Tag

, , , , , ,

Author: BeeNim
Pairing: YeMin
Length : 2,368w. Oneshot
Rating/Genre: G/brotherhood
Synopsis: “Yesung ssi dan aku tidak terlalu cocok satu sama lain,” ucap Sungmin dalam wawancara di Sukira saat promosi album 5 Jib.
A.N.: ini FF untuk lomba dan tidak menang, jadi saya publish di sini 🙂
http://wp.me/p1rQNR-oa

~

-Sukira, Agustus 2011, Promosi 5Jib Album-

“Aku canggung menghadapi Yesung ssi.”

“Aah, geuraeyo?” Leeteuk bertanya meyakinkan.

Ne. Benar sekali. Sama seperti aku menghadapi Kangin ssi, aku juga canggung menghadapi Yesung ssi. Tidak berarti aku membencinya. Geunyang, kami hanya… berbeda, jadi rasanya aneh saat aku bersamanya,” aku Sungmin.

Sungmin memperhatikan Yesung sama sekali tidak menatapnya, tapi kepala lelaki yang lebih tua itu mengangguk-angguk menyetujui. Jadi sudah dikonfirmasi. Mereka berdua memang tidak cocok.

Baru kali ini Sungmin mengungkapkan ketidakcocokan mereka di hadapan publik. Dia sendiri juga heran kenapa baru sekali ini dia mengatakannya setelah… tunggu, berapa tahun? Tujuh tahun kah? Yah, mungkin sekitar itu. Tujuh tahun debut dan baru sekarang dia membiarkan orang lain tahu tentang ketidakcocokan yang dia dan Yesung rasakan.

Bukan berarti Sungmin sengaja merahasiakannya, hanya saja selama ini dia lebih suka tidak berurusan dengan Yesung. Sempat tinggal bersama dengan pria itu di lantai sebelas sepertinya cukup membantu untuknya terbiasa dengan keberadaan Yesung. Mereka berdua sama-sama lebih menyukai dunia mereka sendiri dibandingkan menghadapi ketidaknyamanan yang ada di antara mereka. Mungkin itulah sebabnya dia lebih bisa menolerir Yesung dibandingkan Kangin, mereka punya perbedaan mereka sendiri, dalam versi lebih tenang.. damai.

Tidak, tidak, mungkin bukan itu juga. Kalau dipikir lagi, Yesung itu terlalu aneh untuk dipikirkan. Ya, Sungmin yakin itulah alasannya kenapa dia susah untuk akrab dengan lelaki itu. Apa? Menyentuh pipi dan bibir para anggota yang sedang tidur? Suka asal ngomong? Berlebihan? Ya, pasti itu. Semua orang harus menjaga sikap mereka di hadapan orang lain, tapi kenapa Yesung justru tampak bangga ditertawakan? Pasti karena itulah Sungmin malas mendekati Yesung.

Tapi lelaki itu sayang sekali pada Kyuhyun. Meski kedua orang itu selalu berdebat dan bertengkar tentang apa saja, tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian Yesung dari Kyuhyun. Bahkan dia, teman sekamar si magnae, tidak seperhatian Yesung tentang masalah kesehatan Kyuhyun. Yesung selalu merecoki Kyuhyun dengan pertanyaan-pertanyaan tidak penting dan seringkali membuat adik kesayangan mereka itu uring-uringan, sementara dirinya selalu bertindak sebagai kakak yang pengertian. Bukankah seorang kakak itu sudah seharusnya mengerti dan memanjakan adiknya? Lalu kenapa terkadang interaksi Kyuhyun yang akrab dengan Yesung membuatnya kesal?

Sungmin mengamati orang yang sedang dipikirkannya dengan seksama. Lagi-lagi laki-laki aneh itu sibuk menguasai telinga Kyuhyun, membisikkan sesuatu di sana. Sungmin tidak tahu apa dan tidak perlu tahu—tidak mau tahu juga, dia hanya terus mengamati Yesung yang tampak berusaha setengah mati meyakinkan Kyuhyun akan sesuatu. Pikirannya berkembang lagi.

Sebenarnya kenapa dia tidak bisa bilang bahwa dia biasa saja terhadap Yesung? Sekarang, saat mengingat kalimatnya sendiri tadi, Sungmin merasa penasaran. Mungkin seharusnya dia membuat daftar kebaikan dan keburukan Yesung. Kebaikan Yesung itu… perhatian, biarpun hanya pada orang yang benar-benar diperhatikannya—atau menguntungkannya; tulus, meskipun hanya pada mereka yang benar-benar berarti dalam hidupnya; bersuara bagus, yah lelaki itu tidak mendapat julukan penyanyi nomor satu tanpa alasan dan sepertinya hanya itu kelebihannya yang paling menonjol; tahu banyak hal—yang aneh dan kalaupun bukan hal yang aneh biasanya itu hanya sok tahu.

