Tag

279w. http://wp.me/p1rQNR-p2

…/

Kau hanya ingin hidup jujur. Apa adanya, tak banyak intrik. Kau mau semuanya berjalan tanpa lipatan ragu atau sesal, sehingga kau tak perlu memikirkan yang tidak perlu. Kau berteman, bersama teman, setiap harinya kau hidup dengan baik. Tinggal di rumah kayu sederhana yang hangat, orang-orang datang dan pergi dengan senang. Kau tak pikirkan apapun yang bukan milikmu dan karenanya kau bahagia dan tercukupi. Cukup dengannya hidup bersamamu, saling menjaga dan memperhatikan.

Meski kau mengenalnya sejak tangisan pertamanya di dunia, kau terus menganggapnya berharga. Karena itulah dia. Hartamu, tak ternilai. Kau ingin membawanya hidup dengan kebahagiaan yang kau rasakan. Dikelilingi orang-orang baik, dijaga serta disayang oleh semuanya. Kau inginkan dia membuka mata di pagi hari dengan harapan dan menutup mata di malam hari dalam senyuman.

Saat kau melihatnya tersenyum, rasanya keinginanmu membawanya terbang sudah terpenuhi.

Hari demi hari, sunggingan senyum yang sama ada di wajahmu saat melihatnya. Tak pudar setiap menyambutnya memasuki rumah dari luar. Terus ada ketika dia berceloteh riang tentang teman, tentang permainan, tentang Bolu si anjing pincang, tentang air danau yang dingin, tentang bukit batu yang jadi tempatnya bersembunyi, tentang keramba yang terombang-ambing, tentang harinya.

Mari hidup bahagia, harapmu setiap pagi.

Dan doamu terjawab setiap pagi juga.

Hari ini kau kembali berdoa, mari melanjutkan hidup bahagia.

Dan dia menjawab harapmu, “Ya, Mak. Nanti Ucok kasihkan kerudung merahnya buat Butet.”

Dia tersipu memegangi amanatmu yang melambai-lambai tertiup angin usil dari jendela. Kau demikian bahagia. Hidupmu indah sekali dan kau senang dia akhirnya akan membawa kebahagiaan baru di rumah kalian.

Mari hidup bahagia, aku, kau, dan dia, mari jangan berubah, doamu bertambah.

Pada akhirnya kau hanya ingin hidup apa adanya, karena kau tahu itulah kebahagiaanmu, dia, dan calon mantumu.

/…

PS: omagadgwnulisapaini?!

Iklan