Tag

463w. http://wp.me/p1rQNR-ox

…/

Eh, ada bungkus kacang, Nuna berpikir sambil bergerak memungut bungkus kacang. Siapa orang yang membuang bungkus ini? Harusnya dia tahu menjaga kebersihan sebagian dari iman.

Ah omong kosong, pikir Nuna lagi. Kalau mau menjaga kebersihan, manusia harus mulai mau menahan diri untuk tidak terus ‘membuat’ sampah.

Saat penutup tong sampah berayun-ayun setelah Nuna menekan bungkus kacang pungutannya tadi ke dalam tempat itu, mata Nuna beredar memperhatikan sekeliling. Masalah sampah tidak akan pernah beres kalau himbauannya selalu: “Buanglah Sampah Pada Tempatnya”. Itu benar-benar himbauan tidak berguna. Menciptakan kebersihan itu harusnya dipicu dengan himbauan: “Cobalah Kurangi Menyampah”.

Coba sekarang, saat berjalan-jalan bersama keluarga, semua anggota keluarga ingin merasa senang dan mulai makan sesuatu. Bahkan saat makanannya dibawa dari rumah, dibuat sendiri, tidak dibungkus pakai plastik dan membawa serbet untuk mengelap tangan dan bukannya tisu yang bisa langsung dibuang, pada akhirnya tetap akan ada sampah sabun cuci piring atau deterjen yang digunakan untuk mencuci bekas tempat makanan dan serbet. Ujung-ujungnya, sampah akan selalu ada dan artinya ‘masalah’ yang harus dipikirkan terus ‘dibuat’ setiap hari oleh manusia. Belum lagi tidak semua manusia mengerti (atau sekedar mau tahu) makna: buanglah sampah di tempatnya.

Tunggu, Nuna terlalu kritis kah? Berpikiran seperti itu tidak akan ada ujung pangkalnya. Bahkan ketika semua manusia demikian patuh pada himbauan dan semua hanya mau membuang sampah pada tempatnya, masalah sampah tidak akan pernah selesai. Karena artinya akan dibutuhkan sangat banyak tempat sampah untuk memenuhi kebutuhan membuang sampah. Lalu untuk produksi tempat sampah itu sendiri menghasilkan produk sampah. Dan ujung-ujungnya tetap sampah.

Intinya, menurut Nuna, tempat sampah bukan solusi.

Matanya melirik jam besar bergerak pelan. Pelan sekali sampai-sampai Nuna khawatir jam itu sebenarnya rusak. Apa pemerintah benar-benar peduli pada kelestarian jam besar simbol kota ini?

Nuna memutar mata. Lagi-lagi dia berpikir terlalu kemana-mana.

Cih, tapi bahkan sudah sampai begini pun, jam itu masih belum menunjukkan pukul 19.00. Masih satu menit lagi, ugh!

Nuna ingin bergerak, Nuna ingin berjalan, Nuna ingin mencari. Nuna sudah tidak sabar. Tapi jamnya belum menunjukkan waktu yang dinantinya. Dan Nuna tidak boleh kecepatan, tidak boleh terlambat juga. Pukul 19.00 adalah waktunya, dan Nuna akan bergerak pada pukul 19.00.

Tiga puluh detik lagi.

Lima belas detik lagi. Nuna mulai bersemangat, senyumnya mulai muncul.

Sepuluh detik lagi.

Nuna tidak pernah berhenti berpikir bahwa pacarnya bodoh. Lelaki mana yang sampai umur 28 tahun masih mengisi acara kencan dengan main petak umpet? Dan kali ini Nuna terpaksa membuang waktu kencan untuk memikirkan sampah. Hanya karena dia bosan jaga dan harus menunggu lampu hias warna hijau di jajaran warung di depan Jam Gadang menyala untuk mulai mencari sang pacar. Pacar bodoh, pacar konyol, pacar sembarangan, bikin Nuna terpaksa memelototi jam menunjukkan pukul 19.00, waktu lampu hijau harusnya menyala.

Dua detik.

Satu,

Yak…!

SIAAAL!!! Lampu hijaunya terlambat!

Tiga detik kemudian Nuna berlari seperti terbang mencari sang pacar.

/…

Iklan