Tag

Author: BeeNim
Pairing: Sungmin/Minhyun (OC)
Length : 1,931w. Oneshot
Rating/Genre: AA-PG/romance
Synopsis: Sungmin sangat mencintai istrinya, lengkap dengan segala kekurangannya.
Ost: I Believe (Shin Seunghun) & What I’d Do Once I Have A Lover (Yoseob Beast & Gayoon 4Minute)
A.N.: Tulisan yang dimulai setahun yang lalu. =__=’’ baru selese..
Url: http://wp.me/p1rQNR-nd

~

7 am. Sungmin

Kupandangi bulu matanya yang lentik. Benakku bertanya-tanya jam berapa dia akhirnya tertidur. Aku yakin tanganku tak lepas menggenggamnya semalaman. Namun aku juga tahu dia tak mungkin semudah itu tertidur hanya dengan merasakan genggaman tanganku.

Kukecup kelopak matanya yang bergerak-gerak. Sepertinya dia bisa benar-benar tertidur. Mulutnya agak terbuka, sementara desah nafasnya terdengar teratur. Aku masih tak rela menjauhkan diri darinya, maka aku makin merapat padanya. Otakku menangkap sesuatu, yaitu bahwa dia wangi dan aku suka wanginya. Sepertinya menyurukkan wajahku di lehernya akan menyenangkan.

Kurasakan tangannya yang bebas terangkat membelai kepalaku ketika aku benar-benar melaksanakan niat itu. Hidup ini terasa sangat damai.

 

8.30 am. Minhyun.

Kukenakan sepatuku. Lalu tersenyum padanya. “Aku berangkat,” ujarku berpamitan.

Seperti yang sudah-sudah, dia mendekatiku. Mencium bibirku penuh emosi. Tangannya merapatkan kancing teratas mantelku.  Lalu sesudahnya berkata, “Hati-hati. Dompetmu—“

“Di dalam sekali,” potongku.

“Bajumu—“ ingatnya lagi.

“Lapis tiga,” ujarku sambil tertawa.

Dia ikut tertawa. Tangannya sekarang mengecek simpul penutup kepala di bawah daguku. “Sudah kencang,” aku memberitahunya sambil menengadah.

Dia tak berkata apa-apa, hanya jemarinya yang kemudian menyusuri rahangku hingga ke bawah telinga.

“Apa kau sedang merayuku?” pancingku merasakan belaiannya.

Pupilnya melebar. “Apa kau mau kurayu?”

Aku mengerutkan bibir, “Kalau tidak harus telat, aku mau saja.”

“Dasar penggoda!” sungutnya berpura-pura. “Jangan mengeluarkan ekspresi begini di luaran sana! Langsung pulang setelah kerja. Tidak usah membeli makanan apapun karena aku akan memasak. Mengerti? Intinya kau tidak usah mampir-mampir!” pesan hariannya keluar lagi.

Aku geli. Sekaligus terharu. Dan sangat senang. Dia sangat mencintaiku, siapa yang tidak bahagia kalau begitu?

Karena aku pendek, aku menjinjit untuk menyentuh dagunya dengan bibirku. “Aku berangkat!” kataku cepat-cepat sebelum dia mulai benar-benar merayuku.

Setelah beberapa langkah aku berbalik dan terpaksa mendekatinya lagi. Telunjukku terulur ke kepalanya lalu menyentuh titik di antara alisnya. “Hey, berhenti mengerutkan dahi seperti ini. Aku tidak suka suamiku tua sebelum waktunya! Aku akan baik-baik saja.”

Dia tersenyum setengah terpaksa. “Arasseo,” katanya sambil menurunkan telunjukku lalu mengecupnya pelan. “Ponselmu sudah kau isi kan baterainya?”

Aku mengangguk. Lalu dia menciumku lagi sebelum benar-benar melepasku pergi.

 

10 am. Sungmin.

Apa dia sudah sampai dengan selamat? Sebaiknya aku telepon tempat kerjanya.

“Yobosaeyo?”

Seseorang di sana menjawab teleponku. Dia langsung mengenali suaraku. Dan mengatakan bahwa Minhyun belum sampai.

Kuhela nafas. Kekhawatiran mulai melandaku. “Ah, ne. Aku akan segera mencarinya, tolong kabari ponselku kalau dia sudah datang.”

Orang yang menjawab teleponku mengiyakan permintaanku.

