Tag

,

698w. http://wp.me/p1rQNR-p9

…/

New York City, can be so pretty from the bird’s eye view.

Suara Shim Changmin mengalun sengau serak dari earphone yang lekat di telinga. Keren. Ih keren deh ah. Lagu ini sudah jadi favorit saya sejak saya dengar pertama kali. Usia saya waktu itu masih 14 tahun, dan lagu ini disetel Papa di pagi hari. Sejak itu sampai malam saya terus mendengarkan lagu yang sama. Saya sih tidak peduli siapa penyanyinya, atau apa artinya; bagi saya musik itu bahasa universal. Saya terpesona, lalu saya menikmati. Kemudian saya beranjak dewasa, begitu pula kemampuan bahasa Inggris saya; dan dengan itu saya makin terpesona pada lagu ini. Kemudian lagi, kemampuan saya menilai lelaki sudah mengalami penjurusan, dan idola-idola Korea mulai merangkak di permusikan Indonesia; dan dengan itu juga, saya menemukan Changmin menyanyikan lagu ini. Waktu itu Changmin masih kecil (yah, tidak jauh beda dari saya lah) suaranya tidak bagus-bagus amat seperti penyanyi aslinya (ya, saat itu saya sudah tahu siapa penyanyi aslinya), tapi karena dia menyanyikan lagu ini, saya jadi suka sekali sama dia. Lalu sekarang, yang saya inginkan adalah Changmin ada di sini, di sebelah saya, menyanyikan lagu ini langsung di telinga saya.

Keduanya berpegangan tangan, wanita yang satu mengamati saat wanita yang lain menikmati es krimnya dengan senang. Senyumnya panas dihias sorot matahari senja yang hampir pamit. Kontras dengan awan hitam yang mengancam hendak nangis ngambek sebentar lagi. Oh tidak, keduanya tidak ada yang sadar tentang sekeliling mereka, sekalipun jika itu adalah menabrak dan mengganggu orang lain yang sedang berjalan. 

= =’’’ Terlalu. Cewek-cewek ini punya mata atau tidak sih. Sungguh terlalu. Terlalu sekali sebab saya jadi teralihkan dari suara Changmin. Saya sebal. Ih Changmin, coba kamu ada di sini, jadi saya tidak perlu lah yang namanya teralihkan konsentrasi dari membayangkan kamu. Padahal saya sedang asyik-asyiknya hendak mengulurkan tangan memeluk pinggang kamu, lalu membiarkan kepala saya bersandar di bahu kamu. Kita itu kalau dijejerkan bisa jadi pasangan serasi loh, Changmin. Karena saya tinggi tapi proporsional sama tinggi kamu. Kepala saya bisa nempel di pundak kamu dan kamu bisa memeluk saya dengan nyaman. Saya mau telinga saya dipenuhi suara kamu yang berbisik pada saya. Lalu kita berdua tertawa pelan dan geli karena hanya kita berdua yang tahu dimana letak lucunya, juga hanya kita yang tahu bahwa setidak lucu apapun bisikan-bisikan kita, kita tetap punya alasan untuk tertawa.

Jalannya masih mantap, tapi Carlsberg di tangannya menandakan bahwa dia tidak sedang berjalan dengan hati ringan. Terlalu risau dengan dirinya sendiri untuk memperhatikan gadis berpenyumpal telinga yang berjalan sambil setengah melamun.

Changmin Oppa… ah tunggu dulu. Tidak, saya tidak boleh memanggil Changmin dengan Oppa. Usia kami kan sama, jadi saya akan memanggil dia Changmin ssi saja. Mantap. Changmin ssi, kenapa suara kamu tidak selembut om penyanyinya Extreme? Kalau begitu kan kita lebih bisa romantis. Ini Jalan Braga loh, Changmin ssi. Kamu dan saya, kita berjalan bersama, bergandengan tangan. Eh tapi kamu mah tidak suka yah kan? Jalan bergandengan begitu maksud saya. Kalau kita benar-benar jalan berdua di sini, kamu pasti sudah masuk keluar toko makanan. Dasar kamu perut gentong. Tapi kok kamu tetep seksi sih Changmin ssi? Aduh, coba yah, Changmin ssi beneran konser di Indonesia, nanti terus jalan-jalan ke Bandung. Lalu ketika angin dingin seperti ini bertiup, kita bisa saling mendekat biar hangat.

“KAMU!” tanpa sadar dia menjerit sambil buru-buru membekap mulutnya sendiri. 

Ya ampun, norak sekali dong. Mengganggu khayalan saya saja. Bisa tidak ya, orang-orang ini tidak merusak aura romantis Jalan Braga? Kenapa banyak sekali orang hari ini di Jalan Braga?! >’’<

Sepasang kekasih berhenti di depan sebuah cafe kecil di pinggir jalan. Kalo gitu teh kita makan disini dulu bentar, kumaha? dari pada sakit besok,” ajak si cowok.

Nah, gitu loh maksud saya. Kan enak melihat yang manis romantis begitu di jam-jam seperti ini. Ooh, Changmin ssi, kapan kita begitu?

When I first kissed you, that’s when I knew, I was in loooove~

Ah, maaf yah, saya jelas tidak bisa tidak mendesah kalau membayangkan Changmin mencium saya.

“Neng, ngapain, Neng? Itu kenapa tiang listriknya diciumin begitu?

Ah sialan ah ini tukang parkir mah. Tidak tahu apa saya sedang bercumbu dengan Changmin sekalipun cuman cangmin KW-5732 berwujud besi berkarat yang di atasnya ditempelin kabel yang bisa nyetrum? Bikin malu aja!

/…

Iklan