Tag

405w. http://wp.me/p1rQNR-oQ

…/

Hey, kau tahu? Orang tua melarangmu untuk keluar di saat maghrib. Kenapa? Tentu saja karena kau akan dibawa kalong wewe kalau kau keluar maghrib-maghrib.

Kalong wewe? Kau tidak tahu kalong wewe? Itu perempuan berambut panjang yang suka menculik manusia di saat maghrib. Bukan hanya rambutnya yang panjang, matanya tajam dan hampir merah, bibirnya tersenyum mengerikan, tapi banyak orang terhipnotis kalau melihatnya. Hobinya memakai baju panjang berwarna putih, hanya saja karena sering berkeliaran saat maghrib, bajunya sering bersemburat jingga.

Kau tidak bisa menolak kalong wewe kalau dia sudah mengulurkan tangannya padamu, karena saat dia menentukan kaulah yang akan dibawanya serta dan kau telah melihat rupanya, jiwamu telah berada dalam cengkeramannya.

Kau akan berakhir dimana saja. Di kuburan kota sebelah, di bawah pohon keramat tujuh kabupaten dari sini, atau ditemukan menggigil kedinginan di puncak gunung. Kau tentu saja tidak akan merasakan yang aneh-aneh saat dia membawamu karena dia menguncimu dalam khayal; khayalmu, khayal orang lain; khayal dunia. Dia ahli menyimpan, kau tahu?

Tapi sebenarnya ada satu rahasia. Kau mau mendengarnya?

Baiklah, karena kau mengangguk, akan kuceritakan padamu rahasia kalong wewe.

Kalong wewe sebenarnya adalah wanita yang tersesat. Dia tidak tahu dimana rumahnya dan dia kesepian mencari rumahnya seorang diri. Dia menculik karena bingung dan hanya ingin ditemani. Dia sedih saat memikirkan harus kedinginan sendirian mencari rumahnya malam-malam. Saat manusia yang dibawanya sedang sibuk dengan khayal ciptaan kalong wewe, kalong wewe akan mengamatinya sambil tersenyum miris. Dia selalu tahu bahwa pada akhirnya manusia yang dibawanya akan kembali, meninggalkannya juga seperti semua yang lain.

Tapi tidak usah khawatir. Dia bukan pemaksa. Dia selalu memulangkan manusia bawaannya. Meski sendirian biar kedinginan, rasa hampanya tidak hilang hanya dengan menyimpan manusia.

Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyentuh pipiku?

Jangan tersenyum begitu. Kau mengerikan kalau tersenyum begitu.

Kalau begitu kau jangan menangis. Aku tidak apa-apa tidak kau pulangkan. Untuk menemanimu. Lihat, matamu sudah merah menahan tangis. Padahal kau cantik sekali dengan sinar matahari membias di sosokmu. Kilau air di bawah sana membuatmu seperti bidadari yang melayang-layang. Sebentar lagi malam, haruskah kita mulai mencari rumahmu, wahai Kalong Wewe?”

Dasar manusia bodoh.

Diamlah di sini, biar kupanggil manusia lain untuk ke bawah jembatan menjemputmu. Ah, kenapa kau harus memotong ceritaku? Sekarang bertambah kerjaanku mencari cara mengembalikanmu.

Aku benar-benar harus terbiasa dengan sosok ini, agar aku tahu kapan aku akan menangis atau tidak.

Sudahlah, selamat tinggal, manusia bodoh. Ingat, jangan terjun ke sungai. Kau tak akan mau jadi kalong wewe penerus jejakku. Percayalah.

/…

Iklan