Kututup telepon dan segera beranjak ke tempat mantel di depan. Mungkin aku harus mulai memaksa Minhyun lagi agar bersedia kuantar. Begitu pintu depan terbuka, ponselku berbunyi. “Yobosaeyo,” sahutku tanpa melihat siapa yang menelepon.

Orang yang meneleponku bilang Minhyun baru saja sampai. Sekarang dia sedang menghangatkan diri.

“Ne, terima kasih. Terima kasih. Tolong awasi dia. Terima kasih banyak atas bantuannya.” Kututup telepon dan nafas legaku terhembus bersamaan dengan udara dingin yang menyertai butiran salju yang terus berjatuhan.

 

10.15 am. Minhyun.

Ahaha, aku berhasil. Terlambat 5 menit, tapi ini lebih baik dari kemarin. “Ah, terima kasih,” kataku pada teman yang memberiku secangkir kopi hangat. Dia mulai mengusap-usap pipiku yang membeku sambil meracau seperti biasanya. Memprotes kekeraskepalaanku yang tidak mau diantar Sungmin ketika berangkat bekerja. Seperti biasa aku hanya tertawa.

Setelah kopiku habis dan aku sudah berganti pakaian dengan seragam kerja, temanku itu memberi tahu bahwa dia tadi terpaksa menelepon Sungmin karena aku tidak datang-datang. Kutepuk bahunya dan berkata, “Terima kasih, chingu-ya. Aku akan telepon Sungmin sekarang.”

Sungmin mengangkat teleponnya pada dering ketiga. “Aku sudah sampai,” serbuku langsung. “10 menit lebih cepat dari kemarin.”

Kudengar dengusannya. “Kali ini dimana?” tanyanya padaku.

“Di tengah hutan. Ah, ani, sudah hampir keluar dari hutan.”

Dia diam saja, tapi aku menghargainya. Aku belum bisa tidak bertengkar dengannya kalau menyangkut perjalanan kerjaku. Atau perjalanan pulang kerjaku. Akhirnya dia hanya berkata, “Saranghae.”

“Na do saranghae,” jawabku lalu mematikan sambungan.

 

04.13 pm. Sungmin.

Sudah hampir seperempat jam lewat pukul empat. Minhyun harusnya sudah sampai sejak pukul empat tadi. Dimana lagi kali ini? Aku tak bisa menghentikan kecemasanku. Di luar sana hujan salju semakin lebat dan musim dingin adalah saat-saat paling berbahaya untuk Minhyun.

Kulirik jendela di sebelah pintu, kudekatkan wajahku ke sana, berusaha menajamkan mata mencoba melihat siapa tahu ada bayangan manusia yang mendekat. Nihil. Minhyun belum pulang juga.

Suara jam berdentang, hatiku berdentam. Aku harus keluar. Aku harus mencari Minhyun.

 

03.45 pm. Minhyun.

Hutan ini selalu paling indah saat musim dingin. Sungmin sangat hebat bisa mendapatkan rumah di daerah ini. Letaknya di ujung, dibentengi oleh jajaran pohon besar-besar, tenang. Aku senang dia membolehkanku bekerja sehingga aku bisa menikmati pemandangan ini setiap hari. Aku menikmati setiap perubahannya. Dari hijau ceria di musim panas, jingga cantik di musim gugur, putih lembut di musim dingin seperti sekarang, hingga pink hangat di musim semi. Hutan ini sangat cantik.

Bukannya aku tidak mengerti kecemasan Sungmin kalau aku melewati tempat ini sendiri, tapi aku juga ingin punya kesenanganku sendiri. Lagipula, bukannya Sungmin harus pergi ke kantor dan tidak bisa mencariku setiap saat aku membutuhkan dia mencariku. Itu salah satu gunanya kau bekerja sebagai bos kan? Sungmin tinggal mengontrol semuanya dari rumah, dan aku toh tak keberatan libur sesekali dari tempat kerjaku di café kalau memang harus menemani Sungmin untuk urusan kantor.

Kuhirup udara dingin dalam-dalam. Ah, semuanya begitu indah dan bersih. Aku menatap langit putih di atas kepala. Jajaran ranting kering berhias tumpukan ringan salju menghiasi pandangan. Indah sekali.

Itulah hal terakhir yang kuingat.

 

4.25 pm. Sungmin.

“Minhyun!” Aku berlari secepatnya mendekati tubuh istriku yang sudah mulai tertumpuk salju.

Ketika aku mengangkatnya, bibirnya sudah pucat, rona mukanya bahkan lebih pucat lagi. “Minhyun!” aku menepuk-nepuk pipinya agak keras, tapi dia tak membuka mata.