Sebentar, apakah dia baru saja membuat daftar kebaikan Yesung sekaligus keburukannya? Manusia macam apa dia yang berusaha menetapkan status pertemanan berdasarkan daftar kebaikan seseorang? Manusia macam apa Yesung itu sehingga daftar kebaikannya tidak bisa lepas dari daftar keburukannya?

Sungmin menggelengkan kepalanya dengan lelah. Kenapa juga dia harus memikirkan Yesung?

“Aku tidak apa-apa,” sebuah suara mengagetkan Sungmin. Yesung.

“Apa, Hyeong?” Sungmin bertanya pada lelaki itu, kebingungan. Apanya yang tidak apa-apa?

“Kau bilang kau tidak suka padaku, aku tidak apa-apa,” Yesung menjelaskan maksudnya.

Sungmin menganga. Sejelas itukah rasa tidak sukanya pada Yesung? Dia menggeleng, berusaha mengelak, “Tidak, Hyeong. Kau salah. Maksudku bukan begitu. Aku tidak bilang tidak suka padamu—“

Ucapan Sungmin terputus oleh kalimat Yesung, “Yah, kira-kira artinya begitu kan?”

Sungmin memperhatikan wajah Yesung. Datar, seperti biasanya. Memang hanya kepanikan yang bisa membuat wajah itu berubah drastis. “Apa itu artinya kau juga tidak suka padaku, Hyeong?” Sungmin menantang. Kalau mereka mau saling terbuka, mungkin sekaranglah saatnya.

“Tentu saja. Kau kelewat serius. Semua harus sesuai urutan, semua harus sempurna. Dan aku paling tidak suka karena kau rajin belajar. Kau aneh.” Yesung menjawab lancar. Raut mukanya tampak seperti baru saja mengucapkan fakta bahwa bumi itu bulat. Absolut.

Sungmin tidak tahu harus tertawa atau marah. Lihat siapa yang baru mengatai orang lain aneh: orang teraneh di dunia. Dia hanya mampu terdiam dengan konyol saat Yesung menepuk bahunya hangat kemudian berdiri dan meninggalkannya dengan satu tambahan lagi pada daftar baik-buruk Yesung: mampu mengutarakan sisi baik seseorang, saat bermaksud mencelanya dengan tulus.

Yesung terus sibuk dengan dunianya: mengganggu Leeteuk Hyeong dan Eunhyuk kali ini. Kalau Sungmin mendengar seseorang mengatakan dirinya aneh—jangan hitung Yesung, karena apa yang disebut aneh oleh orang itu tidak relevan di dunia manapun—dan membuat orang lain merasa canggung di dekatnya, sadar tidak sadar dia akan terus memikirkan orang itu dan kalimatnya. Otaknya akan berputar terus dan terus untuk menemukan penyebab sekaligus solusi bagi kondisi canggung itu. Yang jelas dia tidak akan malah meloncat kesana-kemari mencoba menarik perhatian orang lain seperti Yesung.

Takjub. Benar. Itu dia. Meski perbedaan pola pikir antara dirinya dan Yesung sangat jelas, tapi dia punya rasa takjub menyadari bahwa orang yang benar-benar berbeda darinya bisa bergaul sopan dan formal dengannya selama tujuh tahun lebih.

Apa saja perbedaan mereka? Sungmin tanpa sadar menekuk-nekuk jarinya, menghitung ketidaksamaan di antara mereka. Yesung sangat tidak beraturan, otaknya tidak jelas, sementara Sungmin seperti gradasi, semua hal ada tahapannya. Yesung tukang ngemil, Sungmin menganggap makan pada waktunya adalah kesuksesan hidup. Yesung suka menonton anggota lain berdebat, Sungmin tidak pernah tidak gatal ingin melerai mereka. Yesung itu… heboh, Sungmin… cinta ketenangan. Yesung…

Baru saja membuat Kyuhyun marah lagi. Sungmin menggeleng-geleng tidak percaya. Demi Tuhan, kapan sih Yesung akan sadar bahwa kalau ada orang yang membuat Kyuhyun kesal, orang itu akan berakhir jengkel sendiri karena Kyuhyun pasti punya berbagai macam ide untuk membalas. Dengan lebih kejam, kalau perlu ditambahkan. Itulah, Yesung tidak berpikiran panjang. Seringkali kalimat-kalimat yang dilontarkannya membuat dirinya sendiri terjebak dalam situasi tidak menguntungkan. Bisa dipastikan tidak pernah ada solusi untuk ‘kesulitan berikutnya’ yang sempat muncul di kepala lelaki itu. Singkatnya, Yesung itu bodoh.

