412w. Ost: Politics by Coldplay. http://wp.me/p1rQNR-oC

…/

Pegang tanganku dan jangan lepaskan.

Ketika aku tersenyum padamu mengatakan semuanya baik-baik saja, bisakah kau ulurkan tanganmu dan menyingkirkan ujung rambut yang menusuk-nusuk mata? Kau harus percaya bahwa aku tidak dengan sengaja menaruhnya di sana agar kau menyingkirkannya untukku, tapi meski kau melihatnya, kau tetap tak akan melakukan apapun kan? Kau mengatakan dengan sinar mata mengagumi, “Bagus. Aku harap semuanya selalu baik-baik saja untukmu.” Dan setengah hati, aku berterima kasih atas harapan indah yang kau harapkan untukku.

Pegang tanganku dan jangan lepaskan.

Aku berhasil dan karenanya aku bersuka. Aku ingin meloncat ke arahmu kemudian memelukmu. Meletakkan dagu di dadamu, menengadah mengharapkan pujian dari mulutmu. Alih-alih, aku mencengkeram penghargaanku kuat-kuat, agar tak perlu merasakan tangan yang kosong karena tak mampu meraihmu. Yang kau lakukan adalah mengacak rambutku, berseru lebih keras dari yang bisa kulakukan, dan tertawa lebar sekali, “Aku tahu kau bisa melakukannya! Kau hebat!” Dan dengan harapan tak terkabulkan, aku tersenyum malu, berpaling menyembunyikan kekecewaan.

Pegang tanganku dan jangan lepaskan.

Saat kau berceloteh padaku apa yang kau alami. Saat dahimu berkerut karena kesal. Saat kau merasa duniamu tidak berjalan seperti yang kau inginkan. Peganglah tanganku, rasakan aku di sisimu, berusaha memberimu tempat bersandar. Mungkin kau ingin menggenggam tanganku kencang-kencang demi melepaskan rasa gemasmu pada dia yang membuat harimu bagai hari terburuk sedunia? Atau mungkin kau perlu menunjukkan seberapa antusiasnya kau melihat dia mencoba hal baru dan kau senang karena mendapat kesempatan melihatnya sengsara? Atau barangkali saja… kau sekedar ingin menyentuh sesuatu, karena tanganmu tak bisa diam saat kata-katamu mengalirkan ekspresi emosimu. Mataku rasanya terus memancarkan keputusasaan ketika tanganmu hanya mendesir sedikit kulitku. Itu pun tak sengaja.

Pegang tanganku dan jangan lepaskan.

Jangan hanya menatapku dengan tatapan yang tak kumengerti. Jangan membuatku menduga-duga apa yang kuinginkan terjadi. Jangan membuatku berdebar menanti sesuatu yang tak kunjung datang, atau malah mungkin tak akan datang. Tolong, jangan membuatku bingung. Karena aku suka saat kau menatapku dan memberiku harapan dan menambahkan debaran di dalamnya. Aku suka semuanya karena kau yang melakukannya. Tolong, mengertilah. Temukan pengertian di balik sikapku. Datang dan raih aku. Karena aku ingin bersamamu.

Pegang tanganku dan jangan lepaskan, harapku.

Tapi bukankah aku hanya wanita bodoh yang tahu pasti seberapa sukanya kau bermain dengan perasaanku? Kenapa pula aku masih memintamu saat tahu yang akan kau berikan hanya godaan? Meski telapak tanganku kosong, kau hanya akan mencoleknya dan tersenyum sombong menyuruhku mengikutimu dengan bingung, kan? “Tolong pegang tanganku dan jangan lepaskan,” bisikku.

Apa? Aku nggak denger kamu ngomong apa,” suara dan sosokmu berlalu meninggalkanku di belakang.

/…

Iklan