Sudah berapa lama dia di sini? Melihat tebalnya tumpukan salju di tubuhnya, mungkin sudah setengah jam lebih. Aku menggigit bibir yang gemetar ketakutan. Inilah sebabnya aku tak ingin dia bekerja. Tapi kekeraskepalaannya lebih dari yang bisa kubujuk. Dia sangat ingin bekerja, menolak diantar-jemput, berkeras melakukan semuanya sendiri. Aku sangat benci sifatnya yang itu, tapi tak ada yang bisa kuperbuat.

Kugosok-gosok pipi dan tangannya sesaat, agak lega saat warna yang sangat samar menempel di kulit wajahnya. Segera kuangkat dia, dan menggendongnya di punggung. “Minhyun, bangunlah…” aku berbisik putus asa.

Tapi Minhyun tidak bangun. Bahkan setelah kami aman dan hangat di rumah, dengan tumpukan selimut di atas tubuh kami dan aku memeluknya erat sekali.

 

8.03 pm. Minhyun.

Hangat. Hidungku menangkap aroma yang sangat kusukai. Aku bergerak mengikuti kebiasaan dan menemukan dada Sungmin di pipiku. Tak ada suara, tapi Sungmin mengetatkan pelukannya di pinggangku. Kubenamkan wajahku di pakaiannya yang terasa lembut, beraroma tubuhnya yang sangat kusukai. Sebentar kemudian aku mengangkat wajah, menengadah, baru membuka mata.

Aku bertemu matanya. Gelap, hangat, cemas. Aku tersenyum padanya, dia tidak membalas senyumku. Aku mengedip pelan, berusaha mengatakan padanya aku baik-baik saja. Tangan Sungmin merambat ke telingaku, menyelipkan berkas rambut yang menempel di pipi ke belakangnya. Semua rasa sayangnya dapat kurasakan. Dia mengkhawatirkanku amat sangat. Dia peduli padaku dengan setiap napasnya. Dia mencintaiku.

Aku memeluknya erat, menggerakkan tubuh agar wajahku sejajar dengan wajahnya, kemudian menciumnya pelan, dalam, lama. Sungmin membalas. Pelan, dalam, penuh cinta.

Saat ciuman kami terlepas, dia menutup mata, tidak mau aku melihat berkas air mata yang terbentuk di sana, air mata kelegaan dan kecemasan jadi satu, air mata yang membuatku tahu aku diinginkan. “Selamat datang kembali,” bisiknya pelan disertai isakan.

“Aku pulang,” bisikku.

 

11.55 pm. Sungmin.

Aku terbangun. Aku tidak pernah benar-benar bisa tidur semalaman penuh. Aku akan berulang kali bangun untuk melihat kondisi Minhyun. Ini adalah keseharianku sejak aku menikah dengannya.

Aku tidak menyesalinya, sungguh. Karena saat aku terbangun dan melihat tangan kami masih tergenggam, aku senang. Minhyun akan menggerakkan tangan kami, tahu bahwa aku terbangun, lalu berkata pelan, “Hei, kamu…” Dan aku akan menggeram dengan suara mengantuk, meraih pinggangnya yang sejajar dengan wajahku karena dia dalam posisi duduk. Dia akan sedang membaca, lalu dia akan membaca keras-keras saat tahu aku terbangun, perlahan mengantarkanku kembali tertidur, dengan tangan masih terkait. Seperti sekarang. Tepat seperti sekarang.

Sebelum tidur kembali menarikku, aku merasakan bibirnya di dahiku, “Terima kasih, Sungmin-a… Hari ini juga, terima kasih.”

Aku tersenyum sambil tenggelam.

~

Beberapa tahun lalu,

“Namanya Narcolepsy,” Minhyun berkata pada Sungmin yang duduk di sebelahnya di bangku taman. Sungmin hanya berkedip mendengar kata yang aneh itu.

Minhyun melepaskan tangan Sungmin yang menggenggamnya, dia tersenyum getir. “Aku jarang bisa tidur di malam hari, tapi siang hari, aku bisa jatuh tertidur tanpa sadar. Aku tidak pingsan, hanya tiba-tiba tertidur. Aku tidak bisa menahannya, datangnya selalu tiba-tiba tanpa tanda-tanda. Aku bisa tertidur kapan saja di mana saja, bahkan saat sedang menunggu lampu merah berganti hijau pun aku bisa tertidur,” jelasnya saat Sungmin bertanya mengapa wanita itu keberatan menjalin hubungan dengan Sungmin.