Sungmin memperhatikan Yesung sekarang sibuk meringkuk di balik punggung Donghae menghindari tinjuan Kyuhyun karena anak itu tidak terima dengan ulah Yesung sebelumnya. Rasakan. Mau tidak mau Sungmin tersenyum melihat tingkah kedua bocah besar itu. Oke, Sungmin berhasil mengambil kesimpulan, apapun itu, kebodohan Yesung tidak pernah gagal membuatnya tersenyum. Bahkan saat dia sedang tidak menyukai lelaki itu.

Ah, dengan putus asa Sungmin mengusap keningnya. Kenapa dia juga selalu gagal mendaftar kelebihan Yesung tanpa mengungkit keburukannya?

“Aku tidak tahu kenapa kau bisa tidak menyukainya,” suara Eunhyuk mengagetkan Sungmin.

Sungmin yang setengah terkejut menoleh dan berkata cepat, “Kau kenal aku,” hanya itu jawabnya.

“Ya, tapi masa kau masih belum mengenal Yesung Hyeong? Lihat dia…” Eunhyuk terkekeh melihat Yesung yang sekarang sedang membelalakkan mata dan mencekik lehernya sendiri, mengolok-olok Kyuhyun.

“Konyol,” dengus Sungmin.

“Kocak,” ralat Eunhyuk.

“Yah, menghibur,” akhirnya Sungmin mengaku saat melihat Yesung duduk kelelahan di kursinya. Agak kasihan karena melihat kerja keras lelaki itu menghindari magnae ternyata tetap berakhir dengan beberapa tonjokan di lengan.

“Dasar melankolis, kau terlalu serius.” Eunhyuk menimpali sambil terkekeh.

Lebih baik daripada norak, batin Sungmin.

“Tapi dia sudah banyak berubah,” Eunhyuk rupanya masih ingin melanjutkan. “Kau ingat bagaimana sikapnya di masa-masa pelatihan? Canggung, egois, selalu memikirkan diri sendiri, aneh, kadang auranya mistis karena dia suka menyendiri. Bahkan Leeteuk Hyeong dulu tidak terlalu berani mendekatinya.”

Sungmin mengangguk. Memang hanya Heechul yang waktu itu berani bersikap tidak formal terhadap Yesung. Sampai beberapa tahun, anggota yang lain menganggap Yesung tidak enak didekati karena keanehannya. Sampai mereka sadar itu karena sifat canggungnya. Kadang kala Sungmin sangat bersyukur dia bukan Leeteuk yang wajib bersikap netral dengan siapa saja. Kalau dia yang ditunjuk sebagai leader Super Junior, mungkin sampai saat ini dia masih dipusingkan dengan bagaimana membentuk hubungan baik dengan Yesung.

“Aku ke toilet,” Eunhyuk memberi tahu Sungmin dan berlalu tanpa menunggu jawaban temannya itu. Sungmin melihat ke sekeliling dan membeku. Entah kemana yang lain, Sungmin tidak menyadari bahwa semua orang sudah pergi. Hanya ada Yesung dan dirinya, duduk mengelilingi meja penuh makanan yang mereka pesan untuk makan bersama setelah semua pekerjaan mereka selesai malam itu.

Pemikiran bahwa Super Junior begitu istimewa sampai semua anggota memilih makan malam di tengah malam membuat kebekuan Sungmin mencair sedikit. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Lalu telinganya menangkap suara ponsel dioperasikan. Yesung sibuk menghadapi ponselnya.

Suasana ini aneh sekali. Sungmin berharap yang lain segera datang dan kembali memeriahkan suasana. Atau kalau dia harus berduaan dengan Yesung, Sungmin berharap mereka ada di asrama sekarang, sehingga dia bisa masuk kamar dan sibuk sendiri, begitu juga Yesung. Walaupun Yesung sekarang sudah tidak lagi di asrama, jadi harapan Sungmin sepertinya keliru.

