normal, memberi kabar bahwa kau mendapat pekerjaan yang layak dan bahwa kau sudah bisa mempertahankan dirimu sendiri di hadapan orang lain, dan bahwa jantungmu tiba-tiba sudah sekuat orang normal. Changmin-a, maafkan aku menginginkan itu. Maafkan aku menyesali kondisimu, maafkan aku menginginkanmu menjadi kuat dan lepas dariku.

Karena aku mungkin akan meninggalkanmu lebih dulu. Aku tak tahu. Aku tidak pernah ingin begitu. Kalau boleh, aku ingin kau selamanya bergantung padaku, tapi hatiku sakit memikirkan bahwa aku tetap bisa direnggut darimu kapan pun dan kau akan terlunta-lunta sendirian. Maka dari itu aku berharap ada keajaiban yang bisa membuatmu bertahan meski tanpaku. Aku berharap kau bahkan tak terlalu menyayangiku agar tak perlu sedih saat aku harus pergi.

Bisnis sedang buruk, Changmin-a. Kawanan musuh sedang terus mengincar kami. Masalah dimana-mana, dan aku ketakutan kalau suatu saat mereka menemukan tempat ini, rumah kita, mereka akan membuatmu menderita demi membuatku menderita.

Dan dengan itu pun aku masih tetap tidak bisa meninggalkanmu. Karena kalau aku pergi, akan dengan siapa kau nanti?

“Hyung~”

Sejak kapan kau membuka matamu? Apa kau melihat semuanya? Semua yang kau pikirkan, apa kau mengetahuinya?

“Hyung~” kau membelalak melihatku diam saja.

“Oh, Changmin-a. Wae geurae?”

Kemarilah, Changmin-a, jangan terpaku begitu. Bukankah kau bilang kau ingin tidur dengan dipeluk oleh Hyung? Ayo, terima uluran tanganku dan tidurlah lagi. “Tidur lagi, Changmin-a”

Kenapa menggeleng? Apa kau sudah tidak mengantuk lagi?

“Eodi appeu, Hyung?”

“Hyung tidak sakit.” Wajahmu kenapa? Kenapa kau cemas begitu?

“Kenapa Hyung nangis?”

Tapi Hyung tidak menangis, Changmin-a…

Oh.

Oh, jadi Hyung memang menangis. “Terima kasih sudah mengusap air mata Hyung, Changmin-a”

Ah, terima kasih juga pelukannya, adik kecil.

“Hyung mimpi buruk?”

Betapa sempurnanya kau sekarang, Changmin. Tubuhmu sudah tegap meski hanya aku yang paling tahu seberapa lemah kau sebenarnya. Punggungmu, ketika kuusap seperti ini begitu lurus dan ramping. Rambutmu lebat dan kau lelaki yang tampan. “Oh, Hyung mimpi buruk,” aku hanya bisa menjawabmu sambil tercekat, kagum tentang bagaimana kau bertumbuh dan terharu akan perhatianmu.

Apa yang kau gumamkan? Ah… lagu tiga beruang? Apa kau mencoba menenangkanku, Changmin-a? kau selalu minta dinyanyikan lagu setelah terbangun tengah malam karena gelisah. Apa kau sedang menenangkan Hyung sekarang?

“Hyung, sini!”

Ah, seringaianmu membuat Hyung harus tersenyum.

Saat aku menurutimu, menyusup dalam uluran lenganmu, aku ingin menangis lagi. Apa harapanku tiba-tiba terkabul? Apakah kau sudah jadi kuat sekarang? Bolehkah aku mengendurkan perhatianku darimu? Apa kau sudah akan baik-baik saja kalau aku tidak ada?

“Hyung… bobo… sudah malam… Hyung bobo…”

Menggigit bibir, aku menengadah dan mengecup pipimu. “Terima kasih, Changmin. Selamat malam…” kataku, dan sekali lagi kau menyeringai, kemudian mengecup kepalaku.

“Changmin nggak akan bobo, biar Hyung nggak didatengin monster lagi dalam mimpi.”

Aku mengangguk. “Oh…” Kupeluk pinggangmu dan kupejamkan mata. Jangan pergi, Changmin-a. Dan jangan biarkan Hyung pergi meninggalkanmu.

Tidak butuh waktu lama untuk merasakan kau sudah bersandar padaku lagi. Mulutmu terbuka dan liurmu hampir menetes waktu aku menegakkan tubuh dan balik membiarkanmu bersandar padaku. Tanganmu otomatis mencari tanganku dan dengan senyum kugenggam kecemasanmu itu.

Hyung di sini, Changmin-a. Sampai entah kapan, Hyung di sini. Paling tidak Hyung akan terus mengusahakan agar kita selalu bersama. Karenanya… karenanya, tetaplah jadi Changmin-ku selamanya.

Adikku tersayang.

 

KKEUT.

Iklan