Sungmin melongo. Sungguh dia baru tahu ada penyakit semacam itu. Jiwanya yang ceria berbisik dalam hati dengan humor kering, “Wah, bukankah itu bagus, enak sekali bisa tidur sesuka hati, tinggal bilang bahwa itu penyakitmu, dan orang akan memaklumi.” Dan dia hanya berkata pada Minhyun waktu itu bahwa dia akan tetap menginginkan Minhyun.

Tapi ketika Sungmin melihat sendiri bagaimana Minhyun terjatuh di lampu merah dan hampir terserempet mobil karena tertidur; atau saat wanita itu tak diketahui keberadaannya selama 18 jam karena dia ternyata terkunci di lemari penyimpanan tempat kerjanya saat sedang mendata barang lalu jatuh tertidur; atau saat di musim dingin Minhyun hampir mati beku karena tertidur saat sedang pulang belanja dan tiba-tiba badai salju datang; atau saat kepalanya terbentur saat sedang bersepeda di musim panas; atau saat melihat bahwa teman Minhyun tak lebih dari tiga orang karena yang lain merasa Minhyun terlalu merepotkan, dia tahu, penyakit Minhyun adalah sesuatu yang serius.

Setiap kali Minhyun tak bisa dihubungi, Sungmin akan langsung panik. Hatinya akan berdentam keras, pikirannya buntu, kecemasan menguasainya seperti bisikan setan. Dia tahu apa yang mungkin terjadi pada Minhyun, dia tahu Minhyun bisa tiba-tiba direbut darinya selama wanita itu tertidur. Direbut oleh kecelakaan atau apapun yang membuat Minhyun berada dalam bahaya. Sungmin lelah selalu cemas seperti itu dan memutuskan mundur, memilih berkata “Aku tidak sanggup lagi” pada Minhyun yang hanya dijawab dengan senyum sedih dan langkah kaki yang menjauh. Sungmin menatap punggung Minhyun dengan nanar, masih mendengar suara wanita itu berkata, “Aku mengerti” dengan sangat jelas di telinganya. Sungmin seperti berdiri di atas bumi dan tahu beberapa kilometer di bawah kakinya, lempeng bumi berkeretak patah, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia melukai Minhyun, dan dia memilih lari.

Perlu beberapa bulan bagi Sungmin untuk menyadari bahwa kalau Minhyun akan jatuh tertidur dengan mudahnya, Sungmin menjadi tidak pernah bisa tidur setelah meinggalkan wanita itu. Dia ingin berhenti memikirkan Minhyun, namun benaknya menolak dan justru terus mencemaskannya. Sungmin memutuskan bekerja lebih keras, tapi itu pun tidak membantu. Ketika dia berdiri di depan café tempat Minhyun bekerja tanpa sadar kapan dan bagaimana dia bisa ada di sana, Sungmin sadar bahwa dia tidak bisa lari dari Minhyun. Dia menginginkan Minhyun lengkap dengan semua ketidaknyamanan yang dibawa wanita itu untuknya.

Sungmin ingat saat Minhyun menahan air matanya di hadapan pengunjung café yang tidak terlalu penuh saat itu karena Sungmin kembali.

Sungmin tidak menyentuh Minhyun, tidak berlutut, tidak memeluk, dia hanya berdiri di hadapan wanita itu, membiarkan bibirnya—mulutnya—mengeluarkan kata-kata yang benaknya tidak pernah rencanakan, “Aku tidak akan memintamu untuk kembali. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku kembali. Aku hanya bisa kembali padamu. Aku tak bisa melakukan yang lain. Menikahlah denganku, Minhyun-a, aku tahu kali ini aku akan sanggup menahan selamanya bersamamu. Ini bukan janji, aku hanya tahu aku sanggup.”

Memang butuh beberapa bulan yang lain sebelum akhirnya Minhyun mengiyakan permintaannya, tapi Sungmin curiga dia tidak akan keberatan bahkan kalau beberapa bulan itu berubah menjadi beberapa tahun. Dia mencintai Minhyun, dan hanya itu yang dibutuhkannya.

Di akhir musim panas yang sejuk, akhirnya Sungmin menggenggam tangan Minhyun memasuki rumah mereka. Suami, dan istri. Sampai maut memisahkan.

Atau sampai tidur memisahkan?

 

KKEUT.

Iklan