Sungmin meminum airnya dan memutuskan ponsel jauh lebih membuat nyaman dibandingkan memikirkan Yesung. Akhirnya di meja itu terbentuk sebuah pemandangan berisi dua orang yang (berharap) tidak mengenal satu sama lain, sibuk dengan ponsel masing-masing, sementara makanan berserakan di meja di depan mereka. Mungkinkah…

Sebuah pemikiran merasuki kepala Sungmin. Tidak, tidak mungkin. Tidak lagi. Acara itu sudah tidak ada lagi. “Seolma…” ucapan Sungmin terlontar tanpa sengaja.

Yesung terlihat mengangkat kepalanya. “Kenapa?” lelaki itu bertanya datar.

“Ah, tidak. Tidak mungkin.” Sungmin menjawab sambil tersenyum malu.

“Apa?” Yesung penasaran.

“Tidak. Itu, aku tiba-tiba kepikiran…”

“Apa?” Yesung sekarang menyimpan telepon genggamnya.

Intimate Note…” jawab Sungmin lirih.

“Eh?” Yesung kebingungan.

“Dulu, waktu aku dengan Kangin Hyeong melakukannya, kami juga tiba-tiba ditinggal sendirian begini. Hyeong, menurutmu mereka tidak melakukannya lagi kan?” Sungmin bertanya penuh harap akan jawaban tidak.

Yesung tiba-tiba tampak agak panik. “Eeeish, tidak mungkin. Acara itu kan sudah berakhir. Lagipula kenapa kita?”

Kenapa kita?! Sungmin menatap Yesung tidak percaya. Salahnya. Dialah yang lupa bahwa Yesung sangat pelupa kecuali untuk hal-hal yang menurutnya penting. Tunggu, jadi ucapannya tadi menurut Yesung tidak penting? “Hyeong, katakan padaku. Kau sakit hati kan, waktu aku bilang aku tidak bisa dekat denganmu?”

Yesung menatap Sungmin, lalu, “Aku juga tidak bisa nyaman di dekatmu. Memang kita begini kan?”

Hyeong! Eeish. Kau itu kadang-kadang membuatku sakit kepala dengan semua tindakan spontanmu. Aku paling alergi mendekatimu di atas panggung karena aku tidak bisa memprediksi apa yang akan kau lakukan. Kau selalu membuatku bosan dengan topik teknik menyanyi. Jawabanmu kalau diwawancara kadang membuat malu yang lain sehingga aku ingin memukulmu di kepala…” Sungmin berhenti melihat Yesung bergerak. “Aku tidak akan memukulmu sekarang…” tambahnya saat melihat Yesung tiba-tiba melindungi kepalanya.

Setelah menarik nafas, pria yang dua tahun lebih muda dari Yesung itu melanjutkan lagi, “Kau selalu membuat keributan saat bersama Kyuhyun. Tidak bisakah kau memperlakukannya dengan baik seperti memperlakukan adik dengan normal?”

Yesung memotong, “Aku memperlakukan Jongjin sama seperti aku memperlakukan Kyuhyun. Bukankah itu normal?”

Sungmin melotot putus asa. “Intinya bukan itu. Sejak tadi aku terus berpikir tentang kata-kataku di Sukira, dan kau? Apa yang kau lakukan? Kau ribut terus, sama sekali tidak mempermasalahkannya.”

“Kau mau aku mempermasalahkannya?” Yesung terkejut.

“Kau tidak ingin marah?” Sungmin lebih terkejut.

“Untuk apa? Memang kau lebih suka aku marah? Aku tidak bisa marah kalau tidak ada alasannya. Tunggu… Jangan-jangan… Dari tadi kau memelototiku karena kau marah padaku?” Yesung malah balik bertanya.

“Marah padamu? Benar, aku marah karena kau tidak terganggu. Aku pikir kita kan sudah bersama-sama lebih dari tujuh tahun, tapi terhadapku kau selalu santai, selalu tidak peduli. Kau benar-benar tidak suka padaku?”

Yesung diam. Pria itu menggaruk kepalanya. Lalu setelah kesabaran Sungmin hampir habis, Yesung berkata, “Dari tadi kau terganggu dengan kata-katamu sendiri?”

Sungmin menelan ludah. Lagi-lagi dia lupa, kadang Yesung seperti bisa melihat alasan di balik sesuatu dengan mudahnya. Satu lagi keanehan Yesung. “Yah… mungkin…” aku Sungmin dengan gelisah.

Memang setelah mengatakannya secara gamblang, Sungmin ingin tahu kenapa dia sangat terganggu dengan perkataannya sendiri. Dia jadi kesal karena Yesung tidak tampak terusik sama sekali.

“Dasar anak bodoh. Kenapa mengucapkan kata-kata yang kau sesali?” tegur Yesung dengan senyum memaklumi. Membuat Sungmin merasa wajahnya memerah.

“Aku tidak menyesali kata-kataku. Aku hanya penasaran kenapa Hyeong tidak menanggapiku!” kesal Sungmin meneguk minumannya sedikit.

“Kekekekekkk…” tawa Yesung. “Ya sudah, kenapa kau pikirkan? Kau memang seperti apa adanya kau. Aku adalah aku. Kita berdua tidak sedekat Donghae pada Jungsoo Hyeong, tapi lalu kenapa? Kau tetap Sungmin, anggota Super Junior yang kusayangi. Toh Super Junior adalah hartaku, jadi kau tetap hartaku meski kita tidak dekat.”

Yesung mengambil sepotong makanan lalu melahapnya. Dia berkata lagi, “Kau sering membuatku kesal karena peraturan-peraturanmu. Kau juga sangat sensitif, membuatku sulit berkata-kata karena takut kau tersinggung, itu merepotkan, tahu? Tapi kau dewasa, sayang pada yang lain, buktinya kau memikirkan perasaanku sekarang—“

“Aku tidak memikirkan perasaanmu, aku sedang menenangkan perasaanku sendiri,” potong Sungmin cepat.

“Ya sudah kalau memang begitu,” Yesung tersenyum geli. “Anggap saja begitu,” goda lelaki itu.

Hyeong!” Sungmin sekarang berseru.

“Apa yang terjadi?” suara Leeteuk terdengar dari belakang Sungmin, membuatnya terkejut.

“O, tumben kalian mengobrol,” Donghae berkata dari sebelah Leeteuk.

Satu per satu anggota Super Junior muncul lagi di sekitar meja. Yesung nyengir pada semuanya, lalu berkata, “Benar, kami ngobrol banyak sekali. Berbagi rahasia, ya kan?” kerlingnya pada Sungmin.

Dengan jengkel Sungmin mengabaikan lelaki itu. Dasar tukang buat onar. Padahal Sungmin sengaja diam saja dari tadi, sekarang dia malah membuat semua orang menaruh perhatian pada mereka.

Eunhyuk berkata, “Aneh sekali. Bukankah kalian seharusnya bertengkar? Bukan mengobrol?”

“Memang kau pernah melihat kami bertengkar?” Yesung menjawab. Sungmin menyadari sesuatu. Benar, dia dan Yesung memang tidak pernah bertengkar. Tidak seperti dirinya dan Kangin. Dipikir lagi, Yesung sering hanya diam kalau tidak setuju dengannya. Benarkah dia terlalu sensitif? Benarkah Yesung tidak menganggap itu mengganggu meskipun menurutnya itu merepotkan?

Sungmin menatap Yesung penuh tanya, dan terkejut melihat lelaki itu juga sedang menatapnya. Matanya hangat. Kalau ada rasa tidak suka di sana, Sungmin tahu itu hanya karena sebal sesaat, bukan kejengkelan murni. Entah kenapa tiba-tiba Sungmin merasa tenang.

“Ayo bersulang!” Yesung berseru ke seluruh meja. “Akhirnya kita memasuki masa promosi 5Jib!” semua orang berseru gembira mendengar itu. Yesung melanjutkan, “Ke depannya, apapun yang terjadi, meski kita tinggal bersepuluh, berdelapan, berlima, saudara-saudaraku tetap ada dua belas orang. Semuanya, terima kasih atas kerja kerasnya!”

Leeteuk, Donghae dan Shindong bertepuk tangan riuh. “Woaaa… bisa juga kau berkata serius, Hyeong,” Kyuhyun mengejek, membuahkan jitakan di kepalanya dari Yesung.

Ja, kombe!” Yesung berkata lagi setelah menganiaya Kyuhyun.

Sungmin mengangkat gelasnya mengikuti yang lain dan menangkap pandangan Yesung dari seberang meja. Bagi Sungmin, rasanya dia seperti mendengar Yesung berkata diam-diam, Tenang saja, Dongsaeng, urineun… Super Junior-eyeo. Kau tetap adikku yang berharga.

Dan Sungmin menyembunyikan senyumnya di balik gelas. Benar, Hyeong. Kita Super Junior, dan kau Hyeongku.

KKEUT.

Iklan